Oleh : Suprayitno
Dibawah ini saya akan membantu bagaimana metode yang sistematik untuk mempelajari Al Qur’an. Sebagaimana kita ketahui bahwa Al Qur’an yang terdiri 114 surat itu dibagi menjadi 30 juz (bagian). Ayat-ayat yang terdapat di dalamnya merupakan kumpulan dari wahyu-wahyu Tuhan yang turun secara periodik dan masing-masing ayat memiliki latar belakang penurunannya (asbaabun nuzuul).
Secara garis besar, tempat turunnya wahyu dibagi menjadi dua, yaitu yang turun di Mekkah (disebut golongan surat Makkiyyah) dan yang turun di Madinah (disebut golongan surat Madaniyyah). Dari dua tempat asal turunnya wahyu tersebut, apakah terdapat perbedaan karakter yang menonjol antara tipe wahyu yang turun di Mekkah dan tipe wahyu yang turun di Madinah? Jika ada, mengapa terjadi perbedaan? Dan sejak kapan pergeseran tipe wahyu itu dumulai? Langkah-langkah sistematik berikut ini akan mencoba memberikan jawaban.
Mempelajari Al Quran adalah mempelajari “rentang sejarah” perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah sampai ke Madinah. Dari saat-saat awal masa kenabian yang penuh dengan kesulitan, hinaan dan ancaman sampai dengan saat-saat puncak kekuasaan. Tipe wahyu pasti ada bedanya antara periode infant community (masa-masa merangkak atau masa-masa sulit) dengan masa-masa puncak kekuasaan.
Apa bedanya dan mengapa beda? Pertanyaan ini akan terjawab dengan “gamblang” apabila kita mau mempelajari Al Quran dengan cara sistematik dan kronologik dengan pendekatan mental kultural dan politik.
- Pertama-tama kita harus mengetahui lebih dulu bahwa sistem penyusunan surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an sesungguhnya tidak berurutan atau tidak tersusun secara kronologis. Jadi Al Quran yang ada dihadapan Anda sekarang ini, adalah merupakan kumpulan catatan-catatan (wahyu) yang tidak tersusun secara urut berdasarkan periodesasi.
- Tugas kita pertama-tama adalah “menguraikan” agar keseluruhan surat-surat di dalam Al Qur’an dapat kita rekonstruksi kembali menjadi bagian-bagian yang tersusun secara kronologis berdasarkan “urutan penerimaan wahyu.”
Pertama kita harus memulainya dari surat Al’Alaq karena surat inilah yang pertama kali turun. Lihat surat pertama ini di dalam Al Qur’an justru ditempatkan pada urutan ke 96 atau surat ke 96. Padahal, surat pertama atau ke satu dalam penyusunan Al Quran yang standar adalah dimulai dengan Al Faatihah (pembukaan), kemudian surat yang ke 2 Al Baqarah, yang ke 3 surat Ali ‘Imran dan seterusnya. Penysunan demikian jelas tidak sesuai dengan urutan yang semestinya.
Dari permulaan ini kita dituntut untuk dapat menelaah secara kritis dan analitis siapa yang menyusun dan mengapa susunan surat-surat Al Qur’an dibuat jungkir balik tidak karuan? Atas dasar apakah sebenarnya penyusunan Al Qur’an? Mengapa Al Qur’an tidak disusun secara kronologis berdasarkan urutan penerimaan wahyu? Kapan Al Qur’an mulai disusun seperti bentuknya yang sekarang? Kalau pada akhirnya Al Qur’an harus dibukukan, mengapa Al Qur’an tidak disusun pada saat Nabi Muhammad masih hidup? Berapa lama jarak waktu antara wafatnya Nabi Muhammad dengan disusunnya Al Qur’an?
- Surat-surat dalam Al Qur’an semua ada 114 surat, terdiri dari :
Surat periode Makkiyyah/turun di Mekkah = 86 surat
Surat periode Madaniyyah/turun di Madinah = 28 surat
Total semua surat = 114 surat
Tentang pembagian atau pengelompokan surat-surat ini sampai sekarang masih terdapat perbedaan pendapat antar para ahli tafsir Al Qur’an, meskipun demikian satu hal yang jelas bahwa surat-surat yang turun di Mekkah (periode Makkiyyah) jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan surat-surat yang turun di Madinah (periode Madaniyyah).
- Kalau kita akan mempelajari Al Qur’an harus dimulai dari periode Mekkah. Mengapa? Karena di kota Mekkah itulah sejarah lahirnya Al Qur’an dimulai, disamping itu juga untuk menghindari penafsiran-penafsiran yang sifatnya parsial (memihak atau berat sebelah), sebab kita tidak bisa mengambil ayat secara sepotong-sepotong tanpa mengerti jalan ceritanya atau sebab turunnya wahyu.
Karakteristik wahyu sangat berbeda antara wahyu periode Makkiyyah dengan karakteristik wahyu periode Madaniyyah, terutama tipe-tipe wahyu setelah umat Islam memenangkan pertempuran di Badr (perang Badr Maret 624 M). Al Qur’an harus dipahami secara kronologis-sistematis dari ayat pertama kali turun sampai dengan ayat penghabisan, dengan cara seperti ini kita akan mendapat gambaran yang utuh tentang pesan Al Qur’an (anatomi Al Qur’an). Ibarat sebuah pohon, harus kita kenali dan kita telusuri dari sejak biji tanaman, cara tumbuh, akar, batang, daun, buah, sampai ujung rantingnya.
Sekadar gambaran untuk membedakan tipe atau karakteristik wahyu, marilah kita bandingkan antara surat-surat yang turun di Mekkah seperti surat-surat sebagai berikut QS6:56-58,68-71,108; QS41:34 ; QS23:96; QS17:53 ; QS17:107; QS18:29; QS109: 1-6; QS16: 125 QS10: 99-100 ; QS29: 46 QS7 : 180 ; QS45:14 .
Catatan: untuk surat 109 (Al Kaafiruun = Orang-orang kafir) ayat 1 sampai 6, sungguh sangat bijaksana dan moderat karena tidak ada satu pun kata-kata yang mengandung ancaman atau merendahkan martabat orang-orang kafir. Antara penganut kafir dan orang yang beragama ditempatkan “sejajar” , tidak ada yang lebih hebat diantara keduanya (Lakum dinukum wa liya din = Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku). Tetapi jika kita akan menggali hubungan antara “orang yang beragama dan orang kafir” berdasarkan Al Qur’an, tidak bisa hanya menggunakan refrensi dari surat 109 ayat 1 s/d 6 yang tampak sangat bijaksana ini saja, namun periksa jugalah keseluruhan ayat yang mengandung hubungan “orang beragama dan orang kafir.” Bagaimana kesimpulannya? Ayat yang tampak sangat bijaksana tersebut akan terhapus atau “gugur” dengan ayat-ayat tentang kafir pada periode sesudahnya.
Al Qur’an akhirnya menempatkan golongan kafir sebagai orang-orang yang sangat hina, orang yang jahat, sangat dibenci dan harus dibasmi, dan kelak bila mati harus dipanggang diatas bara api neraka yang membara.
Saya berikan contoh 2 (dua) ayat dari surat Al Baqarah yaitu ayat 161 dan 162 (ayat ini turun di Madinah). Ayat 161 berbunyi : Innal-lazina kafaru wa matu wa humkuffarun ulaika ‘alaihim la’natullahi walmalaikati wan-nasi ajma’in (Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya). Ayat 162 berbunyi: khalidina fiha la yukhaffafu ‘anhumul’azabu wa la hum yunzarun ( mereka kekal di dalam laknat itu, tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh). Yang lebih “seram” hukuman bagi orang-orang kafir tentu masih banyak yang dapat kita jumpai. Oleh karena itu dalam mengambil refrensi dari Al Quran mengenai suatu masalah tidak bisa secara sepotong-sepotong. Kalau kita akan mengambil topik “kafir” harus dikumpulkan semua ayat yang membahas tentang kafir baik dari periode Makkiyah maupun Madaniyyah.
Dari surat-surat periode Mekkah tersebut di atas marilah kita bandingkan dengan tipe wahyu Madaniyyah seperti pada : QS59: 2-4; QS4 : 89 ; QS8 :12 QS33 : 60-62 dan tentu masih banyak lagi ayat-ayat periode Madinah yang keras.
Apa yang dapat kita analisis dari perbedaan karakteristik wahyu ini? Adalah fakta bahwa sejarah wahyu (Al Qur’an) tidak terlepas dari kekuatan politik, artinya ketika kedudukan Muhammad di Mekkah masih lemah karena belum mempunyai basis pendukung massa yang kuat (infant community), maka dengan sendirinya surat-surat atau wahyu periode Mekkah pun pada umumnya lebih moderat jika dibandingkan wahyu periode Madaniyyah. Kalau pun terdapat ancaman pada umumnya lebih bersifat tekanan psikologis yang selalu dikaitkan dengan ancaman Allah dan penyiksaan di neraka atau alam kubur.
Komposisi ayat-ayat periode Mekkah yang sangat menonjol adalah tentang :
1. Penggambaran siksa di neraka
2. Penggambaran siksa di alam kubur
3. Berita tentang akan datangnya hari kiamat
4. Perumpamaan kejadian alam yang dihubungkan dengan
sang pencipta alam (Allah)
5. Penggambaran keindahan surga
6. Cerita tentang riwayat nabi-nabi masa lalu
7. Ajakan untuk bertobat dan menyembah serta memuji kepada Allah yang maha esa dan
8. Kebencian terhadap syetan
Setiap surat yang turun di Mekkah kebanyakan memuat salah satu atau lebih dari ke tujuh unsur di atas. Namun, sejak Muhammad hijrah ke Madinah dan ketika kedudukannya sudah mulai bisa diterima secara luas, maka tipe wahyunya sedikit demi sedikit mulai ada pergeseran yaitu banyak ayat yang lebih keras dan represif, hampir semua produk hukum dihasilkan di Madinah.
Kalau di Mekkah hanya tekanan psikologis maka di Madinah sudah bergeser menjadi ancaman fisik yang lebih nyata dan mengikat.
