RSS

METODE MEMPELAJARI AL QUR’AN

12 Mar

 

Oleh : Suprayitno

 

Dibawah ini saya akan membantu bagaimana metode yang sistematik untuk mempelajari Al Qur’an. Sebagaimana kita ketahui bahwa Al Qur’an yang terdiri 114 surat itu dibagi menjadi 30 juz (bagian). Ayat-ayat yang terdapat di dalamnya merupakan kumpulan dari wahyu-wahyu Tuhan yang turun secara periodik dan masing-masing ayat memiliki latar belakang penurunannya (asbaabun nuzuul).

Secara garis besar, tempat turunnya wahyu dibagi menjadi dua, yaitu yang turun di Mekkah (disebut golongan surat Makkiyyah) dan yang turun di Madinah (disebut golongan surat Madaniyyah). Dari dua tempat asal turunnya wahyu tersebut, apakah terdapat perbedaan karakter yang menonjol antara tipe wahyu yang turun di Mekkah dan tipe wahyu yang turun di Madinah? Jika ada, mengapa terjadi perbedaan? Dan sejak kapan pergeseran tipe wahyu itu dumulai? Langkah-langkah sistematik berikut ini akan mencoba memberikan jawaban.

Mempelajari Al Quran adalah mempelajari “rentang sejarah” perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah sampai ke Madinah. Dari saat-saat awal masa kenabian yang penuh dengan kesulitan, hinaan dan ancaman sampai dengan saat-saat puncak kekuasaan. Tipe wahyu pasti ada bedanya antara periode infant community (masa-masa merangkak atau masa-masa sulit) dengan masa-masa puncak kekuasaan.

Apa bedanya dan mengapa beda? Pertanyaan ini akan terjawab dengan “gamblang” apabila kita mau mempelajari Al Quran dengan cara sistematik dan kronologik dengan pendekatan mental kultural dan politik.

 

  1. Pertama-tama kita harus mengetahui lebih dulu bahwa sistem penyusunan surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an sesungguhnya tidak berurutan atau tidak tersusun secara kronologis. Jadi Al Quran yang ada dihadapan Anda sekarang ini, adalah merupakan kumpulan catatan-catatan (wahyu) yang tidak tersusun secara urut berdasarkan periodesasi.
  2. Tugas kita pertama-tama adalah “menguraikan” agar keseluruhan surat-surat di dalam Al Qur’an dapat kita rekonstruksi kembali menjadi bagian-bagian yang tersusun secara kronologis berdasarkan “urutan penerimaan wahyu.”

Pertama kita harus memulainya dari surat Al’Alaq karena surat inilah yang pertama kali turun. Lihat surat pertama ini di dalam Al Qur’an justru ditempatkan pada urutan ke 96 atau surat ke 96. Padahal, surat pertama atau ke satu dalam penyusunan Al Quran yang standar adalah dimulai dengan Al Faatihah (pembukaan), kemudian surat yang ke 2 Al Baqarah, yang ke 3 surat Ali ‘Imran dan seterusnya. Penysunan demikian jelas tidak sesuai dengan urutan yang semestinya.

Dari permulaan ini kita dituntut untuk dapat menelaah secara kritis dan analitis siapa yang menyusun dan mengapa susunan surat-surat Al Qur’an dibuat jungkir balik tidak karuan? Atas dasar apakah sebenarnya penyusunan Al Qur’an? Mengapa Al Qur’an tidak disusun secara kronologis berdasarkan urutan penerimaan wahyu? Kapan Al Qur’an mulai disusun seperti bentuknya yang sekarang? Kalau pada akhirnya Al Qur’an harus dibukukan, mengapa Al Qur’an tidak disusun pada saat Nabi Muhammad masih hidup? Berapa lama jarak waktu antara wafatnya Nabi Muhammad dengan disusunnya Al Qur’an?

  1. Surat-surat dalam Al Qur’an semua ada 114 surat, terdiri dari :

Surat periode Makkiyyah/turun di Mekkah = 86 surat

Surat periode Madaniyyah/turun di Madinah = 28 surat

Total semua surat = 114 surat

Tentang pembagian atau pengelompokan surat-surat ini sampai sekarang masih terdapat perbedaan pendapat antar para ahli tafsir Al Qur’an, meskipun demikian satu hal yang jelas bahwa surat-surat yang turun di Mekkah (periode Makkiyyah) jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan surat-surat yang turun di Madinah (periode Madaniyyah).

  1. Kalau kita akan mempelajari Al Qur’an harus dimulai dari periode Mekkah. Mengapa? Karena di kota Mekkah itulah sejarah lahirnya Al Qur’an dimulai, disamping itu juga untuk menghindari penafsiran-penafsiran yang sifatnya parsial (memihak atau berat sebelah), sebab kita tidak bisa mengambil ayat secara sepotong-sepotong tanpa mengerti jalan ceritanya atau sebab turunnya wahyu.

Karakteristik wahyu sangat berbeda antara wahyu periode Makkiyyah dengan karakteristik wahyu periode Madaniyyah, terutama tipe-tipe wahyu setelah umat Islam memenangkan pertempuran di Badr (perang Badr Maret 624 M). Al Qur’an harus dipahami secara kronologis-sistematis dari ayat pertama kali turun sampai dengan ayat penghabisan, dengan cara seperti ini kita akan mendapat gambaran yang utuh tentang pesan Al Qur’an (anatomi Al Qur’an). Ibarat sebuah pohon, harus kita kenali dan kita telusuri dari sejak biji tanaman, cara tumbuh, akar, batang, daun, buah, sampai ujung rantingnya.

Sekadar gambaran untuk membedakan tipe atau karakteristik wahyu, marilah kita bandingkan antara surat-surat yang turun di Mekkah seperti surat-surat sebagai berikut QS6:56-58,68-71,108; QS41:34 ; QS23:96; QS17:53 ; QS17:107; QS18:29; QS109: 1-6; QS16: 125 QS10: 99-100 ; QS29: 46 QS7 : 180 ; QS45:14 .

Catatan: untuk surat 109 (Al Kaafiruun = Orang-orang kafir) ayat 1 sampai 6, sungguh sangat bijaksana dan moderat karena tidak ada satu pun kata-kata yang mengandung ancaman atau merendahkan martabat orang-orang kafir. Antara penganut kafir dan orang yang beragama ditempatkan “sejajar” , tidak ada yang lebih hebat diantara keduanya (Lakum dinukum wa liya din = Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku). Tetapi jika kita akan menggali hubungan antara “orang yang beragama dan orang kafir” berdasarkan Al Qur’an, tidak bisa hanya menggunakan refrensi dari surat 109 ayat 1 s/d 6 yang tampak sangat bijaksana ini saja, namun periksa jugalah keseluruhan ayat yang mengandung hubungan “orang beragama dan orang kafir.” Bagaimana kesimpulannya? Ayat yang tampak sangat bijaksana tersebut akan terhapus atau “gugur” dengan ayat-ayat tentang kafir pada periode sesudahnya.

Al Qur’an akhirnya menempatkan golongan kafir sebagai orang-orang yang sangat hina, orang yang jahat, sangat dibenci dan harus dibasmi, dan kelak bila mati harus dipanggang diatas bara api neraka yang membara.

Saya berikan contoh 2 (dua) ayat dari surat Al Baqarah yaitu ayat 161 dan 162 (ayat ini turun di Madinah). Ayat 161 berbunyi : Innal-lazina kafaru wa matu wa humkuffarun ulaika ‘alaihim la’natullahi walmalaikati wan-nasi ajma’in (Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya). Ayat 162 berbunyi: khalidina fiha la yukhaffafu ‘anhumul’azabu wa la hum yunzarun ( mereka kekal di dalam laknat itu, tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh). Yang lebih “seram” hukuman bagi orang-orang kafir tentu masih banyak yang dapat kita jumpai. Oleh karena itu dalam mengambil refrensi dari Al Quran mengenai suatu masalah tidak bisa secara sepotong-sepotong. Kalau kita akan mengambil topik “kafir” harus dikumpulkan semua ayat yang membahas tentang kafir baik dari periode Makkiyah maupun Madaniyyah.

Dari surat-surat periode Mekkah tersebut di atas marilah kita bandingkan dengan tipe wahyu Madaniyyah seperti pada : QS59: 2-4; QS4 : 89 ; QS8 :12 QS33 : 60-62 dan tentu masih banyak lagi ayat-ayat periode Madinah yang keras.

Apa yang dapat kita analisis dari perbedaan karakteristik wahyu ini? Adalah fakta bahwa sejarah wahyu (Al Qur’an) tidak terlepas dari kekuatan politik, artinya ketika kedudukan Muhammad di Mekkah masih lemah karena belum mempunyai basis pendukung massa yang kuat (infant community), maka dengan sendirinya surat-surat atau wahyu periode Mekkah pun pada umumnya lebih moderat jika dibandingkan wahyu periode Madaniyyah. Kalau pun terdapat ancaman pada umumnya lebih bersifat tekanan psikologis yang selalu dikaitkan dengan ancaman Allah dan penyiksaan di neraka atau alam kubur.

Komposisi ayat-ayat periode Mekkah yang sangat menonjol adalah tentang :

1. Penggambaran siksa di neraka

2. Penggambaran siksa di alam kubur

3. Berita tentang akan datangnya hari kiamat

4. Perumpamaan kejadian alam yang dihubungkan dengan

sang pencipta alam (Allah)

5. Penggambaran keindahan surga

6. Cerita tentang riwayat nabi-nabi masa lalu

7. Ajakan untuk bertobat dan menyembah serta memuji kepada Allah yang maha esa dan

8. Kebencian terhadap syetan

Setiap surat yang turun di Mekkah kebanyakan memuat salah satu atau lebih dari ke tujuh unsur di atas. Namun, sejak Muhammad hijrah ke Madinah dan ketika kedudukannya sudah mulai bisa diterima secara luas, maka tipe wahyunya sedikit demi sedikit mulai ada pergeseran yaitu banyak ayat yang lebih keras dan represif, hampir semua produk hukum dihasilkan di Madinah.

Kalau di Mekkah hanya tekanan psikologis maka di Madinah sudah bergeser menjadi ancaman fisik yang lebih nyata dan mengikat.

Mengapa bisa demikian? Ada yang menjawab “itu merupakan bukti kearifan Allah, atau semua memang kehendak Allah” Haruskah jawabannya demikian? Tidak bisakah kita menggunakan logika politik (aspek sosiologis) untuk menjawabnya? Bisakah kita mengabaikan dukungan massa terhadap proses terjadinya wahyu? Artinya ketika dukungan dari massa masih lemah (sedikit) dengan sendirinya ayat-ayat yang turun masih moderat dan sifatnya hanya persuasive. Contoh, minuman keras (khamar) pada Islam periode Makkiyah tidak dilarang karena basis pendukung Muhammad masih lemah dan setelah dukungan massa makin kuat di Madinah baru pelarangan atau hukum kharam terhadap minuman keras (khamar) ini dikeluarkan. Di sinilah justru kita bisa berpendapat bahwa “wahyu” sebenarnya merupakan produk dari kecanggihan pemikiran manusia (Muhammad) yang penuh dengan perhitungan sosial-politis dan psikologi massa.

Jika jawaban ini tidak bisa diterima oleh para ulama dan ahli agama, tentu kita bisa mengajukan pertanyaan, apakah “wahyu” adalah sebuah terminologi yang sama sekali bebas dari campur tangan pemikiran manusia (Muhammad)?

Logikanya “hanya orang kuat atau institusi yang kuatlah yang dapat mengeluarkan produk hukum atau undang-undang”.

Sama dengan posisi Muhammad. Pada saat perjuangannya di Mekkah masih belum mendapat dukungan massa yang solid, mungkinkah seorang Muhammad bisa mengeluarkan undang-undang atau hukum yang katanya berasal dari “wahyu”? Kalau pun Tuhan bisa mengeluarkan instruksi (wahyu), apakah tidak ditertawakan oleh masyarakat, lagi pula siapa yang mau patuh dan melaksanakan? Paling banter wahyu yang diterima pun sekadar “imbauan untuk jalan yang lurus dan bagi-bagi rejeki untuk kaum fakir miskin (berzakat) dan menyantuni anak yatim”. Mengapa untuk “pesan sosial” ini mesti harus Tuhan yang berbicara melalui “wahyu?”

Tidak bisakah seorang Muhammad berbicara atas nama dan atas pikirannya sendiri? Lantas bagaimana sebenaranya kapasitas pemikiran (visi dan misi) pribadi Muhammad tentang “kemanusiaan/humanisme” jika segala-galanya harus berproses melalui wahyu? Dari semua yang diucapkan oleh Muhammad, hanya Muhammadlah yang berhak membagi-bagi mana yang wahyu mana yang bukan wahyu. Tidak ada orang lain yang bisa ikut mengontrol pemikiran Muhammad. Dalam hal wahyu atau bukan, Muhammad adalah sosok tunggal kebenaran itu sendiri.

Jika semua serba Tuhan, bodoh atau pintarkah sebenarnya Muhammad itu? Lantas bagaimana cara membedakan wahyu dan kreatifitas atau produk pemikiran dari sosok Muhammad? Proses pewahyuan ini sama sekali tidak ada checks and balances dari pihak lain. Pokoknya kalau Muhammad bilang “ini wahyu” umatnya harus percaya sebab kalau tidak percaya berarti termasuk kedalam golongan orang kafir. Semudah dan sesederhana itu seorang Muhammad memberi pilihan hidup. Wahyu seakan-akan menjadi produk yang tidak bisa disentuh oleh akal, wahyu harus diterima melalui “iman” dan Muhammad adalah pemegang tunggal kebenaran atas nama Tuhan.

Mari kita pelajari seluruh ayat-ayat periode Makkiyyah, semua ayat yang berhubungan dengan sesama atau hubungan dengan Tuhan selalu disampaikan dengan cara persuasif tanpa ancaman fisik secara langsung, paling ancamannya kemurkaan dari Allah atau siksa api neraka atau siksa di dalam kubur.

Apakah fakta-fakta ini tidak cukup untuk mengatakan bahwa “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan.”

PENDUKUNG LAIN UNTUK BISA MEMAHAMI AL QUR’AN

1. Pengetahuan tentang bahasa Arab, termasuk di dalamnya sastra Arab klasik, karena seperti kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan bahasa Al Qur’an adalah bahasa “puitis” yang bisa menghadirkan ragam tafsir.

2. Lintas sejarah Arab pra Islam, yaitu pra kondisi sebelum Islam lahir. Tanpa kita tahu sejarah Arab pra Islam maka mustahil kita akan bisa memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang “asbaabun nuzuul” (sebab-sebab turunnya wahyu). Lintas sejarah Arab meliputi kajian ilmu arkeologi, antropologi, dan sosiologi bangsa Arab. Disiplin ilmu ini akan mengantarkan kita pada pemahaman yang menyeluruh tentang struktur budaya bangsa Arab, termasuk di dalamnya tentang kehidupan sosial-religius, politik, ekonomi, dan pendidikan. Intinya kita akan membedah melalui berbagai pintu tentang siapa sebenarnya bangsa Arab itu? Pengetahuan tentang sejarah bangsa Arab pra Islam setidaknya juga akan memberikan jawaban tentang mengapa seorang Muhammad tergerak untuk berjuang membebaskan rakyat Arab dari belenggu kebodohan dan penindasan (perbudakan), lihat surat Al Balad (QS90) ayat 11 s/d 16.

Kita perlu tahu sejauh mana sebetulnya pengertian “zaman jahiliyah” yang melanda bangsa Arab pada saat itu? Apakah benar-benar telah terjadi kerusakan moral yang parah? Separah apakah sehingga seorang Muhammad terpanggil untuk memperbaikinya?

Pengetahuan sejarah pra Islam juga akan melacak tentang apa motivasi perjuangan seorang Muhammad, mengapa Muhammad memilih jalan keluar untuk mengatasi krisis (kemanusiaan??) ini melalui jalur sosial-religius (theokratisme)? Mengapa tidak menggunakan jalur sekularisme (demokrasi)? Apakah model gerakan sekularisme atau demokrasi pada saat itu belum dikenal khususnya pada peradaban politik bangsa Arab? Apakah pada saat itu basis gerakan sosial hanya mengenal penyelesaian melalui jalur theologis dan aristokratis? Jika jawabannya betul, pantas saja Muhammad secara intens menggandeng Tuhan dan malaikat (Jibril) untuk menemani perjuangannya, dan Muhammad bisa berkata apa pun dengan mengatas namakan Tuhan.

Masyarakat pada saat itu (dan sampai sekarang pun) boleh percaya boleh tidak terhadap apa yang diklaim oleh Muhammad sebagai wahyu Tuhan. Bagi yang tidak percaya dimasukkan dalam golongan kaum kafir, kafir berarti menjadi musuh Tuhan dan manusia (dari kelompok nabi). Muhammad jelas telah berhasil menciptakan conditioning (suasana) agar seolah-olah perjuangannya mendapat legitimasi dan di backup dari langit (Tuhan) supaya motivasi perjuangannya seolah-olah tampak sakral, bersih, mistis dan suci. Akhirnya Muhammad menggunakan“bahasa Nabi” yaitu bahasa wahyu sebagai bahasa pengantar perjuangan politiknya. Di sinilah Muhammad benar-benar sangat cerdas dalam menguasai dan mengelola psikologi massa. Massa ternyata mudah dikuasai dan dikendalikan dengan pendekatan wahyu Tuhan. Dengan wahyu Tuhan, ternyata Muhammad lebih mudah mengatur umatnya, sebab wahyu pasti tidak bisa diprotes. Bahkan bagi yang benar-benar percaya, Al Qur’an menjadi harga mati yang harus diperjuangkan dengan mengorbankan harta benda dan nyawa sekalipun.

  1. Memahami Al Qur’an akan sangat terbantu dengan menggunakan Indek Al Qur’an. Indek Al Qur’an gunanya untuk mempermudah penelusuran tentang tema-tema tertentu yang akan kita butuhkan. Contoh jika kita akan mencari topik tentang kafir, maka cari saja pada “indek kafir” disana akan ditunjukkan ayat mana saja yang berhubungan dengan kafir. Kemudian setelah kita kumpulkan seluruh ayat mengenai kafir, tugas selanjutnya kita susun berdasarkan urutan penerimaan wahyu. Nanti pasti akan bisa diketahui bahwa ternyata “wahyu” tentang kafir memiliki nuansa yang berbeda antara periode infant community dengan periode saat kedudukan Muhammad sudah semakin kuat. Kesimpulan saya, wahyu hanyalah target politik yang menggunakan Tuhan sebagai alasan pembenaran.

Catatan lain:

Untuk menelusuri tentang “asbaabun nuzuul” salah satunya bisa menggunakan refrensi dari hadist tetapi marilah kita pelajari “sejarah hadist” yang penuh dengan berbagai pertikaian dan kepentingan itu. Oleh karenanya saya mengabaikan peran sunnah/hadist sebagi refrensi, sebab perjalanan sunnah atau hadist memiliki celah yang luar biasa untuk dimanipulasi demi kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Lagi pula hadist ditulis jauh setelah nabi Muhammad meninggal dunia sehingga sangat sulit untuk memastikan kebenarannya.

SEKILAS PERKEMBANGAN ISLAM SETELAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD

Sebagaimana kita ketahui bahwa sepeninggal Nabi Muhammad yaitu beliau wafat pada tanggal 08 Juni 632 M, masyarakat muslim yang baru lahir itu dihadapkan pada sesuatu yang berujud “krisis konstitusional.”

Karena nabi tidak mewariskan ketetapan undang-undang pelaksanaan (constitution) bahkan tidak juga menciptakan suatu dewan (council) dalam jalinan majelis kesukuan yang mungkin dibutuhkan selama dalam periode transisional yang genting (darurat).

Keunikan dan karakter kewibawaan yang eksklusif, yang beliau anggap sebagai eksponen kemauan Tuhan, telah menjadikan nabi Muhammad sebagai figur sentral terhadap seluruh proses pemerintahan dan dalam komunitas sosial. Hal ini menyebabkan Nabi Muhammad sama sekali tidak mempersiapkan calon-calon pengganti terpilih sepanjang hidupnya.

Konsepsi penggantian pimpinan pemerintahan saat itu tidak dikenal oleh orang-orang Arab. Tetapi krisis konstitusi telah mempertemukan adanya tindakan tegas dari tiga orang yaitu Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah, hingga akhirnya tercapailah kesepakatan bahwa Khalifah Rasulullah pertama sesudah wafatnya nabi adalah jatuh pada Abu Bakar.

Masa khalifah Abu Bakar kurang lebih selama dua tahun, beliau wafat pada tanggal 23 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijri, tetapi sebelum wafat beliau telah mewasiatkan khilafah kepada Umar bin Khaththab.

MASA KEPEMIMPINAN UMAR (634-644M)

Ciri yang sangat menonjol pada masa pemerintahan Umar adalah beliau sangat konsisten terhadap penegakan hukum, anti korupsi, kolusi dan nepotisme (anti KKN) serta menerapkan sistem pajak (zakat) yang progresif.

Tetapi karena sifatnya yang sangat tegas dalam berbagai bidang inilah akhirnya pada tanggal 4 Nopember 644 M, Umar dibunuh oleh budak Persia seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Lu’lu’ah. Alasan pembunuhannya karena Abdul Mughirah merasa terlalu berat dengan kharaj (pajak) yang dibebankan kepadanya.

Pada saat yang sangat kritis ini, karena pada saat Umar ditebas pedang, beliau tidak langsung tewas dan sempat membentuk sebuah team dari para sahabat yang dinamakan “ahlisyura” (majelis syuraa sama dengan majelis permusyawaratan/badan legislatif). Anggota team tersebut terdiri dari 6 orang masing-masing bernama Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdur Rahman bin Auf. Hal ini merupakan terobosan baru dalam budaya politik bangsa Arab, karena Umar merupakan orang pertama yang membentuk team guna merumuskan alih kekuasaan (suksesi kepemimpinan).

Proses pemilihan tersebut memang cukup alot sebab akhirnya terbentuk dua kubu yang sama kuat yaitu antara kubu Utsman dan kubu Ali. Setelah melalui negosiasi yang panjang akhirnya majelis syura menetapkan Utsman sebagai pengganti Umar.

MASA KEPEMIMPINAN UTSMAN (644-656M)

Masa pemerintahan Utsman penuh diwarnai KKN. Hal pertama yang menyebabkan Utsman dituduh telah melakukan nepotisme adalah pemecatan terhadap gubernur Kufah, Sa’ad bin Abi Waqqash yang digantikan oleh Walid bin Uqbah saudara satu ibu dengan Utsman. Utsman telah mengangkat para kerabatnya dari Banu Umaiyyah untuk menduduki berbagai jabatan.

Pada pemberontakan tgl 17 Juni 656 M, Utsman terbunuh. Siapa yang telah membunuh Utsman? Sulit dipastikan karena pada saat itu rumah Utsman dalam keadaan dikepung oleh pemberontak dan salah seorang pemberontaknya berhasil menyelinap masuk kedalam rumah yang kemudian menebaskan pedang sehingga khalifah Utsman tewas.

Pada saat itu yang menjaga rumah Utsman adalah dua orang putra Ali yaitu Hasan dan Husein. Pembunuhan ini merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir dan merupakan awal pecahnya perang saudara yang dahsyat dalam Islam. Dalam kasus pembunuhan Utsman sulit dipastikan bagaimana posisi Thalhah, Zubair, Aishah, dan Ali apakah mereka terlibat atau tidak, memprovokasi atau tidak?

MASA KEPEMIMPINAN ALI (656-661M)

Setelah Utsman terbunuh, akhirnya kekuasaan diambil alih oleh Ali, tetapi sepanjang kekuasaannya penuh dengan berbagai masalah. Kekuasaannya sangat rapuh karena dirongrong dari berbagai pihak. Ali harus terus bertempur melawan Mu’awiyah dan golongan Khawarij yaitu golongan oposisi atau pembangkang.

Mu’awiyah adalah keponakan Utsman yang terus mendesak agar pembunuh Utsman untuk segera dapat ditangkap dan di qishaash (tentang hukum qishaash lihat Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 178). Golongan khawarij adalah merupakan kelompok gerakan yang dengan tegas menolak kepemimpinan Ali maupun Mu’awiyah.

Pada bulan Januari tahun 661 M atau tanggal 17 Ramadhan tahun 40 Hijri, seorang dari golongan Khawarij yang bernama Abdur Rahman bin Muljim ada juga yang menyebut Ibnu Muljan telah berhasil membunuh Ali. Inilah awal dari dinasti Umaiyyah, yang nanti selanjutnya pada tahun 680 M, terjadi pembunuhan massal atas pengikut Ali di Karbala, dimana dalam pembunuhan tersebut Husein (putra Ali) juga ikut dibunuh. Dan pada tahun 683 M, sampai dengan tahun 690 M, terjadi lagi perang saudara ke dua.

Ilustrasi ini sangat penting saya sampaikan agar dapat menjadi pengetahuan bahwa bagi siapa pun yang akan mempelajari hadist hendaknya paham bahwa riwayat hadist sebenarnya penuh dengan karut marut yang diakibatkan oleh perebutan kekuasaan, dan kepentingan kelompok atau golongan.

Juga harus diketahui bahwa hadist disusun atau dibukukan berpuluh-puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat (mungkin bahkan ratusan tahun?). Ketika Nabi sendiri masih hidup tidak pernah memerintahkan sunnah itu untuk dicatat, apa yang diucapkan dan dilakukan oleh nabi dari waktu kewaktu. Sepanjang pengetahuan saya, nabi tidak pernah memposisikan sunnah itu sebagai hukum ke dua setelah Al Qur’an. Sehingga siapa pun yang ahli hadist atau sunnah pasti sangat sulit memastikan yang “shohih” atau tidak terlepas dari siapa pun perawinya entah itu Aisyah, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abu Bakar, Abu Hurairah, ataupun Ibnu Mas’ud. Dan terlepas dari siapa pun penulis hadist apakah dia Ibnu Majah, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Thirmidzi, atau pun Nasa’i.

Banyak aliran dan kelompok dalam Islam yang saling menyerang di mana masing-masing mengaku yang paling benar. Kelompok atau golongan tersebut adalah seperti golongan Khawarij, golongan Rafidzah, golongan Mu’tazilah, serta golongan Syi’ah Itsna Asyariah. Masing-masing “bermain” dengan hadist yang menguntungkan kepentingan kelompoknya atu golongannya.

Setelah Nabi Muhammad wafat, kemudian kepemimpinan Islam dipegang oleh para sahabat, penggunaan sunnah atau hadist nabi sebagai sumber hukum sedikit demi sedikit semakain rancu. Kerancuan ini bukan terletak pada fungsi dari sunnah itu sendiri tetapi lebih karena adanya sejumlah materi sunnah yang dianggap palsu, lemah atau diragukan kebenarannya oleh pihak-pihak lain.

Sementara satu pihak melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya sesuai dengan sunnah nabi, pihak lain menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan sunnah nabi. Tentu masing-masing memiliki alasan mengapa ia menolak suatu sunnah, sementara pihak lain menerimanya.

