Oleh : Suprayitno
Dibawah ini saya akan membantu bagaimana metode yang sistematik untuk mempelajari Al Qur’an. Sebagaimana kita ketahui bahwa Al Qur’an yang terdiri 114 surat itu dibagi menjadi 30 juz (bagian). Ayat-ayat yang terdapat di dalamnya merupakan kumpulan dari wahyu-wahyu Tuhan yang turun secara periodik dan masing-masing ayat memiliki latar belakang penurunannya (asbaabun nuzuul).
Secara garis besar, tempat turunnya wahyu dibagi menjadi dua, yaitu yang turun di Mekkah (disebut golongan surat Makkiyyah) dan yang turun di Madinah (disebut golongan surat Madaniyyah). Dari dua tempat asal turunnya wahyu tersebut, apakah terdapat perbedaan karakter yang menonjol antara tipe wahyu yang turun di Mekkah dan tipe wahyu yang turun di Madinah? Jika ada, mengapa terjadi perbedaan? Dan sejak kapan pergeseran tipe wahyu itu dumulai? Langkah-langkah sistematik berikut ini akan mencoba memberikan jawaban.
Mempelajari Al Quran adalah mempelajari “rentang sejarah” perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah sampai ke Madinah. Dari saat-saat awal masa kenabian yang penuh dengan kesulitan, hinaan dan ancaman sampai dengan saat-saat puncak kekuasaan. Tipe wahyu pasti ada bedanya antara periode infant community (masa-masa merangkak atau masa-masa sulit) dengan masa-masa puncak kekuasaan.
Apa bedanya dan mengapa beda? Pertanyaan ini akan terjawab dengan “gamblang” apabila kita mau mempelajari Al Quran dengan cara sistematik dan kronologik dengan pendekatan mental kultural dan politik.
- Pertama-tama kita harus mengetahui lebih dulu bahwa sistem penyusunan surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an sesungguhnya tidak berurutan atau tidak tersusun secara kronologis. Jadi Al Quran yang ada dihadapan Anda sekarang ini, adalah merupakan kumpulan catatan-catatan (wahyu) yang tidak tersusun secara urut berdasarkan periodesasi.
- Tugas kita pertama-tama adalah “menguraikan” agar keseluruhan surat-surat di dalam Al Qur’an dapat kita rekonstruksi kembali menjadi bagian-bagian yang tersusun secara kronologis berdasarkan “urutan penerimaan wahyu.”
Pertama kita harus memulainya dari surat Al’Alaq karena surat inilah yang pertama kali turun. Lihat surat pertama ini di dalam Al Qur’an justru ditempatkan pada urutan ke 96 atau surat ke 96. Padahal, surat pertama atau ke satu dalam penyusunan Al Quran yang standar adalah dimulai dengan Al Faatihah (pembukaan), kemudian surat yang ke 2 Al Baqarah, yang ke 3 surat Ali ‘Imran dan seterusnya. Penysunan demikian jelas tidak sesuai dengan urutan yang semestinya.
Dari permulaan ini kita dituntut untuk dapat menelaah secara kritis dan analitis siapa yang menyusun dan mengapa susunan surat-surat Al Qur’an dibuat jungkir balik tidak karuan? Atas dasar apakah sebenarnya penyusunan Al Qur’an? Mengapa Al Qur’an tidak disusun secara kronologis berdasarkan urutan penerimaan wahyu? Kapan Al Qur’an mulai disusun seperti bentuknya yang sekarang? Kalau pada akhirnya Al Qur’an harus dibukukan, mengapa Al Qur’an tidak disusun pada saat Nabi Muhammad masih hidup? Berapa lama jarak waktu antara wafatnya Nabi Muhammad dengan disusunnya Al Qur’an?
- Surat-surat dalam Al Qur’an semua ada 114 surat, terdiri dari :
Surat periode Makkiyyah/turun di Mekkah = 86 surat
Surat periode Madaniyyah/turun di Madinah = 28 surat
Total semua surat = 114 surat
Tentang pembagian atau pengelompokan surat-surat ini sampai sekarang masih terdapat perbedaan pendapat antar para ahli tafsir Al Qur’an, meskipun demikian satu hal yang jelas bahwa surat-surat yang turun di Mekkah (periode Makkiyyah) jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan surat-surat yang turun di Madinah (periode Madaniyyah).
- Kalau kita akan mempelajari Al Qur’an harus dimulai dari periode Mekkah. Mengapa? Karena di kota Mekkah itulah sejarah lahirnya Al Qur’an dimulai, disamping itu juga untuk menghindari penafsiran-penafsiran yang sifatnya parsial (memihak atau berat sebelah), sebab kita tidak bisa mengambil ayat secara sepotong-sepotong tanpa mengerti jalan ceritanya atau sebab turunnya wahyu.
Karakteristik wahyu sangat berbeda antara wahyu periode Makkiyyah dengan karakteristik wahyu periode Madaniyyah, terutama tipe-tipe wahyu setelah umat Islam memenangkan pertempuran di Badr (perang Badr Maret 624 M). Al Qur’an harus dipahami secara kronologis-sistematis dari ayat pertama kali turun sampai dengan ayat penghabisan, dengan cara seperti ini kita akan mendapat gambaran yang utuh tentang pesan Al Qur’an (anatomi Al Qur’an). Ibarat sebuah pohon, harus kita kenali dan kita telusuri dari sejak biji tanaman, cara tumbuh, akar, batang, daun, buah, sampai ujung rantingnya.