Mengapa bisa demikian? Ada yang menjawab “itu merupakan bukti kearifan Allah, atau semua memang kehendak Allah” Haruskah jawabannya demikian? Tidak bisakah kita menggunakan logika politik (aspek sosiologis) untuk menjawabnya? Bisakah kita mengabaikan dukungan massa terhadap proses terjadinya wahyu? Artinya ketika dukungan dari massa masih lemah (sedikit) dengan sendirinya ayat-ayat yang turun masih moderat dan sifatnya hanya persuasive. Contoh, minuman keras (khamar) pada Islam periode Makkiyah tidak dilarang karena basis pendukung Muhammad masih lemah dan setelah dukungan massa makin kuat di Madinah baru pelarangan atau hukum kharam terhadap minuman keras (khamar) ini dikeluarkan. Di sinilah justru kita bisa berpendapat bahwa “wahyu” sebenarnya merupakan produk dari kecanggihan pemikiran manusia (Muhammad) yang penuh dengan perhitungan sosial-politis dan psikologi massa.
Jika jawaban ini tidak bisa diterima oleh para ulama dan ahli agama, tentu kita bisa mengajukan pertanyaan, apakah “wahyu” adalah sebuah terminologi yang sama sekali bebas dari campur tangan pemikiran manusia (Muhammad)?
Logikanya “hanya orang kuat atau institusi yang kuatlah yang dapat mengeluarkan produk hukum atau undang-undang”.
Sama dengan posisi Muhammad. Pada saat perjuangannya di Mekkah masih belum mendapat dukungan massa yang solid, mungkinkah seorang Muhammad bisa mengeluarkan undang-undang atau hukum yang katanya berasal dari “wahyu”? Kalau pun Tuhan bisa mengeluarkan instruksi (wahyu), apakah tidak ditertawakan oleh masyarakat, lagi pula siapa yang mau patuh dan melaksanakan? Paling banter wahyu yang diterima pun sekadar “imbauan untuk jalan yang lurus dan bagi-bagi rejeki untuk kaum fakir miskin (berzakat) dan menyantuni anak yatim”. Mengapa untuk “pesan sosial” ini mesti harus Tuhan yang berbicara melalui “wahyu?”
Tidak bisakah seorang Muhammad berbicara atas nama dan atas pikirannya sendiri? Lantas bagaimana sebenaranya kapasitas pemikiran (visi dan misi) pribadi Muhammad tentang “kemanusiaan/humanisme” jika segala-galanya harus berproses melalui wahyu? Dari semua yang diucapkan oleh Muhammad, hanya Muhammadlah yang berhak membagi-bagi mana yang wahyu mana yang bukan wahyu. Tidak ada orang lain yang bisa ikut mengontrol pemikiran Muhammad. Dalam hal wahyu atau bukan, Muhammad adalah sosok tunggal kebenaran itu sendiri.
Jika semua serba Tuhan, bodoh atau pintarkah sebenarnya Muhammad itu? Lantas bagaimana cara membedakan wahyu dan kreatifitas atau produk pemikiran dari sosok Muhammad? Proses pewahyuan ini sama sekali tidak ada checks and balances dari pihak lain. Pokoknya kalau Muhammad bilang “ini wahyu” umatnya harus percaya sebab kalau tidak percaya berarti termasuk kedalam golongan orang kafir. Semudah dan sesederhana itu seorang Muhammad memberi pilihan hidup. Wahyu seakan-akan menjadi produk yang tidak bisa disentuh oleh akal, wahyu harus diterima melalui “iman” dan Muhammad adalah pemegang tunggal kebenaran atas nama Tuhan.
Mari kita pelajari seluruh ayat-ayat periode Makkiyyah, semua ayat yang berhubungan dengan sesama atau hubungan dengan Tuhan selalu disampaikan dengan cara persuasif tanpa ancaman fisik secara langsung, paling ancamannya kemurkaan dari Allah atau siksa api neraka atau siksa di dalam kubur.
Apakah fakta-fakta ini tidak cukup untuk mengatakan bahwa “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan.”
PENDUKUNG LAIN UNTUK BISA MEMAHAMI AL QUR’AN
1. Pengetahuan tentang bahasa Arab, termasuk di dalamnya sastra Arab klasik, karena seperti kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan bahasa Al Qur’an adalah bahasa “puitis” yang bisa menghadirkan ragam tafsir.
2. Lintas sejarah Arab pra Islam, yaitu pra kondisi sebelum Islam lahir. Tanpa kita tahu sejarah Arab pra Islam maka mustahil kita akan bisa memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang “asbaabun nuzuul” (sebab-sebab turunnya wahyu). Lintas sejarah Arab meliputi kajian ilmu arkeologi, antropologi, dan sosiologi bangsa Arab. Disiplin ilmu ini akan mengantarkan kita pada pemahaman yang menyeluruh tentang struktur budaya bangsa Arab, termasuk di dalamnya tentang kehidupan sosial-religius, politik, ekonomi, dan pendidikan. Intinya kita akan membedah melalui berbagai pintu tentang siapa sebenarnya bangsa Arab itu? Pengetahuan tentang sejarah bangsa Arab pra Islam setidaknya juga akan memberikan jawaban tentang mengapa seorang Muhammad tergerak untuk berjuang membebaskan rakyat Arab dari belenggu kebodohan dan penindasan (perbudakan), lihat surat Al Balad (QS90) ayat 11 s/d 16.
Kita perlu tahu sejauh mana sebetulnya pengertian “zaman jahiliyah” yang melanda bangsa Arab pada saat itu? Apakah benar-benar telah terjadi kerusakan moral yang parah? Separah apakah sehingga seorang Muhammad terpanggil untuk memperbaikinya?
Pengetahuan sejarah pra Islam juga akan melacak tentang apa motivasi perjuangan seorang Muhammad, mengapa Muhammad memilih jalan keluar untuk mengatasi krisis (kemanusiaan??) ini melalui jalur sosial-religius (theokratisme)? Mengapa tidak menggunakan jalur sekularisme (demokrasi)? Apakah model gerakan sekularisme atau demokrasi pada saat itu belum dikenal khususnya pada peradaban politik bangsa Arab? Apakah pada saat itu basis gerakan sosial hanya mengenal penyelesaian melalui jalur theologis dan aristokratis? Jika jawabannya betul, pantas saja Muhammad secara intens menggandeng Tuhan dan malaikat (Jibril) untuk menemani perjuangannya, dan Muhammad bisa berkata apa pun dengan mengatas namakan Tuhan.
Masyarakat pada saat itu (dan sampai sekarang pun) boleh percaya boleh tidak terhadap apa yang diklaim oleh Muhammad sebagai wahyu Tuhan. Bagi yang tidak percaya dimasukkan dalam golongan kaum kafir, kafir berarti menjadi musuh Tuhan dan manusia (dari kelompok nabi). Muhammad jelas telah berhasil menciptakan conditioning (suasana) agar seolah-olah perjuangannya mendapat legitimasi dan di backup dari langit (Tuhan) supaya motivasi perjuangannya seolah-olah tampak sakral, bersih, mistis dan suci. Akhirnya Muhammad menggunakan“bahasa Nabi” yaitu bahasa wahyu sebagai bahasa pengantar perjuangan politiknya. Di sinilah Muhammad benar-benar sangat cerdas dalam menguasai dan mengelola psikologi massa. Massa ternyata mudah dikuasai dan dikendalikan dengan pendekatan wahyu Tuhan. Dengan wahyu Tuhan, ternyata Muhammad lebih mudah mengatur umatnya, sebab wahyu pasti tidak bisa diprotes. Bahkan bagi yang benar-benar percaya, Al Qur’an menjadi harga mati yang harus diperjuangkan dengan mengorbankan harta benda dan nyawa sekalipun.
- Memahami Al Qur’an akan sangat terbantu dengan menggunakan Indek Al Qur’an. Indek Al Qur’an gunanya untuk mempermudah penelusuran tentang tema-tema tertentu yang akan kita butuhkan. Contoh jika kita akan mencari topik tentang kafir, maka cari saja pada “indek kafir” disana akan ditunjukkan ayat mana saja yang berhubungan dengan kafir. Kemudian setelah kita kumpulkan seluruh ayat mengenai kafir, tugas selanjutnya kita susun berdasarkan urutan penerimaan wahyu. Nanti pasti akan bisa diketahui bahwa ternyata “wahyu” tentang kafir memiliki nuansa yang berbeda antara periode infant community dengan periode saat kedudukan Muhammad sudah semakin kuat. Kesimpulan saya, wahyu hanyalah target politik yang menggunakan Tuhan sebagai alasan pembenaran.
Catatan lain:
Untuk menelusuri tentang “asbaabun nuzuul” salah satunya bisa menggunakan refrensi dari hadist tetapi marilah kita pelajari “sejarah hadist” yang penuh dengan berbagai pertikaian dan kepentingan itu. Oleh karenanya saya mengabaikan peran sunnah/hadist sebagi refrensi, sebab perjalanan sunnah atau hadist memiliki celah yang luar biasa untuk dimanipulasi demi kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Lagi pula hadist ditulis jauh setelah nabi Muhammad meninggal dunia sehingga sangat sulit untuk memastikan kebenarannya.
SEKILAS PERKEMBANGAN ISLAM SETELAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD
Sebagaimana kita ketahui bahwa sepeninggal Nabi Muhammad yaitu beliau wafat pada tanggal 08 Juni 632 M, masyarakat muslim yang baru lahir itu dihadapkan pada sesuatu yang berujud “krisis konstitusional.”
Karena nabi tidak mewariskan ketetapan undang-undang pelaksanaan (constitution) bahkan tidak juga menciptakan suatu dewan (council) dalam jalinan majelis kesukuan yang mungkin dibutuhkan selama dalam periode transisional yang genting (darurat).
Keunikan dan karakter kewibawaan yang eksklusif, yang beliau anggap sebagai eksponen kemauan Tuhan, telah menjadikan nabi Muhammad sebagai figur sentral terhadap seluruh proses pemerintahan dan dalam komunitas sosial. Hal ini menyebabkan Nabi Muhammad sama sekali tidak mempersiapkan calon-calon pengganti terpilih sepanjang hidupnya.