Itulah sekilas sejarah hadist yang sangat rawan dengan “pemalsuan”, lain halnya jika hadist ditulis secara tahap demi tahap ketika Nabi Muhammad masih hidup sehingga jika terjadi pemalsuan bisa langsung disanggah oleh Nabi sendiri. Nah catatan hadist yang ada sekarang ini, siapa yang bisa menjamin kebenarannya bahwa apa yang disampaikan itu betul-betul bersumber dari Nabi Muhammad? Dengan alasan-alasan itulah saya mengabaikan peran hadist terhadap penjelasan asbaabun nuzuul.

Untuk mencari refrensi asbaabun nuzuul, bisa menggunakan dari para orientalis yang kredibilitas ilmunya terhadap sejarah Islam cukup independen dan obyektif, seperti Ignaz Goldziher dalam bukunya berjudul “Muhammadenische Studien” terbit tahun 1890 M dalam bahasa Jerman.

Kemudian dari kalangan cendekiawan muslim ada beberapa nama yang cukup berani dalam mengulas hadist yaitu : Dr Taufiq Shidqi seorang berkebangsaan Mesir dalam tulisannya Al Islam Huwa Al Quran Wahdah (Islam hanya menggunakan Al Quran saja), Prof Dr Ahmad Amin dalam tulisannya pada buku Fajr Al Islam dan Dluha Al Islam, dan Dr Ahmad Zaki Syaadi dalam buku Tsaurah Al Islam.

Refrensi ini saya kutip dari buku GERAKAN ISLAM KONTEMPORER DI INDONESIA yang ditulis bersama-sama oleh Drs. Abdulaziz, Drs. Imam Tholkhah, Drs.Soetarman penerbit Pustaka Firdaus tahun 1989 pada halaman 148 s/d hal. 151. Metode mempelajari Al Quran dan Hadist seperti yang saya sampaikan di atas mudah-mudahan dapat mengantarkan kita pada pemahaman yang komprehensif atau menyeluruh tentang seluk beluk Islam.

Jadi kalau kita akan mempelajari Islam, pelajarilah budaya Arab pada saat dan sebelum Islam lahir. Sebab budaya yang ada pada saat itu akhirnya banyak yang terserap didalam Al Qur’an, entah sebagai hukum atau etika sosial.

Agama dan wahyu tidak pernah lepas dengan Tuhan. Sayangnya, para Nabi atau pemimpin agama tidak pernah memberikan banyak pilihan kepada manusia untuk menelaah tentang apa wahyu itu dan siapa sebenarnya Tuhan itu, mengapa manusia harus percaya terhadap wahyu? Bisakah wahyu dipercaya? Wahyu dan Tuhan adalah “dagangan” yang tidak boleh dicela dan dikrtitik. Kita tidak bisa tawar menawar,Dia harus dibeli atau tidak sama sekali.

Agama benar-benar telah membebani umat manusia, sehingga umat manusia dicekam oleh ketakutan-ketakutan yang luar biasa terhadap api neraka. Ketakutan itu akhirnya hanya membuat manusia terpenjara. Dalam ruang sempit itulah orang-orang beriman bicara dan berteriak tentang “kebenaran”. Padahal kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa diteriakkan dalam ruang sempit yang bernama “penjara rasa takut”. Bila kita ingin menyuarakan kebenaran, maka kebenaran itu membutuhkan tempat yang teramat luas. Apa sih kebenaran itu? Kebenaran hanya mungkin kita peroleh atau kita diskusikan manakala tidak terjadi “penjajahan dan penindasan terhadap pemikiran” antara satu dengan yang lain.

(Semarang, 29 Mei 1999)

About these ads
 
86 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2008 in Uncategorized

 

86 responses to “METODE MEMPELAJARI AL QUR’AN

  1. danalingga

    Maret 12, 2008 at 3:04 am

    Beh! Ada pencerahan di sini.

    *belajar lagi*

     
  2. gempur

    Maret 12, 2008 at 10:44 am

    cemerlang berani dan sekaligus perlu berhati-hati.. meski bukan hal baru.. hehehehehe… *mode sok tau sedang ON*

    gagasan bagus.. lebih manusiawi melihat Qur’an..

     
  3. snhadi

    Maret 12, 2008 at 4:28 pm

    hati-hati mas, pendapat sampean tentang “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan,” sangat berbahaya. Mungkin sebelum berpendapat dg logika2 yang mas berikan, lebih baik mas banyak mempelajari dulu buku2 tentang islam, terutama sirah nabawiyah, yang di situ dijelaskan, “Muhammad itu seorang Ummi — tidak pandai membaca, jadi mana mungkin alquran itu hasil pemikirannya sendiri. Selain itu Muhammad dijuluki al amin (orang yang tak pernah berbohong), ini julukan bukan hanya diberikan bagi orang2 yang simpati kepd beliau, tapi oleh semua orang saat itu dg berbagai latar belakang kepercayaan. Jadi mana mungkin tiba2 berani berbohong tentang wahyu alquran.

    Dan satu lagi perlu diingat bahasa alquran cukup berbeda dg bahasa arab pada umumnya karena ada nilai sastra yg sangat tinggi dan tidak bisa ditiru oleh siapapun. Dulu ada org yang ditantang membuat satu saja ayat seperti alquran tetapi ternyata tidak bisa. Seandainya alquran buah pikiran muhammad semata, kenapa orang lain tidak bisa menirunya? bukannya muhammad seorang buta huruf dan orang2 saat itu banyak sekali yang lebih pandai sastra dan ilmunya dibanding muhammad? Apa bukti itu belum cukup membuktikan bahwa alquran memang wahyu dari allah yang disampaikan melalui perantara malaikat jibril kepada muhammad saw?

    Terakhir kita jangan lupa, kenapa ada perbedaan ayat makiyah dan madaniyah? karena itu kebijakan allah swt. Orang2 mekkah saat itu kehidupannya benar2 kacau dan penuh dosa. Jika allah langsung menurunkan wahyu berupa ancaman tanpa toleransi, maka ajaran islam bukannya diterima malah ditolak. Setelah pelan2 ada toleransi dan masyarakt mulai mengenal islam baru allah menurunkan ayat2 yang lebih tegas. Jika anda seorang ayah jika mau mengajarkan ilmu matematika ke kelas 1 SD, apa bisa langsung memberikan pelajaran kalkulus untuk anak kuliahan? tentu tidak bukan? pasti anda mengajarkan pengenalan angka dulu, baru tambah2an, dst. Begitu kebijakan allah yang turun dalam wahyu alquran.

    Semoga allah memberikan sll pintu hidayah ke kita semua. Aamiin.

     
    • Rajab Mulyadi

      Juni 10, 2012 at 6:42 pm

      Setuju Mas snhadi, penulis ini terlalu merasa lebih pintar dari Para utusan Tuhan. dia memandang Al-Qur’an dari isi sejarahnya saja, padahal kalau dia mau baca seluruhnya, dan memandang Al-quran dari sisi ilmu pengetahuan dan Teknologi (salah satunya) dia akan menemukan Ayat mengenai Ilmu Pengetahuan & Teknologi yang sangat tidak mungkin manusia mengetahui dan membuktikannya selain dengan Teknologi zaman sekarang (tonton Video-video Harun Yahya tentang Keajaiban Al-Quran), di antaranya tentang
      1. bagaimana sistematika penciptaan manusia,
      2. proses terjadinya hujan
      3. dua lautan yang saling terpisah di antaranya,
      4. adanya sungai di Lautan,
      5. pegunungan yang bergerak beberapa inci setiap tahunnya
      6. Gunung sebagai paku bumi,
      7. langit-langit (isi) yang meluas,
      8. bumi yang berputar pada tetap porosnya,
      9. bagaimana proses dan berapa lamanya penciptaan Bumi,
      10. bukti Bumi itu Bulat,
      11. persentase ukuran luas Bumi Daratan dan lautan,
      12. lapisan-lapisan pelindung Bumi
      13. Manfaat dan khasiat Madu dari lebah dan ASI
      14. dan teramat banyak lagi yang lainnya yang mungkin belum bisa dibuktikan dengan teknologi zaman sekarang.

      intinya “bagaimana mungkin Ilmu pengetahuan yang di sampaikan oleh Nabi Muhammad bukan berasal dari Sang Pencipta dunia dengan sedikit bukti2 tersebut di atas”. bagaimana mungkin Nabi Muhammad dapat mengira-ngira IPTEK tersebut? wahai penulis Anda ini orang yang memiliki kecerdasan akal tapi tidak memiliki kecerdasan Hati. kalau memang Anda ingin membuktikan sekali lagi keraguan Al-Quran saya kasih tips:
      1. Pelajari Kepribadian Nabi Muhammad terutama sifat Jujurnya yang diakui kawan dan lawan
      2. cari ayat2 Al-Quran yang berhubungan dengan IPTEK
      3. Pelajari dengan Kecerdasan Hati dan Kecerdasan Akal

      mohon maaf,
      salam dan semoga hidayah datang kepada Anda
      terima kasih

       
  4. Santri Gundhul

    Maret 14, 2008 at 7:27 am

    Sebuah pemikiran dan penjelasan yang sangat RASIONAL, LOGIS. Dibutuhkan keberanian memang untuk menguak Sejarah turunnya Kitab Suci dari pakem-pakem yang selama ini saya anggap DOKTRIN, DOGMA dan PENGEBIRIAN serta PEMASUNGAN kreatifitas Akal dan Pikiran manusia-manusia yang memeluk agama dengan Nama Islam.

    Hmmm…hmmm….
    Makiyah dan madaniyah, dua tempat turunnya Ajaran KESELAMATAN ( wahyu ) buat manusia dari Tuhan melalui manusia yang TERCERAHKAN yaitu Muhammad bin Abdullah. Tetapi kenapa perbedaan karakter dari Ajaran tersebut sangat mencolok..?? Yah…nuansanya sangat berbau POLITIS dan KEKUASAAN. Itu merupakan hal yang sangat LUMRAH. Ibaratnya ketika kita menawarkan sebuah PRODUCT kepada konsumen
    …pasti deh..gayanya penawarannya Lembut, Santun dan penuh senyum serta atmosfirnya tampak Damai…he..he..

    Kenapa…?? yeee..klu gak gitu gak laku kan..?? Itulah gambaran saya terhadap Ajaran ( Ayat-ayat ) yang turun di Mekah. Lalu kenapa ketika di Madinah banyak Ajaran ( ayat-ayat ) yang sangat keras dan cenderung berbau DARAH…?? seperti Rajam, Pancung, Penggal kepala, Potong Tangan malahan ada dengan tegas isyarat ” Halal darahnya orang Kafir “.
    Saya kadang termenung, Merenugi ayat-ayat ini.
    Lantas sayapun bertanya pada Diri dan Tuhan saya sendiri…Heh Tuhan, Mungkinkah Tuhan di Arab sono itu :
    – Membenci DIRI-Nya sendiri…??
    – Menyiksa DIRI-Nya sendiri…??
    – Mengazab DIRI-Nya sendiri…??
    – Membunuh DIRI-Nya sendiri…??

    Halah…halah…benarkah ( ayat-ayat keras ) ini Firman dari Tuhan yang SEJATINYA Tuhan..??. Ah….Tuhan kok RAJA TEGA banget yah…

    Nggelesod…mendekap Tuhan ku dalam Kedamaian dan kasih Sayang

     
    • mueeza

      November 16, 2011 at 8:42 am

      Mas mbak,..skali lagi coba membuka pikiran anda,..JANGAN SELALU BERPIKIR JIKA JALAN YANG TERASA ENAK ITU ADALAH JALAN YANG BAIK UNTUK KITA.

      Ilustrasi : Tahukah anda pada saat anda memakan Mc Donald anda memakan daging sapi yang disembelih/dibunuh dengan MESIN yang memelintir lehernya tanpa adanya bacaan doa atas sang penciptanya, sapi-sapi itu dipelintir lehernya secara massal. Dari hal itu sy berpikir bahwa sesuatu yang terasa enak untuk kita, hampir 80% bukanlah yg terbaik untuk kita.

      Pertanyaannya: Trus apa yg terbaik untuk kita ???

      Jawabannya : Tuhan memiliki sistem kerja yang sangat misterius untuk sesuatu yg diciptakannya, DIA (Tuhan) lebih tau daripada anda. Sampai manapun batas penalaran anda,..saya jamin anda tidak akan sampai pada pemikiran yg diatas.

      Kita seperti OB yang diberi secarik kertas oleh atasan kita, tp ternyata kita membuangnya, padahal kertas itu adalah OBLIGASI besar yang diberikan atasan untuk kita.

      Jika anda berpikir berdasarkan otak dan pancaindera saja, anda tidak akan mendapatkan arti sebenarnya ttg hidup. Sehingga anda akan ditutup hatinya, dibutakan matanya, dan ditutup telinganya dan hanya mulut saja yg akan terbuka lebar.

      Cukup sekian aja,..

      saya MUSLIM.

       
  5. gendut boy

    Maret 17, 2008 at 10:14 am

    ha ha ha…
    Mas Santri Gundul akal logikanya terpengaruh Al Hallaj yang berpendapat “bersatunya unsur jasmani-rohani dengan tuhan”. Mesthi aja puyeng..
    Sehingga muncul tanya
    mungkinkah Tuhan di arab sono
    -Menbenci DIRI-Nya sendiri…??
    dst
    Ancaman masuk neraka, rajam, potong tangan itu wujud kasih sayang Allah agar orang-orang tidak berbuat durhaka, membuat kerusakan di muka bumi, mencuri, berzina dengan cewek atau istri tetangga dll.
    Seperti kasih sayang pada anak kita kalau anak kita sedang sakit piliek, batuk flu misalnya;
    Eh Tole kamu kalau beli es nanti tak jewer lho…
    Begitu juga Allah sangat menyayangi hamba-hambanya, dan memang hambanya diwajibkan memusuhi setan.

     
  6. Mr. Ngeyel

    Maret 17, 2008 at 10:41 am

    Yaa Nabi Mumammad memang membawa ajaran Tauhid (Tuhan yang Maha Esa) tunggal, dan jalur yang dilaluinya ya lewat politik, akhlak, kemasyarakatan, kebatinan. Sehingga sepeninggal Muhammad memang tidak ada kekuasaan politik yang diwasiatkan, semuanya terserah pada masyarakat berikutnya tentu saja dengan mengingat-ingat nasehat2 sebelumnya. tetapi yang terpenting Ajaran Tauhid yang dibawanya itu, mulai dari nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi, Isa, semua pasti masih ada silsilahnya.
    Pembelajaran tentang hadist (sunnah) memang mesti ada silsilah perawinya dan latar belakang perawinya.
    Tugas Nabi muhammad memang untuk menyampaikan wahyu, mestinya Nabi muhammad orangnya pinter karena dapat membedakn antara wahyu dengan pikiran sendiri.
    Pertanyannya kalau Quran bukan wahyu kenapa Quran sampai sekarang masih suci/murni tanpa perubahan walaupun kondisi masyarakatnya carut-marut?
    Tentang terminologi kafir, kafir itu artinya kan membantah/tidak percaya. Ya kalau yang tidak percaya mesti digolongkan sebagai membantah/tidak percaya, bahasa arabnya kafir.
    Ada pendapat dalam pemikiran demokrasi bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” bagaimana suara rakyat dari negara yang mengaku tidak bertuhan.
    Suprayitno ini aneh, mempertanyakan Muhammad tapi malah menyuruh belajar agama Islam melalui kaum orientalis yang jelas-jelas memang awalnya untuk membantah Muhammad.
    Akhirnya bagiku agamaku, bagimu agamamu.

     
  7. dyandesign

    April 1, 2008 at 8:57 am

    btw pak tomi liat film dr blanda yg anti islam “FITNA”
    menurut anda gmn?? .. bertentangan bgt dg posting njenengan… dia plajari quran sepotong 2 doank… hasilnya… huh seyemmm.. kekerasan smua… gila..

     
  8. edan

    April 1, 2008 at 11:08 am

    B

     
  9. tomyarjunanto

    April 10, 2008 at 4:51 am

    Disuatu kerajaan ada 5 bersaudara buta, tergerak oleh belas kasih ’Sang Raja’ mempekerjakan mereka diistana. Suatu hari mereka memohon pada Sang Raja untuk sudi mengajak mereka ke kandang gajah biar tahu binatang sperti apa gajah itu. Dan Sang Raja berkenan :mrgreen:
    Dasar orang buta, :D mereka menginterpretasi gajah menurut perasaan mereka sendiri saat mencoba ’melihat’ gajah lewat rabaan. Yang tua memegang gajah pas ekor lalu menarik kesimpulan gajah itu seperti seutas tali, yang satunya meraba kakinya lalu berkesimpulan gajah seperti sebatang pohon palem, yang lain meraba telinganya menganggap gajah seperti daun lompong, begitu dg lain saling menarik kesimpulan sendiri berdasar anggapannya masing2.
    Sang Raja lalu memberi mereka modal masing2 untuk wirausaha sebagai produsen kecap. euforia karena sudah ’mengerti’ gajah, mereka membuat kecap dengan merek gajah. Yang satu pakai merek Kecap No. 1 Cap Gajah *tapi Cuma ekornya*, yang satunya Kecap No. 1 Cap Gajah juga *tapi Cuma kupingnya*, idem dito sama yang lain.
    Masing2 memproduksi Kecap No. 1 dg merek gajah tapi sejatinya cuma bagian tubuh dari gajah saja.

     
  10. rajaiblis

    April 18, 2008 at 3:04 am

    cari tuhanmu, dekati dia, sembahlah dia, pujilah dia, itu akan lebih menenangkan dibanding berbagi rasa yg orang lain belum tentu menemukan rasa yg sama…

    dalam secangkir kopi, bisa ditemukan rasa yg berbeda bagi sesiapa saja yg meminumnya …
    nikmatilah itu untuk dirimu sendiri … gak perlu diumbar dan diperdebatkan …

    biarkan …
    biarkan saja mereka yg tak paham nikmatnya kopi … nanti, saat mereka butuh, toh mereka akan mendatangimu untuk mencicipinya !

    @ robusta apa arbika nih

     
  11. rajaiblis

    April 18, 2008 at 3:06 am

    lagipula, toh tak semua orang suka aroma kopi …
    padahal aroma kopi mampu menetralkan semua wewangian !

    @ akur banget

     
  12. dewi

    Mei 28, 2008 at 8:27 am

    alah-alah.. anda ini hanya menyebar kebencian saja.. orang hidup kok senengnya cari ribut toch mas-mas kalau ga suka dengan suatu sistem ya udah ga usah cari ribut or sensasi dengan bikin tulisan yang ga mateng.. kalau berani bikin forum terbuka donk jadi biar keliatan siapa yang error..perbanyak lagi yach baca buku nya dan coba sedikit lebih objektif…ok

     
  13. Anto

    Juni 16, 2009 at 8:51 am

    Untuk mengetahui bahwa Al Quran adalah suatu keajaiban dan merupakan wahyu Allah perlu kita pahami tingkat ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Arab pada saat Al Quran diturunkan. Pada abad ke 7 disaat bangsa Arab hidup dlm kepercayaan animisme, dinamisme dan keterbatasan Iptek, bagaimana mungkin bisa mengetahui bahaya Babi, bahaya perkawinan saudara/sedarah, dan proses penciptaan manusia dari pembuahan sampai kelahiran. Bahaya bagi baru diketahui pada zaman modern, dimana babi mrp tempat perkembangbiakan berbagai virus berbahaya dan menghasilkan variant virus baru. Pada masa itu mana mungkin manusia menyadari hal ini. Mungkin anda perlu melihat video harun yahya utk membantah anggapan bahwa Al Quran bukan wahyu Allah. Al Quran lah yg juga membantah teori Darwin dan didukung oleh IPTEK modern bahwa tiap makhluk hidup memiliki DNA yg berbeda-beda. Dan tdk mungkin DNA itu berevolusi atau berubah. Karena perubahan DNA menyebabkan cacat atau kematian pada mahluk hidup. Dan mustahil dari DNA kera dilahirkan sosok manusia.

     
  14. Elan Dewotono

    November 28, 2009 at 3:31 pm

    … sorga yang dibawahnya mengalir sungai ….
    Di Bali dan banyak tempat2 wisata di Nusantara mengalir sungai2 yang bersih airnya dan indah. Sorgakah? Kalau di gurun pasir Arab Saudi ada sungai, maka benar2 seperti sorga … Mohon jangan, maaaf, text-book thniking ….

     
  15. olads

    Januari 6, 2010 at 4:26 pm

    Bisa ditambahkan sedikit secara garis besar al :

    Periode Makkah, adalah penegakan dan pemurnian Tauhid(keimanan), dimana Islam menegaskan bahwa penyembahan terhadap Allah tidak dibenarkan melalui perantara patung berhala Latta dan Uza.

    Periode Madinah(yastrib)adalah dimana umat menentukan eksistensinya sebagai sebuah negara dengan menegakan hukum islam yang disebut masyarakat Madani. Dimana aspek sosial dan politik dari sebuah pemerintahan ditegakan.

    Adapun ayat-ayat madinah terkesan kejam karena memang saat itu umat islam menghadapi serangan-serangan fisik perlawanan terhadap musuh untuk mempertahankan eksistensi pemerintahannya dari serangan dan gempuran dahsyat musuh-musuh nya. Tentu perlawanan terhadap musuh tsb sesuai dengan perintah dan petunjuk Tuhan dalam Ayat nya sesuai dengan keadaan dan sebab musabab nya turun nya ayat(asbabun nuzul).

    Keberadaan masyarakat islam di Madinah adalah penegakan Negara islam pertama dimana eksistensi Negara yang ditegakan oleh hukum islam. Islam di Madinah pun melindungi warga masyarakat non islam dan berada pada jaminan jiwa Rasulullah sebagai kepala negara. Tidaklah demikian seperti yang translate dari ayat dan difahami dengan mentah tanpa sebab bahwa orang kafir harus dibantai, sebab banyak pula orang-orang non islam(nasrani dan yahudi)yang berada pada perlindungan islam, karena mereka tidak mengganggu dan menyerang islam.

    Perintah memerangi non islam hanyalah berlaku bagi mereka yang memerangi islam, dan hingga saat inipun pemerintahan islam di Makkah dan madinah tidak pernah memerangi non islam yang tidak mengganggu.

    Kondisi yang demikian adalah mutlak terjadi pada negara manapun di dunia ini, dimana sebuah negara akan mepertahankan eksistensinya dari gangguan dalam maupun luar, sesuai dengan hukum yang berlaku dinegara tsb.

    Akhirnya perjalanan sebuah negara Islam di Madinah menentukan berbagai aspek kehidupan sosial politik dalam hukum-hukum islam yang mengatur berbagai aktifitas sebuah pemerintahan dan masyarakat. Baik hukum antar masyarakat itu sendiri, antara sesama umat islam, sesama warga beda agama, hukum antar bangsa, hukum peperangan.

    Adapun berbagai pandangan negatif tentang islam dalam konteks agama dan negara, saya kira sah-sah saja, toh tidak semua pemikiran orang itu harus sama. Ada yang setuju, ada yang menentang, tidak suka dan benci itu tergantung keadaan aqal fikiran dan hatinya.

    Masalah apapun termasuk tentang islam, dalam penggalian dan memperlajarinya tentu harus kaffah menyeluruh, dari berbagai aspek keseluruhan sejarah bangsa-bangsa dan agama-agama langit khususnya (agama yang dibawa para Nabi). Dan satu lagi yang paling penting adalah dalam mempelajari Alqur’an diperlukan referensi ilmu-ilmu tentang tata bahsa Alqur’an, dimana Bahasa Alqur’an sangat berbeda dengan bahasa arab umum nya.

    Mengenai susunan Alqur’an yang tidak sesuai dengan urutan turunnya wahyu, jelas dalam hal ini terdapat perbedaan dalam fungsinya. Wahyu yang tersusun dalam Alqur’an adalah merupakan sebuah kerangka yang menggambarkan sebuah KITAB SUCi yang telah utuh dan selesai dalam perjuangan sebuah agama.

    Penempatan urutan surat dan ayat adalah suatu kelanjutan yang saling berhubungan antara awal surat dan surat-surat berikutnya sampai akhir, dimana surat awal “Alfatihah” (pembukaan) yang berhubungan dengan indivudu manusia, juga diakhiri dengan surat “an Nas” (manusia), tentang manusia juga.

    Sedangkan turunnya wahyu adalah sesuai dengan keadaan pada waktu itu, dimana manusia di ingatkan tentang dirinya yang berasal dari segumpal darah yang diciptakan Allah. Selanjutnya turunnya wahyu adalah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam memecahkan masalah kehidupan pada waktu itu(asbabun nuzul).

    Jadi kesimpulannya mempelajari Alqur’an diperlukan referensi dari berbagai aspek kehidupan manusia, dan dari berbagai sudut pandang, karena memang Alqur’an memberikan pengetahuan tentang hal tsb hingga akhir zaman. Selain penguasaan bahasa arab umum juga penguasaan bahasa sastra, dan tata bahasa, dimana tata bahasa sastra arab diperlukan perangkat perangkat ilmu lainnya, seperti halnya penyesuaian kalimat antara teks dan kontekstual sesuai dengan pokok nya, selanjutnya analogi perumpaamaan, dan keindahan suatu kalimat dalam bahasa sastra yang sesuai dengan keadaan.

    Alqur’an hanya bisa difahami dengan ilmu dan bahasa Alqur’an juga, sehingga kita akan mampu memahami kalimat tsb ditujukan kepada apa dan siapa. Apakah ayat madinah yang artinya membunuh dan melukai adalah untuk semua orang yang tanpa sebab ???, saya kira perlu sebuah kebijakan dalam berfikir, tidak lah ayat itu sekonyong-konyong memerintahkan membunuh tanpa sebab. Dan tentu kita harus memehami pula sejarah (tarikh) pada waktu itu sedang terjadi hal apa ?.

    Dan apakah ayat-ayat madinah yang berisi perintah perang dan membunuh berlaku untuk saat ini ?, saya kira keadaan nya pun berbeda, dulu islam sedang dalam proses penegakan, dan sekarang Islam dalam kondisi pemeliharaan oleh umat nya. Saya kira persoalannya dan kondisinya sangat jauh berbeda, dan apakah saat ini umat islam secara keseluruhan memerangi degan membunuhi non islam ?, saya kira tidaklah demikian, hanya orang-aorang yang bodoh dan dungu saja yang mengamalkan kebencian terhadap non islam, karena masih banyak cara untuk menegakan islam dengan keluhuran akhlaq.

    Dan kalau memang islam hanya disorot pada ayat-ayat madinah yang konotsinya kejam, bukankah masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengamalkan islam dengan cinta kasih, maka kita tidak perlu alergi dan kebakaran jenggot untuk sejarah islam di era Madinah. Islam adalah fleksibel hukum akan berlaku sesuai dengan keadaan dan insiden nya, namun Alqur’an tentu akan memberikan solusi sesuai keadaan, dan tentu hal ini menuntut kwalitas umat nya sebagai SDM yang baik dan handal dalam menjalankan agama nya.

    Saya kira pada agama-agama lainpun terdapat aturan dan sangsi bagi umat nya, tapi bila kita tak berada pada keyakinan tsb, apalah pedulinya toh hal itu bukan aturan keyakinan kita, bukan agama dan Tuhan yang diyakini oleh kita.

