1. OBSESI HIDUP MANUSIA

Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social.
Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil.

Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab juga sebagai satu idea dasar yang selalu hidup dalam jiwa manusia yaitu keadilan social. Dengan segala liku perjuangan dan jatuh bangunnya manusia di setiap jamannya.

Sebagai bangsa semi nomadis di pinggir padang gurun, telah membangun kesadaran kaum Israel kala itu bahwa seorang individu tak dapat bertahan hidup sendiri, yang akhirnya melahirkan masyarakat keluarga & marga yang menyatu sebagai suku-suku.
Milik kepunyaan tak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain dalam lingkungan yang sama… tiada kepunyaan pribadi… kalaupun ada tak pernah dipakai buat menindas orang lain.
Akhirnya setelah menjadi satu bangsa di Kanaan, kesadaran tradisi semi nomadis tersebut menjadi ‘teologi perjanjian’. Dimana ‘Perjanjian’ itu merupakan ide maupun cita-cita sebuah bangsa yang sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun di hadapan Yahwe.

Janji Yahwe akan kemakmuran duniawi dijanjikan sebagai suatu keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua anggota masyarakat… asal mereka setia pada perjanjian, Yahwe memberi jaminan ”tidak akan ada orang yang miskin diantaramu” …”asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara tuhanmu” .
(suara tuhan saya artikan sebagai idea akan keadilan social tersebut…dikisahkan sebagai larangan untuk mengumpulkan ‘manna’ yang mungkin akan berakibat merusak kesederajatan mereka dalam hal ketergantungan akan Yahwe/ Sang Hidup).

Namun tiada tertib social yang tahan kemerosotan, selalu saja ada orang yang sanggup & tidak sanggup. “Kelalaian dan kemalangan” sementara orang, “kekuatan dan kemujuran” yang lain memainkan peranan. Juga bauran budaya dengan kaum Kanaan & Amori yang menganggap harta mereka sebagai komoditi yang bisa dijual, membuat kaum Israel memiliki dua macam hak milik tanah, satu milik marga yang dibagi saat jaman Yosua, satunya tanah milik pribadi yang dibeli dari Kaum Amori & Kanaan.

Timbullah kekayaan dan keinginan untuk mendominasi…

Inilah yang menjadi permasalahan utama, dimana akhirnya para nabi bernubuat dan lahirlah berbagai perundangan seperti Hukum Taurat, Tahun Sabat, Tahun Yobel, Kabar Gembira Kerajaan Allah, Das Kapital…yang dapat kita tarik kesimpulan bahwa Yahwe yang diimani oleh Israel menurut alkitab bukanlah tuhan yang netral, namun secara gamblang menggambarkan Yahwe yang berada pada pihak kaum miskin dan tertindas.

Keberpihakan tersebut karena Yahwe adalah tuhan yang setia pada ‘Perjanjian’.
“Allah Perjanjian”, Kesadaran sang manusia bahwa dalam kemiskinan & ketertindasan itulah titik dimana kemanusiaannya paling terancam…. Baik penindas & yang tertindas membutuhkan pembebasan, yang bagi para nabi pembebasan adalah berarti kembali kepada ‘Perjanjian’, suatu pengetahuan sejati akan Yahwe, pengetahuan sejati akan idea kemanusiaan… seluruh alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan suatu undangan untuk menjadi ‘bebas’ dan membiarkan orang lain menjadi bebas sambil menjadi “Anak-Anak Allah”.

Saya tak sedang hendak menjelaskan tesis pokok marxisme dengan pembenarannya secara alkitabiah. Namun mungkin ini sebagai salah satu upaya pemaknaan hidup yang saya coba untuk lebih membumi *atau malahan terhalusinasi oleh mimpi* sesuai keadaan & kondisi jaman dimana saya dihidupi.

Seperti juga “andon laku angulati serat pangruwating papa nista”…bertualang mencari kitab yang akan mengentaskan dan memuliakan keadaan papa nista”…sebuah laku spiritual pencarian makna hidup & perjalanan perjumpaan kembali dengan diri sendiri yang tengah saya lakoni.

2. REALITA

Apa sumbangan kebangkitan spiritualitas bagi moral, etika dan keadaan social manusia, dimana keadaannya seperti yang pernah ditulis Leonardo Rimba “greedy go lucky”?