Sekadar gambaran untuk membedakan tipe atau karakteristik wahyu, marilah kita bandingkan antara surat-surat yang turun di Mekkah seperti surat-surat sebagai berikut QS6:56-58,68-71,108; QS41:34 ; QS23:96; QS17:53 ; QS17:107; QS18:29; QS109: 1-6; QS16: 125 QS10: 99-100 ; QS29: 46 QS7 : 180 ; QS45:14 .
Catatan: untuk surat 109 (Al Kaafiruun = Orang-orang kafir) ayat 1 sampai 6, sungguh sangat bijaksana dan moderat karena tidak ada satu pun kata-kata yang mengandung ancaman atau merendahkan martabat orang-orang kafir. Antara penganut kafir dan orang yang beragama ditempatkan “sejajar” , tidak ada yang lebih hebat diantara keduanya (Lakum dinukum wa liya din = Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku). Tetapi jika kita akan menggali hubungan antara “orang yang beragama dan orang kafir” berdasarkan Al Qur’an, tidak bisa hanya menggunakan refrensi dari surat 109 ayat 1 s/d 6 yang tampak sangat bijaksana ini saja, namun periksa jugalah keseluruhan ayat yang mengandung hubungan “orang beragama dan orang kafir.” Bagaimana kesimpulannya? Ayat yang tampak sangat bijaksana tersebut akan terhapus atau “gugur” dengan ayat-ayat tentang kafir pada periode sesudahnya.
Al Qur’an akhirnya menempatkan golongan kafir sebagai orang-orang yang sangat hina, orang yang jahat, sangat dibenci dan harus dibasmi, dan kelak bila mati harus dipanggang diatas bara api neraka yang membara.
Saya berikan contoh 2 (dua) ayat dari surat Al Baqarah yaitu ayat 161 dan 162 (ayat ini turun di Madinah). Ayat 161 berbunyi : Innal-lazina kafaru wa matu wa humkuffarun ulaika ‘alaihim la’natullahi walmalaikati wan-nasi ajma’in (Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya). Ayat 162 berbunyi: khalidina fiha la yukhaffafu ‘anhumul’azabu wa la hum yunzarun ( mereka kekal di dalam laknat itu, tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh). Yang lebih “seram” hukuman bagi orang-orang kafir tentu masih banyak yang dapat kita jumpai. Oleh karena itu dalam mengambil refrensi dari Al Quran mengenai suatu masalah tidak bisa secara sepotong-sepotong. Kalau kita akan mengambil topik “kafir” harus dikumpulkan semua ayat yang membahas tentang kafir baik dari periode Makkiyah maupun Madaniyyah.
Dari surat-surat periode Mekkah tersebut di atas marilah kita bandingkan dengan tipe wahyu Madaniyyah seperti pada : QS59: 2-4; QS4 : 89 ; QS8 :12 QS33 : 60-62 dan tentu masih banyak lagi ayat-ayat periode Madinah yang keras.
Apa yang dapat kita analisis dari perbedaan karakteristik wahyu ini? Adalah fakta bahwa sejarah wahyu (Al Qur’an) tidak terlepas dari kekuatan politik, artinya ketika kedudukan Muhammad di Mekkah masih lemah karena belum mempunyai basis pendukung massa yang kuat (infant community), maka dengan sendirinya surat-surat atau wahyu periode Mekkah pun pada umumnya lebih moderat jika dibandingkan wahyu periode Madaniyyah. Kalau pun terdapat ancaman pada umumnya lebih bersifat tekanan psikologis yang selalu dikaitkan dengan ancaman Allah dan penyiksaan di neraka atau alam kubur.
Komposisi ayat-ayat periode Mekkah yang sangat menonjol adalah tentang :
1. Penggambaran siksa di neraka
2. Penggambaran siksa di alam kubur
3. Berita tentang akan datangnya hari kiamat
4. Perumpamaan kejadian alam yang dihubungkan dengan
sang pencipta alam (Allah)
5. Penggambaran keindahan surga
6. Cerita tentang riwayat nabi-nabi masa lalu
7. Ajakan untuk bertobat dan menyembah serta memuji kepada Allah yang maha esa dan
8. Kebencian terhadap syetan
Setiap surat yang turun di Mekkah kebanyakan memuat salah satu atau lebih dari ke tujuh unsur di atas. Namun, sejak Muhammad hijrah ke Madinah dan ketika kedudukannya sudah mulai bisa diterima secara luas, maka tipe wahyunya sedikit demi sedikit mulai ada pergeseran yaitu banyak ayat yang lebih keras dan represif, hampir semua produk hukum dihasilkan di Madinah.
Kalau di Mekkah hanya tekanan psikologis maka di Madinah sudah bergeser menjadi ancaman fisik yang lebih nyata dan mengikat.
Mengapa bisa demikian? Ada yang menjawab “itu merupakan bukti kearifan Allah, atau semua memang kehendak Allah” Haruskah jawabannya demikian? Tidak bisakah kita menggunakan logika politik (aspek sosiologis) untuk menjawabnya? Bisakah kita mengabaikan dukungan massa terhadap proses terjadinya wahyu? Artinya ketika dukungan dari massa masih lemah (sedikit) dengan sendirinya ayat-ayat yang turun masih moderat dan sifatnya hanya persuasive. Contoh, minuman keras (khamar) pada Islam periode Makkiyah tidak dilarang karena basis pendukung Muhammad masih lemah dan setelah dukungan massa makin kuat di Madinah baru pelarangan atau hukum kharam terhadap minuman keras (khamar) ini dikeluarkan. Di sinilah justru kita bisa berpendapat bahwa “wahyu” sebenarnya merupakan produk dari kecanggihan pemikiran manusia (Muhammad) yang penuh dengan perhitungan sosial-politis dan psikologi massa.