    Mengenai Alqur’an adalah wahyu Tuhan, tentu hanya bisa diyakini oleh umat islam, selain umat islam tiada paksaan untuk meyakini Allah, Alqur’an dan Nabi Muhammad. Apakah Alqur’an itu wahyu Tuhan atau hasil pemikiran Muhammad ?, tentu hal ini tak lepas dari Aqal pemikiran Muhammad pula, sebab apa yang disampaikan oleh Muhammad bukan Alqur’an saja, ada hadits qudsi, dan hadits Nabi, dimana hal ini perlu kecerdasan (fathonah) dalam menyampaikannya, sedang Nabi Muhammad sendiri adalah seorang yang buta huruf tidak pandai baca tulis, apalagi merangkai kalimat bahasa sastra yang begitu indah dan tepat, sehingga para ahli sastra pada saat itu tak mampu menandingi Alqur’an, dan tak mampu membuat satu ayat pun.

    Akhirnya mempelajari Alqur’an tidaklah semudah dan sepintas lalu saja, para ulama dan ahli kitab tidaklah mampu membedah Alqur’an hingga habis usianya, begitupula pada era Muhammad, tidaklah seluruhnya Alqur’an mampu ditafsirkan, hingga pada era tabi’ in yaitu pengikut para sahabat Nabi (generasi ke tiga) Alqur’an mampu ditafsirkan dengan ilmu-ilmu tata bahasa byang besumber dari Alqur’an pula.

    Maka lahairhirlah ilmu-ilmu tata bahasa Alqur’an(nahwu sharaf), balaghoh( ilmu ma’ani, iilmu bayan, ilmu badi), demikian pula Alqur’an berkembang pada ilmu-ilmu lainnya yang berhubungan dengan sosial, politik, kesehatan, seni budaya, teknologi, yang dikembangkan oleh ilmuwan islam masa lalu, seperti halnya kedokteran,farmasi, matematik, logaritma, aljabar, fisika, biologi, musik, filsafat, mengembangan ilmu Trigonometri dan Geometri bola serta penemu table Sinus dan Tangen, juga penemu variasi dalam gerakan bulan, sosiologi, bibliografi, ahli ilmu kalam, ahli tasawuf, dll

    Semuanya adalah ilmuwan islam yaang berhasil mengembangkan aqal fikirannya melalui petunjuk Alqur’an, dimana hasil dari karya mereka telah berkembang dan dikembangkan oleh semua bangsa hingg saat ini. Mereka mempelajari Alqur’an dengan maksud tujuan mulia dengn fikiran dan hati yang bersih dari segala kebencian kedengkian, sehingga menghasilkan karya-karya yanga bermanfaat untuk umat manusia.

    Selanjutnya bagi siapapun kita dan kelompok golonagn serta agama apapun dalam memahami islam dan Alqur’an tergantung cara kita mensikapi nya, bila disikapi oleh aqal fikiran dan hati yang bersih maka hasilnyapun akan baik, tapi bila disikapi oleh kebencian dan kedengkian walaupun sebesar debu maka hasilnya akan buruk, dan akan melukai serta menyinggung perasaan.

    Mampukan kita mensikapi Islam dan Alqur’an seperti mereka para Ilmuwan Islam ???, itu semua tergantung kepada niyat dan itikad dalam hati.

    Wassalam
    DERMA AKSARA

     
  16. tomy

    Januari 7, 2010 at 7:49 am

    Wah terima kasih sekali Kang Olads yang telah sudi berkunjung ke blog saya & berkenan membagi pengetahuan.
    Artikel diatas adalah karya teman kita yang sangat kritis Mas Prayit.
    Kami dulu sempat mencari penerbit buku yang berani menerbitkan karya-karya Mas Prayit namun karena kesulitan & saya sendiri punya blog, maka seijin beliau saya memberikan tempat buat publikasi tulisan Mas Prayit ini lewat blog.
    Artikel ini berawal dari sebuah diskusi mendalam antara para dosen IAIN & Kyai kampung di Semarang untuk mempelajari Al Quran sesuai konteks ketika wahyu ini diturunkan.
    Dalam diskusi disepakati bahwa dalam memahami Al Quran memang harus faham tentang sejarah, budaya & bahasa tidak hanya mengimani saja secara dogmatis agama.
    Saya sendiri bukan pelajar Al Quran, maka saya tidak kompeten untuk membahasnya, saya hanya belajar dari panjenengan semua termasuk Kang Olads tentang nilai universalitas wahyu Ilahi meski terkotak-kotak dalam Kitab Kering
    Bagi saya, dalam mempelajari kehidupan Nabi saya jadikan acuan dalam berTRIWIKRAMA BUDAYA seperti artikel saya Tiga Langkah Dewa Wisnu Merevolusi Indonesia.
    Sang Nabi memberi teladan yang hebat sesuai dengan Triwikrama Dewa Wisnu tersebut…mohon maaf saya memang sinkretis & sumangga kalu mau dibilang sesat…

    Pertama pemuda Ahmad di Mekah telah terlebih dahulu melakukan Revolusi Kultur terhadap dirinya sendiri di era budaya jahiliyah
    Lalu
    kedua dia melakukan perjuangan dengan mengadakan Revolusi Kebudayaan dengan hijrah ke Madinah
    yang terakhir pada langkah ketiga adalah mendirikan Negara sebagai kekuatan hukum seperti yang disabdakan Engels bahwa Negara adalah Palu, yang mempunyai kekuatan memaksa

    inilah yang saya sebut sebagai TRIWIKRAMA, tiga langkah Dewa Wisnu dalam merevolusi dunia. Ini yang seharusnya diteladani oleh bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita masyarakat adil makmur.
    Muhammad adalah tiap diri kita atau boleh disebut sebagai Sabdo Palon Naya Genggong, manusia-manusia baru yang telah merevolusi kulturnya untuk mewujudkan Ratu Adil atau masyarakat Madani.
    Masyarakat yang berkeadilan social yang tidak tersekat oleh kotak-kotak agama

     
  17. m4stono

    Januari 7, 2010 at 11:01 am

    wah kalo saya tidak mau komeng terlalu panjang2, bagi saya sendiri ya muhammad itu bener2 menerima wahyu/firman, sedangkan firman Allah itu itdak disekat ruang dan waktu, hanya saja aksesnya muhammad thd firman allah itu disekat ruang dan waktu.

    mengenai keotentikan Al quran itu benar2 firman Allah atau hanya ide2 brilian Muhammad keknya sudah sejak dari dulu diperdebatkan tapi hanya dikalangan para sufi/ilmuwan…kalo saya pembuktiannya mudah saja dan ada di Qur’an, tapi saya lupa surat dan ayatnya kira2 begini “apabila kamu meragukan ayat2 Ku maka bersekutulah kalian jin dan manusia utk membuat tandingannya niscaya tidak akan mampu” dan terbukti banyak sastrawan arab tidak mampu membuat tandingan dari ayat2 Quran bahkan satu surat pun….maka dari itu diperlukan kerendahan hati untuk memahami Al Quran serta menjauhkan diri dari sifat2 kesombongan, kritis memang diperlukan tapi selama sifat kritis itu tidak bisa dibuktikan maka apa ya harus ngeyel dgn kekritisan kita? saya kira ini adalah sebuah tantangan yg terbuka bagi yg meragukan keotentikan Al Quran dan masih berlaku hingga sekarang… :mrgreen:

    mohon maaf sedulur2 kalo ada salah2 kata, apa yg saya sampaikan hanya sebuah omdo dan sangat jauh dari kebenaran sejati milikNya :)

     
  18. sikapsamin

    Januari 8, 2010 at 12:37 am

    Sepengetahuan saya yang sangat dangkal ilmu ini konon ada 4(empat) KITAB-SUCI yang diturunkan/diwahyukan Tuhan melalui para Nabi, yang semuanya didaerah Barat-Tengah sana.
    Yang ingin saya tanyakan…Keempat KITAB2-SUCI itu bersumber dari Tuhan yang sama atau berbeda2…ya?!?

    Dan konon…konon lho ini, ada firman Tuhan yang intinya bahwa Tuhan Menciptakan Manusia berSuku-Suku dan berBangsa-Bangsa.., dan masing2 Satu dari mereka dipilih dan diangkat menjadi UtusanNYA (Nabi) dengan Bahasa-Kaumnya…
    Lha…jadi Para Utusan Tuhan semua ada berapa…dan (di)sebunyikan kemana, atau diabaikan begitu saja dianggap tidak ada atau bagaimana?!
    Masa Utusan-Tuhan diabaikan begitu saja, sedangkan utusan-gubernur saja jika diabaikan…gubernurnya marah je…
    Tapi mungkin Tuhan tidak marah karena Maha Rahman dan Maha Rahim

    Ya ini sekedar angan2 saya yang super dangkal-pengetahuan, atas dasar kalau ada Nabi dg Kitab-Suci berbahasa Nuswantara ‘kan lebih mudah difahami/diresapi…

    Mohon maaf bila ada yang keliru hrp diluruskan…

    Salam…KITAB-SUCI

     
  19. suprayitno

    Januari 8, 2010 at 1:23 am

    Mas Olads yang baik,

    Ijinkanlah saya untuk sedikit menjawab atau melengkapi tulisan saya dalam METODE MEMPELAJARI AL QURAN.

    Saat ini kita semua hanyalah sebagai “penafsir” dari apa yang ditinggalkan oleh Muhammad, dan apa yang ditinggalkan itu adalah berupa “sejarah”. Sejarah tentu tidak pernah “berbohong” tetapi kita juga harus ingat bahwa pencatat sejarah bisa saja berbohong demi kepentingan dirinya atau kelompoknya.

    Biasanya “sejarah” selalu ditulis oleh pemenang. Jarang sekali sejarah ditulis oleh “pecundang” atau pihak yang terkalahkan. Mengapa? Sebab sejarah “perjalanan hidup” hampir serupa dengan “pertempuran” memperebutkan “kebenaran” dan “kekuasaan”.

    Dalam setiap pertempuran, niscaya ada pihak yang dikalahkan dan satu pihak ada pemenang. Bagi pihak pemenang bisa menulis sejarahnya sendiri dengan berbagai alasan pembenaran tindakan heroiknya dan alasan-alasan pembenaran atas segala tindakan lainnya. Bagi pemenang tentu akan melahirkan banyak keuntungan diantaranya adalah pengikut yang setia.

    Andai kita menjadi bagian atau pelaku sejarah yang pada saat itu bisa mengamati langusng secara objektif, mungkin kita akan bisa memperoleh gambaran yang jelas tentang siapakah Muhammad sesungguhnya, apa visi dan misi perjuangannya, mengapa Muhammad harus smenggandeng Tuhan dan Malaikat Jibril dalam perjuangannya dan bagaimana Muhammad bisa mengklaim bahwa dirinya telah mendapat wahyu.

    Tetapi persoalannya, saya tidak yakin kalaupun kita terlibat langsung disana dan kita akan berpendapat apa adanya, katakanlah seperti jurnalis independent yang sedang meliput peperangan, nyawa kita tidak akan melayang. Jangankan terjadi pada saat itu, sekarang ini pun banyak terjadi ancaman pembunuhan terhadap para pengkritik.

    Sejarah lahirnya agama atau Tuhan kan memang selalu begitu Mas Olads, Tuhan itu merangkak dari bawah, dari kolong kemiskinan golongan proletariat yang tertindas. Demikian juga agama Islam, coba kita buka surat Al Anfal ayat 26, ingatlah ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di Mekah.

    Saya rasa jarang konsep Tuhan atau agama itu yang berasal dari para penguasa atau bangsawan yang notabene sudah hidup berkecukupan, makmur dan sejahtera. Kalau pun mereka akan melahirkan tuhan, maka tuhan yang dilahirkannya pun pasti Tuhan yang akan membackup kekuasaan mereka, bukan tuhan yang akan mengajari rakyat untuk berontak dan tuhan yang akan menolong rakyat kecil dari penindasan.

    Makanya pada tahap awal perjuangan agama yang merangkak dari bawah, selalu bersifat ngelingke, memberi peringatan dan kabar gembira atau semangat optimistis bagi orang-orang melarat dengan penuh kasih-sayang dan kesabaran, tolerable dan apabila yang disasar golongan penguasa maka selalu menggunakan pendekatan bahasa yang sifatnya persuasive, tidak pernah frontal. Buka lagi Al Quranya surah Saba’ ayat 28 ‘Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan’. Surah ini sudah barang tentu turunnya di Makkah.

    Tetapi, wajah asli dari agama yang sesungguhnya akan segera tampak, manakala agama tersebut telah menggurita dan mencapai komunitas yang signifikan untuk merebut kekuasaan. Wajah asli itu berupa kekerasan dan menghalalkan segala cara termasuk ‘memperkosa’ Tuhan untuk memberikan wahyu-Nya guna melegalkan semua perjuangan atau tindakan Nabi. Bahkan pembunuhan untuk orang-orang kafir yakni golongan yang menentang Nabi Muhammad, telah diambil alih oleh Alloh.
    Firman-Nya ‘Maka bukan kamu yang membunuh mereka akan tetapi ALLOHLAH YANG MEMBUNUH mereka’ surah Al Anfal ayat 17.
    Aku kira, Buddha tidak termasuk di dalamnya, sebab konsep ketuhanan Buddha tidak menempatkan Tuhan sebagai center of being melainkan lebih memusatkan pada dharma, sebab akibat.

    Kalau penejelasannay Muhammad atau Alloh hanya membunuh orang-orang kafir yang menentang, maka bagaimans kita akan menjelaskan peristiwa perampokan dan pembunuhan di Badr kafilah dagang Quraish yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syiria menuju Makkah, rombongan pedagang itu dipimpin oleh Abu Sofyan. Coba saja kita pelajari casus belli atau peristiwa yang menjadi alasan bagi penyerangan itu benarkah karena alasan membela diri dari serangan Quraish? dan tolong bandingkan dengan perang yang sesungguhnya di the real war Uhud.

    Saya paham dan dapat mengerti bahwa dalam konsep perjuangan sebuah ideologi, memang tak bisa dihindarkan adanya benturan-benturan, peperangan atau korban. Hukum itu bisa tegak hanya apabila dijalankan dengan tangan besi, barang siapa salah, barang siapa melawan perintah nabi dan Alloh, hukum harus tegas dalam mengadilinya, tetapi barang siapa yang mau bertobat pasti akan diampuni dan dilindungi, yang demikian karena sesungguhnya Alloh itu maha pengampun lagi maha penyayang.

    Bisa saja kita membela Nabi Muhammad dalam hal penegakkan hukum, dan hukum yang dicita-citakan oleh Muhammad toh demi martabat dan kejayaan bangsa Arab.
    Jadi kalaupun Nabi Muhammad terpakasa harus merampok, mungkin bisa kita membenarkan sepanjang tindakan itu demi perjuangan mewudujdkan cita-cita yang lebih besar. Apa boleh buat, korban pasti harus ada

    Ya, saya pun sebenarnya tidak mempermasalahkan perampokannya, silakan merampok, wong merampok juga bagian dari tradisi bangsa Arab pada saat itu.
    Yang aku masalahkan adalah mengapa tujuan politik dan kekuasaan seperti itu harus dibungkus atau dikemas mengatasnamakan Alloh? Ini yang justru membuat jutaan bahkan miliaran umatnya tertipu dan terjerumus dalam kesesatan berpiki

    Ya, mungkin memang pada waktu itu khususnya di dunia Arab belum dikenal cara-cara yang demokratis, jadi pembunuhan terhadap orang-orang yang membangkang atau melawan nabi, menjadi pilihan yang paling efektif dan efisien, sebab saat itu mungkin saja belum ada penjara, atau kalaupun ada penjara juga akan sangat repot dalam mengawasi dan memberi makan bagi para narapidana

    Namun, saya berpendapat itulah kejahatan paling fatal yang dilakukan oleh Muhammad, yakni mengatasnamakan Alloh dalam perjuangan ideologinya. Tidak ada hukuman yang berjenjang, pokoknya bagi kaum kafir yang menentang perangi atau bunuh saja.
    Ya ayyuhal-lazina amanu qatilul-lazina yalunakum minal-kuffari wal yajidu fikum gilzah, surah At Taubah ayat 123. Atau apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) penggallah batang leher mereka, QS 47 ayat 4. Semua itu dilakukan atas perintah Tuhan.
    Saya bertanya, Apa risikonya sebuah perjuangan yang memperkosa Tuhan untuk dijadikan senjata? Satu sisi Muhammad ingin membebaskan bangsanya dari kejahiliyahan, tetapi di sisi lain Muhammad telah melahirkan kejahiliyahan dalam bentuk yang baru. Bentuk baru itu adalah perang keyakinan dan perang kebenaran atas nama Tuhan, yang justru berlangsung hingga kini, bom bunuh diri dan terror adalah anak kandung yang lahir dari moncong senjata yang bernama Alloh itu.
    Alloh telah diseret oleh Muhammad dalam bentuknya yang anti demokrasi dan cenderung psikopat. Seorang psikopat dapat melakukan apa saja yang diinginkan dan yakin bahwa yang dilakukannya itu benar. Seorang psikopat tidak pernah menunjukkan rasa penyesalan atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Ia dapat berbicara dengan sangat baik dan manis untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit, secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat tidak sama dengan gila atau skizofrenia karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya sering kali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”.
    Dan tuduhan gila pada Muhammad terekam dalam surah Saba’ ayat 8 “Aftara ‘alallahi kaziban am bihi jinnah”. Apakah dia (Muhammad) mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh ataukah ada padanya peyakit gila? Surah Al-Mu’minun ayat 70 “Am yaquluna bihi jinnah,” pada dia (Muhammad) ada penyakit gila.
    Aku tidak tahu apa pertimbangan Muhammad sehingga beliau memilih jalan pemusnahan atau pembunuhan terhadap kaum oposisi. Bukankah sesungguhnya banyak cara untuk mewujudkan sebuah ideologi? Misal, Ghazi Musthapa Kemal Ataturk tokoh nasionalis dan pemimpin Turki yang hidup pada tahun 1881 – 1938, dia telah menggusur Kekhalifahan Utsmaniyah dan kemudian mendirikan Turki modern yang memisahkan urusan agama dengan negara.atau yang lebih dikenal dengan nama negara sekuler. Kehidupan agama tetap diakui oleh negara, tetapi harus dipisahkan dari negara agar tidak dimanipulasi untuk kepentingan politik yang mengatasnamakan Alloh . Demikian sebaliknya, untuk menghindarkan terjadinya manipulasi politik untuk kepentingan agama. Prinsip negara secular lebih mementingkan urusan dunia atau pembangunan dunia. Ini sangat berbeda dengan sekularisme yang hanya mementingkan dunia sedangkan yang transcendental tidak ada, tidak mendapat tempat. Ketika mengintrodusir prinsip negara sekuler yang pertama dilakukan oleh Ataturk adalah membubarkan pengadilan agama pada tahun 1924.
    Cara lain mewujudkan sebuah idelogi nir kekerasan ternyata bisa juga diwujudkan oleh Mohandas Kramchand Gandhi yang hidup pada tahun 1869-1948 di India. Gandhi adalah pioneer gerakan tanpa kekerasan . Dengarkan apa yang dia ucapkan pada hari Kamis, 15 Agustus 1947 , malam pada hari pembebasan itu datang di India beliau berkata ‘Berkumpullah bersama semua manusia dari semua agama, suku dan ras India dibawah satu panji dan pompakan semangat solidaritas dan persatuan untuk mengusir eksklusivisme kelompok dan sentiment-sentimen yang picik dan sempit’. Ada dua mantra sakti yang bisa dijadikan pegangan para pemimpin dimanapun yang menekankan perjuangan tanpa kekerasn. Kedua mantra itu aalah ahimsa dan satyagraha. Ahimsa adalah falsafah pantang menggunakan kekerasan dan satyagraha
    Adalah aksi perjuangan yang tidak memakai kekuasaan.

    Terakhir, setahu saya, Muhammad tidak pernah menggagas soal pendirian sebuah negara, apa itu yan disebut negara dan bagaimana cara mengelola sebuah negara. Apalagi berbicara tentang konsep negara Islam, negara Islam itu yang bagaimana?

    Mohon jika tidak keberatan dan jika Mas Olads memiliki refrensi tentang konsep Negara Islam yang digagas oleh Nabi Muhammad, saya bisa diberi tahu. Terima kasih.

    Wassalam
    suprayitno

     
    • watonist

      Januari 18, 2010 at 7:44 am

      Dalam setiap pertempuran, niscaya ada pihak yang dikalahkan dan satu pihak ada pemenang. Bagi pihak pemenang bisa menulis sejarahnya sendiri dengan berbagai alasan pembenaran tindakan heroiknya dan alasan-alasan pembenaran atas segala tindakan lainnya.

      kadang ada juga sejarah yang dituliskan oleh barisan sakit hati :mrgreen: dan peminatnya tentu saja juga dari orang yang tidak puas dengan sejarah versi pemenang.

       
  20. suprayitno

    Januari 8, 2010 at 1:31 am

    Untuk @mastono.
    “apabila kamu meragukan ayat2 Ku maka bersekutulah kalian jin dan manusia utk membuat tandingannya niscaya tidak akan mampu”

    Pertanyaan dari saya,
    Setiap bentuk “pertandingan” pasti harus ada aturan mainnya, iya kan?

    Nah, kalau ada yang mau membuat tandingan tentang ayat-ayat Al Quran itu kira-kira apa saja kriterianya Mas? dan siapa yang akan menjadi jurinya?

    Kalau yang menjadi juri “Alloh” dan alloh itu seperti yang ada dalam keyakinan Muhammad, ya memang pastilah gak ada orang yang sanggup menandinginya.

    Saya kira begitu logikanya mas, sederhana saja.

    Suwun.

     
  21. m4stono

    Januari 8, 2010 at 3:36 am

    @mas suprayitno

    gak ada aturan mainnya kok, bebas aja, seperti halnya menulis komeng di blog atau nulis artikel, siapa yg menilai? ya diri sendiri, ini bukan masalah benar/salah, jahat/baik, kafir/tidak kafir…ini hanya masalah introspeksi diri, kalau saya pribadi mengusahakan mengintroskepsi diri dengan menulis di blog, bukan sebagai sarana utk menandingi kitab2 suci karena saya tahu kemampuan saya sangat jauh utk menandingi itu tapi sebagai sarana melihat diri sendiri “murid, gurune pribadi…guru, muride pribadi” ….apabila kita bisa maka kita akan merasakan betapa kecilnya kita ini bahkan dengan teman2 sesama blogger pun saya merasa tidak bisa apa2, merasa bodoh dan minder melihat tulisan2 mas tommy, mas prayit, mas sabdo, mas lambang, mas wong alus dll…..

    jadi yg saya maksud bukan diadu antara kitab suci dgn “kitab” karangan kita, sudah bukan saatnya kita nandhing sarira terus menerus, tapi mestinya kita bisa mawas diri mulat sarira sari rasa tunggal hangrasa wani…buto cakil mas tomy aja bisa berkata “bener kowe luput aku” kepada arjuna di perang kembang……melihat kedalam untuk melihat keluar…. :mrgreen: hanya urun rembug mas prayit…kalo ada salah2 kata mohon dimaafkan :mrgreen:

     
    • suprayitno

      Januari 8, 2010 at 4:44 am

      Mas Ton yang baik,

      kalau saya sih jelas tidak akan menandingi ayat-ayat Al Quran, saya cuma mengajukan pertanyaan kembali dari ayat yang panjenengan kutip itu.

      kan kata ayat bagi yang meragukan disuruh membuat ayat tandingan, katanya niscaya tidak bisa.

      Nah, saya kan cuma nimpalin saja. Andaikata ada yang pengin menandingi ayat al quran, terus aturan mainnya gimana? yang menentukan aturan main itu siapa, terus jurinya siapa? kalau mau diadu soal estetika bahasa misalnya, siapa yang berhak menentukan “Oh ini lebih bagus, oh ini kurang bagus”.

      Mengapa ayat al quran kok tidak bisa ditandingi, apa alasannya? sudut mana yang tidak bisa ditandingi?

      jadi saya ini tergolong makhluk yang bodoh, makanya saya ini kan lebih banyak bertanya.

      gitu penjelasannya mas.
      tk.

       
      • watonist

        Januari 18, 2010 at 7:18 am

        @suprayitno

        sepertinya … ini cuma sepertinya lho ya, hanya dari pemikiran saya … yang akan jadi jurinya alias yang disuruh menyaksikan/jadi saksi nanti ya seluruh manusia, kan memang quran diturunkan untuk manusia …

        point-point yang diperlombakan antara lain
        – konsistensi
        – ketahanan terhadap gerusan waktu
        – kompleksitas dan juga kesederhanaannya
        – dsb.

         
  22. suprayitno

    Januari 8, 2010 at 5:54 am

    UNTUK BAHAN DISKUSI

    Mengapa kita mesti harus beragama? Apakah tanpa agama kita tidak bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Sebaliknya apakah dengan agama menjamin seseorang pasti bisa menjalani kehidupan ini dengan baik? Siapakah sebenarnya yang membutuhkan agama, manusia atau Tuhan? Jika Tuhan butuh agama, maka agama apa yang dianut-Nya? Lalu, faktor terpenting apakah di dalam hidup ini yang berperan besar terhadap tingkah laku manusia sehingga seseorang itu menjadi lebih beradab, lebih menghargai sesama hidup. Bagaimana sesungguhnya manusia bisa menemukan Tuhannya, apakah harus dicarikan orang lain melalui pintu agama, atau bisa mencari sendiri?

    Aku amati, selama ini banyak manusia memperlakukan Tuhan seperti binatang buruan. Mereka ramai-ramai berburu Tuhan siang dan malam, sepanjang hari tanpa jeda. Tuhan diburu sampai di sarang-Nya yakni di Mekkah yang bersembunyi di balik kotak yang bernama Ka’bah, sambil berteriak mereka mengucapkan Ya Alloh aku datang memenuhi panggilan-Mu, seru mereka.

    Sebagaimana orang berburu yang biasanya dilengkapi dengan tombak, panah, perangkap, atau senjata lain maka berburu Tuhan pun dilengkapi berbagai senjata, dari mulai tata cara bepakaian, tata cara membuat tempat ibadah, tata cara memerangkap Tuhan dengan aneka persembahan dan mantra-mantra. Dari semua senjata itu, ada satu senjata yang paling ampuh yakni iman.

    Dengan keimanannya, mereka saling klaim telah berhasil menangkap Tuhan dan memenjarakannya dalam sangkar emas. ‘Pengumuman…pengumuman, inilah Tuhan yang paling sempurna, inilah Tuhan satu-satunya yang akan menunjukkan jalan keselamatan dunia dan akherat, barang siapa mengingkari Tuhan kami, maka siksa Tuhan sungguh sangat keras’ begitu teriak mereka.

    Pertanyaannya, benarkah mereka telah berhasil menangkap Tuhan?
    Aku berkeyakinan bahwa tak seorang pun di dunia ini yang bisa menangkap Tuhan secara utuh. Ibarat binatang buruan, maka yang berhasil mereka tangkap hanyalah jejak-jejak langkahnya dan aromanya.

    Jejak langkah dan aroma Tuhan, memang bisa kita telusuri melalui berbagai keteraturan, keajaiban dan fenomena di alam semesta ini.
    Tetapi, sosok Tuhan itu terlalu agung, terlalu suci, terlalu tinggi untuk bisa digapai dan dikuasai oleh seseorang, atau kelompok orang yang mengatasnamakan agama apapun.