Konsepsi penggantian pimpinan pemerintahan saat itu tidak dikenal oleh orang-orang Arab. Tetapi krisis konstitusi telah mempertemukan adanya tindakan tegas dari tiga orang yaitu Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah, hingga akhirnya tercapailah kesepakatan bahwa Khalifah Rasulullah pertama sesudah wafatnya nabi adalah jatuh pada Abu Bakar.
Masa khalifah Abu Bakar kurang lebih selama dua tahun, beliau wafat pada tanggal 23 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijri, tetapi sebelum wafat beliau telah mewasiatkan khilafah kepada Umar bin Khaththab.
MASA KEPEMIMPINAN UMAR (634-644M)
Ciri yang sangat menonjol pada masa pemerintahan Umar adalah beliau sangat konsisten terhadap penegakan hukum, anti korupsi, kolusi dan nepotisme (anti KKN) serta menerapkan sistem pajak (zakat) yang progresif.
Tetapi karena sifatnya yang sangat tegas dalam berbagai bidang inilah akhirnya pada tanggal 4 Nopember 644 M, Umar dibunuh oleh budak Persia seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Lu’lu’ah. Alasan pembunuhannya karena Abdul Mughirah merasa terlalu berat dengan kharaj (pajak) yang dibebankan kepadanya.
Pada saat yang sangat kritis ini, karena pada saat Umar ditebas pedang, beliau tidak langsung tewas dan sempat membentuk sebuah team dari para sahabat yang dinamakan “ahlisyura” (majelis syuraa sama dengan majelis permusyawaratan/badan legislatif). Anggota team tersebut terdiri dari 6 orang masing-masing bernama Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdur Rahman bin Auf. Hal ini merupakan terobosan baru dalam budaya politik bangsa Arab, karena Umar merupakan orang pertama yang membentuk team guna merumuskan alih kekuasaan (suksesi kepemimpinan).
Proses pemilihan tersebut memang cukup alot sebab akhirnya terbentuk dua kubu yang sama kuat yaitu antara kubu Utsman dan kubu Ali. Setelah melalui negosiasi yang panjang akhirnya majelis syura menetapkan Utsman sebagai pengganti Umar.
MASA KEPEMIMPINAN UTSMAN (644-656M)
Masa pemerintahan Utsman penuh diwarnai KKN. Hal pertama yang menyebabkan Utsman dituduh telah melakukan nepotisme adalah pemecatan terhadap gubernur Kufah, Sa’ad bin Abi Waqqash yang digantikan oleh Walid bin Uqbah saudara satu ibu dengan Utsman. Utsman telah mengangkat para kerabatnya dari Banu Umaiyyah untuk menduduki berbagai jabatan.
Pada pemberontakan tgl 17 Juni 656 M, Utsman terbunuh. Siapa yang telah membunuh Utsman? Sulit dipastikan karena pada saat itu rumah Utsman dalam keadaan dikepung oleh pemberontak dan salah seorang pemberontaknya berhasil menyelinap masuk kedalam rumah yang kemudian menebaskan pedang sehingga khalifah Utsman tewas.
Pada saat itu yang menjaga rumah Utsman adalah dua orang putra Ali yaitu Hasan dan Husein. Pembunuhan ini merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir dan merupakan awal pecahnya perang saudara yang dahsyat dalam Islam. Dalam kasus pembunuhan Utsman sulit dipastikan bagaimana posisi Thalhah, Zubair, Aishah, dan Ali apakah mereka terlibat atau tidak, memprovokasi atau tidak?
MASA KEPEMIMPINAN ALI (656-661M)
Setelah Utsman terbunuh, akhirnya kekuasaan diambil alih oleh Ali, tetapi sepanjang kekuasaannya penuh dengan berbagai masalah. Kekuasaannya sangat rapuh karena dirongrong dari berbagai pihak. Ali harus terus bertempur melawan Mu’awiyah dan golongan Khawarij yaitu golongan oposisi atau pembangkang.
Mu’awiyah adalah keponakan Utsman yang terus mendesak agar pembunuh Utsman untuk segera dapat ditangkap dan di qishaash (tentang hukum qishaash lihat Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 178). Golongan khawarij adalah merupakan kelompok gerakan yang dengan tegas menolak kepemimpinan Ali maupun Mu’awiyah.
Pada bulan Januari tahun 661 M atau tanggal 17 Ramadhan tahun 40 Hijri, seorang dari golongan Khawarij yang bernama Abdur Rahman bin Muljim ada juga yang menyebut Ibnu Muljan telah berhasil membunuh Ali. Inilah awal dari dinasti Umaiyyah, yang nanti selanjutnya pada tahun 680 M, terjadi pembunuhan massal atas pengikut Ali di Karbala, dimana dalam pembunuhan tersebut Husein (putra Ali) juga ikut dibunuh. Dan pada tahun 683 M, sampai dengan tahun 690 M, terjadi lagi perang saudara ke dua.
Ilustrasi ini sangat penting saya sampaikan agar dapat menjadi pengetahuan bahwa bagi siapa pun yang akan mempelajari hadist hendaknya paham bahwa riwayat hadist sebenarnya penuh dengan karut marut yang diakibatkan oleh perebutan kekuasaan, dan kepentingan kelompok atau golongan.
Juga harus diketahui bahwa hadist disusun atau dibukukan berpuluh-puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat (mungkin bahkan ratusan tahun?). Ketika Nabi sendiri masih hidup tidak pernah memerintahkan sunnah itu untuk dicatat, apa yang diucapkan dan dilakukan oleh nabi dari waktu kewaktu. Sepanjang pengetahuan saya, nabi tidak pernah memposisikan sunnah itu sebagai hukum ke dua setelah Al Qur’an. Sehingga siapa pun yang ahli hadist atau sunnah pasti sangat sulit memastikan yang “shohih” atau tidak terlepas dari siapa pun perawinya entah itu Aisyah, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abu Bakar, Abu Hurairah, ataupun Ibnu Mas’ud. Dan terlepas dari siapa pun penulis hadist apakah dia Ibnu Majah, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Thirmidzi, atau pun Nasa’i.
Banyak aliran dan kelompok dalam Islam yang saling menyerang di mana masing-masing mengaku yang paling benar. Kelompok atau golongan tersebut adalah seperti golongan Khawarij, golongan Rafidzah, golongan Mu’tazilah, serta golongan Syi’ah Itsna Asyariah. Masing-masing “bermain” dengan hadist yang menguntungkan kepentingan kelompoknya atu golongannya.
Setelah Nabi Muhammad wafat, kemudian kepemimpinan Islam dipegang oleh para sahabat, penggunaan sunnah atau hadist nabi sebagai sumber hukum sedikit demi sedikit semakain rancu. Kerancuan ini bukan terletak pada fungsi dari sunnah itu sendiri tetapi lebih karena adanya sejumlah materi sunnah yang dianggap palsu, lemah atau diragukan kebenarannya oleh pihak-pihak lain.
Sementara satu pihak melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya sesuai dengan sunnah nabi, pihak lain menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan sunnah nabi. Tentu masing-masing memiliki alasan mengapa ia menolak suatu sunnah, sementara pihak lain menerimanya.
Itulah sekilas sejarah hadist yang sangat rawan dengan “pemalsuan”, lain halnya jika hadist ditulis secara tahap demi tahap ketika Nabi Muhammad masih hidup sehingga jika terjadi pemalsuan bisa langsung disanggah oleh Nabi sendiri. Nah catatan hadist yang ada sekarang ini, siapa yang bisa menjamin kebenarannya bahwa apa yang disampaikan itu betul-betul bersumber dari Nabi Muhammad? Dengan alasan-alasan itulah saya mengabaikan peran hadist terhadap penjelasan asbaabun nuzuul.
Untuk mencari refrensi asbaabun nuzuul, bisa menggunakan dari para orientalis yang kredibilitas ilmunya terhadap sejarah Islam cukup independen dan obyektif, seperti Ignaz Goldziher dalam bukunya berjudul “Muhammadenische Studien” terbit tahun 1890 M dalam bahasa Jerman.
Kemudian dari kalangan cendekiawan muslim ada beberapa nama yang cukup berani dalam mengulas hadist yaitu : Dr Taufiq Shidqi seorang berkebangsaan Mesir dalam tulisannya Al Islam Huwa Al Quran Wahdah (Islam hanya menggunakan Al Quran saja), Prof Dr Ahmad Amin dalam tulisannya pada buku Fajr Al Islam dan Dluha Al Islam, dan Dr Ahmad Zaki Syaadi dalam buku Tsaurah Al Islam.
Refrensi ini saya kutip dari buku GERAKAN ISLAM KONTEMPORER DI INDONESIA yang ditulis bersama-sama oleh Drs. Abdulaziz, Drs. Imam Tholkhah, Drs.Soetarman penerbit Pustaka Firdaus tahun 1989 pada halaman 148 s/d hal. 151. Metode mempelajari Al Quran dan Hadist seperti yang saya sampaikan di atas mudah-mudahan dapat mengantarkan kita pada pemahaman yang komprehensif atau menyeluruh tentang seluk beluk Islam.
Jadi kalau kita akan mempelajari Islam, pelajarilah budaya Arab pada saat dan sebelum Islam lahir. Sebab budaya yang ada pada saat itu akhirnya banyak yang terserap didalam Al Qur’an, entah sebagai hukum atau etika sosial.
Agama dan wahyu tidak pernah lepas dengan Tuhan. Sayangnya, para Nabi atau pemimpin agama tidak pernah memberikan banyak pilihan kepada manusia untuk menelaah tentang apa wahyu itu dan siapa sebenarnya Tuhan itu, mengapa manusia harus percaya terhadap wahyu? Bisakah wahyu dipercaya? Wahyu dan Tuhan adalah “dagangan” yang tidak boleh dicela dan dikrtitik. Kita tidak bisa tawar menawar,Dia harus dibeli atau tidak sama sekali.
Agama benar-benar telah membebani umat manusia, sehingga umat manusia dicekam oleh ketakutan-ketakutan yang luar biasa terhadap api neraka. Ketakutan itu akhirnya hanya membuat manusia terpenjara. Dalam ruang sempit itulah orang-orang beriman bicara dan berteriak tentang “kebenaran”. Padahal kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa diteriakkan dalam ruang sempit yang bernama “penjara rasa takut”. Bila kita ingin menyuarakan kebenaran, maka kebenaran itu membutuhkan tempat yang teramat luas. Apa sih kebenaran itu? Kebenaran hanya mungkin kita peroleh atau kita diskusikan manakala tidak terjadi “penjajahan dan penindasan terhadap pemikiran” antara satu dengan yang lain.
