”urip iku satuhu,
nggawa reng-renganing Hyang Widhi,
kodrat datan anyidra,
marang Kersa Agung,
lamun wus tumekeng mangsa,
geguritaning Gesang mbabar dumadi,
laksita madyapada”
Ada hal-hal dalam hidup yang tak bisa kita kendalikan seturut kehendak kita, seperti kelahiran & kematian.
Takdir telah ditentukan atas hidup kita, namun tetap tersedia banyak pilihan untuk kita menjalaninya.
Apa yang terbuka bagi nasib ialah apa yang kita pilih untuk kita lakukan sepanjang perjalanan itu.
Memang kita tak dapat mencederai keabadian,
Namun kita dapat melawan nasib.
Takdir tidak untuk diratapi tetapi perjalanan hidup harus tetap & akan selalu dihargai.
Menghargai kehidupan……….
Sesuatu yang ingin kumintakan pendapat dari Anda sekalian.
Anda punya waktu tidak terbatas untuk membagikannya
Januari 21, 2008 at 8:01 am
Menghargai kehidupan selalu menuntut pengorbanan ontologis kita, karena mustahil untuk menghargai kehidupan di bawah kondisi-kondisi yang tidak memberikan hasil bagi semua, yang tidak memungkinkan bagi semua orang untuk menikmati buah dari perjuangan dan kerja mereka
Selama orang lain menderita, perayaan terasa hampa
Tapi ketika perjuangan kolektif menang, ini akan menjadi sebab lahirnya kegembiraan
Januari 21, 2008 at 1:34 pm
Ah, memang takdir tak bisa dilawan, karena ia hadir setelah kejadian berlalu.
Yang perlu kita ubah adalah nasib, dan Tuhan memberi keleluasaan dalam do’a dan keyakinan..
Dalam do’a kita lakukan tawar menawar dengan Tuhan untuk apa yang belum terjadi pada diri kita kemudian..
Januari 22, 2008 at 8:45 am
jadi ingat petuah ki suryo mentaram, urip mono sakcukupe lan sakbutuhe. *lanjutannya ndak ngerti, hehehehehe
* barangkali memang perlu diberikan garis pembeda yang tegas antara nasib dan takdir. Bisa jadi nasib manusia bisa diubah sesuai dengan apa yang telah difirmankan Tuhan. Namun, garis takdir, memang hanya Tuhan yang berkuasa atas segalanya. manungsa amung bisa mbudidaya lan ndedonga. *maaf, halah sok tahu nih pak tomy *
Januari 23, 2008 at 5:49 am
Orang2 dg kemampuan hebat kadang meraih sukses cemerlangkarena mereka tidak tahu kapan MENYERAH.
kebanyakan orang SUKSES karena mereka bertekad untuk sukses
Januari 24, 2008 at 2:20 am
..kesia-siaan..
Semua adalah kesia-siaan, seperti usaha menjaring angin kata Pengkotbah di Alkitab
Ya semua adalah sia-sia tatkala hidup kita menjadi ’pemburu’ &’ yang diburu’
Kita tercerabut dari akar kehidupan kita, tak mengenali lagi siapa diri kita
Kita hanyalh produk ’manusia unggul’, ’manusia ulung’ yang dibentuk dari cetakan yang presisi ”zero tolerance”
Yang hanya dilihat sebagai fungsi, sebagai alat, bukan sebagai diri kita.
Yang tak sesuai dengan cetakan adalah ’barang reject’, terkutuk yang hanya akan berakhir sebagai limbah
Sungguh hidup yang tak layak dijalani
Kita adalah manusia MERDEKA
Roaring like a tiger
Soaring like an eagle
Howling like a storm
Hidup bersifat bisa diselami
Kita harus punya keyakinan bahwa akan selalu ada penunjuk jalan
Tiap langkahmu, tiap situasi, mencerminkan batinmu, & karenanya memiliki nilai spiritual
Yang harus dilakukan adalah berada disana
Mendengarkan dengan hati
Menanggapi dengan kebijaksanaan & keahlian
& hidup akan menjadi sebuah proses menulis puisi
Januari 25, 2008 at 8:41 am
Halah….halah…Kang Tomy
sekarang kok jadi penulis FILSAFAT…lah..lah…
Jangan-jangan Khalil Ghibran MANJING lan MANITIS….
Hu…huuueeee…kabur…takut di JITHAK…..sambil ngedumel…
Hoooiiiiihh…Bukankah TAKDIR itu merupakan sebuah rencana-rencana kecil yang sudah tersusun sebelumnya…??? Siapa yg menyusun…??
Yah…DIRI ku…DIRI mu dan DIRI kita sendiri….!!. Siapa bilang klu JODHOH adalah TAKDIR…?? Bukankah itu sebuah PILIHAN…??.
Lah…klu NASIB gimana…?? Lah…Nasib lagi njenguk P.Dhe Suharto…ha..ha…mabuuuuuurrr…tinggi tinggi sekali
Januari 3, 2009 at 10:07 pm
Menurut saya.Takdir dan nasib itu sama tapi tak serupa.Dan keduanya bisa diubah.Bgaimana caranya.
1.bersyukur
2.intropeksi diri stiap saat
3.percaya kepada hukum sebab akibat
4.lalu kita jelaskan kepada org lain ttg hukum sebab akibat
5.mencetak kitab suci
dan banyak lagi,
Trim’s semoga semua makhluk berbahagia