    Kita tak perlu berburu Tuhan, tetapi yang terpenting justru marilah kita berburu atau berlomba untuk berbuat kebajikan di atas bumi ini, sebab jejak Tuhan ada dalam kebajikan-kebajikan itu sendiri. Menurut keyakinanku, barang siapa telah berbuat kebijakan maka dia telah berbuat di jalan Tuhan. Tidak peduli siapa pun dia, beragama atau tidak orang itu. Sebaliknya, barang siapa telah berbuat kejahatan dan kerusakan di atas bumi ini, maka dia telah melakukan perbuatan yang mengingkari jalan Tuhan. Tidak peduli apakah orang tersebut beragama atau tidak.
    Menurut Islam pun, cara mengukur orang yang beriman disamping apabila disebut asma Alloh akan gemetarlah hati mereka, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, akan bertambahlah iman mereka dan orang yang mendirikan sholat kemudian selalu diikuti perintah untuk menafkahkan sebagian rizkinya, itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, lihat surah Al Anfal ayat 1 sampai 4.

    Jadi intinya, ukuran orang yang beriman itu tetap menitikberatklan pada perbuatan kebajikan yakni menolong kepada yang lemah dengan segala keikhlasan. Melakukan ibadah sholat saja tanpa diikuti dengan tindakan kasih sayang terhadap yang lemah, bukanlah ciri-ciri oarng yang benar-benar beriman.

    Sedangkan ukuran sesat atau tidak sesat dalam berkeyakinan, sebenarnya ada ukuran yang mudah untuk menentukannya. Apa ukurannya? Ukurannya adalah apabila dengan keyakinan itu seseorang menjadi lebih baik tingkah lakunya berarti oang tersebut ada pada jalur atau track yang benar (on the right track). Tetapi jika dengan kepercayaan atau keyakinan itu orang tersebut menjadi lebih jahat prilakunya, maka itulah yang dinamakan aliran sesat.

    Jadi sesat atau tidak, menurutku ukurannya adalah tingkah laku. Persoalan menjadi tambah runyam ketika pengertian sesat telah dibajak oleh kepentingan politik yang berselimut agama. Sebab, akhirnya yang berbicara bukan persoalan akidah semata melainkan sudah dimuati dengan unsur-unsur kekuasaan.

    Syariat dan tata cara beribadah boleh saja berbeda, tetapi sepanjang akidahnya sama yakni ketuhanan yang maha esa dengan menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, saya rasa tidak perlu digempur dengan tuduhan aliran sesat.

    Bila kita mau jujur, Muhammad saja telah mengadopsi berbagai ritual dan kepercayaannya dari agama lain. Misal, ibadah haji, asal-usul ibadah haji itu kan sudah ada jauh sebelum Islam lahir, meskipun sebelum Islam, yang melakukan ibadah haji adalah golongan paganis atau penyembah berhala. Kemudian soal ibadah puasa, itu kan juga berdasarkan umat sebelum kamu. Soal daging babi kharam dan soal khitan atau sunat itu murni ajaran agama Yahudi. Dalam sejarah Yahudi, pernah seorang raja Seleucid yang bernama Antiokhus IV sekitar tahun 170 SM, ia bertekad memusnahkan agama Yahudi dengan tuhannya Yahweh dan menghentikan adat khitan dan ketaatan terhadap aturan-aturan mengenai makanan termasuk daging babi.

    Sejarah periode ini diturunkan dalam kitab Makabe yang pertama. Bab pertama meriwayatkan bagaimana Antiokhus memberi perintah bahwa semua warga kerajaannya harus menjadi masyarakat yang bersatu, dan membuang berbagai peraturan adat mereka diantaranya bahwa mereka harus mencemari hari Sabat, mempersembahkan kurban daging babi dan membiarkan anak-anak mereka tidak dikhitan. Semua yang tidak patuh dihukum mati. Cerita ini ada di buku History of Western Philosophy penulis Bertrand Russel, 1946 terjemahan P.423.

    Jadi, ajaran-ajaran Islam yang dibawakan oleh Muhammad bukanlah murni gagasan dari beliau, sehingga apabila ada umatnya yang ingin meneruskan gagasan Islam dengan pembaruan, aku kira tidak boleh serta merta di cap sebagai sesat yang harus diberangus atau dimusnahkan.

    Bagaimana Islam harus diperbarui dan bagian mana yang mesti harus diperbarui dan mengapa perlu pembaruan? Ini pasti menjadi diskusi yang sangat menantang bagi para ahli agama Islam. Apakah kita lebih baik hanya mencukupkan diri dalam beragama seperti yang sudah-sudah? Atau kita akan merekonstruksi sebuah keyakinan menjadi lebih progresif? silakan berdiskusi.

    Matur suwun silakan dilanjut.

     
    • olads

      Januari 9, 2010 at 3:52 pm

      Benar dan tepat sekali bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad, adalah kelanjutan dari apa yang dibawa oleh Nabi-nabi sebelum nya.

      Karena sebuah hadits mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah ibarat sebuah batu bata yang melengkapi dinding sebuah bangunan, dan bangunan itu adalah Islam.

      Dan dalam QS 2:4

      Bahwa orang yang beriman adalah mereka yang percaya kepada apa yang di turunkan Allah kepada Muhammad dan yang diturunkan Allah sebelum sabelum Muhammad.

      Pendapat saya yang diturunkan sebelum Muhammad bukan saja agama-agama wahyu dari langit saja, bisa saja apa yang disebut istilah agama-agama bumi. Seperti halnya aliran kepercayaan-2 lokal, atau agama hindu, budha, zoroaster, konghucu, shinto, dll, dan aliran kepercayaan yang merupakan falsafah kehidupan dalam budi pekerti.

       
    • watonist

      Januari 18, 2010 at 8:03 am

      Mengapa kita mesti harus beragama? Apakah tanpa agama kita tidak bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Sebaliknya apakah dengan agama menjamin seseorang pasti bisa menjalani kehidupan ini dengan baik? Siapakah sebenarnya yang membutuhkan agama, manusia atau Tuhan? Jika Tuhan butuh agama, maka agama apa yang dianut-Nya?

      tidak ada yang mengharuskan kok mas … tidak juga Tuhan. kaum agamis itupun, meskipun dalam tutur bahasanya bersikap mengharuskan atau memaksa, toh sebenarnya hanya bersifat himbauan … memangnya mereka bisa apa kalau sampeyan memang mau tidak beragama ?! :)

      Lalu, faktor terpenting apakah di dalam hidup ini yang berperan besar terhadap tingkah laku manusia sehingga seseorang itu menjadi lebih beradab, lebih menghargai sesama hidup. Bagaimana sesungguhnya manusia bisa menemukan Tuhannya, apakah harus dicarikan orang lain melalui pintu agama, atau bisa mencari sendiri?

      faktor kejujuran, ditambah tanggung jawab, itu thok wis … menurut saya.

      Dengan keimanannya, mereka saling klaim telah berhasil menangkap Tuhan dan memenjarakannya dalam sangkar emas. ‘Pengumuman…pengumuman, inilah Tuhan yang paling sempurna, inilah Tuhan satu-satunya yang akan menunjukkan jalan keselamatan dunia dan akherat, barang siapa mengingkari Tuhan kami, maka siksa Tuhan sungguh sangat keras’ begitu teriak mereka.

      … sembari tetap memejarakan Tuhan dalam sangkar bikinan meraka :lol:

      Kita tak perlu berburu Tuhan, tetapi yang terpenting justru marilah kita berburu atau berlomba untuk berbuat kebajikan di atas bumi ini, sebab jejak Tuhan ada dalam kebajikan-kebajikan itu sendiri. Menurut keyakinanku, barang siapa telah berbuat kebijakan maka dia telah berbuat di jalan Tuhan. Tidak peduli siapa pun dia, beragama atau tidak orang itu. Sebaliknya, barang siapa telah berbuat kejahatan dan kerusakan di atas bumi ini, maka dia telah melakukan perbuatan yang mengingkari jalan Tuhan. Tidak peduli apakah orang tersebut beragama atau tidak.

      setuju

       
  23. sikapsamin

    Januari 9, 2010 at 8:25 am

    @ Yth. Mas Suprayitno,
    Apalagi yang perlu didiskusikan?
    Kan sudah ada kata ‘damai’… Agamaku, agamaku; Agamamu, agamamu; Imanku, imanku; imanmu, imanmu.
    Hanya menurut saya PERLU-DILENGKAPI : Fitrahku, fitrahku; TITAHKU, TITAHKU; TITAHMU,TITAHMU…dan terakhir yang terpenting…TANAH TUMPAH-DARAHKU, TANAH TUMPAH-DARAHKU; TANAH TUMPAH-DARAHMU, TANAH TUMPAH-DARAHMU…

    Bhinneka Tunggal-Sikep
    Bakuh-Kukuh-Utuh…NKRI
    Samin adalah DNA-Nuswantara

     
    • suprayitno

      Januari 9, 2010 at 12:13 pm

      Ki Sikapsamin yth,

      Bagi panjenengan mungkin menganggap tak perlu lagi didiskusikan, tetapi harap panjenengan ketahui bahwa justru
      setiap saat terus ada diskusi, baik di masjid-masjid, di TV, maupun pada ranah ilmiah akademik.

      Apa yang saya tulis itu hanyalah merupakan bahan diskusi yang boleh jadi cukup menantang bagi sebagian orang.

      tk.

       
  24. olads

    Januari 9, 2010 at 3:21 pm

    Oh Ya Mas Tomy trims kembali sy bisa urun tulisan di Blog nya Mas Tomy, dan mohon maaf sampai-sampai saya belum permisi.

    Mengenai tulisan Mas Suprayitno memang pernah tampil sekilas di Rumah Blog nya Nya Mas Sabda, dan saat itu memang saya diharapkan oleh Mas Suprayitno bisa memberikan gambaran yang lain tentang Alqur’an. Namun saya agak canggung karena pada artikel Mas Sabda judul nya “Tata Cara Melihat Tuhan”, jadi kayak nya kurang pas bagi saya kalau saya mengomentari panjang lebar tentang Alqur’an dalam judul artikel yang berlainan.

    Saya memang banyak belajar dari Mas Suprayitno dalam metode menilai meng-analisa dan meng-evaluasi suatu masalah, karena bagi saya segala sesuatu perlu diteliti dengan analisa dan evaluasi, dan kebetulan juga selama 21 tahun bidang kerja saya di BUMN dulu adalah sebagai analis dan forecast, jadi nya menjadi kebiasaan saya sampai sekarang bila mempelajari sesuatu tidak mudah begitu saja percaya, sebelum aqal fikiran saya memahami dan mentok, itupun bukan berarti saya ahli dalam hal tsb, karena terkadang analisa kita bisa luput juga, karena kurang nya input system informasi.

    Mengenai sejarah islam memang benar apa yang dikatakan Mas Prayitno, mungkin dan bisa jadi sejarah itu ditulis oleh orang yang fanatik yang bisa berlebihan dalam menyampaikannya, ataupun yang sengaja membelokan sejarah dan menghilangkan bukti sejarah.

    Karena menurut para pakar, sejarah islam banyak yang hilang manuskrip nya, itupun hanya ditemukan beberapa bagian namun sangat jauh waktu nya dari kejadian sejarah, dan beberapa manuskrip sejarah berada di meseum Eropa. Juga terjadi penulisan ulang sejarah yang dimungkinkah telah terkontaminasi oleh niyat itikad dari sang penulis, sebab menurut para peneliti sejarah ada pula sejarah islam yang ditulis oleh kalangan zionist dan orientalis. Demikian pula tafsir-tafsir Alqur’an yang tersebar di dunia maya yang sengaja dirubah arti dan maknanya oleh yang anti islam, juga oleh kalangan para murtadin islam sepertihalnya Ali Sina(faith freedom) dari Iran, yang didukung kalangan independent di amerika dan eropa dan dibiayai oleh sponsor-sponsor dari lembaga dan perusahaan tertentu.

    Demikian pula penghancuran museum sejarah di baghdad iraq tatkala penyerbuan tentara mongolia, hingga semua tulisan manuskrip dihancurkan dan dibuang. Dan yang terakhir terjadi penyerbuan dan penghancuran meseum di iraq, tatkala iraq diserang tentara amerika dalam pemburuan Sadam Husein, menurut berita saat itu yang menyerbu ke museum adalah tentara israel dengan seragam amerika, mencuri dan menghancurkan bukti-bukti sejarah, dan hal ini merupakan target untama selain pemburuan Sadam Husein.

    Sejarah adalah memang merupakan bukti yang sangat penting yang merupakan jejak rekam yang akurat dimana segala sesuatu bisa dipelajari dari sejarah tsb. Dan memang sejarah ini akan mempengaruhi generasi selanjutnya dalam menentukan kebijakannya dalam perjalanan sebuah agama, seperti hal nya penulisan sejarah Bangsa Indonesia yang terdapat berbagai kepentingan.

    Mengenai Negara Islam di Madinah memang Nabi Muhammad tidak pernah merancangnya dan membentuk, menurut para peneliti yang ada adalah pemerintahan islam, dimana kehidupan masyarakat Madinah yang dipimpin oleh seorang khalifah, model kehidupan Masyarakat Madinah saat itu, yang kini dikenal dengan konsep Masyarakat Madani.

    Tentang penyerangan rombongan kafilah Abu Sofyan memang pada waktu itu sedang terjadi permusuhan dan peperangan hingga terjadinya perang badar antara pasukan islam dan Pasukan Qurais beserta rombongan Abu Sofyan. Apakah ini sebuah perampokan atau bukan, karena dalam hukum islam menghalalkan harta pampasan perang.

    Apakah hal ini adalah atas dasar wahyu Allah atau dari fikiran Nabi Muhammad yang psikopati, saya kira menyerahkan kepada pendapat masing-masing dalam menilai. Karena saya kira Nabi Muhammad pun tetap manusia biasa yang bisa salah dalam tindakan dan keputusannya, hingga Allah menegur keadaan prilaku Nabi Muhammad melalui wahyu yang diakui dan diucapkan dari mulut nya sendiri.

    Apakah teguran Allah atas kesalahan yang disampaikan melalui wahyu yang disampaikan Muhammad itu merupakan kejujuran beliau ?, atau penyesalan ?. Mengapa dimasukan dalam klasifikasi wahyu ?, padahal teguran wahyu itu bisa saja disampaikan melalui hadits(Nabi dan Qudsi), atau bisa saja disembunyikan oleh beliau tidak tampil dalam kategori ayat Alqur’an.

    Untuk mengetahui maksud dan tujuan itu semua, tentu tidak lah cukup kita pelajari islam dan Alqur’an hanya dari segi sejarah saja, dimana sejarah islam menurut para peneliti sudah banyak yang hilang dan terkontaminasi oleh berbagai tujuan dari orang-orang yang berkepentingan.

    Dari sejak sesudahnya wafat nya Nabi Muhammad saw, pada saat itupun telah terjadi pergolakan dan pepecahan dikalangan umat islam. Yang paling menonjol adalah perlawanan terhadap Muawiyah, dimana keluarga Nabi dibantai habis oleh pasukan Muawiyah hingga peristiwa karbala pemotongan kepala cucu Rasulullah dan kepalanya di jadikan permaianan bola kaki, dan di gelandang di seret ke tiap sudut kota .

    Demikian pula disaat khalifah Sayidina ‘Ali, yang dipenuhi oleh pertentangan kelompok golongan hingga terbentuk golongan syiah, dimana pada saat-saat pergolakan banyak terjadi pemalsuan hadits-hadits. Dan Alqur’an yang digunakan juga terdapat perbedaan, antara golongan syiah dan Alqur’an versi Khalifah Ustman.

    Menurut sejarah pula, sebenarnya Nabi Muhammad tidak menganjurkan bahkan melarang Alqur’an dan hadits untuk di tulis dan di bukukan, karena Beliau khawatir akan di politisir dan disalah gunakan. Nabi lebih memilih Alqur’an untuk dipelihara dengan di hafal(hafizd Qur’an).

    Dan ternyata memang terbukti banyak nya Alqur’am yang tercetak dengan berbeda-beda versi, terutama pada penulisan huruf dan waqof, dimana hal ini dapat merubah dari arti dan maksud pengertian ayat itu sendiri.

    Perjalanan islam ternyata banyak diwarnai oleh maksud tujuan dari berbagai misi dan ambisi dari berbagai kalangan untuk menghancurkannya baik dari dalam maupun dari luar. Sepertihal nya kelompok fanatis islam atau kelompok yang dibentuk oleh musuh islam melalui orang islam itu sendiri, yang melahirkan kelompok golongan yang berbeda-beda. Sehingga setiap kelompok dan golongan saling klaim kebenaran, demi tercapainya maksud tujuan yang tidak lepas dari kepentingan sosial dan politik suatu kekuasaan.

    Selama ini saya analisa bahwa sejarah agama-agama yang dibahwa oleh para Nabi Timur Tengah yang disebut istilah agama langit, tidak lepas dari berbagai pergolakan hingga terpecah belah merusak dan merubah tatanan kehidupan yang manusiawi, hingga sebuah agama terkesan kejam merampok membunuh atas nama Kitab suci dan Tuhan. Sepetri halnya kelompok Noordin M Top, membuhuh dan bunuh diri demi surga nya sendiri dan Tuhan dengan mengabaikan kemaslahatan rakyat banyak.

    Ataupun pembantaian tentara israel di palestina sejak perang dunia ke dua hingga saat ini, demi ketaatan terhadap Tuhan pada kitab Talmud atas tanah yang dijanjikan di Kanaan(palsetina). Demikian pula dimasa kenabian Isa Almasih yang diwarnai pergolakan dan pertentangan tentang lahirnya seorang utusan Tuhan(Yesus) sehingga melibatkan tentara Romawi dan Raja Herodes, sehingga perkembangan agama kristen yang beralih dari pusat nya Yerusalem ke Roma Eropa sebagai pusat agama katolik di Vatikan.

    Dan demikian pula yang tampak saat ini adalah agama dan Tuhan memang tampak seperti barang dagangan, dengan berbagai iming-iming dan intrik-intrik politik yang tersembunyi dalam sebuah misi. Seperti halnya penjajahan Belanda dan Portugis yang membawa misi untuk menyebarkan Kristen, dimana mereka msing-masing membawa misi gereja dengan arah yang berbeda yaitu keselatan dan utara. Namun ternyata mereka bertemu di wilayah Indonesia. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa dunia ini bulat, keyakinan pada saat itu bangsa eropa bahwa dunia adalah datar.

    Selanjutnya pula agama islam(Muhammad) yang dibawa oleh para saudagar dan pedagang ke Indonesia, hingga merubah keadaan masyarakat Indonesia dari Hindu Budha. Apakah Islam yang dibawa oleh saudagar juga merupakan utusan misi dari Timur tengah ?, hali ini perlu digali juga melalui sejarah.

    Sebenarnya ada hikmah apa atas semua ini, bahwa agama-agama langit ini sangat kuat pengaruhnya hinggga membuat berbagai perubahan atas kehidupan manusia di muka bumi, dan sangat mempengaruhi serta menyita potensi seluruh manusia untuk ikut memikirkan bahkan merekayasa perubahan sebuah kehidupan beragama melalui berbagai aspek, sehingga terjadi berbagai benturan-benturan antar umat bergama.

    Tentu dalam penggalian tentang agama selain sejarah yang merupakan trakc record yang dianggap bukti otentik, harus kita gali dan teliti selengkap mungkin system informasinya. Selain itu pula ilmu-ilmu yang mendukung untuk penelitian sebuah kitab suci dari segi tata bahasa dan dukungan ilmu-ilmu bantu lainnya sangat diperlukan sebagai referensi yang penting.

    Karena ke otentikan sebuah kitab suci perlu diteliti dari struktur gaya bahasa nya, kalimatnya, sesuai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk penelitian dan penggalian, karena mungkin saja apa yang telah ditranslate dalam kitab tsb terdapat maksud tujuan dari sang penerjemah yang dipengaruhi oleh misi fanatisme sebuah kelompok dan golongan.

    Demikian pula dukungan dari para ahli penafsir, dan dibutuhkan kemampuan yang benar-benar natural(alamiah) atas petunjuk Tuhan(ijtihad), dimana tidak cukup hanya kamampuan aqal fikiran, selain itu pembinaan hubungan vertikal yang senetral mungkin untuk mencari kebenaran yang sejati, terutama keadaan hati yang bersih suci dari segala penyakit iri dengki, jahil aniaya, kebencian dll, ataupun kecenderungan dan keterpihakan kepada sesuatu selain Tuhan.

    Saya kira inilah yang perlu di cermati hingga kita mampu semaksimal mungkin menampilkan buah fikiran kita dengan sebaik-baiknya, karena tentu bila hal ini kita anggap penting dalam kehidupan beragama untuk generasi berikutnya, maka tentu kita tak ingin menggali suatu kebenaran seperti membeli kucing dalam karung.

    Dan inilah pemadangan yang terjadi saat ini dimana umat islam saya kira sangatlah serampangan dan sembrono dalam menyampiakan dan menjalankan agama nya, sehingga perjalanan sebuah agama sangat menuntut kawlitas SDM para penganut nya.

    @Yth : Mas Tomy dan Mas Suprayitno, serta pembaca semua yang budiman

    Trimakasih yang sebesar-besar nya telah memberikan ruang makalah untuk mengasah fikiran saya, mohon maaf bila terdapat kata kalimat yang kurang berkenan, karena semua ini tentu untuk tujuan kebaikan, terutama untuk generasi anak cucu kita selanjutnya, dimana mereka akan hidup dan menghadapi suatu keadaan yang dimana kita tak berada disana lagi, kecuali do’a restu dan warisan berharga berupa bekal hidup yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat.

    Wassalam,

     
    • watonist

      Januari 18, 2010 at 8:17 am

      Mengenai sejarah islam memang benar apa yang dikatakan Mas Prayitno, mungkin dan bisa jadi sejarah itu ditulis oleh orang yang fanatik yang bisa berlebihan dalam menyampaikannya, ataupun yang sengaja membelokan sejarah dan menghilangkan bukti sejarah.

      dan … diakui atau tidak, penulisan yang berlebihan tersebut malah justru bisa menjadi bumerang yang menjatuhkan nama Sang Nabi sendiri, meskipun mungkin niatnya baik.

      Menurut sejarah pula, sebenarnya Nabi Muhammad tidak menganjurkan bahkan melarang Alqur’an dan hadits untuk di tulis dan di bukukan, karena Beliau khawatir akan di politisir dan disalah gunakan. Nabi lebih memilih Alqur’an untuk dipelihara dengan di hafal(hafizd Qur’an).

      sepengetahuan saya … yang oleh Nabi dilarang untuk dituliskan itu perkataan Nabi selain Al-Quran mas, dalam hal ini tentu saja termasuk hadist … mungkin mas Olads bisa menjelaskan/konfirmasi sumbernya dari mana.

      Selanjutnya pula agama islam(Muhammad) yang dibawa oleh para saudagar dan pedagang ke Indonesia, hingga merubah keadaan masyarakat Indonesia dari Hindu Budha. Apakah Islam yang dibawa oleh saudagar juga merupakan utusan misi dari Timur tengah ?, hali ini perlu digali juga melalui sejarah.

      kabarnya (saya lupa darimana sumbernya) … islam itu sudah masuk kesini sebelum para pedagang itu membawanya mas.

       
      • olads

        Januari 29, 2010 at 9:21 pm

        Yups !
        Alqur’an dimasa itu tidaklah berbentuk kitab yang tersusun seperti sekarang, masih ditulis dengan arab gundul pada kulit binatang, dan kulit kayu, yang terpisah-pisah dengan berbagai bahasa dialek masing-masing suku, sehingga banyak terjadi perbedaan dalam pengucapan dan perubahan maksud, makna dan artinya.

        Dengan banyak terjadinya perbedaan tsb, maka Khalifah Ustman as, berinisiatif untuk menyatukan dan menyusun Alqur’an dalam sebuah kitab yang pada saat itu di tentang oleh para sahabat lainnya karena tidak ada contoh dan anjuran Rasulullah dan disebut Bid’ah.

        Namun dengan berbagai alasan yang menghawatirkan akan kemurnian Alqur’an maka dikumpukannya para hafidz untuk menyusun dalam bentuk kitab dengan berbagai cara, mulai dengan tanda warna dsb, hingga ditemukan metode waqof dengan huruf-huruf Alqur’an pula, sehingga Alqur’an dapat dibaca dengan mudah sebab terdapat waqof dan harakat yang menunjukan makna, arti, maksud dari ayat-ayat tsb, sehingga Alqur’an dapat di tafsirkan melalui tanda-tanda tsb.

        Maka seluruh tulisan Alqur’an yang terpisah-pisah pada kulit dan kayu dikumpulkan seluruhnya dan dibakar.

        Namun ada beberapa tulisan Alqur’an yang sebenarnya masih tersisa dan tersembunyi yaitu Alqur’an yang berada di pengikut Sayidina ‘Ali, yang sekarang menjadi Kitab Suci Islam Syi’ah, demikian pula Alqur’an versi Yaman yang penyusunan waqof nya sangat berbeda dengan yang sekarang beredar, dimana cirinya adalah halaman yang berbeda juga pada surat Alfatihah 7 ayat tidak termasuk Basmallah.

        Alqur’an tsb sangat langka ditemui namun ada beberapaa percetakan yang menerbitkan nya, kabarnya inilah Alqur’an yang sangat sesuai dengan aslinya dimana manurut para ahli bahwa Alqur’an tersebut bermetode sesuai dengan susunan tubuh manusia.

        Sedangkan Alqur’an yang beredar sekarang mayoritas adalah terbitan saudi yang di cetak secara besar-besaran oleh saudi dan dibagikan dan dikirmkan ke seluruh negara secara gratis, yang dibiayai oleh kerajaan saudi atas sponsor kelompok faham wahabi, dimana kerajaan saudi adalah berfaham wahabi, suatu faham sempalan islam atas bentukan yahudi.

        Dan hal itu suatu yang tak aneh, karena menurut beberapa kabar bahwa sebenarnya keluarga kerajaan saudi bukanlah bangsa arab asli, tapi keturunan saudagar yahudi dahulunya yang menjadi orang terkaya dan tuan tanah sehingga berkuasa di tanah arab.

        Maka tak aneh bila Kerajaan saudi sangat menjalin hubungan baik dengan Yahudi dan Amerika.
        Sedang Keturunan Rasulullah berikut bukti-bukti sejarah nya dibawa oleh ahlul bayit Rasulullah ke Baghdad yang sekarang menjadi Iraq dan Iran, yang sebagian dari mereka adalah sebenarnya terdapat keturunan dari Hasan-Husain putra Sayidina ‘Ali, dan para pengkutnya di Iran, dan mereka para ahlul baytit Rasulullah dibantai oleh Muawiyah dan dihabisi di Karbala Iraq, yaitu kota perbatasan Iraq Iran sekarang.

        Maka Tak aneh pula bila Iraq dan Iran dari sejak dahulu menjadi ladang penghancuran oleh Amerika dan Yahudi, Karena disana terdapat bukti-bukti otentik Islam di Museum Iraq dan terdapat keturunan-2 Rasulullah yang tersebar di Iraq Iran dan bangasa Kurdi sebagai kunci utama yang wilyahnya dipecah belah oleh Amerika Yahudi.

