“Begini Mbah, kemaren waktu libur saya berkesempatan untuk berwisata budaya mengunjungi Kraton Yogya. Ada satu hal yang cukup mengganggu saya waktu disana Mbah, saya mendapat gambaran ada banyak sangkar burung namun sayangnya tidak ada satu burungpun di dalamnya”

“Hehehe…… memang itu yang harus terjadi. Burung dalam sangkar para raja adalah perkutut, sebagai symbolisme Wahyu.
Kraton sekarang telah kehilangan perkututnya, kehilangan wahyunya. Wahyu Kraton selama ini dianggap sebagai Wahyu Keprabon , wahyu yang dimiliki oleh para raja sebagai pemimpin umat tiada bedanya dengan wahyu yang diimani dalam agama, wahyu sebagai anugrah untuk manusia terpilih sekedar klaim atas pencapaian diri.
Pengertian wahyu seperti ini yang sejatinya harus dibongkar & dimaknai ulang. Pewahyuan adalah pengungkapan segi terdalam dari manusia. Ketika ia melihat kedalam diri, kesejatian dirinya disingkapkan itulah Wahyu.” (lagi…)

Spirituality means waking up. Most people, even though they don’t know it, are asleep. They’re born asleep, they live asleep, they marry in their sleep, they breed children in their sleep, they die in their sleep without ever waking up. They never understand the loveliness and the beauty of this thing that we call human existence.

Setiap manusia lahir membawa kepentingan, tak perlu melahirkan jenius psikoanalisa baru lagi untuk itu.
Kepentingan, yang dibawa manusia dalam kaitannya sebagai makhluk social ini bermuara menjadi dua aliran besar, yang satu kepentingan yang mengabdi kepada diri sendiri ataupun kelompok, sedang yang lain adalah kepentingan yang mengabdi pada keseluruhan umat manusia sebagai satu kesatuan social.

Pernyataan dari kepentingan–kepentingan itulah yang disebut ideology, dimana membutuhkan instrumen untuk mewujudkan tujuan dari kepentingan tersebut, yang disebut dengan politik.
Dalam politik inilah kepentingan dikemas dalam nilai-nilai ideal & ilahiah. Sehingga lahirlah apa yang dinamakan Hikmat, Kebijaksanaan, pula Keimanan yang membentuk aparatus pencapai tujuan dalam kelembagan yang disebut agama.

Ah, sebentar … mungkin bagi Anda pernyataan ini terdengar sangat merendahkan agama. :D
Karena bukankah agama tidak lahir dari kepentingan manusia? Namun adalah Wahyu Ilahi … sapaan & ajakan Tuhan bagi manusia untuk menerima undanganNya yang akan mempermuliakan hidup manusia. :D
Boleh saja… bukankah kemuliaan hidup manusia yang dari Tuhan, juga adalah bentuk kepentingan manusia yang memperoleh nilai idealnya? Kepentingan akan sebuah kebutuhan fungsi psikologis yang membebaskan diri dari rasa takut bahwa semuanya tidak berarti dan sia-sia?

Sumangga… silahkan saja apapun pendapat kita masing-masing. Asal ada kejujuran yang sungguh-sungguh dalam diri. Sebab nilai kehidupan kita bukan terletak dari keyakinan, ‘pandangan umum’, yang diindoktrinasi dan diinternalisasi sejak kecil tanpa ada refleksi dan testing kritis tentangnya.
Dan saya tak hendak memperdebatkan hal itu. Lewat tulisan ini saya hendak mengajak Anda melakukan refleksi kritis mengenai kemanusiaan kita.

Kembali lagi ke politik, pernyataan kepentingan yang remeh-temeh seperti berebut tempat untuk buang hajat pun bisa mendapatkan nilai idealnya. Baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan.
Ambil contoh, ekploitasi alam tanpa batas yang tak mengindahkan kelestarian alam memperoleh pembenaran dari ‘Sabda Tuhan’ yang telah menyerahkan dunia kepada manusia untuk dikuasai sepenuhnya.
Melindungi janda miskin atau mencintai sesama manusia bisa menjadi nilai ideal pembenaran dari hasrat untuk ‘nutupi babahan hawa sanga’ menutupi lubang kemaluan. :mrgreen:
Serta slogan menyesatkan dari para penguasa tentang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang menutupi kenyataan mengenai akumulasi capital yang tidak berpihak pada keadilan social dan pemerataan kesejahteraan.

Di tengah perang sengit kepentingan yang berlangsung, kemanusiaan terancam menjadi sekedar nilai kegunaan saja. Sebab tidak ada lagi wilayah kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditi barang jualan. Manusia sendiri bahkan telah menyusut menjadi sekedar barang jualan. :cry:

- Sekolah yang mencetak ‘manusia presisi’ sesuai cetakan, agama-agama yang tak pernah salah, hanya umatnya, ‘manusia’ nya yang salah dalam pemahaman, sebenarnya adalah model-model pelembagaan yang sanggup membangun mekanisme control terhadap manusia.
- Iklan-iklan di media yang mendiktekan gaya hidup kepada kita dengan menjadikan semakin konsumeris & makin kehilangan jati diri.