Jika jawaban ini tidak bisa diterima oleh para ulama dan ahli agama, tentu kita bisa mengajukan pertanyaan, apakah “wahyu” adalah sebuah terminologi yang sama sekali bebas dari campur tangan pemikiran manusia (Muhammad)?
Logikanya “hanya orang kuat atau institusi yang kuatlah yang dapat mengeluarkan produk hukum atau undang-undang”.
Sama dengan posisi Muhammad. Pada saat perjuangannya di Mekkah masih belum mendapat dukungan massa yang solid, mungkinkah seorang Muhammad bisa mengeluarkan undang-undang atau hukum yang katanya berasal dari “wahyu”? Kalau pun Tuhan bisa mengeluarkan instruksi (wahyu), apakah tidak ditertawakan oleh masyarakat, lagi pula siapa yang mau patuh dan melaksanakan? Paling banter wahyu yang diterima pun sekadar “imbauan untuk jalan yang lurus dan bagi-bagi rejeki untuk kaum fakir miskin (berzakat) dan menyantuni anak yatim”. Mengapa untuk “pesan sosial” ini mesti harus Tuhan yang berbicara melalui “wahyu?”
Tidak bisakah seorang Muhammad berbicara atas nama dan atas pikirannya sendiri? Lantas bagaimana sebenaranya kapasitas pemikiran (visi dan misi) pribadi Muhammad tentang “kemanusiaan/humanisme” jika segala-galanya harus berproses melalui wahyu? Dari semua yang diucapkan oleh Muhammad, hanya Muhammadlah yang berhak membagi-bagi mana yang wahyu mana yang bukan wahyu. Tidak ada orang lain yang bisa ikut mengontrol pemikiran Muhammad. Dalam hal wahyu atau bukan, Muhammad adalah sosok tunggal kebenaran itu sendiri.
Jika semua serba Tuhan, bodoh atau pintarkah sebenarnya Muhammad itu? Lantas bagaimana cara membedakan wahyu dan kreatifitas atau produk pemikiran dari sosok Muhammad? Proses pewahyuan ini sama sekali tidak ada checks and balances dari pihak lain. Pokoknya kalau Muhammad bilang “ini wahyu” umatnya harus percaya sebab kalau tidak percaya berarti termasuk kedalam golongan orang kafir. Semudah dan sesederhana itu seorang Muhammad memberi pilihan hidup. Wahyu seakan-akan menjadi produk yang tidak bisa disentuh oleh akal, wahyu harus diterima melalui “iman” dan Muhammad adalah pemegang tunggal kebenaran atas nama Tuhan.
Mari kita pelajari seluruh ayat-ayat periode Makkiyyah, semua ayat yang berhubungan dengan sesama atau hubungan dengan Tuhan selalu disampaikan dengan cara persuasif tanpa ancaman fisik secara langsung, paling ancamannya kemurkaan dari Allah atau siksa api neraka atau siksa di dalam kubur.
Apakah fakta-fakta ini tidak cukup untuk mengatakan bahwa “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan.”
PENDUKUNG LAIN UNTUK BISA MEMAHAMI AL QUR’AN
1. Pengetahuan tentang bahasa Arab, termasuk di dalamnya sastra Arab klasik, karena seperti kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan bahasa Al Qur’an adalah bahasa “puitis” yang bisa menghadirkan ragam tafsir.
2. Lintas sejarah Arab pra Islam, yaitu pra kondisi sebelum Islam lahir. Tanpa kita tahu sejarah Arab pra Islam maka mustahil kita akan bisa memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang “asbaabun nuzuul” (sebab-sebab turunnya wahyu). Lintas sejarah Arab meliputi kajian ilmu arkeologi, antropologi, dan sosiologi bangsa Arab. Disiplin ilmu ini akan mengantarkan kita pada pemahaman yang menyeluruh tentang struktur budaya bangsa Arab, termasuk di dalamnya tentang kehidupan sosial-religius, politik, ekonomi, dan pendidikan. Intinya kita akan membedah melalui berbagai pintu tentang siapa sebenarnya bangsa Arab itu? Pengetahuan tentang sejarah bangsa Arab pra Islam setidaknya juga akan memberikan jawaban tentang mengapa seorang Muhammad tergerak untuk berjuang membebaskan rakyat Arab dari belenggu kebodohan dan penindasan (perbudakan), lihat surat Al Balad (QS90) ayat 11 s/d 16.
Kita perlu tahu sejauh mana sebetulnya pengertian “zaman jahiliyah” yang melanda bangsa Arab pada saat itu? Apakah benar-benar telah terjadi kerusakan moral yang parah? Separah apakah sehingga seorang Muhammad terpanggil untuk memperbaikinya?
Pengetahuan sejarah pra Islam juga akan melacak tentang apa motivasi perjuangan seorang Muhammad, mengapa Muhammad memilih jalan keluar untuk mengatasi krisis (kemanusiaan??) ini melalui jalur sosial-religius (theokratisme)? Mengapa tidak menggunakan jalur sekularisme (demokrasi)? Apakah model gerakan sekularisme atau demokrasi pada saat itu belum dikenal khususnya pada peradaban politik bangsa Arab? Apakah pada saat itu basis gerakan sosial hanya mengenal penyelesaian melalui jalur theologis dan aristokratis? Jika jawabannya betul, pantas saja Muhammad secara intens menggandeng Tuhan dan malaikat (Jibril) untuk menemani perjuangannya, dan Muhammad bisa berkata apa pun dengan mengatas namakan Tuhan.
Masyarakat pada saat itu (dan sampai sekarang pun) boleh percaya boleh tidak terhadap apa yang diklaim oleh Muhammad sebagai wahyu Tuhan. Bagi yang tidak percaya dimasukkan dalam golongan kaum kafir, kafir berarti menjadi musuh Tuhan dan manusia (dari kelompok nabi). Muhammad jelas telah berhasil menciptakan conditioning (suasana) agar seolah-olah perjuangannya mendapat legitimasi dan di backup dari langit (Tuhan) supaya motivasi perjuangannya seolah-olah tampak sakral, bersih, mistis dan suci. Akhirnya Muhammad menggunakan“bahasa Nabi” yaitu bahasa wahyu sebagai bahasa pengantar perjuangan politiknya. Di sinilah Muhammad benar-benar sangat cerdas dalam menguasai dan mengelola psikologi massa. Massa ternyata mudah dikuasai dan dikendalikan dengan pendekatan wahyu Tuhan. Dengan wahyu Tuhan, ternyata Muhammad lebih mudah mengatur umatnya, sebab wahyu pasti tidak bisa diprotes. Bahkan bagi yang benar-benar percaya, Al Qur’an menjadi harga mati yang harus diperjuangkan dengan mengorbankan harta benda dan nyawa sekalipun.
- Memahami Al Qur’an akan sangat terbantu dengan menggunakan Indek Al Qur’an. Indek Al Qur’an gunanya untuk mempermudah penelusuran tentang tema-tema tertentu yang akan kita butuhkan. Contoh jika kita akan mencari topik tentang kafir, maka cari saja pada “indek kafir” disana akan ditunjukkan ayat mana saja yang berhubungan dengan kafir. Kemudian setelah kita kumpulkan seluruh ayat mengenai kafir, tugas selanjutnya kita susun berdasarkan urutan penerimaan wahyu. Nanti pasti akan bisa diketahui bahwa ternyata “wahyu” tentang kafir memiliki nuansa yang berbeda antara periode infant community dengan periode saat kedudukan Muhammad sudah semakin kuat. Kesimpulan saya, wahyu hanyalah target politik yang menggunakan Tuhan sebagai alasan pembenaran.
Catatan lain:
Untuk menelusuri tentang “asbaabun nuzuul” salah satunya bisa menggunakan refrensi dari hadist tetapi marilah kita pelajari “sejarah hadist” yang penuh dengan berbagai pertikaian dan kepentingan itu. Oleh karenanya saya mengabaikan peran sunnah/hadist sebagi refrensi, sebab perjalanan sunnah atau hadist memiliki celah yang luar biasa untuk dimanipulasi demi kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Lagi pula hadist ditulis jauh setelah nabi Muhammad meninggal dunia sehingga sangat sulit untuk memastikan kebenarannya.
SEKILAS PERKEMBANGAN ISLAM SETELAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD
Sebagaimana kita ketahui bahwa sepeninggal Nabi Muhammad yaitu beliau wafat pada tanggal 08 Juni 632 M, masyarakat muslim yang baru lahir itu dihadapkan pada sesuatu yang berujud “krisis konstitusional.”
Karena nabi tidak mewariskan ketetapan undang-undang pelaksanaan (constitution) bahkan tidak juga menciptakan suatu dewan (council) dalam jalinan majelis kesukuan yang mungkin dibutuhkan selama dalam periode transisional yang genting (darurat).
Keunikan dan karakter kewibawaan yang eksklusif, yang beliau anggap sebagai eksponen kemauan Tuhan, telah menjadikan nabi Muhammad sebagai figur sentral terhadap seluruh proses pemerintahan dan dalam komunitas sosial. Hal ini menyebabkan Nabi Muhammad sama sekali tidak mempersiapkan calon-calon pengganti terpilih sepanjang hidupnya.
Konsepsi penggantian pimpinan pemerintahan saat itu tidak dikenal oleh orang-orang Arab. Tetapi krisis konstitusi telah mempertemukan adanya tindakan tegas dari tiga orang yaitu Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah, hingga akhirnya tercapailah kesepakatan bahwa Khalifah Rasulullah pertama sesudah wafatnya nabi adalah jatuh pada Abu Bakar.
Masa khalifah Abu Bakar kurang lebih selama dua tahun, beliau wafat pada tanggal 23 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijri, tetapi sebelum wafat beliau telah mewasiatkan khilafah kepada Umar bin Khaththab.
MASA KEPEMIMPINAN UMAR (634-644M)
Ciri yang sangat menonjol pada masa pemerintahan Umar adalah beliau sangat konsisten terhadap penegakan hukum, anti korupsi, kolusi dan nepotisme (anti KKN) serta menerapkan sistem pajak (zakat) yang progresif.
Tetapi karena sifatnya yang sangat tegas dalam berbagai bidang inilah akhirnya pada tanggal 4 Nopember 644 M, Umar dibunuh oleh budak Persia seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Lu’lu’ah. Alasan pembunuhannya karena Abdul Mughirah merasa terlalu berat dengan kharaj (pajak) yang dibebankan kepadanya.
Pada saat yang sangat kritis ini, karena pada saat Umar ditebas pedang, beliau tidak langsung tewas dan sempat membentuk sebuah team dari para sahabat yang dinamakan “ahlisyura” (majelis syuraa sama dengan majelis permusyawaratan/badan legislatif). Anggota team tersebut terdiri dari 6 orang masing-masing bernama Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdur Rahman bin Auf. Hal ini merupakan terobosan baru dalam budaya politik bangsa Arab, karena Umar merupakan orang pertama yang membentuk team guna merumuskan alih kekuasaan (suksesi kepemimpinan).
Proses pemilihan tersebut memang cukup alot sebab akhirnya terbentuk dua kubu yang sama kuat yaitu antara kubu Utsman dan kubu Ali. Setelah melalui negosiasi yang panjang akhirnya majelis syura menetapkan Utsman sebagai pengganti Umar.
MASA KEPEMIMPINAN UTSMAN (644-656M)
Masa pemerintahan Utsman penuh diwarnai KKN. Hal pertama yang menyebabkan Utsman dituduh telah melakukan nepotisme adalah pemecatan terhadap gubernur Kufah, Sa’ad bin Abi Waqqash yang digantikan oleh Walid bin Uqbah saudara satu ibu dengan Utsman. Utsman telah mengangkat para kerabatnya dari Banu Umaiyyah untuk menduduki berbagai jabatan.
Pada pemberontakan tgl 17 Juni 656 M, Utsman terbunuh. Siapa yang telah membunuh Utsman? Sulit dipastikan karena pada saat itu rumah Utsman dalam keadaan dikepung oleh pemberontak dan salah seorang pemberontaknya berhasil menyelinap masuk kedalam rumah yang kemudian menebaskan pedang sehingga khalifah Utsman tewas.
Pada saat itu yang menjaga rumah Utsman adalah dua orang putra Ali yaitu Hasan dan Husein. Pembunuhan ini merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir dan merupakan awal pecahnya perang saudara yang dahsyat dalam Islam. Dalam kasus pembunuhan Utsman sulit dipastikan bagaimana posisi Thalhah, Zubair, Aishah, dan Ali apakah mereka terlibat atau tidak, memprovokasi atau tidak?
MASA KEPEMIMPINAN ALI (656-661M)
Setelah Utsman terbunuh, akhirnya kekuasaan diambil alih oleh Ali, tetapi sepanjang kekuasaannya penuh dengan berbagai masalah. Kekuasaannya sangat rapuh karena dirongrong dari berbagai pihak. Ali harus terus bertempur melawan Mu’awiyah dan golongan Khawarij yaitu golongan oposisi atau pembangkang.
Mu’awiyah adalah keponakan Utsman yang terus mendesak agar pembunuh Utsman untuk segera dapat ditangkap dan di qishaash (tentang hukum qishaash lihat Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 178). Golongan khawarij adalah merupakan kelompok gerakan yang dengan tegas menolak kepemimpinan Ali maupun Mu’awiyah.
Pada bulan Januari tahun 661 M atau tanggal 17 Ramadhan tahun 40 Hijri, seorang dari golongan Khawarij yang bernama Abdur Rahman bin Muljim ada juga yang menyebut Ibnu Muljan telah berhasil membunuh Ali. Inilah awal dari dinasti Umaiyyah, yang nanti selanjutnya pada tahun 680 M, terjadi pembunuhan massal atas pengikut Ali di Karbala, dimana dalam pembunuhan tersebut Husein (putra Ali) juga ikut dibunuh. Dan pada tahun 683 M, sampai dengan tahun 690 M, terjadi lagi perang saudara ke dua.
Ilustrasi ini sangat penting saya sampaikan agar dapat menjadi pengetahuan bahwa bagi siapa pun yang akan mempelajari hadist hendaknya paham bahwa riwayat hadist sebenarnya penuh dengan karut marut yang diakibatkan oleh perebutan kekuasaan, dan kepentingan kelompok atau golongan.
Juga harus diketahui bahwa hadist disusun atau dibukukan berpuluh-puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat (mungkin bahkan ratusan tahun?). Ketika Nabi sendiri masih hidup tidak pernah memerintahkan sunnah itu untuk dicatat, apa yang diucapkan dan dilakukan oleh nabi dari waktu kewaktu. Sepanjang pengetahuan saya, nabi tidak pernah memposisikan sunnah itu sebagai hukum ke dua setelah Al Qur’an. Sehingga siapa pun yang ahli hadist atau sunnah pasti sangat sulit memastikan yang “shohih” atau tidak terlepas dari siapa pun perawinya entah itu Aisyah, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abu Bakar, Abu Hurairah, ataupun Ibnu Mas’ud. Dan terlepas dari siapa pun penulis hadist apakah dia Ibnu Majah, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Thirmidzi, atau pun Nasa’i.
Banyak aliran dan kelompok dalam Islam yang saling menyerang di mana masing-masing mengaku yang paling benar. Kelompok atau golongan tersebut adalah seperti golongan Khawarij, golongan Rafidzah, golongan Mu’tazilah, serta golongan Syi’ah Itsna Asyariah. Masing-masing “bermain” dengan hadist yang menguntungkan kepentingan kelompoknya atu golongannya.