        Banyak para ahli sejarah yang mengharapkan dan memimpikan Iraq dan Iran bersatu untuk menjadi kekuatan utama di timur tengah, karena kunci islam terdapat di kalangan kaum Suni dan Syi’ah, bukan arab saudi.

        Maka Iraq-Iran adalah merupakan agenada kekal, yang menjadi ladang penghancuran dengan berbagai alasan oleh Amerika Yahudi selain merampok minyak-minyak nya dengan alasan-alsan klasik melalui Resolusi PBB sebagai boneka nya.

        Dilain tempat di Palestina adalah perampokan wilayah dan pembantaian yang takan pernah selesai, itulah peta timur tengah dalam agenda Amerika Yahudi, termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.

        Semua itu tujuan aslinya adalah untuk menghancurkan islam melalui berbagai cara selain merusak dan memalsukan secara halus Alqur’an melalui terbitan-terbitan orientalis.

        Maka kalau umat islam akan belajar Alqur’an secara benar, carilah Alqur’an yang diterbitkan oleh kalangan islam pula, bukan dari para orientalis yang selalu mebelokan arti makna dan merubah huruf-huruf sehingga berubah pula artinya.

        Pusat pengkajian Alqur’an terbesar di dunia berada di Mesir tempatnya lahirnya para ulama besar,bukan di eropa dan amerika, dan bukan pula melalui Alqur’an terbitan para Orientalis yang merusak esensi Alqur’an.

        Karena mereka menterjemahkan dan memaknai sejarah, hadits dan Alqur’an dengan serampangan sesuai misi dalam penghancuran islam, sehingga arti dan maksud nya jauh berbeda dengan aslinya.

        Karena dalam mempelajari Alqur’an terdapat beberapa displin-disiplin ilmu yang menjadi referensinya, tidak cukup hanya di baca saja dan alih bahasa.

        trims

         
  25. suprayitno

    Januari 10, 2010 at 3:00 am

    Betul Mas Olads,

    Latar belakang saya dulu juga pernah bekerja sebagai wakil kepala keuangan dan administrasi di sebuah perusahaan farmasi nasional yang cabangnya ada di seluruh Indonesia.

    Saya menangani bidang inkaso dari mulai pertama memberikan kebijakan kredit, menganalisa dokumen sampai dengan proses menjadi uang. Saya dituntut harus bisa “membaca” apa yang ada di balik sebuah dokumen.

    Dokumen sebagai alat tagih hanyalah “benda mati” tetapi apa yang terjadi di balik benda mati itu? Intinya saya harus bisa membaca sebuah peristiwa dari apa yang masuk akal dan apa yang tidak masuk akal, mana yang perlu perhatian ekstra dan mana yang boleh kita anggap aman.

    Hasilnya dari tahun ke tahun sesungguhnya modus operandi sebuah penipuan keuangan itu relatif tetap.Caranya ya hanya itu-itu saja, bagaimana mereka memalsu dokumen seperti seakan-akan dokumen itu ASLI padahal palsu. Nah bagaimana cara kita membedakan antara dokumen yang asli dan palsu?(mungkin kalau dalam beragama ya kita dituntut untuk bisa membedakan mana tuhan yang asli dan mana tuhan yang palsu).

    Caranya kita mesti harus tahu customer recordnya, ya kembali lagi kan, pada sejarah pelanggan tersebut. Kita harus tahu detail pelanggan kita, terutama pelanggan yang pengambilannya dalam jumlah besar.

    Dan hasilnya, selama saya bekerja di perusahaan farmasi tersebut sudah ada sedikitnya 11 orang salesman yang dipecat, karena terbutki mereka mencuri.

    Nah dalam beragama pun saya berpikir “Jangan sampai saya ditipu oleh agama” supaya kita tidak ditipu, ya mau tidak mau kita mesti rajin belajar dari dua sudut pandang.Saya yakin Tuhan yang asli tidak akan pernah menipu manusia, tetapi yang namanya AGAMA bisa saja menipou umatnya.

    Kita harus mau belajar dari dua sudut pandang.Yang satu dari sudut pandang yang pro, dan satunya lagi dari sudut pandang yang kontra. Tetapi, kita harus “jangan larut” oleh pertentangan keduanya, sebab toh baik yang pro maupun yang kontra sama-sama mereka sejatinya “memiliki kepentingan” yang kadang-dakang disembunyikan.

    Nah pertanyaanya, kepentingan kita dalam beragama itu apaan sih sesungguhnya? Apa biar kalau mati kita bisa masuk ke surga, biar mendapat teman yang banyak, biar mendapat pahala dari tuhan, karena ewuh pakewuh dengan tetangga, karena negara mewajibkan kita harus memeluk salah satu agama, karena kita ingin membela tuhan dan nabinya, karena kita ingin berkuasa dan mencari tahta, karena kita ingin mencari duit, karena kita ingin dianggap hebat, atau karena kita INGIN MENJADI ORANG YANG LEBIH BAIK?

    Nah coba masing-masing dihayati dan dirasakan apa motivasi anda beragama? kalau saya adalah hal yang sangat penting saya tanyakan kepada Nabi Muhammad, Yesus, Buddha, Musa atau Ibrahim, apa motivasi mereka beragama?

    Benarkah demi membela hukum-hukum Tuhan? kalau benar, bagaimana sesungguhnya substansi hukum tuhan yang harus dijalankan oleh manusia? Apakah hukum tuhan yang ada dalam diri mereka bisa berlaku UNIVERSAL? atau hanya cocok untuk diri mereka dan masyarakat mereka sendiri?

    Saya rasa dengan akal budi, perasaan atau pikiran kita bukanlah ditakdirkan menjadi manusia yang “COPY PASTE”. Artinya, boleh saja mereka mengaku sebagai nabi utusan Tuhan, tetapi jika dengan akal budi dan pikiran ternyata kita merasakan tidak cocok, ya kita mesti harus secara jujur menyampaikannya bahwa ajaran mereka tidak cocok untuk saya. Dimana, mengapa dan apanya yang tidak cocok? ini yang harus bisa kita jelaskan dengan akal dan pikiran.

    Saya sangat hormat dan salut setinggi-tingginya kepada para Nabi itu, sebab mereka jelas bukanlah manusia biasa, mereka pastilah manusia luar biasa yang memiliki daya juang, cipta, rasa dan karsa yang sangat luar biasa. Ini harus kita akui bersama, terlepas dari apakah kita kafir atau beriman.Saya rasa sangat salah jika ada orang yang hanya bisa mencaci maki terhadap ajaran Islam, sebab di dalam ajaran Islam banyak hal-hal yang sangat humanis yang sesungguhnya pantas untuk dijadikan hukum negara. Tetapi, saya juga harus smengatakannya bahwa dalam ajaran Islam banyak hal yang saya tidak bisa terima.

    Belajarlah dari mereka apa yang kita rasakan patut untuk dipelajari/diteladani dan tinggalkanlah apa yang kita pikir tidak cocok untuk kita teladani.

    Pertanyaannya, apakah beragama itu mesti harus “mencaplok” seluruh ajaran mereka?

    Monggo diteruskan.

     
    • watonist

      Januari 18, 2010 at 8:21 am

      Nah dalam beragama pun saya berpikir “Jangan sampai saya ditipu oleh agama” supaya kita tidak ditipu, ya mau tidak mau kita mesti rajin belajar dari dua sudut pandang.Saya yakin Tuhan yang asli tidak akan pernah menipu manusia, tetapi yang namanya AGAMA bisa saja menipou umatnya.

      setuju … dan saya anggap perlu digarisbawahi dengan penegasan “Tuhan yang asli tidak akan pernah menipu manusia”

       
  26. suprayitno

    Januari 10, 2010 at 8:59 am

    Poro sedulur sutrisno dan Mas Tomy yang baik,

    Ini saya postingkan komentar dari salah satu teman sbb :

    Kalo boleh saya katakan, “orang beragama belum tentu beriman, tetapi orang berimana sudah pasti beragama”.
    Orang yang mengenakan baju koko, sorban, jilbab, jubah dan berbagai atribut agama, yang bukan pada tempatnya, bukan mencerminkan orang itu beriman, tetapi lebih condong kepada “biar dibilang orang beriaman”.
    Kadar iman seseorang hanya Tuhan yang tahu, kalo sesama manusia dilihat dari buahnya (perilakunya).
    Kita boleh saja mengaku beragama, tapi apakah kita sudah beriman, tanyalah pada diri sendiri.
    Sekadar padangan :
    Ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang tidak beriman :
    1. Suka berbohong (berkata dusta).
    2. Tidak menepati janji
    3. Kalo dipercaya dia berkhianat
    4. Suka menyakiti hati orang lain
    5. Suka memfitnah, menghujat dan menghakimi orang lain.
    6. Gampang emosi atau marah (tidak sabar)
    7. Masih mengikuti hawa nafsu
    8. Ingin dipuji dan dihormati
    9. Sombong atau angkuh (mau menang dan merasa benar sendiri)
    10. Sering melakukan larangan Tuhan.
    Tentang iman, apa kata hadits dari Ibnu Majah :
    “Al imanu ‘akdun bilqalbi, waikraarun billisani, wa’amalun bil arkan”
    Untuk Kristiani, ya melaksanakan hukum kasih :
    “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”
    Hal ini semua harus tercermin dalam prilaku kita sehari-hari, kalo itu belum dilaksanakan, sebaiknya kita malu mengaku sebagai orang yang beriman.
    Kalo ngaku beragama sih, boleh-boleh saja, biar ga dibilang atheis.

    Iman bagi seseorang merupakan proses untuk memperoleh cara pandang tentang kehidupan.
    Dan dari cara pandang itu seseorang menentukan sikap (tindakan) dalam menjalani kehidupan.

    Surga itu adalah wortel yg digantung di depan keledai supaya dia mau berjalan.
    Sesudah mati, kita seharusnya hanya berupa ruh/jiwa, saat seperti itu apa perlunya pemenuhan nafsu badaniah?
    Konsep surga sebagai tempat dimana semua keinginan duniawi (harta, tahta, wanita) terpenuhi adalah menggelikan, dan sempit.

    Konsep seperti itu lebih mungkin di buat2 saja oleh seseorang dengan nafsu duniawi tinggi, daripada gambaran dari yg maha pengasih dan maha penyayang.

    Monggo dikomentari, bebas saja silakan.

     
  27. olads

    Januari 10, 2010 at 3:19 pm

    Tentang Surga dan Kenikmatan

    Bagi orang yang terbuka aqal fikirannya jelas sekali ini hayalah merupakan iming-iming, sepertihal nya sewaktu kita masih kecil bila disuruh belajar orang tua atau disuruh apa saja selalu di iming-iming dengan hadiah makanan atau permen.

    Tapi setelah dewasa dan mengerti tentu bila kita diperlakukan demikian seperti anak kecil, maka kita akan tersenyum ataupun sedikit tersinggung, karena toh taat kepada orang tua adalah merupakan tanggung jawab dalam berbakti, yang tidak perlu untuk di iming-imingi oleh sesuatu apapun.

    Demikian pula dalam ketaatan kepada Tuhan setelah mencpai usia dewasa dan telah menjelang Tua, maka sangatlah malu bila dalam ber ibadah didasari oleh iming-iming pahala dan surga, sebab lebih dari itu ber ibadah dalam berbuat kebajikan adalah suatu tanggung jawab kehidupan terhadap diri sendiri. Sebab manusia akan mendapatkan apa yang diperbuat nya.

    Sudah waktunya kita tinggalkan mental kekanak-kanakan dalam ber agama, sebab bila mental kekanak-kanakan ini masih melekat pada manusia dewasa, maka kita akan seperti melebihi dari sikap prilaku ke kanak-kanakan, bahkan lebih dari itu akan egois tertutup dari kehidupan yang humanis, dan hal seperti ini adalah tak ubahnya seperti penyakit hambatan perkembangan jiwa, yang kaku, tidak alami.

    Bila umat islam tidak merubah pola fikirnya untuk menjadi dewasa dalam beragama melalui aqal fikiran dan daya intelektualitasnya, maka saya yakin, bahwa agama Islam akan punah esensinya, yang tertinggal adalah bungkus nya saja yang banyak seperti buih lautan.

    Toh pada saat ini menurut saya islam melalui umat dan para tokoh-tokoh nya secara mayoritas tak lebih dari sekedar hiasan dan pelengkap penderitaan di sebuah negara(NKRI). Dan ISlam tak lebih dari sebuah komunitas yang mudah di ombang-ambingkan kesana kemari oleh pemimpinnya.

    Nafsu duniawi telah menjajah umat islam secara mayoritas pada kalanga level bawah menengah dan atas, bahkan sangat terkesan sangat sulit dalam menyelesaikana persoalan bangsa. Orang-orang cerdik pandai dan tokoh ulama satu demi satu hilang dari komunitas, yang pandai dan agak pandai hanya diam dalam persoalan agama dan hanya sibuk dalam politik dan ambisi kekuasaan.

    Pada kalangn level menengah di masyarakat hanya disibukan oleh ritual-ritual ceremonial keagamaan s/d kesibukan berhaji yang kurang menghasilkan kwalitas umat yang mampu meperbaiki kehidupan ber agama. Sampai-sampai mereka tidak mempunyai rasa kebersamaan dalam masyarakat sebuah agama, serta kematian rasa sosial dalam pergaulan karena dibatasi oleh kelas-kelas sosial ekonomi serta fanatisme kelompok dan golongan yang tidak membuat kemaslahatan untuk seluruh umat.

    Mereka mayoritas umatnya islam lebih suka menghiasi diri dengan atribut-atribut keagamaan yang menduniawi, menghias mushaf dan masjid, berlomba dalam keindahan membaca Alqur’an, bukan berlomba dlam mengamalkan nilai-nilai Alqur’an. Pada level kalangan yang sok pintar dalam agama, mereka hanya mencari pembenaran prilakunya melalui hukum agama, bukanya hukum agama dijadikan referensi untuk membenarkan dan meluruskan prilakunya.

    Banyak nya santunan kepada fakir miskin hanya untuk menggugurkan kewajibannya, bukannya untuk saling mendekatkan dan menutup jurang perbedaan tingkat sosial. Bermegah-megah dalam membangun dan mensucikan masjid namun membiarkan jalanan disekitarnya rusak dan selokan-selokan yang mampet. Mereka para tokoh agama hanya mampu menyuarakan ayat-ayat Alqur’an tanpa mampu terjun langsung mengamalkan nilai-nilai agama dalam tindakan nyata dilapangan.

    Apa yang saya tulis tsb diatas pasti bisa menyinggung bagi yang merasa dan tersinggung, tapi bukti nyata keadaan kehidupan islam di Indonesia adalah suatu bukti yang tidak dpat dibantah oleh sekedar ketersinggungan.

    Saya disini berda dilevel bawah, yang artinya tidak mempunyai sebuah jabatan dan kedudukan yang berpengaruh di kalangan umat, kalaupun saya bertindak tidaklah banyak ber-arti bagi umat pada umum nya, namun apabila orang sperti saya ini bisa bersatu menyuarakan keprihatinan, paling-paling hanya melengkapi penderitaan saja.

    Lain hal nya bila para petinggi dan tokoh islam yang bergerak, mungkin mereka akan diperhitungkan suaranya. Sedang yang duduk di partai-partai rasa rasanya kok hanya ramai rebutan kursi dan isi perut, padahal toh mereka mayoritas islam waloupun bukan partai islam. Mereka harus menyadari mengapa partai yang berbasis islam saat ini tidak laku dimasyarakat, karena saya kira umat islam tidak menyukai islam hanya sebagai symbol, tapi lebih mengharapkan sebuah tindakan nyata.

    Beberapa kelompok kalangan islam yang fanatik buta dalam agama, mereka menginginkan sebuah negara islam berdiri dengan usaha berbagai cara, namun mereka lupa jangankan membuat sebuah negara islam, memimpin dirinya sendiripun mereka tidak becus, hanya terdorong oleh semangat kosong dan lemah kemampuan. Sudah saatnya generasi islam mulai sadar dan merubah pola fikir nya, bahwa kehidupan agama islam bukan untuk islam saja, namun bila islam itu rahmatil lil ‘alamin toh harus mampu memberi rahmat untuk seluruh kehidupan siapapun dia dimana saja.

    Bisa saja kalangan islam yang mudah untuk membubuhi cap kafir dan sesat pada orang lain, ternyata lebih kafir dari lainnya, karena mereka tidak mempu menemukan kekafiran dirinya. Lihatlah Kasus noordin mtop dan bom bali amrozi dan kawan-kawan, saya kira menurut pendapat saya mereka lebih layak berada di neraka, dari pada korban bom nya.

    Mereka orang-orang aktivis bom bunuh diri seperti para pengikut DR Azhari dll, sepertinya mereka telah tertipu oleh kehidupan surga, yang katanya ruh nya berada pada seekor burung di taman surga. Menurut saya mereka pelaku bom bunuh diri jiwanya berada dalam kegelapan, surga yang dicarinya tak pernah muncul dihadapan, mereka pasti menyesali perbuatannya, jiwanya penasaran tertipu oleh iming-iming jihad surga dan bidadari cantik.

    Prilaku mereka para palaku bom bunuh diri lebih mulia dari seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang pasir, sehingga pelacur tsb masuk surga karena lebih menghargai seekor anjing sesama makhluk Tuhan yang hampir mati kehausan dari pada dirinya yang kehausan. Disinilah kirannya manusia dibutuhkan tanggung jawab yang lebih, karena manusia mempunyai aqal fikiran dan perasaan. Bila seekor anjing saja walaupun itu najis, tetaplah harus diselamatkan, dihargai, dohormati karena ciptaan Tuhan juga.

    Namun dimanakan hati nurani para mujahidin konyol tsb, yang jiwanya sangat pengecut untuk berada di medan perang di palestina, tapi lebih memilih menjadi mujahidin dungu yang membunuhi rakyat dan saudaranya sendiri yang tak berdosa dengan bom-bom konyol. Dimanakah hati dan perasaan para petinggi dan tokoh islam, kok sepi-sepi saja ???, apakah hanya karena beda prinsip dan keyakinan itu sudah cukup untuk diam ??, bagai mana bila teman dan handai taulan kita, bahkan keluarga kita yang jadi korban bom ??, apakah jawabannya hanya cukup sahid dan surga ???.

    Sungguhlah sangat sempit hukum syariat agama bila hanya diterjemahkan sebatas demikian. Bukanlah syariat itu artinya jalan luas dan lebar, dimana pada jalan itu terdapat banyak kearifan dan kebijakan. Marilah kita bangkit umat islam untuk mewujudkan kemaslahatan bersama di tanah air tercinta ini, kalau tidak dari sekarang kita berbuat kemaslahatan dan kebaikan, saya yakin Islam akan segera punah di bumi Indonesia.

    Kesimpuanya ternyata sebuah aturan agama hanya membuat kerusakan dan perpecahan, namun ke imanan, keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan lebih mempersatukan. Dan saya kira kebersatuan kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan Siapapun dan Apapun Nama Tuhan itu, ternyata lebih meningkatkan semangat kebersamaan dan saling menhormati dalam kebajikan, dari pada berbagai aturan agama yang artinya agama = “tidak kacau”, malah lebih membatasai dan mengacaukan kehidupan, yang jauh dari Rahmatil Lim A’alamin.

     
  28. suprayitno

    Januari 11, 2010 at 12:07 am

    Saya harap diskusi ini bisa melibatkan lebih banyak lagi teman-teman yang lain, bukan saja hanya dari kelompok Islam radikal, tetapi bagi semua orang yang entah beragama apa pun, kafir juga boleh ikut berdiskusi.

    Mas Olads yang baik,

    saya rasa, siapa pun yang mempelajari sejarah berdirinya Indonesia, pasti tidak akan meragukan KIISLAMAN Bung Hatta.

    Bung Hatta mampu memadukan antara iman yang sebenar-benarnya iman dengan “agama” yang dia peluk.Sosialisme Bung Hatta sesungguhnya juga banyak diadopsi dari nilai-nilai Islam, tetapi Islam tidak menjadikannya sebagai ARABISASI, bahkan dia cenderung lebih sekuler seperti halnya Ghazi Musthapa Kemal Ataturk.

    Menurut saya, konsep zakat mestinya bisa dimasukkan dalam hukum positif. Langsung saja bagi muslim yang mampu dan memenuhi syarat DIHARUSKAN berzakat melalui lembaga negara. Hukum zakat disamakan seperti PAJAK.Pengelolaannya harus transparan dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Sebaiknya yang mengelola bukan departemen agama, tetapi departemen tersendiri.Departemen ini juga menerima infaq/shodaqoh juga hibah.

    Dan kwitansi bukti pembayaran zakat, otomatis bisa dijadikan sebagai kompensasi terhadap pembayaran pajak lainnya. Misalnya ketika kita akan membayar pajak kendaraan, pajak PBB atau pajak lainnya, bila kita sudah bayar zakat otomatis jumlah pajak kendaraan bisa dipotong dengan kwitansi pungutan zakat.Hanya kwitansi pembayaran ZAKAT yang bisa dikompensasi.

    Jumlah umat muslim di negeri ini paling besar di dunia, maka jika pemerintah bisa mengelola potensi yang sangat luar biasa ini, saya rasa umat Islam akan lebih cepat maju dan sejahtera.

    Tetapi berbarengan dengan itu juga harus kita tumbuhkan reformasi di tubuh Islam itu sendiri. Islam yang bangga akan budaya sendiri, Islam yang bangga dengan keagungan Borobudur bukan hanya membangga-banggakan ka’ah saja, yang cuma kotak kecil yang katanya rumah tuhan itu.

    Islam yang bukan hanya mendirikan sholat, tetapi diikuti dengan tindakan pembayaran zakat, dan menafkahkan sebagian rezekinya terutama kepada anak-anak yatim atau anak yang telantar.

    Bila negara tidak mampu memelihara anak yatim dan anak telantar, biarlah lembaga Islam dengan dana dari zakat dan infaq yang akan mengurusinya.

    Kita dirikan Lembaga Pemelihara Anak yatim dan Anak telantar Nasional. Di lembaga tersebut, mereka (anak-anak yatim dan telantar) diberi kasih sayang dan pendidikan yang khusus. Pengertian “khusus” di sini justru yang mutu pendidikannya jauh lebih tinggi dibandingkan mutu pendidikan pada umumnya.

    Mengapa kok bisa begitu????? saya harap justru dari ANAK YATIM dan anak telantar inilah barangkali negara kita akan bisa dipimpin oleh generasi yang bener.

    Inspirasinya datang dari Nabi Muhammad yang juga berasal dari anak yatim, Yesus dimata saya juga termasuk anak yatim dan anak telantar. Makanya mereka bisa menjadi pemimpin yang tangguh.Logikanya, anak yatim dan telantar bila diasuh dan ditangani secara benar maka dia akan lebih loyal bukan kepada orang tuanya atau saudara-saudaranya, tetapi kepada NEGARA DAN ANGSANYA. Mereka bisa dibina untuk menjadi apa saja, jadi ATLET, jadi ENTERPRENEUR/pengusaha, jadi guru, jadi tentara, jadi haklim, jaksa atau polisi. Insya alloh produk dari lembaga ini PASTI AKAN LEBIH BERKUALITAS.

    Ayo yang merasa muslim perkuatlah imanmu bukan perkuat agamamu.

    Iman yang sebenar-benar IMAN seperti kata Mas Olads insya Alloh akan mampu mempertemukan kita semua dalam satu bahasa yakni bahasa penuh kasih sayang dan anti kekerasan.

    Orang kafir seperti saya saja pastilah BERIMAN, hanya saja cara dan bentuk imannya yang lain. Tetapi itu tidak menjadikan halangan untuk proyek raksasa yang bernama kemanusiaan.

    Ayo mas Tomy, seluruh rekan baik yang kafir maupun yang beriman,baik yang mengaku bodoh atau pintar, baik para pemimpin maupun bawahan kita himbau untuk bergabung di sini, untuk proyek Indonesia ke depan.

    Tk.

     
  29. tomy

    Januari 11, 2010 at 5:47 am

    MENEMUKAN ALLAH

    Waktu itu waktu ceramah. Sang Guru berkata, “Kehebatan seorang komponis diketahui lewat nada-nada musiknya, tetapi menganalisis nada-nada saja tidak akan mengungkapkan kehebatannya. Keagungan penyair termuat dalam kata-katanya, namun mempelajari kata-katanya tidak akan mengungkapkan inspirasi.

    Pada waktu tanya jawab, seseorang bertanya, “Kalau begitu, bagaimana kami akan menemukan Allah?”
    “Dengan melihat ciptaan, tapi bukan dengan menganalisisnya.”
    “Dan bagaimana seseorang harus melihat?”
    “Seorang petani keluar untuk melihat keindahan pada waktu matahari terbenam, tetapi yang ia saksikan hanyalah matahari, awan, langit, dan cakrawala – sampai ia memahami bahwa keindahan bukan ‘sesuatu,’ melainkan cara khusus melihat.
    Kamu akan sia-sia mencari Allah sampai kamu memahami bahwa Allah tidak bisa dilihat sebagai sesuatu. Yang diperlukan ialah cara khusus untuk melihat – mirip seperti cara seorang anak kecil yang pandangannya tidak diganggu oleh pelbagai ajaran dan keyakinan yang telah dibentuk sebelumnya.”

    terima kasih Saudaraku semua yang telah berkenan berbagi, Kang Olads, Mas Samin, Kang Tono & Mas Prayit empunya artikel.
    Saya adalah orang yang dikatakan kafir, murtad atau sesat tak layak membahas Kitab Suci yang diwahyukan Allah…saya berkeyakinan bahwa semua hanyalah konsep dari kesadaran kita saja, saya lebih suka menyederhanakan segala istilah itu dengan HIDUP, ya hidup kita masing2 yang berkesadaran bahwa kita sadar & hidup.
    Semoga kita dapat merdeka dari segala belenggu persepsi & berhala-berhala konsep kembali ke diri kita yang sejati. Belajar dari Hidup itu sendiri

    Seorang ilmuwan memprotes Sang Guru yang dinilainya telah bersikap tidak adil terhadap ilmu pengetahuan. Menurutnya, Sang Guru melecehkan “konsep” dan mempertentangkannya dengan “pengetahuan-tanpa-konsep”.

    Sang Guru dengan susah payah menjelaskan bahwa ia tak bermaksud memusuhi ilmu. “Tetapi,” katanya, “pengetahuanmu mengenai istrimu sebaiknya melampaui pengetahuan-konsep ilmiah.”
    Ketika berbicara kepada para muridnya, ia bahkan lebih tajam lagi. “Konsep-konsep membatasi,” katanya. “Membatasi berarti merusak. Konsep-konsep itu membedah kenyataan. Dan apa yang kamu bedah itu kamu bunuh.”
    “Apakah lalu konsep-konsep menjadi tak berarti?”
    “Tidak. Bedahlah bunga mawar dan kamu akan mempunyai informasi yang berharga – meski bukan pengetahuan – tentang bunga itu. Jadilah seorang ahli dan kamu akan memiliki banyak informasi – tetapi bukan pengetahuan – tentang Kenyataan.”