(Semarang, 29 Mei 1999)
Maret 12, 2008 at 3:04 am
Beh! Ada pencerahan di sini.
*belajar lagi*
Maret 12, 2008 at 10:44 am
cemerlang berani dan sekaligus perlu berhati-hati.. meski bukan hal baru.. hehehehehe… *mode sok tau sedang ON*
gagasan bagus.. lebih manusiawi melihat Qur’an..
Maret 12, 2008 at 4:28 pm
hati-hati mas, pendapat sampean tentang “tidak ada wahyu dari Tuhan, yang ada hanyalah proses pikir yang sangat kreatif dan futuristik dalam strategi pemenangan politik dengan menghandel nama Tuhan,” sangat berbahaya. Mungkin sebelum berpendapat dg logika2 yang mas berikan, lebih baik mas banyak mempelajari dulu buku2 tentang islam, terutama sirah nabawiyah, yang di situ dijelaskan, “Muhammad itu seorang Ummi — tidak pandai membaca, jadi mana mungkin alquran itu hasil pemikirannya sendiri. Selain itu Muhammad dijuluki al amin (orang yang tak pernah berbohong), ini julukan bukan hanya diberikan bagi orang2 yang simpati kepd beliau, tapi oleh semua orang saat itu dg berbagai latar belakang kepercayaan. Jadi mana mungkin tiba2 berani berbohong tentang wahyu alquran.
Dan satu lagi perlu diingat bahasa alquran cukup berbeda dg bahasa arab pada umumnya karena ada nilai sastra yg sangat tinggi dan tidak bisa ditiru oleh siapapun. Dulu ada org yang ditantang membuat satu saja ayat seperti alquran tetapi ternyata tidak bisa. Seandainya alquran buah pikiran muhammad semata, kenapa orang lain tidak bisa menirunya? bukannya muhammad seorang buta huruf dan orang2 saat itu banyak sekali yang lebih pandai sastra dan ilmunya dibanding muhammad? Apa bukti itu belum cukup membuktikan bahwa alquran memang wahyu dari allah yang disampaikan melalui perantara malaikat jibril kepada muhammad saw?
Terakhir kita jangan lupa, kenapa ada perbedaan ayat makiyah dan madaniyah? karena itu kebijakan allah swt. Orang2 mekkah saat itu kehidupannya benar2 kacau dan penuh dosa. Jika allah langsung menurunkan wahyu berupa ancaman tanpa toleransi, maka ajaran islam bukannya diterima malah ditolak. Setelah pelan2 ada toleransi dan masyarakt mulai mengenal islam baru allah menurunkan ayat2 yang lebih tegas. Jika anda seorang ayah jika mau mengajarkan ilmu matematika ke kelas 1 SD, apa bisa langsung memberikan pelajaran kalkulus untuk anak kuliahan? tentu tidak bukan? pasti anda mengajarkan pengenalan angka dulu, baru tambah2an, dst. Begitu kebijakan allah yang turun dalam wahyu alquran.
Semoga allah memberikan sll pintu hidayah ke kita semua. Aamiin.
Maret 14, 2008 at 7:27 am
Sebuah pemikiran dan penjelasan yang sangat RASIONAL, LOGIS. Dibutuhkan keberanian memang untuk menguak Sejarah turunnya Kitab Suci dari pakem-pakem yang selama ini saya anggap DOKTRIN, DOGMA dan PENGEBIRIAN serta PEMASUNGAN kreatifitas Akal dan Pikiran manusia-manusia yang memeluk agama dengan Nama Islam.
Hmmm…hmmm….
Makiyah dan madaniyah, dua tempat turunnya Ajaran KESELAMATAN ( wahyu ) buat manusia dari Tuhan melalui manusia yang TERCERAHKAN yaitu Muhammad bin Abdullah. Tetapi kenapa perbedaan karakter dari Ajaran tersebut sangat mencolok..?? Yah…nuansanya sangat berbau POLITIS dan KEKUASAAN. Itu merupakan hal yang sangat LUMRAH. Ibaratnya ketika kita menawarkan sebuah PRODUCT kepada konsumen
…pasti deh..gayanya penawarannya Lembut, Santun dan penuh senyum serta atmosfirnya tampak Damai…he..he..
Kenapa…?? yeee..klu gak gitu gak laku kan..?? Itulah gambaran saya terhadap Ajaran ( Ayat-ayat ) yang turun di Mekah. Lalu kenapa ketika di Madinah banyak Ajaran ( ayat-ayat ) yang sangat keras dan cenderung berbau DARAH…?? seperti Rajam, Pancung, Penggal kepala, Potong Tangan malahan ada dengan tegas isyarat ” Halal darahnya orang Kafir “.
Saya kadang termenung, Merenugi ayat-ayat ini.
Lantas sayapun bertanya pada Diri dan Tuhan saya sendiri…Heh Tuhan, Mungkinkah Tuhan di Arab sono itu :
– Membenci DIRI-Nya sendiri…??
– Menyiksa DIRI-Nya sendiri…??
– Mengazab DIRI-Nya sendiri…??
– Membunuh DIRI-Nya sendiri…??
Halah…halah…benarkah ( ayat-ayat keras ) ini Firman dari Tuhan yang SEJATINYA Tuhan..??. Ah….Tuhan kok RAJA TEGA banget yah…
Nggelesod…mendekap Tuhan ku dalam Kedamaian dan kasih Sayang
Maret 17, 2008 at 10:14 am
ha ha ha…
Mas Santri Gundul akal logikanya terpengaruh Al Hallaj yang berpendapat “bersatunya unsur jasmani-rohani dengan tuhan”. Mesthi aja puyeng..
Sehingga muncul tanya
mungkinkah Tuhan di arab sono
-Menbenci DIRI-Nya sendiri…??
dst
Ancaman masuk neraka, rajam, potong tangan itu wujud kasih sayang Allah agar orang-orang tidak berbuat durhaka, membuat kerusakan di muka bumi, mencuri, berzina dengan cewek atau istri tetangga dll.
Seperti kasih sayang pada anak kita kalau anak kita sedang sakit piliek, batuk flu misalnya;
Eh Tole kamu kalau beli es nanti tak jewer lho…
Begitu juga Allah sangat menyayangi hamba-hambanya, dan memang hambanya diwajibkan memusuhi setan.
Maret 17, 2008 at 10:41 am
Yaa Nabi Mumammad memang membawa ajaran Tauhid (Tuhan yang Maha Esa) tunggal, dan jalur yang dilaluinya ya lewat politik, akhlak, kemasyarakatan, kebatinan. Sehingga sepeninggal Muhammad memang tidak ada kekuasaan politik yang diwasiatkan, semuanya terserah pada masyarakat berikutnya tentu saja dengan mengingat-ingat nasehat2 sebelumnya. tetapi yang terpenting Ajaran Tauhid yang dibawanya itu, mulai dari nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi, Isa, semua pasti masih ada silsilahnya.
Pembelajaran tentang hadist (sunnah) memang mesti ada silsilah perawinya dan latar belakang perawinya.
Tugas Nabi muhammad memang untuk menyampaikan wahyu, mestinya Nabi muhammad orangnya pinter karena dapat membedakn antara wahyu dengan pikiran sendiri.
Pertanyannya kalau Quran bukan wahyu kenapa Quran sampai sekarang masih suci/murni tanpa perubahan walaupun kondisi masyarakatnya carut-marut?
Tentang terminologi kafir, kafir itu artinya kan membantah/tidak percaya. Ya kalau yang tidak percaya mesti digolongkan sebagai membantah/tidak percaya, bahasa arabnya kafir.
Ada pendapat dalam pemikiran demokrasi bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” bagaimana suara rakyat dari negara yang mengaku tidak bertuhan.
Suprayitno ini aneh, mempertanyakan Muhammad tapi malah menyuruh belajar agama Islam melalui kaum orientalis yang jelas-jelas memang awalnya untuk membantah Muhammad.
Akhirnya bagiku agamaku, bagimu agamamu.
April 1, 2008 at 8:57 am
btw pak tomi liat film dr blanda yg anti islam “FITNA”
menurut anda gmn?? .. bertentangan bgt dg posting njenengan… dia plajari quran sepotong 2 doank… hasilnya… huh seyemmm.. kekerasan smua… gila..
April 1, 2008 at 11:08 am
B
April 10, 2008 at 4:51 am
Disuatu kerajaan ada 5 bersaudara buta, tergerak oleh belas kasih ’Sang Raja’ mempekerjakan mereka diistana. Suatu hari mereka memohon pada Sang Raja untuk sudi mengajak mereka ke kandang gajah biar tahu binatang sperti apa gajah itu. Dan Sang Raja berkenan
mereka menginterpretasi gajah menurut perasaan mereka sendiri saat mencoba ’melihat’ gajah lewat rabaan. Yang tua memegang gajah pas ekor lalu menarik kesimpulan gajah itu seperti seutas tali, yang satunya meraba kakinya lalu berkesimpulan gajah seperti sebatang pohon palem, yang lain meraba telinganya menganggap gajah seperti daun lompong, begitu dg lain saling menarik kesimpulan sendiri berdasar anggapannya masing2.
Dasar orang buta,
Sang Raja lalu memberi mereka modal masing2 untuk wirausaha sebagai produsen kecap. euforia karena sudah ’mengerti’ gajah, mereka membuat kecap dengan merek gajah. Yang satu pakai merek Kecap No. 1 Cap Gajah *tapi Cuma ekornya*, yang satunya Kecap No. 1 Cap Gajah juga *tapi Cuma kupingnya*, idem dito sama yang lain.
Masing2 memproduksi Kecap No. 1 dg merek gajah tapi sejatinya cuma bagian tubuh dari gajah saja.