***

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal?
SAYA MENGANGGAP, BRAHMA ADALAH KETIDAK-ADILAN .
Yang membuat dunia yang diatur keliru.”
[Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

***

Mungkin memang saya sedang mengalami delusi,
Realitas konkret alam semesta berjalan apa adanya sesuai hukum kausalitas dan kesetimbangan, tiada mengenal apa itu yang disebut keadilan social… namun kedegilan dan keterpurukan bangsa ini telah telanjur membuat saya menjadi obsesif sekaligus kapitulasi… butuh berapa ratus tahun lagi buat bangsa ini untuk bisa berevolusi mencapai kesadaran?
Butuh suatu revolusi besar yang mungkin bila tak mampu dimotori manusia, akan diambil alih oleh alam sendiri sebagai konsekwensi hukum kausalitas tersebut. Dan pemikiran akan hal-hal ini yang menciptakan delusi… pengalaman puncak & intuisi… sosok-sosok hero?

Bagaimanapun, saya berusaha untuk terus memahami, dan menerima realitas sebagaimana apa adanya bukan sebagaimana seharusnya…
Menerima realitas, memahami realitas… Lalu bertindak berdasarkan apa yang seharusnya kita lakukan…
Karena memang realitas hanya bisa kita terima ‘apa adanya’, sedang menerima ‘apa yang seharusnya’ hanya relevan untuk keputusan yang akan kita ambil…

Dan disinilah dalam pengambilan & pembuatan keputusan ini… saya menyadari akan otentisitas, orisinalitas & kualitas kemanusiaan…
Segala arketipe bukan lagi suatu fixasi infantile, namun adalah gambaran dari kesadaran tentang kesejatian diri yang ingin diwujudnyatakan. Keperkasaan dan kehebatan segala sosok hero (ratu adil, satriya piningit) mendapatkan dan hanya akan mendapatkan eksistensinya dalam diri kita.

….”Keadilan sosial, moral, dan etika adalah bahasa manusia. Sebuah konsep yang ditemukan oleh manusia dalam meniti dan memaknai kehidupannya yang lahir karena adanya interaksi dan dialektika kepentingan dari manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Jadi karena konsep ini dilahirkan oleh manusia, maka tugas manusia pula untuk terus mengusahakan dan mengembangkannya baik secara individual maupun kolektif”….

Semangat, keberpihakan, kejelasan orientasi tidak bisa diukur dari sensasi supranatural yang mungkin hanyalah pelarian infantile dari obsesi kita… juga tak pernah bisa dilihat dari reaksi-reaksi emosional terhadap realitas yang mau kita lawan (seolah-olah dengan demikian kita sudah berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan), melainkan dari tindakan konkret yang dilakukan. realitas yang kita wujudnyatakan.

Ingin meruwat papa nista… ingin mengubah dunia… Hmmmm….

Yang rasional saya lakukan adalah mengubah diri terlebih dahulu!
Karena tindakanku tak pernah berhadapan dengan dunia luas secara langsung, hanya kontak dengan dunia kecil yang saya hadapi, yang tergantung pada keterbatasan penginderaan.
Dunia kecilku… itulah yang mestinya saya ubah.

Kalau tidak menghadapi itu, saya tidak mengubah apa-apa.

Bila saya menghadapinya, berarti menghadapi diri sendiri juga, dan itu juga berarti bergulat dengan perasaan dan pemikiran.

Dan mungkin realitas tak seburuk yang selama ini saya duga…
Realitas yang saya maksud adalah realitas konkret segala hal yang bisa kita cerap secara inderawi, bukan realitas persepsi kita, yang kita cerap secara intelektual, gagasan, pemikiran, dugaan, prasangka.

Realitas itu baik adanya, dimana yang namanya kejahatan memang inheren ada dalam diri manusia.
Mengapa seseorang menjadi koruptor, pelacur, karena mereka mempunyai kondisi-kondisi tertentu yang membuat mereka menjadi seperti itu, mereka bermasalah karena mereka belum sadar. Masih hidup dalam dunia insting mereka.

Memahami mekanismenya, memahami pelaku-pelakunya, memahami bagaimana mereka bisa bertindak seperti itu. Memahami apa yang mengkondisikan mereka begitu, tahu keadaan yang melatarbelakangi dan akibat-akibatnya kemudian mencari alternative tindakan yang dilakukan.
Lalu kita nantinya akan memahami bahwa manusia ini memang sedang tidur. Asyik masyuk terbuai mimpi.

Manusia yang telah terbangunkan yang memutuskan hal yang nyata atau cuma sekedar mimpi…dan dalam mewujudnyatakankan segala mimpi, kita tetap menyadari bahwa kita sedang mengalami segala sensasi dari kesadaran kita yang tengah asyik bermain-main…

Actor perubahan social adalah orang-orang yang sadar. Kesadaran yang menjadi penggerak perubahan!!