     
  30. suprayitno

    Januari 11, 2010 at 6:09 am

    Mas Tomy,

    ini temanku yang bilang, katanya begini :

    Nah..pendapat Friedrich Nietzsche ini nih :
    Quote:
    Pernyataan Nietzsche dalam bukunya. “God is Dead” “Whiter is God, ‘he cried. ‘I shall tell you. We have killed Him-you and I. All of us are murderers…God is dead. God remain dead. And we have killed him…”. Yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan terhadap Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan seandainya Dia belum mati, adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).

    Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science) bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik dan bidang-bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.

    Monggo dipun penggalih.

     
  31. suprayitno

    Januari 11, 2010 at 6:16 am

    Lanjut lagi Mas Tomy,

    ini juga kata temanku lho,

    Dari Jean-Paul Sartre ada lagi :
    Quote:
    Sartre menolak konsep tentang Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (self-contradiction). Sartre mendefinisikan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for-itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak relevan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat terhadap apapun. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti ini karena konsep ini berisi kontradiksi dalam dirinya. (Jean-Paul Sartre, Being and Nothingnes : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943).

    Selain itu, konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberiarti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaan dan ketidakmampuannya.
    So apakah kafir itu sebenarnya?
    Ber-Tuhan tapi tidak beragama atau Tidak Ber-Tuhan tidak Beragama ??
    Atheis atau sebenarnya Humanis??

     
  32. suprayitno

    Januari 11, 2010 at 6:29 am

    Ada beberapa kata” bijak yang patut direnungkan dalam konteks atheisme :
    Quote:
    “Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Jika engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, akhirnya cuma menyembah ketiadaan. Sungguh suatu sembahan yang sia-sia.” – Syekh Siti Djenar

    “Saya mencintaimu saat kau rukuk di masjidmu, berlutut di kuilmu, sembahyang di gerejamu.
    Kau dan aku adalah putra dari satu agama, dan itulah spiritnya” – Kahlil Gibran (1883 – 1931)

    “Kita punya cukup banyak agama untuk membuat kita saling benci, tapi tak cukup banyak agama yang membuat kita saling mencintai” – Jonathan Swift (1667 – 1745)

    “Saya mencintai Kristusmu, saya tidak suka dengan Kristenmu. Kristenmu begitu berbeda dengan Kristusmu” – Mohandas Gandhi (1869 – 1948)

    “Ini adalah agamaku yang sederhana. Tidak perlu kuil, tidak perlu filosofi yang rumit. Otak kita, hati kita, adalah kuil kita. Filosofinya adalah kebaikan hati” – Dalai Lama (1935 – …. )

    Eskimo: “Jika saya tak tahu apa-apa tentang Tuhan dan dosa, apakah saya akan masuk neraka?” Pendeta: “Tidak, jika kamu memang tidak tahu.”
    Eskimo: “Lalu kenapa kamu memberi tahu saya?” – Annie Dillard (1945 – ….)

     
  33. suprayitno

    Januari 11, 2010 at 6:57 am

    Dalam buku The God Delusion karya
    Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh
    Dawkins: “Bila satu orang menderita waham, gejala itu akan disebut
    gila. Tetapi bila yang menderita waham BANYAK ORANG, maka gejala itu akan disebut AGAMA.”

    kalau begitu sama saja si Dawkins ingin mengatakan bahwa agama adalah produk dari kumpulan orang-orang gila dong?

    wah jahat bener menyimpulkannya si Dawkins itu ya?

    Mungkin penerapannya begini kali, ketika hanya ada satu orang yang melakukan upacara atau ritual di tengah-tengah lapangan Simpang Lima Semarang dengan gayanya yang nyeleneh, mungkin serta merta orang-orang yang lalu lalang disebelahnya akan mengatakan “Lihat tuh,rupanya ada orang gila di tengah simpang lima!!”

    Tetapi ketika upacara nyeleneh itu dilakukan oleh seribu orang secara bersamaan/serentak, maka orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya akan bilang “Oh itu ritual keagamaan”. Nah, tidak berani lagi bilang “Wah ada seribu orang gila di lapangan simpang lima” iya kan?!

    Kesimpulannya, yah pokonya kalau melakukan rame-rame gak dikatakan edan/gila tapi kalau cuma sendirian dicap sebagai edan. Itulah yang oleh Dawkins disebut dengan AGAMA.

    Pertanyaannya apakah Anda beragama?
    Terserah panjenengan monggo, mohon maaf, saya kan cuma meneruskan pendapat Dawkins saja.

     
    • tomy

      Januari 13, 2010 at 12:39 am

      Kata teman saya priyayi Solo nenggih Bapak Benediktus Sudjanto :

      “bila ada sekumpulan manusia melakukan suatu kegiatan, sebut saja manusia beraktifitas. bila manusia belum mampu memahami versi dirinya maka ia berusaha menamai dengan merk/brand tertentu, antara lain tuhan. bila merk tsb dipromosikan maka nama menjadi agama atau komunitas ber-merk. merk tsb menggantikan identitas penganutnya, penganutnya berlaku sebagai merk tsb. bukan hanya tuhan yg dipakai sebagai merk tapi tuhan yg merk pun dijual melalui merk agama.
      ‘aku’ lah hidup adalah merk utama (‘aku’) sedang hidup adalah sumber potensi merk. semua merk yg dikenal adalah turunan dari merk ‘aku’. god delusion is ilusion of mankind. memahami kehidupan tidak dipersyaratkan memerlukan ‘aku’. dalam ketenangan (stillness) bahkan kata hidup dan kehidupan tidak dikenal.”

       
  34. sikapsamin

    Januari 12, 2010 at 1:29 am

    Yth. Kimas Tommy, Kimas Suprayitno, Kimas Olads…tuwin sedayanipun para Winaskita,

    Nyuwun pangapunten…sepertinya pembabaran diskusi kita ini sudah mendekati…nung-nong-nang-ning-nengngng
    kembali kepada kahanan…awang-uwung…sunya-ruri
    Dan mengikuti siklus…kembali kita ciptakan berbagai berhala
    dari awang-uwung..kita berhalakan menjadi ‘dzat’
    dari dzat..kita berhalakan menjadi berbagai ‘keadaan/sifat’
    dari keadaan/sifat..kita berhalakan menjadi berbagai ‘nama’
    dari nama..kita berhalakan menjadi berbagai ‘bentuk’
    Dan..paripurnalah BERHALA YANG KITA CIPTA…
    samin adalah keadaan/sifat masyarakat yang termajinalkan…
    ‘Samin’..adalah BERHALA DAGING-DARAH-TULANG…seorang blogger

    al-illah…kita berhalakan menjadi Allah
    Dan…sebagai pencipta berhala..BERTERIAK DAN MENEPUK-DADA…
    AKULAH YANG PALLLIIING DEKAT DENGAN ALLAH
    AKULAH YANG PALLLIIING BENNNAAARRR…

    KALIAN SEMUA…BID’AH – KAFIR – MURTAD – SESSSAAATTT…

    Nyuwun pangapunten mbok bilih wonten seratan ingkang nuwuhaken kirang rena ing penggalih panjengan sami…

    Nuwun…Rahayu Karaharjan
    nung-nong-nang-ning-nengngng

     
    • tomy

      Januari 13, 2010 at 12:57 am

      Leres sangat Sedulur Tunggal Sikepku Mas Samin
      Jumbuh kaliyan ingkang dipun serat kadhang kula Pak Ben priyantun Solo ing nginggil menika
      Neng…. heneng..tenang…kumpulipun pancadriya
      Ning…. hening..jernih…sesungguhnya diri ini adalah kesadaran semeta
      Nong…. hunong…melihat..Ingsun sebagai tohjalining Dzat Kang Maha Suci
      Nang…. menang..sejatine ora ana apa-apa

       
  35. suprayitno

    Januari 12, 2010 at 6:37 am

    Terima kasih Ki Sikapsamin,

    saya ini asli orang jawa, tetapi mungkin kebangeten jika tidak tahu nung-nong-nang-ning-nengngng.

    tetapi sejujurnya saya benar-benar tidak tahu Ki, maksudnya itu apa?

    harap maklum, saya ini boleh dikatakan kalau pewayangan mungkin ya mirip-mirip bagong lah. Gak pinter membungkus suatu pengertian dengan logo-kogo. Jadi ya apa adanya saja, makanya tulisan-tulisan saya juga apa adanya, gak muter-muter, gak sok pinter, gak sok menggurui bahkan saya justru lebih banyak bertanya.Bahkan kadang saya pikir saya sering telmi (telat mikir), contohnya ya itu tadi,nung-nong-nang-ning-nengngng.Bagaimana sebagai orang Jawa kok sampai tidak tahu?

    Saya akui, saya kurang pinter dalam merangkai atau membuat kalimat yang lebih eufemis sehingga bagi orang lain yang membaca mungkin sering tersinggung dengan gaya tulisan saya.

    sekali lagi mohon maaf kepada semuanya.

     
  36. suprayitno

    Januari 12, 2010 at 8:49 am

    Mas Olads yang baik,

    saya coba postingkan tulisan teman saya, kayaknya bagus banget sebagai tambahan pengetahuan.Saya juga berharap bergabunglah teman-teman muslim lainnya di blog ini untuk saling melengkapi.

    Dan saya yakin, meski belum pernah diskusi secara langsung dengan Mas Olads, tetapi dari tulisan-tulisannya saya percaya panjenengan menguasai secara sangat baik ajaran Islam.

    Tulisan teman adalah sbb :

    Anda akan terkejut jika ternyata dalam Quran diperintahkan untuk menolak semua
    agama-agama untuk Tuhan. Kami juga mempunyai perasaan yang sama dan bertanya-
    tanya tetapi setelah mencoba merenungkan kembali dan mengkaitkan dengan kata islam
    yang juga berarti damai maka terbukalah secercah cahaya yang kemudian menjadi
    terang. Dimanakah dalam Quran dan kata apa yang dimaksud Tuhan memerintahkan
    kita berpaling dari agama-agama ? akar katanya HNF (hanif) yang disebut sebanyak 12 kali yaitu terdapat dalam ayat 22:31, 98:5, 2:135, 3:67, 3:95, 4:125, 6:79, 61:61, 10:105, 16:120, 16:123 dan 30:30. Semuanya akan kita bahas satu persatu. Selain itu menurut
    biografi paling tua ‘Sirat Rasullulah’ ditulis Ibnu Ishak (85 Hijriyah) mencatat sebagai
    berikut :

    “Suatu hari ketika suku Quraish berkumpul untuk upacara tahunan mengelilingi idol
    mereka (ka’bah sekarang), empat orang dari mereka mengundurkan diri secara diam-
    diam dan bersepakat dalam ikatan persahabatan. Mereka adalah Waraqa b.Naufal
    (paman istri pertama Nabi Muhammad), Ubaydullah b.Jahsh, yang ibunya adalah
    Umayma d.’Abdu’l Muttalib, Uthman b.al-Huwayrith and Zayd b.’Amr. Mereka
    berpendapat bahwa masyarakatnya telah menyalahahi (merusak) ajaran Ibrahim, dan
    batu yang mereka kelilingi tidak punya kuasa, tidak dapat melihat mendengar, tidak
    dapat menyakiti atau menolong. “carilah agama bagimu sendiri” mereka berkata,
    “Demi Tuhan kamu tidak menganut agama”. Maka kemudian mereka pergi dengan
    jalannya sendiri sebagai “hanaffiya”– jalannya Ibrahim”.
    (Ibn Ishaq, Life of Muhammad, tr. Guillaume, hal. 99)

    Terlihat dengan jelas bahwa upacara keagaaman (mengelilingi ka’bah) ini justru diadopsi
    oleh agama islam dari tata cara agama arab jaman dulu dan bukan dari Quran. Dan
    keempat tokoh itu menurut ulama islam adalah penganut ajaran Injil yang benar sebab
    pada masa itu Quran belum lagi turun. Dan bahkan Nabi Muhammad ketika sudah
    menjadi Rosul beliau bermimpi bahwa Waraqa masuk surga walaupun tidak masuk
    agama islam. Lucunya orang kristen menganggap ke 4 tokoh di fihak mereka sebab
    tidak masuk islam walaupun mereka mengakui kata hanafiyya yang dimaksud adalah
    bukan dari golongan Kristen dan Yahudi.

    Jika kita tarik benang merah dari kisah itu dan dari sebutan Ibrahim seorang haniffan
    (yang menolak) maka sangat jelas bahwa baik itu Ibrahim dan ke 4 tokoh itu adalah
    orang-orang yang menolak agama ritual namun mempercayai Tuhan satu dan mereka
    bukan dari golongan agama manapun baik itu Yahudi, Kristen dan agama Islam yang
    mencontoh ritual keagaaman pagan (mengelilingi batu). Bahkan Zayd b.’Amr berkata :
    “Ya Tuhan jika aku tahu bagaimana cara menyembah padaMu agar Engkau suka, maka
    aku akan menyembah. Tetapi aku tahu bukan itu (yang Tuhan inginkan)”.

    Jadi apa yang salah dalam agama islam, agama kristen, agama yahudi dll ?

    Apabila kita teliti dimana ciri-ciri agama adalah adanya penyekutuan dan peng-idolaan
    sesuatu dengan Tuhan. Jangan kira bahwa agama islam, kristen, yahudi berdasarkan
    ajaran murni yang dibawa utusan Tuhan. Tetapi ahli-ahli agamalah yang telah
    menyalahgunakan dan meng-interpretasikan kembali wahyu-wahyu Tuhan menjadi
    agama-agama, seolah-olah bahwa wahyu Tuhan itu agama. Mereka telah merubah jalan
    hidup yang penuh kedamaian versi Tuhan menjadi agama-agama ritual versi manusia
    yang berbeda-beda dan saling bersaing dan bunuh. Inilah ayat yang dimaksud :

    حنفاء لله غير مشركين به ومن يشرك بالله فكانما خر من السماءفتخطفه الطير او
    سحيقمكانبه الريح فيتهوي

    artinya :

    “Hunaffa’a lil-lahi (Tolaklah karena Tuhan), jangan meng-idolakan apapun
    dengan Dia. Barang siapa meng-idolakan sesuatu dengan Tuhan maka itu
    seperti ia jatuh dari langit dan kemudian disambar burung-burung atau diterpa
    angin ke tempat yang sangat jauh” (22:31)

    Kuncinya terletak pada kata Hunaffa’a yang berasal dari akar kata HNF yang menurut
    kamus arabic Lane 1893 berarti ‘to decline’ atau ‘menolak’, jadi Hunaffa’a lil-lahi
    artinya ‘Tolak (agama-agama) karena Tuhan’. Sebagian ulama ada yang sepakat arti
    dari haniffan adalah ‘dia yang berpaling’ yang kalau kita lihat makna asalnya semua
    mempunyai kemiripan. Kata Haniffan atau Hanif itu telah lama dikenal sejak jaman
    sebelum Muhammad yaitu untuk menyebut orang-orang yang menolak agama pada
    umumnya dan dapat disimpulkan artinya adalah ‘orang yang tidak beragama (irreligius)’
    dimana asal kata berasal dari bahasa yang lebih tua dari bahasa arabic yaitu bahasa
    aramaic dari kata ‘hanfe’ yang artinya orang yang tidak beragama. Dalam bahasa
    inggris adalah ‘heathen’ (an irreligious man).

    Nabi Ibrahim berkali-kali disebut sebagai seorang Haniffan karena ia menolak agama-
    agama Jadi karena dia menolak agama apapun maka dia bukanlah pemeluk agama
    tertentu dan ajaran yang ia bawa bukan agama baru untuk menggantikan agama lama
    sebab ia seorang Haniffan sejati, tentulah ia juga akan menolak agama islam jika saja ia
    tahu sekarang sebab ia bukan pemeluk agama apapun. Ia seorang Haniffa tulen. Jadi apa
    sebetulnya yang ia bawa ? lihat ayat berilut ini :

    ما كان ابراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كانمن المشركين

    artinya :

    3:67 Ibrahim bukan pemeluk agama yahudi, agama Nasrani tetapi dia seorang
    Haniffan, seorang damai (Musliman) dan bukan termasuk orang idolator
    (musyrikin).

    Para ulama dan ahli agama islam banyak yang kebingungan dengan kata hanif ini dan
    ada yang menerjemahkan dengan ‘orang yang lurus’ (orang yang berpaling dari
    Politheisme) untuk menjadi ‘monotheisme’. tetapi bukankah monotheis juga agama ?
    Padahal asal kata Hanif adalah anti agama karena berasal dari kata menolak, yang artinya
    menolak agama pada umumnya ?. Kebingungan ini juga melanda orang kristen yang
    mengatakan hanif adalah orang yang berapaling dari agama islam menjadi agama
    kristen. Dari perselisihan kedua agama ini jelas bagi kami bahwa mereka mencoba
    memanfaatkan kata hanif demi kepentingan kelompok agama mereka sendiri. Coba
    gunakan akal sehat ! apa yang mereka lakukan tidak lebih dari MEMPERSEMPIT arti
    kata. Tindakan seperti tidak lebih dari akal-akalan dan sepantasnya kita curiga.

    Logika dari ayat diatas sangatlah jelas jika terjemahkan secara kata asal, bahwa Ibrahim
    adalah seorang yang menolak agama apapun (haniffan) dan dia adalah seorang yang
    penuh dengan kedamaian (musliman) dan bukan seorang peng-idola (musyrikin). Jadi
    agama apa yang ditolak Ibrahim ? Jika kita mau jujur maka kita tahu bahwa semua
    agama pada umumnya adalah peng-idola walaupun para pengikutnya rata-rata bersifat
    hipokrit (munafik) dan menolak sebagai peng-idola tetapi pada kenyataannya pasti ada yang diidolakan terutama dalam tata cara ritual mereka paling tidak mereka
    mengidolakan tokoh-tokoh dalam kelompok agama mereka baik yang sudah tak ada
    maupun masih ada, sampai-sampai kebiasaaan Nabi ramai-ramai dicontoh dari mulai
    cara berpakaian, memelihara jenggot, cara kencing dan lain-lain. Atau mereka paling
    tidak mempunyai peminpin-peminpin yang mereka anggap lebih suci dari dirinya dan
    dogma-dogma dari mereka dianggap mempunyai kekuatan hukum agama sebagai wakil
    Tuhan di dunia. Produk semacam ini adalah hadis-hadis dalam agama islam, Talmud
    dalam agama Yahudi, karya-karya penginjil dalam agama kristen. Idola juga bisa pada
    benda sebagai simbol Tuhan semisal Ka’bah, batu Hajar Aswad dan Cross (tiang salib).
    Anda sebagai penganut agama tentu lebih tahu tentang benda-benda atau tempat-tempat
    yang dikeramatkan atau dengan kata lain di-idolakan dalam agama anda baik yang terasa
    maupun samar.

    Kami pada dasarnya adalah heretic murni (menolak semua dogma agama-agama) dan
    mengambil garis yang tegas seperti apa yang dilakukan Ibrahim dan kami menyamakan
    semua Nabi-Nabi hanya sebagai utusan pembawa pesan saja dan karena mereka semua
    telah mati maka pesan lebih penting daripada pembawa pesannya sendiri. Sikap tegas ini diambil berdasarkan wahyu Tuhan sendiri dan bukan atas keinginan sendiri atau motif pribadi.

    Bagi kami Islam yang artinya DAMAI telah diubah menjadi agama dan karenanya kami
    tolak sebab kami adalah Haniffan. Demikian pula Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Tao,
    Kong Hu Chu, Bhahaisme dan serba aneka agama semuanya kami tolak karena Tuhan.

    Silahkan anda lanjutkan penelitan anda sehubungan dengan Haniffan (ada 12 ayat)

    Demikian Mas Olads, tulisan dari teman kita. Tk

     
  37. suprayitno

    Januari 13, 2010 at 12:26 pm

    Wah, kok pada diem semua nih?

    What wrong? ayo dong dilanjutkan.

    Saya punya usul nih, gimana kalau pelajaran agama disekolah-sekolah dihapuskan saja?
    kecuali untuk sekolah yang khusus belajar agama, silakan jalan terus.

    saya lihat dan saya amati, pelajaran agama hanya membelenggu dan membuat siswa seperti katak masuk dalam sumur.

    Mari yang pro dam kontra kita sama-sama memberikan argumentasi yang konstruktif jadi bukan alasan yang bersifat destruktif.

    Ayo mari kita diskusikan bersama.

     
    • lovepassword

      Januari 18, 2010 at 2:31 pm

      Kalo menurutku sih semua pengetahuan itu pada satu sisi membelenggu pada sisi lain membebaskan. Orang yang tahu kadang terbelenggu tidak bisa melihat sisi yang lain. Lha itu adalah kasus umum bukan cuma agama.

       
  38. olads

    Januari 13, 2010 at 4:56 pm

    Ya …memang demikian bahwa “Hanif” yang saya tahu artinya lurus, ajeg, lempeng, tegak. Dalam ayat tsb Ibrahim disebutkan bukanlah dari golongan Yahudi dan nasrani. Pengertiannya karena Yahudi dan Nasrani adalah suatu kelompok golongan yang telah menjadi Icon sebuah agama dengan aturan dan Tuhan dengan masing-masing keyakinan dan tersendiri.

    Ibrahim dalam sejarah disebut manusia yang cerdas, bapak nya seorang pembuat berhala, Dia(ibrahim) adalah orang yang pertama membangun Kabah dengan batu Hitam, dan telapak kaki Nabi Ibrahim pada batu di abadikan dalam tempat tersendiri di samping kabah yang disebut Maqom Ibrahim.

    Pada masa Ibrahim kelompok golongan atau agama yahudi dan Nashoro jelas belum ada, Dia lah yang pertama kali mencetuskan kata “Muslimun” (yang berserah diri), dan agama hanif(lurus).

    Bisa saja Hanif itu artinya menolak dogma agama-agama, karena pada dasarnya ISLAM itu bukanlah agama(aturan), tapi disebut DIEN(Keyakinan/keimanan), atau sering disebut “Dienul Islam”. Beriman dan yakin kepada Tuhan Yang Esa, karena pada saat itu masa Nabi Ibrahim, masih banyak kelompok masyarakat yang menyembah berhala, bulan, matahari, api dll.

    Lebih tepatnya ajaran nabi Ibrahim adalah murni meluruskan keimanan dan keyakinan kepada ALLAH, ajaran Tahuid meng esakan Tuhan, kalau tidak salah belum ada aturan-aturan ritual nya.

    Dan Ka’bah itu sendiri sebagai Kiblat arah & tolok ukur, sebagai mana “Dome of Rock” masjidil Aqsa yang setelah nya kemudian dibangun dan menjadi tempat ibadah tiga agama (Yahudi, Kristen, Islam).

    Namun ternyata benar juga prinsip Ibrahim yang disebut “Hanifanmusliman” (lurus yang berserah diri) kepada Tuhan yang Satu adalah yakin sebenar-benarnya bisa difahami aqal fikiran, siapapun nama Tuhan itu teserah yang penting sampai kepada Esensi Nya, karena Allah atau al-ilah adalah nama sekaligus formula untuk menemukan Esensi dari Tuhan Yang Esa.

    Tentang agama atau dalam pengertian aturan itu sendiri yang telah ditafsirkan dan dimaknai oleh berbagai pola fikir yang terlahir dalam berbagai aliran kelompok dan golongan, ternyata telah membuat batasan yang mempersempit perjalanan keimanan dan keyakinan tehadap Tuhan.

    Sehingga pengertiannya Tuhan demikian cupet, kejam, dan sadis, padahal Tuhan sendiri saya kira tidak perlu di bela oleh hambanya karena Tuhan adalah Maha Kuasa.
    Yang perlu dibela adalah keimanan diri sendiri, bagai mana semestinya menegakan keyakinan yang “hanifan musliman” pada diri sendiri, sehingga Tuhan Yang Maha Esa akan tampak Keagungan Nya pada diri hamba-hamba yang lurus prilakunya dalam kehidupan yang selamat dan penuh kedamaian.

    Saya kira umat islam harus merubah pola fikirnya, janganlah mengaku-ngaku sebagai muslim dengan berbagai merk dan atribut agama lurus damai dan selamat, bila prilakunya tidak sesuai dengan nama agama itu sendiri, jangan-jangan malah umat islam itu sendiri yang sesungguhnya banyak kafir nya.

     
    • suprayitno

      Januari 14, 2010 at 12:38 am

      @Olads said…….padahal Tuhan sendiri saya kira tidak perlu di bela oleh hambanya karena Tuhan adalah Maha Kuasa.

      Tepat sekali, yang perlu pembelaan justru oang-oang lemah, orang-orang miskin, orang-orang bodoh, dan orang-orang yang dipinggirkan/dimarjinalkan oleh sistem kekuasaan yang despotis.

      Sebisa mungkin kia jangan sekali-kali membela orang kuat tetapi dia jahat.

      Saya kira, Tuhan yang asli juga tidak pernah mengharapkan pembelaan dari umat-Nya. Lha gimana, wong ngurusi awake dewe supoyo bener saja belum becus, lha kak mau ngurusi Tuhan, ini namanya kesombongan yang tidak disadari.

      mungkin itu tambahan sedikit Mas Olads.

       
  39. olads

    Januari 13, 2010 at 5:41 pm

    Pelajaran agama di sekolah bisa saja dihapuskan, toh tidak banyak berarti, kecuali memang sekolah-sekolah khusus agama.

    Sebagai gantinya pelajaran agama disekolah diganti saja dengan pelajaran BUDI PEKERTI, karena budi pekerti akan membentuk pribadi-pribadi yang baik sebagai generasi bangsa, dan kalau bisa pelajaran budi pekerti dijadikan pelajaran unggulan dengan teknik pelaksanaan sehari-hari.

    Karena saya lihat dan perhatikan budi pekerti ini di Indonesia telah mengalami pegeseran arti dan maknanya menjadi “akal dan uang”, mengakali bagai mana dapet uang. Hal ini telah terjadi sejak di dunia sekolahan, hingga ke tiap berbagai lembaga dinegara ini, bahawa setiap masalah ujung-ujung nya duit(UUD).

     
  40. suprayitno

    Januari 14, 2010 at 12:26 am

    Saya sangat setuju pelajaran budi pekerti dijadikan mata pelajaran wajib bagi seluruh sekolah terutama untuk jenjang DIKDASMEN (pendidikan dasar dan menengah).

    Budi pekerti ini sangat erat kaitannya dengan etika, baik etika moral maupun etika sosial.

    Hanya saja konsep pembelajarannya jangan seperti yang sekarang yakni lebih disibukkan dengan mengisi multiple choice (pilihan ganda) melalui LKS (lembar kerja siswa). Etika itu harus lebih banyak pada sikap/habitual,praktik, bukan pada teori

    Contoh praktisnya, setelah siswa mendapat pelajararan etika sosial, ketika siswa (perkotaan khususnya) akan menggunakan lift, maka harus memberi kesempatan pada yang di dalam lift itu supaya keluar lebih dulu, baru kita masuk.

    Sejak kecil siswa tidak akan membuang sampah sembarangan apalagi membuang sampah melalui kaca jendela mobil, ini pantangan berat. Bila di tempat pesta atau tempat apa pun, ambil makan harus sesuai dengan dosisnya, lebih baik sedikit dulu bila kurang gampang nambah. Jangan sampai makanan yang sudah kita ambil, akhirnya dibuang sia-sia. Ini pantangan berat.