Disinilah peran penting dari refleksi dan studi kritis akan kemanusiaan kita, kembali ke dasar keberadaan diri kita sebagai seorang manusia. Jujur dengan segala yang terjadi, jujur akan motif-motif yang melatarbelakangi kehendak dan keinginan kita.
Kemanunggalan dengan Rasa, sehingga dalam memperjuangkan atau mengabdi pada suatu kepentingan, kita mampu melihat dalam perspektif yang benar. Tidak sekedar larut sebagai komoditi dan menjadi budak dari kepentingan.
Bagi saya, inilah arti dari spiritualitas, menjadi Diri Sendiri, menjadikan diri kita ‘manusia’ kembali, bukan sekedar barang jualan dari suatu kepentingan. Terbangun dari mimpi panjang yang selama ini kita lelap dibuainya.

Bagi kalian yang menginginkan hidup merdeka, menghayati kemanusian kita, sebuah puisi kupersembahkan, sebuah pernyataan kepentingan dariku :

..mengapa memberi syarat pada hidupmu..?

tanggalkan saja semua bajumu biar tubuh bugilmu buatku terangsang
lalu mari kita maknai ketelanjangan
engkau perempuan aku lelaki
bagai madu dengan manisnya
seperti api dengan panasnya
membiru lautmu mengalun ombakku
menghitam pekat memutih silau
menerang siang menghening malam

tapi kau malah sembunyikan molek indahmu
dengan segala atribut kosmetika palsu
yang kau impikan sebagai kemuliaan
kau khayalkan sebagai kebenaran
ayolah tanggalkan saja semua bajumu
yang hanya akan memerangkap memasung jiwamu
kan kutulis puisi di setiap lekuk tubuhmu
kulukis Waktu.. saat mengada bersamamu

Oleh : Suprayitno

Seperti pada umumnya, bagi Dr Asghar Ali Enginneer juga berpendapat bahwa pada hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan. “Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan” tegas tokoh gerakan nonkekerasan dan reformis dari India ini. Ia mengisahkan sepotong pengalaman yang membawanya terlibat dalam gerakan perdamaian dan menolak kekerasan, termasuk kekerasan komunal.
Asghar Ali mengisahkan “Saya sedang belajar ketika terjadi kekerasan komunal di luar. Saya takut sekali. Pertanyaan ‘mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama’ terus memenuhi benak. Lalu saya belajar dan terus belajar, sampai akhirnya menemukan, bukan agama yang menyebabkan semua itu.” Selain menguasai ilmu agama (tafsir, ta’wil, fikih dan hadis), Ali juga mengantongi ijazah sarjana teknik sipil (insinyur) dan sempat bekerja di perusahaan milik pemerintah kota Bombay selama 20 tahun. Ia mulai aktivitasnya secara total di dalam gerakan pada tahun 1972 ketika terjadi kerusuhan di Udiapur.
Pandangan-pandangannya tentang berbagai hal, termasuk kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki serta dekonstruksi teks, dituliskan dalam lebih dari 40 buku dan ratusan artikel di media massa. Seluruh upayanya itu membuat Asghar Ali terpilih sebagai penerima penghargaan Nobel Alternatif, The Right Livelihood Awards tahun 2004 (Kompas, 1/6/06). (lagi…)

Wafatnya Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) membawa permasalahan perebutan kekuasaan antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dengan Pangeran Muhammad Saladin.

Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.

Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.

Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar. (lagi…)

1.  DURSASANA

2.  DAGANG SAPI

PAN Berubah Sikap soal Bailout Century

JAKARTA- Kebijakan Partai Amanat Nasional (PAN) terhadap kebijakan bailout sebesar Rp 6,7 triliun kepada Bank Century berubah setelah Kongres III memutuskan untuk memperkuat koalisi dengan Partai Demokrat.     :mrgreen:

Menurut Sekjen DPP PAN Taufik Kurniawan, saat ini arah dan kebijakan partai dalam memandang kasus bailout Bank Century bukan kesalahan pengambilan kebijakan, karena keputusan bailout merupakan upaya untuk menyelamatkan perbankan terhadap krisis.

’’Tidak ada masalah dalam kebijakan pencairan dana talangan untuk Bank Century. Oleh karena itu, PAN akan fokus pada penyimpangan dalam teknis pengambilan kebijakan bailout,’’ ujarnya usai rapat paripurna di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Ketua Komisi V DPR ini menyatakan, pemahaman seperti itu sudah disampaikan kepada semua kader PAN dan juga anggota Fraksi PAN. ’’Itu sudah kebijakan partai. Bagaimanapun juga, sebagai kepanjangan tangan dari partai, fraksi harus melaksanakannya,’’ tambah Taufik.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk menjaga ritme anggota FPAN di pansus angket Century, partai telah membentuk semacam task force, guna mengkaji apakah kebijakan dan keputusan partai ini digunakan sebagai acuan dalam pembahasan anggota pansus dari FPAN. ’’Jadi, anggota pansus dari FPAN tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Semua harus berjalan di dalam koridor hasil kajian task force,’’ katanya.

