Dag Hammersjold berkata,

“Terima kasih untuk semua yang telah berlalu

terjadilah yang akan terjadi

ya, aku terima”.

Kuandaikan ruang kosong dalam otakmu butuh sesuatu yang disebut Tuhan. Jadi setiap ada kekosongan dalam dirimu kau melarikan diri kepada Tuhan.

Ia telah menjadi semacam pelarian bagi jiwamu, semacam ekstasi yang kau butuhkan saat kau mengerut dari kenyataan.

Lalu kau puja dengan mengatakan “Aku mencintaiMu Tuhan lebih dari apapun di dunia ini”.

Kutanya bagaimana caramu mencintaiNya? Ia tak seperti manusia yang dapat dilihat, didengar atau disentuh. Ia bukan seorang pribadi sebagaimana kita mengerti arti kata ini. Karena Ia hanya persepsi / angan2 pengisi ruang kosong. .

CG Jung menjelaskan dalam Imago Dei, imaji mengenai sosok Tuhan yang tertanam dalam jiwa tiap manusia. Mendorong manusia untuk menempatkan entitas tertentu sebagai kekuatan yang berada di atasnya. Saya beranggapan agama cuma pelarian manusia saja yang tak berani mengambil tanggungjawabnya atas hidupnya sendiri
lalu coba mencari pemaknaan suatu entitas lain yang jauh lebih berkuasa dari dirinya, sebut aja Tuhan
Bagiku (jangan percaya..), mencintai Tuhan dengan seluruh hati berarti dengan seluruh hati mengucapkan kata ‘YA’ kepada kehidupan & segala peristiwa yang terjadi didalamnya, menerima tanpa syarat segala sesuatau yang direncanakan Tuhan dalam hidup ini, mengambil & membuat keputusan akan hidupnya & bertanggungjawab penuh atas keputusan hidup itu
Maka Tuhan akan benar2 hidup di hati, dengan kata lain kita benar2 mengalami Yang Illahi, bukan sekedar suatu entitas diluar sana atau ruang kosong dalam benak yang jadi tempat kita membuang tanggungjawab karena tak berani menghadapi HIDUP

Mari kita ambil tanggung jawab itu. Jangan Tuhan diseret-seret sekedar untuk menutupi ketidakberanian kita bertanggungjawab atas hidup,

pembenaran akan ketidakmampuan kita mengelola nafsu.