April 18, 2008 at 3:04 am
cari tuhanmu, dekati dia, sembahlah dia, pujilah dia, itu akan lebih menenangkan dibanding berbagi rasa yg orang lain belum tentu menemukan rasa yg sama…
dalam secangkir kopi, bisa ditemukan rasa yg berbeda bagi sesiapa saja yg meminumnya …
nikmatilah itu untuk dirimu sendiri … gak perlu diumbar dan diperdebatkan …
biarkan …
biarkan saja mereka yg tak paham nikmatnya kopi … nanti, saat mereka butuh, toh mereka akan mendatangimu untuk mencicipinya !
@ robusta apa arbika nih
April 18, 2008 at 3:06 am
lagipula, toh tak semua orang suka aroma kopi …
padahal aroma kopi mampu menetralkan semua wewangian !
@ akur banget
Mei 28, 2008 at 8:27 am
alah-alah.. anda ini hanya menyebar kebencian saja.. orang hidup kok senengnya cari ribut toch mas-mas kalau ga suka dengan suatu sistem ya udah ga usah cari ribut or sensasi dengan bikin tulisan yang ga mateng.. kalau berani bikin forum terbuka donk jadi biar keliatan siapa yang error..perbanyak lagi yach baca buku nya dan coba sedikit lebih objektif…ok
Juni 16, 2009 at 8:51 am
Untuk mengetahui bahwa Al Quran adalah suatu keajaiban dan merupakan wahyu Allah perlu kita pahami tingkat ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Arab pada saat Al Quran diturunkan. Pada abad ke 7 disaat bangsa Arab hidup dlm kepercayaan animisme, dinamisme dan keterbatasan Iptek, bagaimana mungkin bisa mengetahui bahaya Babi, bahaya perkawinan saudara/sedarah, dan proses penciptaan manusia dari pembuahan sampai kelahiran. Bahaya bagi baru diketahui pada zaman modern, dimana babi mrp tempat perkembangbiakan berbagai virus berbahaya dan menghasilkan variant virus baru. Pada masa itu mana mungkin manusia menyadari hal ini. Mungkin anda perlu melihat video harun yahya utk membantah anggapan bahwa Al Quran bukan wahyu Allah. Al Quran lah yg juga membantah teori Darwin dan didukung oleh IPTEK modern bahwa tiap makhluk hidup memiliki DNA yg berbeda-beda. Dan tdk mungkin DNA itu berevolusi atau berubah. Karena perubahan DNA menyebabkan cacat atau kematian pada mahluk hidup. Dan mustahil dari DNA kera dilahirkan sosok manusia.
November 28, 2009 at 3:31 pm
… sorga yang dibawahnya mengalir sungai ….
Di Bali dan banyak tempat2 wisata di Nusantara mengalir sungai2 yang bersih airnya dan indah. Sorgakah? Kalau di gurun pasir Arab Saudi ada sungai, maka benar2 seperti sorga … Mohon jangan, maaaf, text-book thniking ….
Januari 6, 2010 at 4:26 pm
Bisa ditambahkan sedikit secara garis besar al :
Periode Makkah, adalah penegakan dan pemurnian Tauhid(keimanan), dimana Islam menegaskan bahwa penyembahan terhadap Allah tidak dibenarkan melalui perantara patung berhala Latta dan Uza.
Periode Madinah(yastrib)adalah dimana umat menentukan eksistensinya sebagai sebuah negara dengan menegakan hukum islam yang disebut masyarakat Madani. Dimana aspek sosial dan politik dari sebuah pemerintahan ditegakan.
Adapun ayat-ayat madinah terkesan kejam karena memang saat itu umat islam menghadapi serangan-serangan fisik perlawanan terhadap musuh untuk mempertahankan eksistensi pemerintahannya dari serangan dan gempuran dahsyat musuh-musuh nya. Tentu perlawanan terhadap musuh tsb sesuai dengan perintah dan petunjuk Tuhan dalam Ayat nya sesuai dengan keadaan dan sebab musabab nya turun nya ayat(asbabun nuzul).
Keberadaan masyarakat islam di Madinah adalah penegakan Negara islam pertama dimana eksistensi Negara yang ditegakan oleh hukum islam. Islam di Madinah pun melindungi warga masyarakat non islam dan berada pada jaminan jiwa Rasulullah sebagai kepala negara. Tidaklah demikian seperti yang translate dari ayat dan difahami dengan mentah tanpa sebab bahwa orang kafir harus dibantai, sebab banyak pula orang-orang non islam(nasrani dan yahudi)yang berada pada perlindungan islam, karena mereka tidak mengganggu dan menyerang islam.
Perintah memerangi non islam hanyalah berlaku bagi mereka yang memerangi islam, dan hingga saat inipun pemerintahan islam di Makkah dan madinah tidak pernah memerangi non islam yang tidak mengganggu.
Kondisi yang demikian adalah mutlak terjadi pada negara manapun di dunia ini, dimana sebuah negara akan mepertahankan eksistensinya dari gangguan dalam maupun luar, sesuai dengan hukum yang berlaku dinegara tsb.
Akhirnya perjalanan sebuah negara Islam di Madinah menentukan berbagai aspek kehidupan sosial politik dalam hukum-hukum islam yang mengatur berbagai aktifitas sebuah pemerintahan dan masyarakat. Baik hukum antar masyarakat itu sendiri, antara sesama umat islam, sesama warga beda agama, hukum antar bangsa, hukum peperangan.
Adapun berbagai pandangan negatif tentang islam dalam konteks agama dan negara, saya kira sah-sah saja, toh tidak semua pemikiran orang itu harus sama. Ada yang setuju, ada yang menentang, tidak suka dan benci itu tergantung keadaan aqal fikiran dan hatinya.
Masalah apapun termasuk tentang islam, dalam penggalian dan memperlajarinya tentu harus kaffah menyeluruh, dari berbagai aspek keseluruhan sejarah bangsa-bangsa dan agama-agama langit khususnya (agama yang dibawa para Nabi). Dan satu lagi yang paling penting adalah dalam mempelajari Alqur’an diperlukan referensi ilmu-ilmu tentang tata bahsa Alqur’an, dimana Bahasa Alqur’an sangat berbeda dengan bahasa arab umum nya.
Mengenai susunan Alqur’an yang tidak sesuai dengan urutan turunnya wahyu, jelas dalam hal ini terdapat perbedaan dalam fungsinya. Wahyu yang tersusun dalam Alqur’an adalah merupakan sebuah kerangka yang menggambarkan sebuah KITAB SUCi yang telah utuh dan selesai dalam perjuangan sebuah agama.
Penempatan urutan surat dan ayat adalah suatu kelanjutan yang saling berhubungan antara awal surat dan surat-surat berikutnya sampai akhir, dimana surat awal “Alfatihah” (pembukaan) yang berhubungan dengan indivudu manusia, juga diakhiri dengan surat “an Nas” (manusia), tentang manusia juga.
Sedangkan turunnya wahyu adalah sesuai dengan keadaan pada waktu itu, dimana manusia di ingatkan tentang dirinya yang berasal dari segumpal darah yang diciptakan Allah. Selanjutnya turunnya wahyu adalah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam memecahkan masalah kehidupan pada waktu itu(asbabun nuzul).
Jadi kesimpulannya mempelajari Alqur’an diperlukan referensi dari berbagai aspek kehidupan manusia, dan dari berbagai sudut pandang, karena memang Alqur’an memberikan pengetahuan tentang hal tsb hingga akhir zaman. Selain penguasaan bahasa arab umum juga penguasaan bahasa sastra, dan tata bahasa, dimana tata bahasa sastra arab diperlukan perangkat perangkat ilmu lainnya, seperti halnya penyesuaian kalimat antara teks dan kontekstual sesuai dengan pokok nya, selanjutnya analogi perumpaamaan, dan keindahan suatu kalimat dalam bahasa sastra yang sesuai dengan keadaan.
Alqur’an hanya bisa difahami dengan ilmu dan bahasa Alqur’an juga, sehingga kita akan mampu memahami kalimat tsb ditujukan kepada apa dan siapa. Apakah ayat madinah yang artinya membunuh dan melukai adalah untuk semua orang yang tanpa sebab ???, saya kira perlu sebuah kebijakan dalam berfikir, tidak lah ayat itu sekonyong-konyong memerintahkan membunuh tanpa sebab. Dan tentu kita harus memehami pula sejarah (tarikh) pada waktu itu sedang terjadi hal apa ?.
Dan apakah ayat-ayat madinah yang berisi perintah perang dan membunuh berlaku untuk saat ini ?, saya kira keadaan nya pun berbeda, dulu islam sedang dalam proses penegakan, dan sekarang Islam dalam kondisi pemeliharaan oleh umat nya. Saya kira persoalannya dan kondisinya sangat jauh berbeda, dan apakah saat ini umat islam secara keseluruhan memerangi degan membunuhi non islam ?, saya kira tidaklah demikian, hanya orang-aorang yang bodoh dan dungu saja yang mengamalkan kebencian terhadap non islam, karena masih banyak cara untuk menegakan islam dengan keluhuran akhlaq.
Dan kalau memang islam hanya disorot pada ayat-ayat madinah yang konotsinya kejam, bukankah masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengamalkan islam dengan cinta kasih, maka kita tidak perlu alergi dan kebakaran jenggot untuk sejarah islam di era Madinah. Islam adalah fleksibel hukum akan berlaku sesuai dengan keadaan dan insiden nya, namun Alqur’an tentu akan memberikan solusi sesuai keadaan, dan tentu hal ini menuntut kwalitas umat nya sebagai SDM yang baik dan handal dalam menjalankan agama nya.
Saya kira pada agama-agama lainpun terdapat aturan dan sangsi bagi umat nya, tapi bila kita tak berada pada keyakinan tsb, apalah pedulinya toh hal itu bukan aturan keyakinan kita, bukan agama dan Tuhan yang diyakini oleh kita.
Mengenai Alqur’an adalah wahyu Tuhan, tentu hanya bisa diyakini oleh umat islam, selain umat islam tiada paksaan untuk meyakini Allah, Alqur’an dan Nabi Muhammad. Apakah Alqur’an itu wahyu Tuhan atau hasil pemikiran Muhammad ?, tentu hal ini tak lepas dari Aqal pemikiran Muhammad pula, sebab apa yang disampaikan oleh Muhammad bukan Alqur’an saja, ada hadits qudsi, dan hadits Nabi, dimana hal ini perlu kecerdasan (fathonah) dalam menyampaikannya, sedang Nabi Muhammad sendiri adalah seorang yang buta huruf tidak pandai baca tulis, apalagi merangkai kalimat bahasa sastra yang begitu indah dan tepat, sehingga para ahli sastra pada saat itu tak mampu menandingi Alqur’an, dan tak mampu membuat satu ayat pun.
Akhirnya mempelajari Alqur’an tidaklah semudah dan sepintas lalu saja, para ulama dan ahli kitab tidaklah mampu membedah Alqur’an hingga habis usianya, begitupula pada era Muhammad, tidaklah seluruhnya Alqur’an mampu ditafsirkan, hingga pada era tabi’ in yaitu pengikut para sahabat Nabi (generasi ke tiga) Alqur’an mampu ditafsirkan dengan ilmu-ilmu tata bahasa byang besumber dari Alqur’an pula.
Maka lahairhirlah ilmu-ilmu tata bahasa Alqur’an(nahwu sharaf), balaghoh( ilmu ma’ani, iilmu bayan, ilmu badi), demikian pula Alqur’an berkembang pada ilmu-ilmu lainnya yang berhubungan dengan sosial, politik, kesehatan, seni budaya, teknologi, yang dikembangkan oleh ilmuwan islam masa lalu, seperti halnya kedokteran,farmasi, matematik, logaritma, aljabar, fisika, biologi, musik, filsafat, mengembangan ilmu Trigonometri dan Geometri bola serta penemu table Sinus dan Tangen, juga penemu variasi dalam gerakan bulan, sosiologi, bibliografi, ahli ilmu kalam, ahli tasawuf, dll
Semuanya adalah ilmuwan islam yaang berhasil mengembangkan aqal fikirannya melalui petunjuk Alqur’an, dimana hasil dari karya mereka telah berkembang dan dikembangkan oleh semua bangsa hingg saat ini. Mereka mempelajari Alqur’an dengan maksud tujuan mulia dengn fikiran dan hati yang bersih dari segala kebencian kedengkian, sehingga menghasilkan karya-karya yanga bermanfaat untuk umat manusia.
Selanjutnya bagi siapapun kita dan kelompok golonagn serta agama apapun dalam memahami islam dan Alqur’an tergantung cara kita mensikapi nya, bila disikapi oleh aqal fikiran dan hati yang bersih maka hasilnyapun akan baik, tapi bila disikapi oleh kebencian dan kedengkian walaupun sebesar debu maka hasilnya akan buruk, dan akan melukai serta menyinggung perasaan.
Mampukan kita mensikapi Islam dan Alqur’an seperti mereka para Ilmuwan Islam ???, itu semua tergantung kepada niyat dan itikad dalam hati.
Wassalam
DERMA AKSARA
Januari 7, 2010 at 7:49 am
Wah terima kasih sekali Kang Olads yang telah sudi berkunjung ke blog saya & berkenan membagi pengetahuan.
Artikel diatas adalah karya teman kita yang sangat kritis Mas Prayit.
Kami dulu sempat mencari penerbit buku yang berani menerbitkan karya-karya Mas Prayit namun karena kesulitan & saya sendiri punya blog, maka seijin beliau saya memberikan tempat buat publikasi tulisan Mas Prayit ini lewat blog.
Artikel ini berawal dari sebuah diskusi mendalam antara para dosen IAIN & Kyai kampung di Semarang untuk mempelajari Al Quran sesuai konteks ketika wahyu ini diturunkan.
Dalam diskusi disepakati bahwa dalam memahami Al Quran memang harus faham tentang sejarah, budaya & bahasa tidak hanya mengimani saja secara dogmatis agama.
Saya sendiri bukan pelajar Al Quran, maka saya tidak kompeten untuk membahasnya, saya hanya belajar dari panjenengan semua termasuk Kang Olads tentang nilai universalitas wahyu Ilahi meski terkotak-kotak dalam Kitab Kering
Bagi saya, dalam mempelajari kehidupan Nabi saya jadikan acuan dalam berTRIWIKRAMA BUDAYA seperti artikel saya Tiga Langkah Dewa Wisnu Merevolusi Indonesia.
Sang Nabi memberi teladan yang hebat sesuai dengan Triwikrama Dewa Wisnu tersebut…mohon maaf saya memang sinkretis & sumangga kalu mau dibilang sesat…
Pertama pemuda Ahmad di Mekah telah terlebih dahulu melakukan Revolusi Kultur terhadap dirinya sendiri di era budaya jahiliyah
Lalu kedua dia melakukan perjuangan dengan mengadakan Revolusi Kebudayaan dengan hijrah ke Madinah
yang terakhir pada langkah ketiga adalah mendirikan Negara sebagai kekuatan hukum seperti yang disabdakan Engels bahwa Negara adalah Palu, yang mempunyai kekuatan memaksa
inilah yang saya sebut sebagai TRIWIKRAMA, tiga langkah Dewa Wisnu dalam merevolusi dunia. Ini yang seharusnya diteladani oleh bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita masyarakat adil makmur.
Muhammad adalah tiap diri kita atau boleh disebut sebagai Sabdo Palon Naya Genggong, manusia-manusia baru yang telah merevolusi kulturnya untuk mewujudkan Ratu Adil atau masyarakat Madani.
Masyarakat yang berkeadilan social yang tidak tersekat oleh kotak-kotak agama
Januari 7, 2010 at 11:01 am
wah kalo saya tidak mau komeng terlalu panjang2, bagi saya sendiri ya muhammad itu bener2 menerima wahyu/firman, sedangkan firman Allah itu itdak disekat ruang dan waktu, hanya saja aksesnya muhammad thd firman allah itu disekat ruang dan waktu.
mengenai keotentikan Al quran itu benar2 firman Allah atau hanya ide2 brilian Muhammad keknya sudah sejak dari dulu diperdebatkan tapi hanya dikalangan para sufi/ilmuwan…kalo saya pembuktiannya mudah saja dan ada di Qur’an, tapi saya lupa surat dan ayatnya kira2 begini “apabila kamu meragukan ayat2 Ku maka bersekutulah kalian jin dan manusia utk membuat tandingannya niscaya tidak akan mampu” dan terbukti banyak sastrawan arab tidak mampu membuat tandingan dari ayat2 Quran bahkan satu surat pun….maka dari itu diperlukan kerendahan hati untuk memahami Al Quran serta menjauhkan diri dari sifat2 kesombongan, kritis memang diperlukan tapi selama sifat kritis itu tidak bisa dibuktikan maka apa ya harus ngeyel dgn kekritisan kita? saya kira ini adalah sebuah tantangan yg terbuka bagi yg meragukan keotentikan Al Quran dan masih berlaku hingga sekarang…
mohon maaf sedulur2 kalo ada salah2 kata, apa yg saya sampaikan hanya sebuah omdo dan sangat jauh dari kebenaran sejati milikNya
Januari 8, 2010 at 12:37 am
Sepengetahuan saya yang sangat dangkal ilmu ini konon ada 4(empat) KITAB-SUCI yang diturunkan/diwahyukan Tuhan melalui para Nabi, yang semuanya didaerah Barat-Tengah sana.
Yang ingin saya tanyakan…Keempat KITAB2-SUCI itu bersumber dari Tuhan yang sama atau berbeda2…ya?!?
Dan konon…konon lho ini, ada firman Tuhan yang intinya bahwa Tuhan Menciptakan Manusia berSuku-Suku dan berBangsa-Bangsa.., dan masing2 Satu dari mereka dipilih dan diangkat menjadi UtusanNYA (Nabi) dengan Bahasa-Kaumnya…
Lha…jadi Para Utusan Tuhan semua ada berapa…dan (di)sebunyikan kemana, atau diabaikan begitu saja dianggap tidak ada atau bagaimana?!
Masa Utusan-Tuhan diabaikan begitu saja, sedangkan utusan-gubernur saja jika diabaikan…gubernurnya marah je…
Tapi mungkin Tuhan tidak marah karena Maha Rahman dan Maha Rahim
Ya ini sekedar angan2 saya yang super dangkal-pengetahuan, atas dasar kalau ada Nabi dg Kitab-Suci berbahasa Nuswantara ‘kan lebih mudah difahami/diresapi…
Mohon maaf bila ada yang keliru hrp diluruskan…
Salam…KITAB-SUCI
Januari 8, 2010 at 1:23 am
Mas Olads yang baik,
Ijinkanlah saya untuk sedikit menjawab atau melengkapi tulisan saya dalam METODE MEMPELAJARI AL QURAN.
Saat ini kita semua hanyalah sebagai “penafsir” dari apa yang ditinggalkan oleh Muhammad, dan apa yang ditinggalkan itu adalah berupa “sejarah”. Sejarah tentu tidak pernah “berbohong” tetapi kita juga harus ingat bahwa pencatat sejarah bisa saja berbohong demi kepentingan dirinya atau kelompoknya.
Biasanya “sejarah” selalu ditulis oleh pemenang. Jarang sekali sejarah ditulis oleh “pecundang” atau pihak yang terkalahkan. Mengapa? Sebab sejarah “perjalanan hidup” hampir serupa dengan “pertempuran” memperebutkan “kebenaran” dan “kekuasaan”.
Dalam setiap pertempuran, niscaya ada pihak yang dikalahkan dan satu pihak ada pemenang. Bagi pihak pemenang bisa menulis sejarahnya sendiri dengan berbagai alasan pembenaran tindakan heroiknya dan alasan-alasan pembenaran atas segala tindakan lainnya. Bagi pemenang tentu akan melahirkan banyak keuntungan diantaranya adalah pengikut yang setia.
Andai kita menjadi bagian atau pelaku sejarah yang pada saat itu bisa mengamati langusng secara objektif, mungkin kita akan bisa memperoleh gambaran yang jelas tentang siapakah Muhammad sesungguhnya, apa visi dan misi perjuangannya, mengapa Muhammad harus smenggandeng Tuhan dan Malaikat Jibril dalam perjuangannya dan bagaimana Muhammad bisa mengklaim bahwa dirinya telah mendapat wahyu.