    Etika menyampaikan pendapat, etika menggunakan di jalan raya, etika menghormati orang tua,guru dan masih banyak etika sosial maupun etika moral yang harus diajarkan dan ditegakkan sejak kecil.

    Saya kira pelajaran budi pekerti atau etika ini merupakan kunci bagi pembentukan watak atau karakter sebuah bangsa.

     
  41. olads

    Januari 14, 2010 at 8:43 am

    Yup saya setuju dengan detail contoh praktik yang disampaikan mas Prayitno.

    Karena etika dari kehidupan di tempat umum sebenarnya telah dilegalisasi oleh pemerintah melalui peraturan-2 derah, dalam tata tertib serta pengawasan oleh polisi pamong praja (trantib), namun kenyataan dari semua itu malah masyarakat banyak bertengkar dengan trantib.

    Belum lagi etika-etika tata sopan santun yang memang sudah harus membudaya dalam tradisi tiap individu malah hilang.

    Saya mendengar bahwa tata tertib pemeliharaan lingkungan lebih menonjol di negara-negara eropa, singapore, jepang dll, meskipun di lain fihak terdapat hal-hal yang sebalik nya, namun itu semua bisa di andalkan sebagai daya tarik wisatawan.

    Saya kadang bingung bagai mana cara menciptakan ini semua,pemerintah sudah terapkan segala peraturan, namun toh pelanggaran terjadi tiap detik dan menit.

    Saya kira memang perlu dilakukan tindakan nyata seperti apa yang Mas Prayitno jelasakan, kalau tidak dari sejak dini kita lakukan hal ini kapan lagi, bahwa pelajaran etika dan budi pekerti ciri khas masyarakat setempat sesuai tradisi dan budaya perlu lebih di hidupkan dan digalakan dengan kesadaran penuh sepertihal nya di sebagian kota-kota lainnya di Indonesia misalnya nya Jogja.

    Mereka lakukan pemeliharaan wilayah disekitarnya karena rasa cinta kepada Sultan.

    Dan bukti nyata yang tak terbantahkan bahwa segala aturan agama islam tentang etika budi pekerti kepada sesama manusia, tumbuhan binatang, dan alam lingkungan yang seabreg dan yang selalu di teriakan dan di gembar-gemborkan melalui ayat dan hadits, ternyata hanyalah hiasan di mulut saja, tanpa mau terjun langsung memberi contoh nyata dimasyarakat oleh para tokoh agama.

    Karena mayoritas mereka hanya gembar-gembor untuk mencari isi perut dan mempertahankan eksistensi dalam kedudukan agama yang tidak banyak merubah kondisi umat.

    jadi jelas disini siapa dan apa yang salah ??, apakah aturan agama yang demikian agung hanya jadi sampah di telinga, atau back to basic kepada tradisi budaya bangsa kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai falsafah hidup, bahwa dimana bumi dipijak disanalah langit di junjung tinggi.

     
  42. suprayitno

    Januari 14, 2010 at 11:09 am

    Mas Olads,

    Hampir semua orang setuju bahwa kemajuan suatu bangsa tak bisa dilepaskan dengan mutu “pendidikan”.

    Pendidikan yang berkualitas, saya rasa ukurannya bukan pada keberhasilan UN (Ujian Nasional), tetapi sejauh manakah out put dari pendidikan menghasilkkan SDM yang tidak lagi tergantung kepada asing.

    SDM yang berkualitas akan mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang mandiri di bidang teknologi, sains, kebudayaan, politik, ekonomi, pangan, obat-obatan, pertahanan dan keamanan dan aneka kebutuhan rakyat dan negara lainnya.

    Pertanyaannya, apakah saat ini kita telah menjadi bangsa dan negara yang mandiri di bidang-bidang tersebut di atas?

    Semakin kita “tergantung” itu artinya mutu pendidikan kita semakin MUNDUR. Karena ternyata output pendidikan tidak semakin menjadikan bangsa ini menjadi tumbuh kuat dan mandiri.

    Ada tiga matarantai dalam pendidikan yang harus dilewati, yakni Sistem Input-Processing-Output (SIPO).

    Idealnya, sistem input (murid) bagus, proses belajar-mengajar bagus, sarana dan prasarana bagus, maka outputnya pun pasti akan bagus.

    Pertanyaanya, jika kondisi ideal tersebut tidak semua bisa TERPENUHI maka apa yang mesti tidak boleh tidak (conditio sine qua non) harus dipenuhi?

    Jawabannya adalah GURU.
    Ya, guru yang baik adalah conditio sine qua non bagi peningkatan mutu pendidikan.

    Pertanyaannya, seberapa banyak negeri ini memiliki GURU YANG BERKUALIATAS?

    Bagaimana ciri-ciri guru yang berkualitas? Guru dimata saya ibarat seorang EMPU, bukan seorang PANDE BESI. Empu dan Pande Besi dua-duanya menghasilkan senjata tajam, tetapi kalau empu menghasilkan senjata tajam yang memiliki RUH sedangkan pande besi hanya menghasilkan senjata tajam tanpa ruh (pisau, clurit,parang,pedang dll).

    Sebagian besar mutu guru yang ada di negeri ini hanyalah ibarat tukang Pande Besi.Sehingga outputnya (produknya) merupakan barang-barang yang memiliki nilai rendah bahkan nyaris tak ada nilainya.

    Proses belajar mengajar hanya dilihatnya sebagai RUTINITAS berdasarkan patokan kurikulum. Peserta didik hanya dilihat sebagai objek seperti gelas kosong yang bisa diisi semaunya pemerintah.

    Padahal, pendidikan adalah suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ya CERDAS MORALNYA, SPIRITUALNYA dan INTELEKTUALNYA. Kognitif, afektif dan psikomotor.Cerdas daya ciptanya, daya rasanya dan daya karsanya.

    Malangnya, sejauh ini pendidikan kita “lebih banyak” menghasilkan manusia-manusia yang tergantung.

    Sama seperti halnya di bidang agama maka secara keseluruhan pendidikan kita harus direformasi besar-besaran.

    Adalah bangsa yang sangat bodoh, sial dan sangat malang, jika negara kita hampir semua bahan baku (sumber kekayaan alam/SDA) melimpah,penduduknya juga melimpah, alamnya sangat subur, lautnya sangat kaya, buminya sangat kaya,TETAPI di sisi lain negara kita menjadi PENGIMPOR makanan terbesar,teknologi serba impor, hampir semua kebutuhan kita impor.

    Padahal semakin banyak IMPOR maka negeri ini akan semakin kehilangan banyak sumber devisa, padahal semakin neraca perdaganangan kita devisit, maka semakin harus kita tutupi dengan utang luar negeri dan aneka macam pajak yang membebani rakyat.

    Semakin negeri kita banyak utang dan sedikit EKSPOR maka pengaruhnya langsung kepada NILAI MATA UANG, nilai mata uang kita dari tahun ketahun akan semakin tergerus, sehingga mata uang rupiah menjadi sangat terpuruk. Bandingkan, masa 1 dollar US sama dengan Rp.9.450,- ini sebuah diviasi nilai yang bagaikan langit dengan bumi.

    Inilah ciri-ciri negeri budak,negeri jongos yang hanya mengabdi pada kepentingan perut dan kepentingan asing.

    Sama sekali tidak memikirkan nasib rakyat dan negaranya.

    Sumonggo kepada semua kadang kita lanjut terus, insya Alloh diskusi ini tidak akan membawa kepada kesesatan berpikir.

     
  43. suprayitno

    Januari 15, 2010 at 12:22 am

    Sehubungan dengan tulisan saya di atas, berikut ini saya kutipkan pernyataan DR Mahathir mantan PM Malaysia yang beritanya dimuat di Kompas hari ini, Jumat 15 Jan 2010

    Kutipannya sbb :

    Kedaulatan sebuah negara sangat ditentukan oleh pengelolaan sumber daya untuk kesejahteraan rakyat tanpa TERGANTUNG PADA KEKUATAN ASING. Negara yang berdaulat TIDAK GANDRUNG MENUMPUK UTANG LUAR NEGERI karena tidak ingin didikte oleh kekuatan asing.

    Nah, yang kita herankan para pemegang kekuasaan negeRI ini kok tidak mau mencontoh para pendahulunya yakni Bung Karno dan Bung Hatta yang jelas-jelas bersemangat ingin BERDIKARI?

    Bung Karno dan Bung Hatta sampai dengan beliau wafat, kita semua tahu mereka TIDAK MENUMPUK HARTA KEKAYAAN UNTUK PRIBADINYA, paling-paling mereka hanya mnumpuk beratus-ratus koleksi bukunya.

    Bedanya dengan pejabat sekarang, justru pejabat sekarang TIDAK DOYAN BUKU tetapi lebih DOYAN DUIT.Makanya banyak pejabat yang BODOH tetapi yang penting KAYA.

    Akibatnya? negera tambah rusak, rakyat tambah miskin, kejahatan tambah banyak, jumlah PKL tambah banyak dan berbagai indikator kemunduran lainnya dapat dengan mudah kita lihat bersama.

    Terus apa yang bisa kita kerjakan?

     
  44. olads

    Januari 15, 2010 at 10:54 am

    Mungkin bisa disebut begini :

    Kalau dulu Pejabat menumpuk ilmu dan karya nyata membela bangsa.

    Kalau sekarang Penjahat menumpuk harta karya nyata penghancur bangsa.

    Saya benar-benar sangat heran namun tetap saya tak ngerti politik, mungkin saja pejabat itu memang dibentuk sebagai boneka asing mau tak mau kita berbuat untuk itu.

    Seperti halnya Pembebasan Irian jaya, mungkinkah ada perjanjian dengan pihak yang berkepentingan agar hasil bumi papua barat yang katanya tembaga padahal termasuk emas di explorasi habis-habisn oleh amerika merupakan koskwensi dari hal tsb.

    Demikian pula Timor timur dengan explorasi celah timor dan rencana AS membuat pangkalan militer di Asia diwilayah Timor karena kondisi geografis sangat cocok sebagai laut dangkal, sehigga Habibie tak mau ambil pusing dan memutuskan untuk di lepas.

    Demikian pula Soekarno-Hatta sebagai nasionalisme-sosialis yang tak disukai AS, sehingga muncul fitnah adu domba oleh CIA melalui boneka nya tokoh Soeharto, dengan isu PKI.

    Semua hal itu tak lepas dari ujung-ujung nya perampokan harta kekayaan Indonesia oleh pihak asing dengan berbagai cara dan trik politik, dimana mau tidak mau pejabat negara akan terkena imbas dan mengikuti gaya mereka dalam menumpuk kekayaan.

    Kabar nya hasil tambang freport sebagaian persentase mengalir ketiap pejabat saat itu termasuk keluarga Presiden, belum lagi explorasi-2 yang lainnya.

    Bagi mereka yang idealis membela Bangsa dan Tanah Air sepertti hal nya kelopok petisi 50 yang dimotori Alisadikin, Hoegeng, dll, terpinggirkan dan dimatikan pula kehidupan ekonomi nya.

    Dan seperti sekarang pula dimana era globalisasi adalah isu yang sudah lama berkembang sejak Soeharto dan menjadi kenyataan sekarang bahwa trik-trik bangsa asing tsb merupakan trik perampokan dan penjajahan secara halus bahwa ladang nya amerika dan eropa adalah di asia.

    Dengan dibuat seluruh negara asia krisis moneter, kemudian pihak asing datang sebagai dewa penyelamat melalui lembaga keuangan memberi bantuan dengan cara menekan, meng intervensi dengan berbagai aturan dan syarat dalam memberi pinjaman dalam jangka waktu 50 tahun.

    Syarat-syarat itu antara lain :
    Peivatisasi BUMN, menutup perusahaan berteknologi tinggi (IPTN/PTDI dan TEXMACO), menghancurkan Perusahaan dan Industri menengah yang selanjutnya posisi ini akan d isi oleh mereka pihak asing, membeli saham-saham perusahaan terkemuka yang colaps dalam krisis moneter, sehingga aset bangsa indonesia denga cepat beralih kepada mereka.

    Demikian pula perusahaan perminyakan Exon Mobile yang pngembangannya telah berhasil mengambil alih blok minyak cepu, adalah perusahaan minyak dengan penghasilan per menit dalam hitungan dolar, dan juga perusahaan lainya seperti Chevron.

    Mereka membiayai para pejabat negara dan pihak-pihak yang berkempentingan terhadap kemulusan proyek tsb dengan melalui iklan atau program SAVE OUR NATION.

    Mereka melumpuhkan seluruh akses dan aktivitas lembaga-lembaga pengkajian(BPIS)dan membuang jauh-jauh tokoh-tokoh nasionalis dan kaum teknokrat, agar otak pemikiran bangsa Indonesia tidak tumbuh berkembang dan tetap menjadi negara dan bangsa yang konsumtif.

    Meyebarkan fitnah dan isu secara global dan mayoritas untuk mengacaukan dan membuat image yang menakutkan sebagai negara terorist, melaui agen-agen rahasia yang missing link untuk merekurt umat islam yang bodoh dan dungu dalam menebarkan BOM-BOM di tanah air.

    Membuat isu-isu melalui tokoh-tokoh islam fiktif dari luar indonesia yang di setir oleh CIA dan MOSSAD untuk menumbuhkan semangat jihad dan membenci kaum kafir, bahwa kafir harus di bantai dan di bunuh.

    Menyediakan sarana untuk memuluskan pengiriman dana dan jenis bom-bom khusus dengan daya ledak tinggi(micro nuclear), yang oleh orang-orang bodoh di indonesia disebut bom rakitan yang bahannya di beli di toko-toko kimia.

    Sehingga jadwal isu-isu terjadi nya ledakan BOM di Indonesia mudah di deteksi sebelum nya dan diyakinkan pasti terjadi oleh pihak asing pembuat scenario.

    Maka lengkaplah berbagai scenario mulus pihak asing untuk menguasai Indonesia sebagai pendewasaan proses demokrasi.

    Berbagai isu SARA adalah sebagai makanan empuk bagi pihak asing untuk menjadi celah menghancurkan Indonesia, sebagai mana peran mereka di Timur tengah dengan berbagai kepentingan yang ujung-ujung nya adalah isi perut dan ladang kehidupan bagi bangsa mereka.

    Andai saja Timur tengah dan Indonesia adalah bukan penghasil minyak dan tambang atau hanya penghasil buah pisang mungkin tidak akan terjadi hal yang demikian.

    Selain kebutuhan isi perut bagi para perampok untuk kejayaan bangsa dan negaranya, isu-isu fanatisme agama menjadi alat yang sangat ampuh, dalam rangka memuluskan ambisi mereka dalam menguasai bangsa lain dengan berbagai cara.

    Yang selanjutnya mungkin saja mereka akan kembali menentukan dan menscenariokan PERANG DUNIA III, setelah sukses dalam proyek PD I dan II, dimana tujuan utama adalah existensi sebuah negara dan bangsa yang ter unggul untuk mendapatkan legitimasi dunia dari bangsa-bangsa yang digembalakan.

    Bahwa persoalan semuannya tetumpu pada idealisme kelompok dan golongan dalam sebuah agama, siapaun dan agama apapun (dalam konteks agama langit), dan persoalan tradisi budaya sosial ekonomi mewarnai dan menentukan kekuatan dan keberhasilannya.

    Bila memang tidak ada ambisi dalam ideologi fanatisme sebuah gama, mengapa pula untuk mewujudkan kesejahteraan kehidupan harus memekai cara-cara licik dan kotor. Maka itulah Politik yang menghalalkan segala cara.

    Imbas sebagai akibat dari itu semua membuat bangsa yang makin bodoh dan dungu, sehingga banyak orang pintar namun sedikit sekali kaum yang ngerti akan kehidupan ini.

    kaum cerdik pandai terpinggirkan dan satu-satu hilang dari permukaan, yang tiggal adalah hanya orang bodoh dan sok pintar, sehingga orang-orang cerdik pandai yang tersisa terpaksa harus mengikuti orang-orang bodoh dan dungu yang sok pintar.

    Sehingga bangsa ini di kendalikan oleg orang-orang pintar yang tak berpendidikan, sehingga mereka kehilangan moral-etika dan akhlaq prilaku yang luhur.

    Kenyataan seperti ini tentu akan ada akhir nya, karena ini semua adalah merupakan proses kehidupan di alam jagat raya, dimana alam ini akan selalu membuat keseimbangan melalui proses alamiah pula dalam hukum alam, karena manusia sudah tak mampu mengelola alam kehidupan, maka secara otomatis alam akan mengambil alih peran tsb.

    Tanda-tanda alam mau-tidak mau merupakan bukti nyata dan merupakan warning bagi yang menempatinya, bahwa manusia dihidupi oleh alam ini, dimana manusia harus mampu bekerja sama dengn alam, minimal memfokuskan pola fikir kita dan keyakian hati dalam menentukan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari dalam keadaan apapun, karena manusia sebagai alam mirko(alam syugro/jagad kecil) yang merupakan bagian dari jagad kabir(alam qurbo/alam makro).

    Tanda-tanda yang signifikan telah ditunjukan oleh alam kehidupan ini, melaui gejala-gejala alamiah, terlepas apakah hal ini disebut tahayul, musyrik, dan kurafat oleh kalangan yang cupet nalar, namun toh ini sebagai bukti yang tak terbantahkan, bahwa dimulai dari Idul fitri, Iedul Adha, tahun baru 2010, gerhana matahari total pada hari 15 jan 2010, dan badai matahari atau matahari sunyi senyap pada 21 des 2012 yang akan datang adalah semuanya terjadi pada hari JUM’AT.

    Ada apa dengan hari Jum’at ??, apakah hal ini suatu tanda akan terjadi perubahan pada proses kehidupan ?, ternyata alam lebih bijaksana dari manusia-manusia dungu yang selalu mempersoalkan perselisihan agama dan merasa paling benar.

    Dalam tradisi primbon jawa & sunda hari jum’at ditandai dengan symbol api dan air, apakah kehidupan proses alam selanjutnya akan diwarnai kejadian alam melalui air dan api ?.
    Ternyata semuanya proses itu telah dimulai dari saat ini.

    Apakah orang-orang islam yang sok fanatis dan taqlid buta akan menolak bukjti kenyataan ini dengan alasan yang penting percaya kepada Allah ???.

    Toh semua yang disajikan pada alam ini tak cukup sekedar percaya kepada Allah saja, aqal fikiranpun perlu mentadaburi alam, dan mentafaquri kehidupan ini melalui berbagai analisa yang diperintahkan Allah, sebagai kredibilitas manusia dan hamba serta kaum-kaum yang berfikir(QS).

    Bila ada umat islam yang akan membantah, dan menyetujui ataupun yang meragukan tentang prediksi dan analisa semua ini, ..silakan. Karena Nasib Bangsa Indonesia tentu akan di tentukan oleh kalian umat muslim yang katanya beragama damai dan selamat, sebagai bangsa yaang mayoritas dalam kwantitas agama, dan mudah-mudahan kwantitas mayorits islam itu bukanlah sekedar buih laut saja, yang seperti di warning oleh Rasululah saw.

    Dan selanjutnya tentu analisa dan predikisi yang saya sampaikan untuk rekan dan para sahabat se tanah air dalam NKRI, siapaun dan apapun dia.

     
    • tomy

      Januari 18, 2010 at 4:13 am

      Sanget-sangeting sangsara
      Kang tuwuh ing tanah Jawi
      Sinengkalan tahunira
      Lawon Sapta Ngesthi Aji
      Upami nyabarang kali
      Prapteng tengah-tengahipun
      Kaline banjir bandhang
      Jeronne ngelebna jalmi
      Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

       
  45. suprayitno

    Januari 16, 2010 at 12:39 am

    @Olads said………..Kenyataan seperti ini tentu akan ada akhir nya, karena ini semua adalah merupakan proses kehidupan di alam jagat raya, dimana alam ini akan selalu membuat keseimbangan melalui proses alamiah pula dalam hukum alam, karena manusia sudah tak mampu mengelola alam kehidupan, maka secara otomatis alam akan mengambil alih peran tsb.

    Mas Olads,

    Cilakanya, dalam proses alamiah ini “kebanyakan” justru yang menjadi “tumbalnya” atau korbannya kebanyakan rakyat jelata, rakyat kecil yang kehidupan sehari-harinya memang sudah susah.

    Ketika hutan dibabat, yang menjadi korban tanah longsor dan banjir bandang bukanlah para konglomerat yang telah “menelan hutan” itu, melainkan masyarakat miskin di sekitar hutan.

    Contoh lainnya,pemanasan global justru yang paling menanggung akibatnya adalah para nelayan. Dalam waktu yang tak terlalu lama lagi, mereka akan kehilangan rumah-rumahnya karena naiknya permukaan air laut.Global warming juga mempengaruhi tangkapan ikan. Petani juga banyak dirugikan akibat climate chance (perubahan iklim)yang mengacaukan musim tanam.

    Dalam proses mencari titik keseimbangan, Alam tak pernah pilih-pilih korbannya, apakah dia orang melarat atau oRang kaya,orang pinter atau bodoh, apakah dia beriman atau kafir. Alam tak mempedulikan itu.Karena Alam bekerja dengan caranya sendiri, makanya IDEALNYA bukan Alam yang menyesuaikan dengan penghuninya, tetapi konsepnya seharusnya PENGHUNI itulah yang harus menyesuaikan dengan WATAK ALAM.

    Jika konsep itu dibalik, maka Alam akan menggelegak, menggilas manusia dengan caranya yang paling keji. Alam itu buta, tetapi Alam itu Maha Adil,bijaksana lagi Maha Pemurah (bandingkan dengan lambang atau simbol “Dewi Keadilan” yang berparas sangat cantik/pemurah, tetapi ditangan kanannya menggenggam sebilah pedang yang siap memenggal kejahatan).

    Barangsiapa dengan maksud mencederai Alam, sesungguhnya mereka sedang mencederai diri sendiri.

    Saya berharap, konsep ini bisa diajarkan di sekolah-sekolah terutama untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, melalui pelajaran MENGENAL KARAKTERISTIK ALAM DAN LINGKUNGAN.Supaya kelak para peserta didik benar-benar bisa menghargai Alam dan mencintai kehidupan.

    Semoga bisa.

     
  46. tomy

    Januari 18, 2010 at 3:38 am

    Diskusi yang sangat mencerahkan dari Mas Olads & Mas Prayit, kita memang butuh banyak orang yang peduli & mau bekerja untuk kemuliaan bangsa ini. Panjenengan berdua adalah semangat bagi saya
    Mohon maaf kalau sebagai tuan rumah kurang dapat melayani dengan baik, saya jarang online akhir-akhir ini karena ada yang harus diselesaikan.
    Berikut saya petikkan sebuah cerita dari Guru spiritual pertama saya Anthony De Mello SJ

    Kristus Jawaban?
    Suatu ketika Sang Guru melihat sejumlah besar orang yang berkumpul di gerbang biara sambil menyanyikan himne dan memegang poster yang ditulisi: Christ is the answer ‘Kristuslah jawabannya.’

    Ia berjalan dan bertanya pada orang yang tampak muram, yang memegang poster itu, “Ya, apa sih pertanyaannya?”

    Sejenak orang itu kaget, tetapi dengan segera menjawab,
    “Kristus bukan jawaban terhadap sebuah pertanyaan, tetapi jawaban terhadap masalah-masalah kita.”

    “Kalau begitu, apa masalahnya?” ………………….. :mrgreen:

    Kemudian Sang Guru berkata kepada para murid,
    “Jika memang Kristuslah jawabannya, maka inilah yang dimaksud oleh Kristus: pemahaman yang jernih tentang siapa yang menciptakan masalah dan bagaimana.”

     
  47. watonist

    Januari 18, 2010 at 8:40 am

    mas Suprayitno, sepertinya ada ketinggalan dari penjelasan sampeyan …

    Pertama-tama kita harus mengetahui lebih dulu bahwa sistem penyusunan surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an sesungguhnya tidak berurutan atau tidak tersusun secara kronologis. Jadi Al Quran yang ada dihadapan Anda sekarang ini, adalah merupakan kumpulan catatan-catatan (wahyu) yang tidak tersusun secara urut berdasarkan periodesasi.

    kira-kira, menurut pemahaman sampeyan … kenapa quran tidak disusun berdasar urutan waktu ??

     
  48. watonist

    Januari 18, 2010 at 8:59 am

    yang lebih miris lagi, sekarang saya banyak melihat orang-orang yang ngalor ngidul bawa-bawa nama Tuhan, berteriak-teriak (mengaku) memuliakannya, mengancam siapapun yang (dianggap) tidak taat pada Tuhan … sambil bersenandung,

    Tuhan … sudahlah
    Kami lebih tahu mana yang boleh mana yang tidak
    Kami lebih tahu mana yang harus diikuti mana yang ditolak
    jadi intinya …
    Sampeyan tinggal teken kontrak
    bahwa Kamilah wakilmu yang paling berhak

     
  49. lovepassword

    Januari 18, 2010 at 2:33 pm

    Saya malah tetap skeptis bahkan dengan pelajaran budi pekerti. Masalahnya bukan cuma soal pelajaran tetapi keteladanan dan hubungan guru dan murid sudah sangat lain dulu dan sekarang. Misalnya saja kalo guru maksa jualan buku diktat, lha sangat mungkin menimbulkan distrust itu, lha kalo nggak ada saling percaya dan saling respek maka pelajaran apapun ya cuma sekedar jadi hiasan raport.

     
    • suprayitno

      Januari 19, 2010 at 1:06 am

      saya pikir, untuk bisa dipercaya guru itu terlebih dulu harus “JUJUR”.

      Jangan cuma bisa bilang “Kalian jangan mencuri” tetapi dia sendiri maaf, mungkin malah jadi perampok.

      Jadilah GURU YANG baik, nanti dengan sendirinya peserta didik akan belajar menjadi ORANG YANG BAIK.

      Bagaimana cara menjadi guru yang baik? silakan cari cara sendiri, kalau tidak bisa, berarti ya tidak bakat menjadi guru, gitu aja kan?

       
  50. suprayitno

    Januari 19, 2010 at 1:57 am

    @LP said …….Orang yang tahu kadang terbelenggu tidak bisa melihat sisi yang lain.

    Berarti orang tersebut, tidak tahu bagaimana cara melihat dari sisi yang lain.

     
  51. suprayitno

    Januari 19, 2010 at 6:19 am

    @Watonist said….sepertinya … ini cuma sepertinya lho ya, hanya dari pemikiran saya … yang akan jadi jurinya alias yang disuruh menyaksikan/jadi saksi nanti ya seluruh manusia, kan memang quran diturunkan untuk manusia …

    point-point yang diperlombakan antara lain
    – konsistensi
    – ketahanan terhadap gerusan waktu
    – kompleksitas dan juga kesederhanaannya
    – dsb.

    Koment :
    Kalau yang menjadi “jurinya” seluruh manusia, maka bagaimana mungkin orang atheist, yahudi, nasrani atau penganut agama Hindhu atau Buddha disuruh menjadi JURI?

