Wejanganipun BAPAK (Badan Asli Pambudidaya Amal Kebutuhan) mengeti dinten Riyaya Qurban

Bismillahirrohmanirohim,

Allahumma ya dayanu waya qowwiyal ardhi waya karimu antakhfadlona man anzalna bil khaqi ya rohmanu ya rohimu ya mannanu ya khannanu
ya Allah ya Allah ya Allah ya Robalalamin Amien

Doa Ibrahim

 

Anak-anakku tercinta, aku kumpulkan kalian malam ini untuk bersama-sama melakukan kebaktian kepada kedua orangtua kita Ayah & Ibu.

Dalam agama-agama besar, ayah & ibu mendapatkan tempat yang sangat terhormat & mulia.

”Hormatilah Ibu Bapamu!”’ demikian salah satu Perintah Allah dalam Taurat Musa.

”Surga ditelapak kaki ibu”, pun sabda Rasulullah dalam sebuah Hadits.

’Menghormati & mencintai kedua orang tua kita’…….tidaklah sekedar mengenang & membalas jasa mereka. Namun lebih dari itu menuntut kesadaran & sikap hidup kita akan nilai2 kemanusiaan, penghargan bagi semua manusia. Meski terdengar utopis harus disadari bahwa kita semua adalah ’Saudara’.

Namun begitu dalam realita hidup umat beragama, terutama dalam agama2 Ibrahimi, banyak sekali terjadi bunuh-membunuh antar saudara.

Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat & Jerman Timur telah lama runtuh, menyatukan kembali satu bangsa yang terpecah oleh ideologi.

Namun akankah kiranya, TEMBOK JORDAN yang dibangun dari kebengisan hati manusia, yang telah memisahkan anak2 Ibrahim dapat diruntuhkan ?

Menghormati & mencintai orang tuakah kalau selama ini kaum beragama selalu ’munjung geni sawuwungan’ kepada Ibrahim ayahnya sendiri? Selalu menumpahkan darah saudaranya demi kejahatan nafsu yang selalu dijelmakan sebagai kebenaran2 yang absurd?

—————–

Anak-anakku, disini kalian aku kumpulkan bersama menikmati hidangan ’kembul bojana andrawina’.

Kamu yang muslim, kamu yang nasrani, kamu penyembah patung & kamu hei bocah urakan, saat makan daging kambing & minum teh bagaimanakah rasanya? Bukankah berasa sama? Daging kambing ya rasanya seperti itu, juga air teh memiliki rasa yang sama tidak berubah meski agama kalian berbeda.

Begitu juga akan HIDUP, meski kalian beri berbagai macam nama seperti Allah, Yahwe, Tuhan, Ingsun, Urip, Hyang Manon dsb. Sejatinya tetaplah sama. Karena bila Rasul adalah utusan Allah, maka RASA adalah utusan Hidup.

Dari Hiduplah maka RASA ada, lalu manusiapun berpikir akan ADA.

Apapun penamaannya, saat RASA telah tercerap, saat makna yang ada pada kta telah tertangkap, semua kata menjadi mati & tak diperlukan lagi.

———————

Kembali kepada kebaktian akan orang tua.

Beda orang hidup & orang mati adalah pada RASA. Bukanlah orang hidup kalau RASA sudah mati. Saat tak mampu lagi merasakan kehadirean orang lain sebagai manusia apalagi sebagai saudara. Sungguh sejatinya ia adalah mati, ’bathang angucap jisim lumaku’, hanyalah zombie saat RASA telah mati. Meski sejauh itu ia masih jugha meng-claim diri sebagai pemegang kebenaran yang sejati dengan mengobral ayat2 suci (kata2 mati yang telah kehilangan makna).

Leluhur kita memberikan penghormatan kepada kedua orang tua sebagai ’Pancering Urip & Lajering Allah’.

Karena dari merkalah, dari pertemuan RASA merekalah maka kita ADA.

Siapakah yang pertama kali kau temui saat kau lahir di dunia ini? Apakah Yesus atau apakah Muhammad? Bukankah mereka berdua, orang tua kita Ibu & Bapa yang pertama kali kita temui saat lahir di dunia ini?

Dengan kembali ke kesadaran ini juga sejalan dengan Hari Raya Qurban, mari kita melakukan Qurban yang sejati : menghancurkan penjara hati kita yang telah membelenggu kita dengan kebenaran2 relatif yang semu, membebaskan diri kita dari ’mendem Qulhu klelegen Salib’.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri hormat & cinta kepada Ibu Bapa dengan kepedulian akan sesama, menegakkan nilai2 kemanusiaan. Menjadikan diri kita masing2 sebagai Ibrahim masa kini yang akan mendamaikan kedua anaknya yang terus saling berbunuhan. Semoga runtuhlah Tembok Jordan, tembok egoisme & kejahatan nafsu manusia itu.

Kita bukan Kumbakarna atau bangsa kera pimpinan Sugriwa yang terobsesi melakukan peperangan demi kebenaran yang relatif, demi kultus individu yang tak masuk akal & demi kebohongan2 yang senantiasa dijelmakan sebagai Sinta dalam kisah Ramayana

—————–

Ah aku sudah terlalu banyak bicara, ayo teruskan lagi menikmati hidangan yang masih tersisa.

Biar aku yang sudah tua ini ura-ura macapat Dhandhanggula;

Babaring Gesang wujud dumadi

Anggelar sawernaning agama

Mrata para umate

Tumeka wancinipun

Pra umat ngungkurna agami

Kang isih ngrasuk agama

Tan wruh kang satuhu

Amung nyekeh srengat

Sunyataning agama tan urip ning ati

Ngrasuk blongsong kewala