Setelah Nabi Muhammad wafat, kemudian kepemimpinan Islam dipegang oleh para sahabat, penggunaan sunnah atau hadist nabi sebagai sumber hukum sedikit demi sedikit semakain rancu. Kerancuan ini bukan terletak pada fungsi dari sunnah itu sendiri tetapi lebih karena adanya sejumlah materi sunnah yang dianggap palsu, lemah atau diragukan kebenarannya oleh pihak-pihak lain.
Sementara satu pihak melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya sesuai dengan sunnah nabi, pihak lain menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan sunnah nabi. Tentu masing-masing memiliki alasan mengapa ia menolak suatu sunnah, sementara pihak lain menerimanya.
Itulah sekilas sejarah hadist yang sangat rawan dengan “pemalsuan”, lain halnya jika hadist ditulis secara tahap demi tahap ketika Nabi Muhammad masih hidup sehingga jika terjadi pemalsuan bisa langsung disanggah oleh Nabi sendiri. Nah catatan hadist yang ada sekarang ini, siapa yang bisa menjamin kebenarannya bahwa apa yang disampaikan itu betul-betul bersumber dari Nabi Muhammad? Dengan alasan-alasan itulah saya mengabaikan peran hadist terhadap penjelasan asbaabun nuzuul.
Untuk mencari refrensi asbaabun nuzuul, bisa menggunakan dari para orientalis yang kredibilitas ilmunya terhadap sejarah Islam cukup independen dan obyektif, seperti Ignaz Goldziher dalam bukunya berjudul “Muhammadenische Studien” terbit tahun 1890 M dalam bahasa Jerman.
Kemudian dari kalangan cendekiawan muslim ada beberapa nama yang cukup berani dalam mengulas hadist yaitu : Dr Taufiq Shidqi seorang berkebangsaan Mesir dalam tulisannya Al Islam Huwa Al Quran Wahdah (Islam hanya menggunakan Al Quran saja), Prof Dr Ahmad Amin dalam tulisannya pada buku Fajr Al Islam dan Dluha Al Islam, dan Dr Ahmad Zaki Syaadi dalam buku Tsaurah Al Islam.
Refrensi ini saya kutip dari buku GERAKAN ISLAM KONTEMPORER DI INDONESIA yang ditulis bersama-sama oleh Drs. Abdulaziz, Drs. Imam Tholkhah, Drs.Soetarman penerbit Pustaka Firdaus tahun 1989 pada halaman 148 s/d hal. 151. Metode mempelajari Al Quran dan Hadist seperti yang saya sampaikan di atas mudah-mudahan dapat mengantarkan kita pada pemahaman yang komprehensif atau menyeluruh tentang seluk beluk Islam.
Jadi kalau kita akan mempelajari Islam, pelajarilah budaya Arab pada saat dan sebelum Islam lahir. Sebab budaya yang ada pada saat itu akhirnya banyak yang terserap didalam Al Qur’an, entah sebagai hukum atau etika sosial.
Agama dan wahyu tidak pernah lepas dengan Tuhan. Sayangnya, para Nabi atau pemimpin agama tidak pernah memberikan banyak pilihan kepada manusia untuk menelaah tentang apa wahyu itu dan siapa sebenarnya Tuhan itu, mengapa manusia harus percaya terhadap wahyu? Bisakah wahyu dipercaya? Wahyu dan Tuhan adalah “dagangan” yang tidak boleh dicela dan dikrtitik. Kita tidak bisa tawar menawar,Dia harus dibeli atau tidak sama sekali.
Agama benar-benar telah membebani umat manusia, sehingga umat manusia dicekam oleh ketakutan-ketakutan yang luar biasa terhadap api neraka. Ketakutan itu akhirnya hanya membuat manusia terpenjara. Dalam ruang sempit itulah orang-orang beriman bicara dan berteriak tentang “kebenaran”. Padahal kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa diteriakkan dalam ruang sempit yang bernama “penjara rasa takut”. Bila kita ingin menyuarakan kebenaran, maka kebenaran itu membutuhkan tempat yang teramat luas. Apa sih kebenaran itu? Kebenaran hanya mungkin kita peroleh atau kita diskusikan manakala tidak terjadi “penjajahan dan penindasan terhadap pemikiran” antara satu dengan yang lain.
(Semarang, 29 Mei 1999)
Maret 12, 2008 at 3:04 am
Beh! Ada pencerahan di sini.
*belajar lagi*
Maret 12, 2008 at 10:44 am
cemerlang berani dan sekaligus perlu berhati-hati.. meski bukan hal baru.. hehehehehe… *mode sok tau sedang ON*
gagasan bagus.. lebih manusiawi melihat Qur’an..
Maret 12, 2008 at 4:28 pm
hati-hati mas, pendapat sampean tentang “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan,” sangat berbahaya. Mungkin sebelum berpendapat dg logika2 yang mas berikan, lebih baik mas banyak mempelajari dulu buku2 tentang islam, terutama sirah nabawiyah, yang di situ dijelaskan, “Muhammad itu seorang Ummi — tidak pandai membaca, jadi mana mungkin alquran itu hasil pemikirannya sendiri. Selain itu Muhammad dijuluki al amin (orang yang tak pernah berbohong), ini julukan bukan hanya diberikan bagi orang2 yang simpati kepd beliau, tapi oleh semua orang saat itu dg berbagai latar belakang kepercayaan. Jadi mana mungkin tiba2 berani berbohong tentang wahyu alquran.