Tetapi persoalannya, saya tidak yakin kalaupun kita terlibat langsung disana dan kita akan berpendapat apa adanya, katakanlah seperti jurnalis independent yang sedang meliput peperangan, nyawa kita tidak akan melayang. Jangankan terjadi pada saat itu, sekarang ini pun banyak terjadi ancaman pembunuhan terhadap para pengkritik.
Sejarah lahirnya agama atau Tuhan kan memang selalu begitu Mas Olads, Tuhan itu merangkak dari bawah, dari kolong kemiskinan golongan proletariat yang tertindas. Demikian juga agama Islam, coba kita buka surat Al Anfal ayat 26, ingatlah ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di Mekah.
Saya rasa jarang konsep Tuhan atau agama itu yang berasal dari para penguasa atau bangsawan yang notabene sudah hidup berkecukupan, makmur dan sejahtera. Kalau pun mereka akan melahirkan tuhan, maka tuhan yang dilahirkannya pun pasti Tuhan yang akan membackup kekuasaan mereka, bukan tuhan yang akan mengajari rakyat untuk berontak dan tuhan yang akan menolong rakyat kecil dari penindasan.
Makanya pada tahap awal perjuangan agama yang merangkak dari bawah, selalu bersifat ngelingke, memberi peringatan dan kabar gembira atau semangat optimistis bagi orang-orang melarat dengan penuh kasih-sayang dan kesabaran, tolerable dan apabila yang disasar golongan penguasa maka selalu menggunakan pendekatan bahasa yang sifatnya persuasive, tidak pernah frontal. Buka lagi Al Quranya surah Saba’ ayat 28 ‘Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan’. Surah ini sudah barang tentu turunnya di Makkah.
Tetapi, wajah asli dari agama yang sesungguhnya akan segera tampak, manakala agama tersebut telah menggurita dan mencapai komunitas yang signifikan untuk merebut kekuasaan. Wajah asli itu berupa kekerasan dan menghalalkan segala cara termasuk ‘memperkosa’ Tuhan untuk memberikan wahyu-Nya guna melegalkan semua perjuangan atau tindakan Nabi. Bahkan pembunuhan untuk orang-orang kafir yakni golongan yang menentang Nabi Muhammad, telah diambil alih oleh Alloh.
Firman-Nya ‘Maka bukan kamu yang membunuh mereka akan tetapi ALLOHLAH YANG MEMBUNUH mereka’ surah Al Anfal ayat 17.
Aku kira, Buddha tidak termasuk di dalamnya, sebab konsep ketuhanan Buddha tidak menempatkan Tuhan sebagai center of being melainkan lebih memusatkan pada dharma, sebab akibat.
Kalau penejelasannay Muhammad atau Alloh hanya membunuh orang-orang kafir yang menentang, maka bagaimans kita akan menjelaskan peristiwa perampokan dan pembunuhan di Badr kafilah dagang Quraish yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syiria menuju Makkah, rombongan pedagang itu dipimpin oleh Abu Sofyan. Coba saja kita pelajari casus belli atau peristiwa yang menjadi alasan bagi penyerangan itu benarkah karena alasan membela diri dari serangan Quraish? dan tolong bandingkan dengan perang yang sesungguhnya di the real war Uhud.
Saya paham dan dapat mengerti bahwa dalam konsep perjuangan sebuah ideologi, memang tak bisa dihindarkan adanya benturan-benturan, peperangan atau korban. Hukum itu bisa tegak hanya apabila dijalankan dengan tangan besi, barang siapa salah, barang siapa melawan perintah nabi dan Alloh, hukum harus tegas dalam mengadilinya, tetapi barang siapa yang mau bertobat pasti akan diampuni dan dilindungi, yang demikian karena sesungguhnya Alloh itu maha pengampun lagi maha penyayang.
Bisa saja kita membela Nabi Muhammad dalam hal penegakkan hukum, dan hukum yang dicita-citakan oleh Muhammad toh demi martabat dan kejayaan bangsa Arab.
Jadi kalaupun Nabi Muhammad terpakasa harus merampok, mungkin bisa kita membenarkan sepanjang tindakan itu demi perjuangan mewudujdkan cita-cita yang lebih besar. Apa boleh buat, korban pasti harus ada
Ya, saya pun sebenarnya tidak mempermasalahkan perampokannya, silakan merampok, wong merampok juga bagian dari tradisi bangsa Arab pada saat itu.
Yang aku masalahkan adalah mengapa tujuan politik dan kekuasaan seperti itu harus dibungkus atau dikemas mengatasnamakan Alloh? Ini yang justru membuat jutaan bahkan miliaran umatnya tertipu dan terjerumus dalam kesesatan berpiki
Ya, mungkin memang pada waktu itu khususnya di dunia Arab belum dikenal cara-cara yang demokratis, jadi pembunuhan terhadap orang-orang yang membangkang atau melawan nabi, menjadi pilihan yang paling efektif dan efisien, sebab saat itu mungkin saja belum ada penjara, atau kalaupun ada penjara juga akan sangat repot dalam mengawasi dan memberi makan bagi para narapidana
Namun, saya berpendapat itulah kejahatan paling fatal yang dilakukan oleh Muhammad, yakni mengatasnamakan Alloh dalam perjuangan ideologinya. Tidak ada hukuman yang berjenjang, pokoknya bagi kaum kafir yang menentang perangi atau bunuh saja.
Ya ayyuhal-lazina amanu qatilul-lazina yalunakum minal-kuffari wal yajidu fikum gilzah, surah At Taubah ayat 123. Atau apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) penggallah batang leher mereka, QS 47 ayat 4. Semua itu dilakukan atas perintah Tuhan.
Saya bertanya, Apa risikonya sebuah perjuangan yang memperkosa Tuhan untuk dijadikan senjata? Satu sisi Muhammad ingin membebaskan bangsanya dari kejahiliyahan, tetapi di sisi lain Muhammad telah melahirkan kejahiliyahan dalam bentuk yang baru. Bentuk baru itu adalah perang keyakinan dan perang kebenaran atas nama Tuhan, yang justru berlangsung hingga kini, bom bunuh diri dan terror adalah anak kandung yang lahir dari moncong senjata yang bernama Alloh itu.
Alloh telah diseret oleh Muhammad dalam bentuknya yang anti demokrasi dan cenderung psikopat. Seorang psikopat dapat melakukan apa saja yang diinginkan dan yakin bahwa yang dilakukannya itu benar. Seorang psikopat tidak pernah menunjukkan rasa penyesalan atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Ia dapat berbicara dengan sangat baik dan manis untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit, secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat tidak sama dengan gila atau skizofrenia karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya sering kali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”.
Dan tuduhan gila pada Muhammad terekam dalam surah Saba’ ayat 8 “Aftara ‘alallahi kaziban am bihi jinnah”. Apakah dia (Muhammad) mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh ataukah ada padanya peyakit gila? Surah Al-Mu’minun ayat 70 “Am yaquluna bihi jinnah,” pada dia (Muhammad) ada penyakit gila.
Aku tidak tahu apa pertimbangan Muhammad sehingga beliau memilih jalan pemusnahan atau pembunuhan terhadap kaum oposisi. Bukankah sesungguhnya banyak cara untuk mewujudkan sebuah ideologi? Misal, Ghazi Musthapa Kemal Ataturk tokoh nasionalis dan pemimpin Turki yang hidup pada tahun 1881 – 1938, dia telah menggusur Kekhalifahan Utsmaniyah dan kemudian mendirikan Turki modern yang memisahkan urusan agama dengan negara.atau yang lebih dikenal dengan nama negara sekuler. Kehidupan agama tetap diakui oleh negara, tetapi harus dipisahkan dari negara agar tidak dimanipulasi untuk kepentingan politik yang mengatasnamakan Alloh . Demikian sebaliknya, untuk menghindarkan terjadinya manipulasi politik untuk kepentingan agama. Prinsip negara secular lebih mementingkan urusan dunia atau pembangunan dunia. Ini sangat berbeda dengan sekularisme yang hanya mementingkan dunia sedangkan yang transcendental tidak ada, tidak mendapat tempat. Ketika mengintrodusir prinsip negara sekuler yang pertama dilakukan oleh Ataturk adalah membubarkan pengadilan agama pada tahun 1924.
Cara lain mewujudkan sebuah idelogi nir kekerasan ternyata bisa juga diwujudkan oleh Mohandas Kramchand Gandhi yang hidup pada tahun 1869-1948 di India. Gandhi adalah pioneer gerakan tanpa kekerasan . Dengarkan apa yang dia ucapkan pada hari Kamis, 15 Agustus 1947 , malam pada hari pembebasan itu datang di India beliau berkata ‘Berkumpullah bersama semua manusia dari semua agama, suku dan ras India dibawah satu panji dan pompakan semangat solidaritas dan persatuan untuk mengusir eksklusivisme kelompok dan sentiment-sentimen yang picik dan sempit’. Ada dua mantra sakti yang bisa dijadikan pegangan para pemimpin dimanapun yang menekankan perjuangan tanpa kekerasn. Kedua mantra itu aalah ahimsa dan satyagraha. Ahimsa adalah falsafah pantang menggunakan kekerasan dan satyagraha
Adalah aksi perjuangan yang tidak memakai kekuasaan.
Terakhir, setahu saya, Muhammad tidak pernah menggagas soal pendirian sebuah negara, apa itu yan disebut negara dan bagaimana cara mengelola sebuah negara. Apalagi berbicara tentang konsep negara Islam, negara Islam itu yang bagaimana?
Mohon jika tidak keberatan dan jika Mas Olads memiliki refrensi tentang konsep Negara Islam yang digagas oleh Nabi Muhammad, saya bisa diberi tahu. Terima kasih.
Wassalam
suprayitno
Januari 8, 2010 at 1:31 am
Untuk @mastono.
“apabila kamu meragukan ayat2 Ku maka bersekutulah kalian jin dan manusia utk membuat tandingannya niscaya tidak akan mampu”
Pertanyaan dari saya,
Setiap bentuk “pertandingan” pasti harus ada aturan mainnya, iya kan?
Nah, kalau ada yang mau membuat tandingan tentang ayat-ayat Al Quran itu kira-kira apa saja kriterianya Mas? dan siapa yang akan menjadi jurinya?
Kalau yang menjadi juri “Alloh” dan alloh itu seperti yang ada dalam keyakinan Muhammad, ya memang pastilah gak ada orang yang sanggup menandinginya.
Saya kira begitu logikanya mas, sederhana saja.
Suwun.
Januari 8, 2010 at 3:36 am
@mas suprayitno
gak ada aturan mainnya kok, bebas aja, seperti halnya menulis komeng di blog atau nulis artikel, siapa yg menilai? ya diri sendiri, ini bukan masalah benar/salah, jahat/baik, kafir/tidak kafir…ini hanya masalah introspeksi diri, kalau saya pribadi mengusahakan mengintroskepsi diri dengan menulis di blog, bukan sebagai sarana utk menandingi kitab2 suci karena saya tahu kemampuan saya sangat jauh utk menandingi itu tapi sebagai sarana melihat diri sendiri “murid, gurune pribadi…guru, muride pribadi” ….apabila kita bisa maka kita akan merasakan betapa kecilnya kita ini bahkan dengan teman2 sesama blogger pun saya merasa tidak bisa apa2, merasa bodoh dan minder melihat tulisan2 mas tommy, mas prayit, mas sabdo, mas lambang, mas wong alus dll…..
jadi yg saya maksud bukan diadu antara kitab suci dgn “kitab” karangan kita, sudah bukan saatnya kita nandhing sarira terus menerus, tapi mestinya kita bisa mawas diri mulat sarira sari rasa tunggal hangrasa wani…buto cakil
hanya urun rembug mas prayit…kalo ada salah2 kata mohon dimaafkan
mas tomyaja bisa berkata “bener kowe luput aku” kepada arjuna di perang kembang……melihat kedalam untuk melihat keluar….Januari 8, 2010 at 4:44 am
Mas Ton yang baik,
kalau saya sih jelas tidak akan menandingi ayat-ayat Al Quran, saya cuma mengajukan pertanyaan kembali dari ayat yang panjenengan kutip itu.
kan kata ayat bagi yang meragukan disuruh membuat ayat tandingan, katanya niscaya tidak bisa.
Nah, saya kan cuma nimpalin saja. Andaikata ada yang pengin menandingi ayat al quran, terus aturan mainnya gimana? yang menentukan aturan main itu siapa, terus jurinya siapa? kalau mau diadu soal estetika bahasa misalnya, siapa yang berhak menentukan “Oh ini lebih bagus, oh ini kurang bagus”.
Mengapa ayat al quran kok tidak bisa ditandingi, apa alasannya? sudut mana yang tidak bisa ditandingi?
jadi saya ini tergolong makhluk yang bodoh, makanya saya ini kan lebih banyak bertanya.
gitu penjelasannya mas.
tk.
Januari 8, 2010 at 5:54 am
UNTUK BAHAN DISKUSI
Mengapa kita mesti harus beragama? Apakah tanpa agama kita tidak bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Sebaliknya apakah dengan agama menjamin seseorang pasti bisa menjalani kehidupan ini dengan baik? Siapakah sebenarnya yang membutuhkan agama, manusia atau Tuhan? Jika Tuhan butuh agama, maka agama apa yang dianut-Nya? Lalu, faktor terpenting apakah di dalam hidup ini yang berperan besar terhadap tingkah laku manusia sehingga seseorang itu menjadi lebih beradab, lebih menghargai sesama hidup. Bagaimana sesungguhnya manusia bisa menemukan Tuhannya, apakah harus dicarikan orang lain melalui pintu agama, atau bisa mencari sendiri?
Aku amati, selama ini banyak manusia memperlakukan Tuhan seperti binatang buruan. Mereka ramai-ramai berburu Tuhan siang dan malam, sepanjang hari tanpa jeda. Tuhan diburu sampai di sarang-Nya yakni di Mekkah yang bersembunyi di balik kotak yang bernama Ka’bah, sambil berteriak mereka mengucapkan Ya Alloh aku datang memenuhi panggilan-Mu, seru mereka.
Sebagaimana orang berburu yang biasanya dilengkapi dengan tombak, panah, perangkap, atau senjata lain maka berburu Tuhan pun dilengkapi berbagai senjata, dari mulai tata cara bepakaian, tata cara membuat tempat ibadah, tata cara memerangkap Tuhan dengan aneka persembahan dan mantra-mantra. Dari semua senjata itu, ada satu senjata yang paling ampuh yakni iman.
Dengan keimanannya, mereka saling klaim telah berhasil menangkap Tuhan dan memenjarakannya dalam sangkar emas. ‘Pengumuman…pengumuman, inilah Tuhan yang paling sempurna, inilah Tuhan satu-satunya yang akan menunjukkan jalan keselamatan dunia dan akherat, barang siapa mengingkari Tuhan kami, maka siksa Tuhan sungguh sangat keras’ begitu teriak mereka.
Pertanyaannya, benarkah mereka telah berhasil menangkap Tuhan?
Aku berkeyakinan bahwa tak seorang pun di dunia ini yang bisa menangkap Tuhan secara utuh. Ibarat binatang buruan, maka yang berhasil mereka tangkap hanyalah jejak-jejak langkahnya dan aromanya.
Jejak langkah dan aroma Tuhan, memang bisa kita telusuri melalui berbagai keteraturan, keajaiban dan fenomena di alam semesta ini.
Tetapi, sosok Tuhan itu terlalu agung, terlalu suci, terlalu tinggi untuk bisa digapai dan dikuasai oleh seseorang, atau kelompok orang yang mengatasnamakan agama apapun.
Kita tak perlu berburu Tuhan, tetapi yang terpenting justru marilah kita berburu atau berlomba untuk berbuat kebajikan di atas bumi ini, sebab jejak Tuhan ada dalam kebajikan-kebajikan itu sendiri. Menurut keyakinanku, barang siapa telah berbuat kebijakan maka dia telah berbuat di jalan Tuhan. Tidak peduli siapa pun dia, beragama atau tidak orang itu. Sebaliknya, barang siapa telah berbuat kejahatan dan kerusakan di atas bumi ini, maka dia telah melakukan perbuatan yang mengingkari jalan Tuhan. Tidak peduli apakah orang tersebut beragama atau tidak.
Menurut Islam pun, cara mengukur orang yang beriman disamping apabila disebut asma Alloh akan gemetarlah hati mereka, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, akan bertambahlah iman mereka dan orang yang mendirikan sholat kemudian selalu diikuti perintah untuk menafkahkan sebagian rizkinya, itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, lihat surah Al Anfal ayat 1 sampai 4.
Jadi intinya, ukuran orang yang beriman itu tetap menitikberatklan pada perbuatan kebajikan yakni menolong kepada yang lemah dengan segala keikhlasan. Melakukan ibadah sholat saja tanpa diikuti dengan tindakan kasih sayang terhadap yang lemah, bukanlah ciri-ciri oarng yang benar-benar beriman.
Sedangkan ukuran sesat atau tidak sesat dalam berkeyakinan, sebenarnya ada ukuran yang mudah untuk menentukannya. Apa ukurannya? Ukurannya adalah apabila dengan keyakinan itu seseorang menjadi lebih baik tingkah lakunya berarti oang tersebut ada pada jalur atau track yang benar (on the right track). Tetapi jika dengan kepercayaan atau keyakinan itu orang tersebut menjadi lebih jahat prilakunya, maka itulah yang dinamakan aliran sesat.
Jadi sesat atau tidak, menurutku ukurannya adalah tingkah laku. Persoalan menjadi tambah runyam ketika pengertian sesat telah dibajak oleh kepentingan politik yang berselimut agama. Sebab, akhirnya yang berbicara bukan persoalan akidah semata melainkan sudah dimuati dengan unsur-unsur kekuasaan.
Syariat dan tata cara beribadah boleh saja berbeda, tetapi sepanjang akidahnya sama yakni ketuhanan yang maha esa dengan menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, saya rasa tidak perlu digempur dengan tuduhan aliran sesat.
Bila kita mau jujur, Muhammad saja telah mengadopsi berbagai ritual dan kepercayaannya dari agama lain. Misal, ibadah haji, asal-usul ibadah haji itu kan sudah ada jauh sebelum Islam lahir, meskipun sebelum Islam, yang melakukan ibadah haji adalah golongan paganis atau penyembah berhala. Kemudian soal ibadah puasa, itu kan juga berdasarkan umat sebelum kamu. Soal daging babi kharam dan soal khitan atau sunat itu murni ajaran agama Yahudi. Dalam sejarah Yahudi, pernah seorang raja Seleucid yang bernama Antiokhus IV sekitar tahun 170 SM, ia bertekad memusnahkan agama Yahudi dengan tuhannya Yahweh dan menghentikan adat khitan dan ketaatan terhadap aturan-aturan mengenai makanan termasuk daging babi.
Sejarah periode ini diturunkan dalam kitab Makabe yang pertama. Bab pertama meriwayatkan bagaimana Antiokhus memberi perintah bahwa semua warga kerajaannya harus menjadi masyarakat yang bersatu, dan membuang berbagai peraturan adat mereka diantaranya bahwa mereka harus mencemari hari Sabat, mempersembahkan kurban daging babi dan membiarkan anak-anak mereka tidak dikhitan. Semua yang tidak patuh dihukum mati. Cerita ini ada di buku History of Western Philosophy penulis Bertrand Russel, 1946 terjemahan P.423.
Jadi, ajaran-ajaran Islam yang dibawakan oleh Muhammad bukanlah murni gagasan dari beliau, sehingga apabila ada umatnya yang ingin meneruskan gagasan Islam dengan pembaruan, aku kira tidak boleh serta merta di cap sebagai sesat yang harus diberangus atau dimusnahkan.
Bagaimana Islam harus diperbarui dan bagian mana yang mesti harus diperbarui dan mengapa perlu pembaruan? Ini pasti menjadi diskusi yang sangat menantang bagi para ahli agama Islam. Apakah kita lebih baik hanya mencukupkan diri dalam beragama seperti yang sudah-sudah? Atau kita akan merekonstruksi sebuah keyakinan menjadi lebih progresif? silakan berdiskusi.
Matur suwun silakan dilanjut.