SUARA MERDEKA, 20 Januari 2010

Ketika Sang Guru mendengar bahwa hutan cedar sebelah telah terbakar, ia mengerahkan seluruh muridnya.

“Kita harus menanam kembali pohon-pohon cedar,” katanya.

“Pohon cedar?” teriak murid tidak percaya.

“Tapi pohon-pohon itu membutuhkan waktu 2.000 tahun untuk tumbuh besar!”

“Oleh sebab itulah,” kata Sang Guru,

“tak boleh ada satu menit pun terbuang. Kita harus segera mulai.”

**********

Yang dikeluhkan Sang Guru terhadap kebanyakan aktivis social adalah ini: yang mereka perjuangkan adalah pembaruan, bukan revolusi.

Katanya, “Suatu ketika ada seorang raja yang sangat bijaksana dan baik hati. Pada suatu ketika ia tahu bahwa ada sejumlah orang yang tak bersalah ternyata dikurung di dalam penjara negaranya. Maka, ia memerintahkan supaya dibangun sebuah penjara lain yang lebih nyaman untuk orang-orang yang tak bersalah itu.”

**********

Berbasa-basi Sejenak – Anthony De Mello, SJ

Oleh : Ki Atma Sasratama Jati


Tri Jana Upaya adalah tiga macam cara bagi seorang pemimpin untuk menghubungkan atau mendekatkan diri dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ada dua cara hidup hewan, yang satu menyendiri seperti tokek, gangsir, dan yang lain berkelompok seperti lebah dan sebagainya. Cara hidup demikian sesuai dengan hukum alam, karenanya tidak dapat diubah. Lebah jika dipisahkan pasti mati. Sebaliknya gangsir, jika dikelompokkan pasti mati.


Sebab dalam kelompok, gangsir selalu berkelahi. Maka bila diubah cara hidupnya, hewan tersebut tidak dapat melangsungkan hidup pribadinya dan jenisnya. Manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah.

(lagi…)

Dalam mistik Jawa eksistensi Tuhan bersifat ambivalen, berpaham transendensi sekaligus imanensi.

Transendensi percaya bahwa Tuhan itu Tan Kena Kinaya Ngapa, awal segala ihwal, absolute & teramat sangat.

Imanensi menganggap Tuhan ada <inherent> atau hadir <present>.

Tuhan ada di jagad gumelar <alam semesta> sekaligus di jagad gumulung <diri manusia>.

Manusia Jawa yakin bahwa alam semesta adalah juga berada dalam dirinya. Dirinya adalah gambaran alam semesta karena apa saja terdapat dalam dirinya, seperti yang digambarkan dalam tembang-tembang Kisah Dewa Ruci di Serat Cebolek

…isining bumi, ginambar angganira

(lagi…)

Puisi oleh WS RENDRA


……………
Ma,
bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya

Ada malam-malam aku menjalani
lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk ke badanku yang hampa
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan,
tidak ada suatu apa…..

Hidup memang fana Ma,
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara,
dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana Ma,
itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savanna
membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa
ditarik-tarik orang kesana-kemari,
mulut berbusa sekedar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa-basi dan
orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan, atau percintaan tanpa asmara,
dan senggama yang tidak selesai

Hidup memang fana, tentu saja Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
lalu mendorong aku menjerit-jerit sambil tak tahu kenapa

Rasanya setelah mati berulang kali
tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini
Tetapi Ma,
setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja, sukmaku menyanyi,
dunia hadir, cicak di tembok berbunyi,
tukang kebun kedengaran berbicara kepada putranya
Hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat kamu Ma
adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma
Masing-masing pihak punya cita-cita,
masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma,
apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu
Ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu
Masya Allah, aku selalu kesengsam dengan bau kulitmu
Ingatkah waktu itu aku berkata :
Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Wuah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini

Dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa
Kemaren dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya Ma…

Jakarta, Juli 1992

CAKRABASKARA

PENGANTAR


Seringkali bila berbicara tentang revolusi, khususnya di negeri tercinta ini saya katakan layaknya berbicara tentang menghancurkan gunung batu dengan modal sebuah sekop. :cool:

Pernyataan saya bukanlah pernyataan sikap pesimisme namun sebuah refleksi kondisi riil yang dihadapi bangsa ini.

Bangsa yang telah terjajah jiwanya dengan sedemikian parah si segala lini dan segi kehidupan.

Lalu kemudian bila revolusi adalah sebuah keniscayaan, yang menjadi pertanyaan penting adalah apa yang semestinya kita lakukan?

Pemikiran yang saya tuangkan disini sudah pernah saya utarakan dalam beberapa posting sebelumnya, saya rangkum dan coba membuat konklusi praktis.

Tentu saja sangat bersifat subjektif namun harapan saya sih semoga bisa memberi sumbangan bagi jalannya perjuangan menuju kejayaan bangsa ini. Kejayaan yang dicita-citakan para pendahulu bangsa, para pendiri Negara, yang diamanatkan pula dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. (lagi…)

Halaman Berikutnya »