Dan satu lagi perlu diingat bahasa alquran cukup berbeda dg bahasa arab pada umumnya karena ada nilai sastra yg sangat tinggi dan tidak bisa ditiru oleh siapapun. Dulu ada org yang ditantang membuat satu saja ayat seperti alquran tetapi ternyata tidak bisa. Seandainya alquran buah pikiran muhammad semata, kenapa orang lain tidak bisa menirunya? bukannya muhammad seorang buta huruf dan orang2 saat itu banyak sekali yang lebih pandai sastra dan ilmunya dibanding muhammad? Apa bukti itu belum cukup membuktikan bahwa alquran memang wahyu dari allah yang disampaikan melalui perantara malaikat jibril kepada muhammad saw?
Terakhir kita jangan lupa, kenapa ada perbedaan ayat makiyah dan madaniyah? karena itu kebijakan allah swt. Orang2 mekkah saat itu kehidupannya benar2 kacau dan penuh dosa. Jika allah langsung menurunkan wahyu berupa ancaman tanpa toleransi, maka ajaran islam bukannya diterima malah ditolak. Setelah pelan2 ada toleransi dan masyarakt mulai mengenal islam baru allah menurunkan ayat2 yang lebih tegas. Jika anda seorang ayah jika mau mengajarkan ilmu matematika ke kelas 1 SD, apa bisa langsung memberikan pelajaran kalkulus untuk anak kuliahan? tentu tidak bukan? pasti anda mengajarkan pengenalan angka dulu, baru tambah2an, dst. Begitu kebijakan allah yang turun dalam wahyu alquran.
Semoga allah memberikan sll pintu hidayah ke kita semua. Aamiin.
Maret 14, 2008 at 7:27 am
Sebuah pemikiran dan penjelasan yang sangat RASIONAL, LOGIS. Dibutuhkan keberanian memang untuk menguak Sejarah turunnya Kitab Suci dari pakem-pakem yang selama ini saya anggap DOKTRIN, DOGMA dan PENGEBIRIAN serta PEMASUNGAN kreatifitas Akal dan Pikiran manusia-manusia yang memeluk agama dengan Nama Islam.
Hmmm…hmmm….
Makiyah dan madaniyah, dua tempat turunnya Ajaran KESELAMATAN ( wahyu ) buat manusia dari Tuhan melalui manusia yang TERCERAHKAN yaitu Muhammad bin Abdullah. Tetapi kenapa perbedaan karakter dari Ajaran tersebut sangat mencolok..?? Yah…nuansanya sangat berbau POLITIS dan KEKUASAAN. Itu merupakan hal yang sangat LUMRAH. Ibaratnya ketika kita menawarkan sebuah PRODUCT kepada konsumen
…pasti deh..gayanya penawarannya Lembut, Santun dan penuh senyum serta atmosfirnya tampak Damai…he..he..
Kenapa…?? yeee..klu gak gitu gak laku kan..?? Itulah gambaran saya terhadap Ajaran ( Ayat-ayat ) yang turun di Mekah. Lalu kenapa ketika di Madinah banyak Ajaran ( ayat-ayat ) yang sangat keras dan cenderung berbau DARAH…?? seperti Rajam, Pancung, Penggal kepala, Potong Tangan malahan ada dengan tegas isyarat ” Halal darahnya orang Kafir “.
Saya kadang termenung, Merenugi ayat-ayat ini.
Lantas sayapun bertanya pada Diri dan Tuhan saya sendiri…Heh Tuhan, Mungkinkah Tuhan di Arab sono itu :
– Membenci DIRI-Nya sendiri…??
– Menyiksa DIRI-Nya sendiri…??
– Mengazab DIRI-Nya sendiri…??
– Membunuh DIRI-Nya sendiri…??
Halah…halah…benarkah ( ayat-ayat keras ) ini Firman dari Tuhan yang SEJATINYA Tuhan..??. Ah….Tuhan kok RAJA TEGA banget yah…
Nggelesod…mendekap Tuhan ku dalam Kedamaian dan kasih Sayang
Maret 17, 2008 at 10:14 am
ha ha ha…
Mas Santri Gundul akal logikanya terpengaruh Al Hallaj yang berpendapat “bersatunya unsur jasmani-rohani dengan tuhan”. Mesthi aja puyeng..
Sehingga muncul tanya
mungkinkah Tuhan di arab sono
-Menbenci DIRI-Nya sendiri…??
dst
Ancaman masuk neraka, rajam, potong tangan itu wujud kasih sayang Allah agar orang-orang tidak berbuat durhaka, membuat kerusakan di muka bumi, mencuri, berzina dengan cewek atau istri tetangga dll.
Seperti kasih sayang pada anak kita kalau anak kita sedang sakit piliek, batuk flu misalnya;
Eh Tole kamu kalau beli es nanti tak jewer lho…
Begitu juga Allah sangat menyayangi hamba-hambanya, dan memang hambanya diwajibkan memusuhi setan.
Maret 17, 2008 at 10:41 am
Yaa Nabi Mumammad memang membawa ajaran Tauhid (Tuhan yang Maha Esa) tunggal, dan jalur yang dilaluinya ya lewat politik, akhlak, kemasyarakatan, kebatinan. Sehingga sepeninggal Muhammad memang tidak ada kekuasaan politik yang diwasiatkan, semuanya terserah pada masyarakat berikutnya tentu saja dengan mengingat-ingat nasehat2 sebelumnya. tetapi yang terpenting Ajaran Tauhid yang dibawanya itu, mulai dari nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi, Isa, semua pasti masih ada silsilahnya.