    Saya kira, ayat-ayat yang terdapat di kitab suci Weda (Weda dalam bahasa sansekerta kalau saya tidak salah berarti mengetahui) dan mungkin juga kitab-kitab suci lainnya, saya rasa tidak kalah dengan ayat-ayat al quran. Tetapi sepengatahuan saya, mereka tidak pernah mengajak untuk berlomba bagi yang tidak percaya tehadap kitab suci mereka untuk membuat tandingan.

    makanya kalau al quran menantang bagi yang tidak percaya untuk membuat satu ayat saja niscaya tidak bisa, justru saya menjadi tanda tanya.

    Mengapa tidak bisa? apa yang membuat tidak bisa? terus siapa yan “berhak” menjadi jurinya? aturan mainnya bagaimana dst.
    dalam hal tantangan ini al quran tidak membuat aturan yang jelas.

     
    • watonist

      Januari 21, 2010 at 6:29 am

      ^

      Kalau yang menjadi “jurinya” seluruh manusia, maka bagaimana mungkin orang atheist, yahudi, nasrani atau penganut agama Hindhu atau Buddha disuruh menjadi JURI?

      bukan atheist, yahudi, nasrani, islam, hindhu atau Buddha mas yang jadi juri, tapi manusia mas, sisi kemanusiaannyalah yang menjadi juri, dan tentu penjuriannya bukan dalam satu sesi tapi mungkin akan memakan seumur hidup si juri.

      saya belum pernah membaca Weda (mungkin kalau potongan-potongan darinya pernah), tapi kalau memang itu dari Tuhan … yaa tentu tidak masuk dalam tantangan ini.

      makanya kalau al quran menantang bagi yang tidak percaya untuk membuat satu ayat saja niscaya tidak bisa, justru saya menjadi tanda tanya.

      seingat saya bukan satu ayat mas, tapi satu surat, ataukah ada yang terlewat dari pembacaan saya ??

      Mengapa tidak bisa? apa yang membuat tidak bisa? terus siapa yan “berhak” menjadi jurinya? aturan mainnya bagaimana dst.
      dalam hal tantangan ini al quran tidak membuat aturan yang jelas.

      1. di tempat lain (dalam Al-Qur’an), dikatakan bahwa jika itu buatan manusia maka akan dijumpai banyak pertentangan/kontradiksi didalamnya, mangkanya dalam komentar terdahulu saya menyebutkan beberapa kriteria yang mungkin bisa dijadikan ukuran.
      2. tantangan itu dimaksudkan untuk membedakan mana pesan dari Tuhan mana yang buatan manusia, sehingga ayat tersebut bagi saya seolah-olah bilang bahwa, “kalau kamu mampu jadi juri (dalam persepsi saya jujur), kamu akan mampu membedakan mana pesan Tuhan dan mana yang bukan”
      3. saya belum pasti, apakah ayat yang dimaksud tersebut adalah ayat yang berupa tulisan ataukah ayat yang berada di alam semesta.

       
  52. suprayitno

    Januari 21, 2010 at 8:33 am

    @Mas Watonist said….1. di tempat lain (dalam Al-Qur’an), dikatakan bahwa jika itu buatan manusia maka akan dijumpai banyak pertentangan/kontradiksi didalamnya, mangkanya dalam komentar terdahulu saya menyebutkan beberapa kriteria yang mungkin bisa dijadikan ukuran.

    koment :
    Mas, di dalam al quran banyak dinyatakan bahwa alloh itu MAHA TAHU segala isi hati (QS 57:6, QS49:18, QS64:4),tetapi di sisi lain banyak juga ayat yang menyatakan Alloh akan MENGUJI atau membuat COBAAN bagi ciptaan-Nya sendiri(QS 67:2, QS 68 :17, QS 2: 155, QS 5:94, QS8: 28, QS 9:126, QS 33: 11).

    Maaf, saya menafsirkan ayat-ayat tersebut dari alloh yang MAHA TAHU menjadi Alloh yang maha bodoh, artinya kontradiktif sekali.

    Segala macam UJIAN dan COBAAN niscaya karena bagi pihak yang menguji(subyek) mempunyai KETERBATASAN PENGETAHUAN terhadap “obyek yang akan diselidiki”, diuji atau dicoba.

    Nah pengetahuan alloh adalah tidak terbatas, apapun hasil akhir dari ujian atau cobaan tersebut PASTI ALLOH SUDAH MENGETAHUI LEBIH DULU.

    Apakah orang yang diuji itu gagal atau berhasil, kuat atau tidak, alloh sudah tahu lebih dulu jawabannya. Nah, kalau sudah tahu hasil akhir dari seluruh percobaan itu, untuk apa Alloh menguji?

    Maaf, di sini tampak sekali kontradiksi itu, dan tampak sekali kebodohan alloh.

     
    • watonist

      Maret 5, 2010 at 7:24 am

      @Mas Suprayitno
      sebelumnya mohon maaf … tanggapan dari saya agak telat (bukan agak lagi malah) :D

      Tanggapan :
      1. betul memang, tapi disitu disebutkan tahu tentang isi hati, tahu tentang yang ghaib, tahu tentang yang nyata dan tersembunyi, tidak disebutkan tahu tentang apa saja pilihan yang akan kita buat (entah karena beneran tidak tahu, pura-pura tidak tahu atau justru malah tidak mau tahu).
      2. tentang “PASTI ALLOH SUDAH MENGETAHUI LEBIH DULU”, konsep “SUDAH” itu adalah konsep waktu yang berjalan, sedangkan kita tidak tahu bagaimana sebenarnya “UJIAN” itu dilaksanakan.
      3. tuntutan untuk “tahu segala hal” kepada Tuhan itu terkadang datang dari kita sendiri, sementara terkadang juga kita tidak konsisten dengan definisi kita sendiri tentang apa yang boleh dan tidak boleh diketahui Tuhan.

      agak membingungkan mungkin jawaban saya :D tapi … yah mohon dimaklumi, baru sedemikianlah kemampuan saya. :D

       
  53. suprayitno

    Januari 22, 2010 at 11:12 am

    Mas Tomy yth,

    Mas musim hujan sudah menjelang, dan bersamaan dengan itu jalan-jalan mulai pada rusak, aspalnya mulai mengelupas diterjang banjir.

    Kadang karena kondisi jalan yang rusak, mengakibakan jatuhnya korban atau kecelakaan di jalan.

    Yang selalu saya pikirkan adalah, di satu sisi negara atau pemerintah dapat MEMAKSA warganya untuk harus membayar pajak, jika tidak bayar akan ada sanksi hukum yang jelas, bisa kena denda atau disita.

    Namun, di sisi lain, rakyat TIDAK MEMPUNYAI HAK MEMAKSA terhadap pemerintah atau negara untuk perbaikan-perbaikan sarana umum, misal jalan, jembatan, sekolahan dan masih banyak aspek sosial lainnya.

    Negara bisa berkilah dengan SEJUTA ALASAN, dari mulai tidak ada dana/anggaran dan alasan-alsan klasik lainnya. Dana bisa TIDAK ADA kemungkinan juga karena diKORUPSI/dicolong oleh para pejabat.

    Sementara, negara tidak mau tahu kesulitan warganya. Punya duit atau tidak, harus bayar pajak.Akhirnya, diada-adakan supaya rakyat bisa bayar pajak.Tetapi rakyat tidak bisa MENUNTUT NEGARA.

    Persoalan simpel, saya ingin TIDAK ADA JALAN UMUM yang bolong-bolong atau rusak yang bisa mengakibatkan kecelakaan.

    Bila ada jalan yang rusak, harus jelas siapa yang bertanggungjawab jadi birokrat itu jangan enak-enakan.

    Begitu juga untuk aspek-aspek lainnya, saya penginnya harus ada pertanggungjawaban yang jelas.Semua harus ada SOPnya (standart operasional procedure), ngurus IMB harus selesai sekian hari, ngurus KTP, KK, HGB,SERTIFIKAT HM, AKTE KENAL LAHIR, dst.

    Jika mereka melanggar ketentuan juga harus jelas siapa yang bertanggungjawab dan apa sanksinya.

    Birokrat kan sama dengan civil servant, abdi masyarakat, jadi kalau mereka tidak mau dan tidak bisa MELAYANI RAKYAT dengan baik, ya mestinya jangan jadi birokrat, jadi rakyat biasa saja.

    Kapan dan bagaimana ya, supaya keadaan seperti itu bisa berjalan di Indonesia, khususnya di kota Semarang?

    Monggo mas tomy, ditanggapi. Saya menulis ini karena saya pikir sudah tidak ada komentar tentang tulisan saya tentang “Metode Mempelajari Alquran”.

     
  54. sikapsamin

    Januari 22, 2010 at 11:46 am

    Nyuwun pangapunten dumateng para Sedulur Tunggal-Sikep sadaya…
    Saya berusaha jadi penggembira saja…kelihatannya diskusi sudah mulai beralih topik…
    Tapi sebelumnya saya akan menyampaikan suatu landasan methode yang pernah saya terima hampir 20-tahun yl.
    Begini: kalau kita menemukan ‘tafsir’ yang berbunyi DIJAMIN TIDAK PALSU…harus kita resapi…PALSU TIDAK DIJAMIN.

    Lha…sekarang kimas Prayit beralih ke soal Pengelolaan Negara, waaahhh ini saya terus-terang hrs ‘kuliah’ dulu tentang Methode Mempelajari Pengelolaan Negara…

    Sumangga para Sedulur Tunggal-Sikep yang juga menjadi Pakar ‘Teori’ dalam Pengelolaan Negara, berkenan memberikan pemaparannya…
    Matur nuwun…(hihihi…iki aku penggembira apa pengompor to?!)

     
    • suprayitno

      Januari 23, 2010 at 1:30 am

      Setuju Ki,

      mang harus kita bedah dulu, selama ini sistem atau metode pengelolaan negara kita ini benar apa gak sih?!

      kita merdeka sudah 65 tahun, sebagai bangsa dan negara kita telah mengalami jatuh bangun dan pernah terkoyak-koyak oleh separatisme, DII/NII,dan aneka model sistem pemerintahan.

      tahun 1950-1959 kita memakai sistem parlementer dengan perdana menteri yang akhirnya sebentar-sebentar ganti perdana menteri. Presiden cuma sebagai lambang saja.

      Akhirnya karena begitu liberalnya, mungkin kondisinya mirip-mirip sekarang ini, maka tgl 5 Juli 1959 timbul dekrit, kembali ke UUD 1945 dan demokrasi terpimpin.

      Fungsi DPR dan MPR kembali tersubordinasi oleh kekuatan eksekutif hingga tahun 1998 era soeharto berakhir.

      Apa mungkin akan lahir dekrit lagi?

      Rasanya sebagai rakyat, kita sudah lelah dengan berbagai eksperimen politik di negeri ini.

      Makin kacau, dan makin tidak jelas negara akan dibawa kemana.

      Sekarang ribut-ribut soal AC-FTA (Asean China- Free Trade Agreement), yang mulai diberlakukan per 01 Januari 2010. Kemungkinan besar, bentar lagi akan ada kebangkrutan massal industri-industri kita, terutama indusatri garmen dan logam.

      Rakyat minta diundur karena belum siap dalam pertarungan global melawan China.

      Namun, saya yakin diberi waktu mundur sampai kapan pun rakyat kita tidak akan siap.

      Mengapa? sebab, pembangunan di bidang SDM melalui sistem pendidikan yang ada di negara kita juga TIDAK JELAS.Arah pendidikan akan dibawa kemana? Kapan bangsa dan negara kita bisa mandiri? Ukuran pendidikan berhasil atau tidak, menurut saya ya ketika bangsa dan negara ini sudah mampu mandiri dibidang ekonomi, teknologi, politik dan budaya.

      Yeeahh…….., aku cuma bisa bilang
      kasihan deh bangsa ini (termasuk aku kali yah? he.he….he).

       
  55. tomy

    Januari 25, 2010 at 1:22 am

    matur nuwun Mas Prayit atas sikap kritisnya terhadap permasalahan bangsa ini
    mohon perkenannya untuk teruskan berbagi pencerahan di artikel saya terbaru Demokrasi “Kethek Saranggon”,

    bagaimana rakyat harus bersikap terhadap para wakilnya di parlemen? & apa yang bisa dilakukan rakyat jelata ini untuk memperjuangkan keadilan sosial & kiejayaan Bangsa?

    sumangga Mas Prayit

     
  56. oeng

    Maret 27, 2011 at 5:11 pm

    all:
    maaf, kalau bisa ngasih komen, mas-mas yg lg serius diskusi. inti dari diskusi sampeyan persis kayak 4 orang buta yang di suruh melihat gajah. memahami Al’Quran tanpa tahu cara memahami. tafsir Al’Quran nya saja semrawut apalagi menterjemahkannya. setahu saya jika sampeyan mau terjemahkan ingat bukan tafsir lo ya terjemah isi Al’Quran itu pake kitab. la, ini kok kayaknya pake pikiran…hebat..jika sampeyan hidup dijaman Rasulullah maaf Anda akan di sentil kuping Anda oleh Rasul, dari tulisan sampeyan-sampeyan sudah cukup menggambarkan siapa sampeyan sebenarnya, Sudah kusampaikan Ya Rabbi Saksikanlah bersama Malaikat-Mu.

     
  57. Adulah Umiy

    Maret 28, 2011 at 9:12 am

    Dijaman Rasulullah saw tak ada tradisi menfasirkan Alqurán,banyaknya para hafidz Alqurán saja, saat itu apa yang buka dan dijelaskan hanya sebatas kebutuhan saat itu, dan itupun sebagai mana ucapan Rasulullah, selebiuh nya hanya diyakini saja.

    Jadi sangat jelas keberadaan nya, silakan cari kitab tafsir pada jaman Rasulullah secara lengkap, dijamin pasti tak ada. penafsiran lengkap terjadi di saat era generasi ke tiga Tabi it tabiín, dan para ulama mesir melalui teknik tata bahasa Arab Alqur’an, sebab Alqurán sangat beda dengan Bahsa Arab sehari-hari.

    Tafsir-tafsir yang telah adapun sekarang hanya sebatas mewakili keberadan penafsiran jaman nya saja, untuk jaman sekarang dan berikutnya setiap 100 tahun sekali akan muncul dan berkembang penafsir-panfsir tajdid.

    banyak hal-hal masih belum terungkap penafsirannya secara lengkap( mutasyabihah). Kita hanya dipersilakan mengikuti apa yang dapat kita fahami atas penafsir yang ada, untuk selanjutnya mungkin saja penafsirannya telah ada, tetapi kasus dan masalahnya mungkin akan terjadi pada zaman- berikutnya, karena Alqurán mukjizat sampai akhir jaman, dimana kita sudah tak berada di jaman tsb.

    Jadi ak perlu ada yang harus di sentil, selama teknis penfasiran mengikuti tradisi ilmu yang telah baku sesuai ilmu tata bahasan nya. Karena nyatanya tak terdapat indukj kitab tafsir pada jaman Rasulullah yang lengkap, kecuali kontemporer.

    Tak perlu takut untuk menafsirkan dan beda pendapat, karena fikiran manusia akan berkembang terus sebagai mana Alqurán mengikitinya sampai akhir jaman dalam mukjizat nya.

    Teknik penafsiran takan lepasa dari daya fikir manusia atas petunjuk Tuhan nya dan bukan petunjuk nafsu nya, maka suatu permasalahan tergantung tekad niyat nya yang merupakan starting point.

    Apakah kita menfasirkan untuk mencari pembenaran diri, kebenaran haqiki,kebencian, permusuhan penghinaan…?, sentimenisme dll, silakan saja Tuhan memberikan kebebesan dan pertanggungjawaban atas apa yang diperbuat.

    Namun yang perlu tafaquri, mengapa Agama Islam dan Alqurán menjadi polemik bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Sehingga siapapun manusia islam non islam begitu mementingkan diri untuk terjun membahas, mengkaji dan memperebutkan keberadaan umat islam, sebagai mana warning Rasulullah saw, bahwa kelak umat islam seperti sepiring nasi yang diperebutkan banyak manusia.

    Silakan cari jawab nya melalui penafsiran yang di mampui atas kenyataan yang tak dapat diungkiri apa yang warning Nabi Muhammad. Dan apapun alasanya hanya kesabaran ke ikhlasan serta balutan kasih sayang dan seyuman dihati yang akan mampu mendobrak rahasia jawaban yang haqiki atas kerja fikiran (tafaqur) dalam memahami islam seutuh nya.

    wasalam

     
  58. malessss

    Agustus 4, 2011 at 6:30 am

    Aku yang tadinya mau belajar al-qur’an.. jadi males nich karena sampeyan-sampeyan ini yang bikin otak ku jadi berantakan.. sampe ada tulisan “Apakah fakta-fakta ini tidak cukup untuk mengatakan bahwa “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan.” segala… saya curiga situ bukan orang islam.. ato islam orientalis.. yang penting nyesel bangets masuk blog ini.. capek dech… (tambahan: kalo nulis nabi yang lengkap pake SAW.. seperti Muhammad SAW)

     
  59. Glagah Nuswantara

    Agustus 18, 2011 at 10:11 pm

    Siapakah yang paling berhak menjelaskan Al Qur’an? Allah. Simak firman-Nya Al-Qiyamah Ayat 19: ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ .. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. Masalahnya, bagaimana agar manusia layak/pantas mendapat petunjuk-Nya? “Bertaqwalah, maka Allah akan mengajari (mempermudah untuk memahami) apa yang tak ketahui”…(bagian akhir dari Al Baqarah Ayat 282). Belajar Al Qur’an intinya adalah metoda yang ruhanitah, dan niyat untuk itu, pasti dipermudah Allah: “Ar-Rahmaan, ‘allamal qur’aan” (Surat Ar Rahmaan Ayat 1-2). “METODA” yang dipaparkan di atas, tentunya bertitik berat pada jalur intelektual. Dan itu sudah sangat baik bila masyarakat muslim melakukannya.

     
  60. mueeza

    November 16, 2011 at 8:39 am

    Mas mbak,..skali lagi coba membuka pikiran anda,..JANGAN SELALU BERPIKIR JIKA JALAN YANG TERASA ENAK ITU ADALAH JALAN YANG BAIK UNTUK KITA.

    Ilustrasi : Tahukah anda pada saat anda memakan Mc Donald anda memakan daging sapi yang disembelih/dibunuh dengan MESIN yang memelintir lehernya tanpa adanya bacaan doa atas sang penciptanya, sapi-sapi itu dipelintir lehernya secara massal. Dari hal itu sy berpikir bahwa sesuatu yang terasa enak untuk kita, hampir 80% bukanlah yg terbaik untuk kita.

    Pertanyaannya: Trus apa yg terbaik untuk kita ???

    Jawabannya : Tuhan memiliki sistem kerja yang sangat misterius untuk sesuatu yg diciptakannya, DIA (Tuhan) lebih tau daripada anda. Sampai manapun batas penalaran anda,..saya jamin anda tidak akan sampai pada pemikiran yg diatas.

    Kita seperti OB yang diberi secarik kertas oleh atasan kita, tp ternyata kita membuangnya, padahal kertas itu adalah OBLIGASI besar yang diberikan atasan untuk kita.

    Jika anda berpikir berdasarkan otak dan pancaindera saja, anda tidak akan mendapatkan arti sebenarnya ttg hidup. Sehingga anda akan ditutup hatinya, dibutakan matanya, dan ditutup telinganya dan hanya mulut saja yg akan terbuka lebar.

    BANYAK ORANG YANG JAUH LEBIH JENIUS DARI ANDA tapi mereka lebih beriman dari anda.

    Cukup sekian aja,..

    saya MUSLIM.

     
  61. ridwan mustofa

    Juni 19, 2012 at 7:33 am

    waduh…..pasti nggak bisa mas..mbak…manusia bikin satu ayat saja dari Alqur’an ….karena seluruh huruf,kata dan kalimat dalam Alqur’an itu terkunci secara matematis dan sistematis…dalam hitungan jumlah huruf,makna,no surat,ayat yang saling berkaitan dan membentuk suatu enkripsi/hash/checksum yang unik….yang jika dirubah susunan maupun hurufnya satu saja..akan merubah kalkulasi matematis tersebut…banyak kok ilmuwan yang mempelajari Alquran dari sisi matematis ini….maaf saya bukan ……cukuplah bagi saya bukti Muhammad Rosulullah SAW adalah seorang yang jujur tidak pernah bohong dan tidak akan membohongi umatnya ….terbukti setelah AlQuran ini nggak ada lagi satu kitab yang disepakati merupakan berita dari langit (wahyu) karena AlQuranul Karim merupakan kitab terakhir…..sesuai dengan ayat dari Alquran sendiri…surat Almursalat ayat terakhir….”Terhadap berita dari langit yang mana lagi setelah ‘Alquran ini mereka(orang-orang kafir) akan beriman?…”…kalo ngomong orang cerdas..Rosulullah Muhammad SAW adalah memang cerdas…yaitu nggak tertipu dengan kehidupan dunia yang fana ini dan beliau hanya akan mengharap rahmat Allah SWT di akhirat kelak yang lebih awesome dan abadi……..anda dan saya akan lihat nanti kedudukan beliau di akherat setelah kita mati semua dan hari pembalasan di tegakkan….

     
  62. Bratayuda

    Juli 2, 2012 at 5:26 pm

    Mempelajari Alqur’an tergantung terhadap tools-tools(alat bantu) disiplin ilmu terhadap bahasa Alqur’an, al: mantiq, bayan, ma’ani, badi, fiqih, tafsir, qiraat(ilmu baca), nahwu, sharaf.

    Tiak sesederhana seperti bahasan tsb diatas hanya sebatas sejarah yan dangkal, dan tentu bahasan diatas hanya lelucon belaka, seperti monyet mengupas kelapa, hanya dapet tapas nya doang, tak bisa dapet dalem nya kelapa dan air nya, apalagi santan dan minyak nya, sangat jauh panggang dari api.

    Metode diatas adalah metode ngawur yang lahir dari ke antipatian terhadap Alqur’an, tidak sedikitpun menyentuh metode disiplin ilmu Alqur’an level pesantren. Perlu waktu khusus dan kemampuan yang mencukupi serta fikiran dan hati bersih dari unsur negatifitas, dan rasa cinta dan kasih sayang, sebagai mana mencintai diri sendiri.

    Sebab jelas hal iptek, geografi, geologi, astronomi, serta penemuan paraoh firaun yang diprediksi Alqur’an 1400 tahun lalu, dan prediksi kehancuran negri romawi, bukanlah proses fikir Muhammad saw.

    Alqur’an versi umum yang beredar adalah misi wahabi islam sempalan yahudi, yang memerintah kerjaan Arab ket Raja Saud ( yahudi). sedang kel. Nabi sudah tak ada di Arab dari sejak peperangan syiah muawiyah, dan mereka para ahlul bayit terakhir tinggal di wilayah iraq-iran.

    Bila tak kuasai disiplin ilmu Alqur;an tak perlu repot-repot buat metode sampah, itu hanya akan merusak fikiran dan sakiti hati diri sendiri. Padahal Tuhan, Nabi, dan Alqur’an tak pernah anti pati dan benci kepada “suprayitno”. Berarti anda punya masalah dengan jiwa anda, dan anda harus banyak belajar lagi untuk sekedar membuat metode bedasarkan sejarah yang lebih baik dan kompeten, dan dibutuhkan kemampuan hati untuk memaminya, terlebih referensi-2 lainna yang lebih mengkayakan informasi anda.

    salam baik
    untuk semua

     
  63. adilmuhammadisa

    September 9, 2012 at 11:27 pm

    PARAGRAF MENYESATKAN

    Tulisan si kuncung gemblung ini menyesatkan:

    Pengetahuan sejarah pra Islam juga akan melacak tentang apa motivasi perjuangan seorang Muhammad, mengapa Muhammad memilih jalan keluar untuk mengatasi krisis (kemanusiaan??) ini melalui jalur sosial-religius (theokratisme)? Mengapa tidak menggunakan jalur sekularisme (demokrasi)? Apakah model gerakan sekularisme atau demokrasi pada saat itu belum dikenal khususnya pada peradaban politik bangsa Arab? Apakah pada saat itu basis gerakan sosial hanya mengenal penyelesaian melalui jalur theologis dan aristokratis? Jika jawabannya betul, pantas saja Muhammad secara intens menggandeng Tuhan dan malaikat (Jibril) untuk menemani perjuangannya, dan Muhammad bisa berkata apa pun dengan mengatas namakan Tuhan.

    Masyarakat pada saat itu (dan sampai sekarang pun) boleh percaya boleh tidak terhadap apa yang diklaim oleh Muhammad sebagai wahyu Tuhan. Bagi yang tidak percaya dimasukkan dalam golongan kaum kafir, kafir berarti menjadi musuh Tuhan dan manusia (dari kelompok nabi). Muhammad jelas telah berhasil menciptakan conditioning (suasana) agar seolah-olah perjuangannya mendapat legitimasi dan di backup dari langit (Tuhan) supaya motivasi perjuangannya seolah-olah tampak sakral, bersih, mistis dan suci. Akhirnya Muhammad menggunakan“bahasa Nabi” yaitu bahasa wahyu sebagai bahasa pengantar perjuangan politiknya. Di sinilah Muhammad benar-benar sangat cerdas dalam menguasai dan mengelola psikologi massa. Massa ternyata mudah dikuasai dan dikendalikan dengan pendekatan wahyu Tuhan. Dengan wahyu Tuhan, ternyata Muhammad lebih mudah mengatur umatnya, sebab wahyu pasti tidak bisa diprotes. Bahkan bagi yang benar-benar percaya, Al Qur’an menjadi harga mati yang harus diperjuangkan dengan mengorbankan harta benda dan nyawa sekalipun

    SEBELUM MUHAMMAD JADI NABI DIA SUDAH DIGADANG GADANG JADI PENGUASA MEKAH DAN SUDAH DIJULUKI SECARA AKLAMASI SEBAGAI AL AMIN YANG TERPERCAYA.
    KALAU MAU MUHAMMAD BISA MENGUASAI MEKAH DENGAN MUDAH (BUKAN SEPERTI PENULIS YANG KESULITAN MENCARI POSISI POLITIK SEHINGGA HARUS MENGGUNAKAN LEGITIMASI AGAMA (“MENGGANDENG TUHAN”) UNTUK MENIPU MASYARAKAT)

    MUHAMMAD DITENTANG OLEH PENGUASA MEKAH JUSTRU KETIKA DIA SAMPAIKAN AYAT ALLAH KEPADA MEREKA.

    JADI TULISAN INI BENAR BENAR MENYESATKAN ALA DAJJAL.

     
  64. aslam

    Maret 19, 2013 at 7:46 pm

    Lucu memang ketika yang tak ngerti tata bahasa Alqur’an lalu menampilkan makalah metode mempelajari Alqur;an. Sy lihat tak ada sedikitpun ilmu pendukung sebagai referensi bahasa arab, apalagi bahasa Alqur;an adalah bahasa sastra. Metode ngawur spt itu jangan di tampilkan, ini sangat memalukan sekali.

     
  65. Anas Gultom

    Desember 3, 2013 at 9:38 pm

    Suprayitno…. :)
    Anda sama sekali belum layak membuat artcle dengan judul “METODE MEMPELAJARI AL QUR’AN”…

     
  66. muh qosyim

    Januari 21, 2014 at 4:13 am

    apa ada mas quran menerangkan siksa kubur…?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: