Dalam suatu momen intens yang dahsyat di Gua Hira, Muhammad mengalami kehadiran ‘sesuatu’ Yang Maha Lain. Tremendum et Fascinatum melingkupi seluruh keberADAan diri.

“Bacalah wahai Muhammad!!”

Gemetar dalam takjub & ngeri Sang Pencari insaf akan keterbatasan diri.

“Aku tidak bisa membaca…” Bagaimanakah keterbatasan manusia sanggup menjelaskan Yang Tak Terbatas? Mungkinkah keterbatasan bahasa mampu mengungkapkan Sang Hidup? “Aku tidak bisa membaca…” sebuah ungkapan kesadaran! Samasekali bukanlah tentang melek atau buta huruf, Namun adalah pembacaan akan Hidup, pembacaan yang melampaui teks, pembacaan dengan penekanan pada gairah total akan Hidup sebagai Kebenaran Keseluruhan yang tak akan mungkin dibahasakan, melampaui pengetahuan & tak terjemahkan.

Membaca… adalah suatu religiositas hidup *religius berasal dari relegere (membaca ulang) & religare (menyambung kembali)* Religiositas hidup yang selalu berbenah diri, penyatuan hal yang terpisah secara terus-menerus.

Tiada pernah tercapai finalitas definisi, suatu ’Kebenaran Tunggal’ yang terlepas dari hadirnya ’Yang Lain’.

———————

“Bacalah wahai Muhammad!!”

Bacalah selalu karena manusia adalah makhluk subjektif yang penuh kemajemukan. Akan selalu tersingkap ’Kebenaran Yang Lain’. Dan dari situlah, melalui perjumpaan dengan ’Yang Lain’, manusia yang imanen bisa mentransendensi dirinya, melebur dalam ketidakterbatasan.

Meski hanya setetes tinta yang tertulis menjadi Kitab dibanding dari seluruh luas samudra, ’Yang Lain’ akan terus menyatakan diri dalam Pembacaan di sepanjang perjalanan hidup.

Dalam peristiwa sehari-hari…..

Dalam perjumpaan dengan orang lain…..

———————

Dalam Purnama Kesadaran,

Sang Nabi tersenyum,

Rasul adalah Sejatinya Rasa,

Utusan Sang Hidup,

Untuk selalu berjumpa dengan ’Yang Lain’,

Dan manusia-pun hadir……

Sebagai Rahmatan Lil Alamin