Pembelajaran tentang hadist (sunnah) memang mesti ada silsilah perawinya dan latar belakang perawinya.
Tugas Nabi muhammad memang untuk menyampaikan wahyu, mestinya Nabi muhammad orangnya pinter karena dapat membedakn antara wahyu dengan pikiran sendiri.
Pertanyannya kalau Quran bukan wahyu kenapa Quran sampai sekarang masih suci/murni tanpa perubahan walaupun kondisi masyarakatnya carut-marut?
Tentang terminologi kafir, kafir itu artinya kan membantah/tidak percaya. Ya kalau yang tidak percaya mesti digolongkan sebagai membantah/tidak percaya, bahasa arabnya kafir.
Ada pendapat dalam pemikiran demokrasi bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” bagaimana suara rakyat dari negara yang mengaku tidak bertuhan.
Suprayitno ini aneh, mempertanyakan Muhammad tapi malah menyuruh belajar agama Islam melalui kaum orientalis yang jelas-jelas memang awalnya untuk membantah Muhammad.
Akhirnya bagiku agamaku, bagimu agamamu.
April 1, 2008 at 8:57 am
btw pak tomi liat film dr blanda yg anti islam “FITNA”
menurut anda gmn?? .. bertentangan bgt dg posting njenengan… dia plajari quran sepotong 2 doank… hasilnya… huh seyemmm.. kekerasan smua… gila..
April 1, 2008 at 11:08 am
B
April 10, 2008 at 4:51 am
Disuatu kerajaan ada 5 bersaudara buta, tergerak oleh belas kasih ’Sang Raja’ mempekerjakan mereka diistana. Suatu hari mereka memohon pada Sang Raja untuk sudi mengajak mereka ke kandang gajah biar tahu binatang sperti apa gajah itu. Dan Sang Raja berkenan
mereka menginterpretasi gajah menurut perasaan mereka sendiri saat mencoba ’melihat’ gajah lewat rabaan. Yang tua memegang gajah pas ekor lalu menarik kesimpulan gajah itu seperti seutas tali, yang satunya meraba kakinya lalu berkesimpulan gajah seperti sebatang pohon palem, yang lain meraba telinganya menganggap gajah seperti daun lompong, begitu dg lain saling menarik kesimpulan sendiri berdasar anggapannya masing2.
Dasar orang buta,
Sang Raja lalu memberi mereka modal masing2 untuk wirausaha sebagai produsen kecap. euforia karena sudah ’mengerti’ gajah, mereka membuat kecap dengan merek gajah. Yang satu pakai merek Kecap No. 1 Cap Gajah *tapi Cuma ekornya*, yang satunya Kecap No. 1 Cap Gajah juga *tapi Cuma kupingnya*, idem dito sama yang lain.
Masing2 memproduksi Kecap No. 1 dg merek gajah tapi sejatinya cuma bagian tubuh dari gajah saja.
April 18, 2008 at 3:04 am
cari tuhanmu, dekati dia, sembahlah dia, pujilah dia, itu akan lebih menenangkan dibanding berbagi rasa yg orang lain belum tentu menemukan rasa yg sama…
dalam secangkir kopi, bisa ditemukan rasa yg berbeda bagi sesiapa saja yg meminumnya …
nikmatilah itu untuk dirimu sendiri … gak perlu diumbar dan diperdebatkan …
biarkan …
biarkan saja mereka yg tak paham nikmatnya kopi … nanti, saat mereka butuh, toh mereka akan mendatangimu untuk mencicipinya !
@ robusta apa arbika nih
April 18, 2008 at 3:06 am
lagipula, toh tak semua orang suka aroma kopi …
padahal aroma kopi mampu menetralkan semua wewangian !
@ akur banget
Mei 28, 2008 at 8:27 am
alah-alah.. anda ini hanya menyebar kebencian saja.. orang hidup kok senengnya cari ribut toch mas-mas kalau ga suka dengan suatu sistem ya udah ga usah cari ribut or sensasi dengan bikin tulisan yang ga mateng.. kalau berani bikin forum terbuka donk jadi biar keliatan siapa yang error..perbanyak lagi yach baca buku nya dan coba sedikit lebih objektif…ok
Juni 16, 2009 at 8:51 am
Untuk mengetahui bahwa Al Quran adalah suatu keajaiban dan merupakan wahyu Allah perlu kita pahami tingkat ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Arab pada saat Al Quran diturunkan. Pada abad ke 7 disaat bangsa Arab hidup dlm kepercayaan animisme, dinamisme dan keterbatasan Iptek, bagaimana mungkin bisa mengetahui bahaya Babi, bahaya perkawinan saudara/sedarah, dan proses penciptaan manusia dari pembuahan sampai kelahiran. Bahaya bagi baru diketahui pada zaman modern, dimana babi mrp tempat perkembangbiakan berbagai virus berbahaya dan menghasilkan variant virus baru. Pada masa itu mana mungkin manusia menyadari hal ini. Mungkin anda perlu melihat video harun yahya utk membantah anggapan bahwa Al Quran bukan wahyu Allah. Al Quran lah yg juga membantah teori Darwin dan didukung oleh IPTEK modern bahwa tiap makhluk hidup memiliki DNA yg berbeda-beda. Dan tdk mungkin DNA itu berevolusi atau berubah. Karena perubahan DNA menyebabkan cacat atau kematian pada mahluk hidup. Dan mustahil dari DNA kera dilahirkan sosok manusia.