Seorang Yogi harus bisa melihat
Hasil kerjanya selama hidup dihancurkan
Harapannya musnah
Rencananya dan semua usahanya sia-sia
Semuanya kandas

Dan masih saja
Tidak goyah
Tidak peduli
Sejauh itu

Dengan hati yang tiada sedih
Sebuah keluhan
Atau penyesalan

Ia terus berusaha
Tanpa rasa kecut

Tanpa ketamakan
Tanpa kebencian
Tanpa ilusi

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”

*****

benderaSituasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.

Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.

Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa.

Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri. Duduk persoalannya, orang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup. Sebagai contoh terjadinya kerusakan alam yang kronis menunjukkan dampak tercerabutnya (disembeded) manusia dengan harmoni lingkungan alamnya.

Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.

Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 66 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.

Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?

Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.

Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.

http://abigdream.wordpress.com/Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.

Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah:

SUMPAH BUDAYA

  1. MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MEMPENETRASIKAN KE DUNIA PENDIDIKAN, EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK.
  2. MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF SEHINGGA MEMPERKUAT IDENTITAS DAN JATI DIRI BANGSA.
  3. MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR.

DITANDATANGANI DI YOGYAKARTA, 2 SEPTEMBER 2011

  1. SABDA LANGIT
  2. WONG ALUS
  3. KI CAMAT
  4. MAS KUMITIR
  5. SABDO SEJATI
  6. TOMY ARJUNANTO
  7. KANEKO GATI WACANA
  8. KANGTONO
  9. ANTON.S
  10. SUPARJO
  11. WISNU ARDEA

Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dengan gerakan ini dan menyebarkan sumpah budaya ini dengan ikut serta menyebarkan Sumpah Budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Salam Berbudaya. Asah asih asuh. @@@

Duk semana Jayabaya mantu,
bebesanan Wanara Seta,
Senggana iku arane,
Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,
tinantang Prabu Mawenang,
prang tandhing tumekeng sirna.
Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,
Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,
Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma

*****

Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..

Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina

(lagi…)

Pamuji rahayu,

Sudah banyak tulisan yang mencoba mengulas makna dibalik tembang dolanan Sluku-sluku Bathok. Ada yang mengaitkannya dengan ajaran agama, pula yang melihatnya dari sudut pandang penekunan spiritual.
Bukan maksud saya ikut-ikutan latah mengulas makna tembang dolanan tersebut, namun kiranya pemaknaan dari sudut pandang lain juga kita perlukan sebagai alternative atau boleh hanya sekedar untuk menambah wawasan.
Saya mencoba memaknainya dari sudut pandang kenakalan saya yang dengan semena-mena saya sebut sendiri sebagai sudut pandang sangkan paran atau Jawa Kawitan.   :mrgreen:

Bagi yang belum tahu, berikut syair Sluku-sluku Bathok selengkapnya :

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Rama menyang Sala/Kutha

Oleh-olehe payung motha

Mak jenthit lolo lobah

Wong mati ora obah

Nek obah medeni bocah

Nek urip goleka dhuwit.

(lagi…)

Pethikan Kitab Sastra Cetha

Amangsuli tembung Pancen Driya (Pancadriya), senajan sampun sami dipun sumerepi, nanging menggah ing salokanipun, punapa dene dunungipun, kinten-kinten taksih awis-awis sanget ingkang ngawuningani, mila perlu ing ngriki kedah katerangaken. Inggih punika makaten :

Kasebut ing Serat Mahabarata bageyan ing Adiparwa, kacariyos Dewi Drupadi punika dados garwanipun Pandhawa Gangsal, sarta saking garwa wau sami peputra satunggal-satunggal. Para Raja Putra wau kasebut Pancabala, Pancawala, Pancakumara lan ugi Pancabalawitiya.

Tegesipun Pancabala = anak jaler gangsal, Hadiwitiya = pinunjul tanpa timbang. Inggih Pancabala Hadiwitiya punika ingkang dados pralampitaning Pancadriya. Raja putra gangsal wau, putra saking Prabu Yudhistira nama Sang Pretiwindya, kangge pralambanging paningal, saking Sang Werkudara asma Sang Sotasoma, kangge pralambanging pangganda, saking Sang Arjuna nama Sang Sutakirti kangge pangumpamening pamiyarsa, saking Sang Nakula nama Sang Sutanika kangge sanepaning raosing ilat, saking Sang Sadewa nama Sang Srutakarma kangge pralampitaning rasaning anggota (badan).

(lagi…)

Kapethik saking Kitab Sastra Cetha

Temptation of Sage Wisrawa and Dewi Sukesi


Amratelakaken kawruh pasamaden ingkang sanyata langkung ageng pigunanipun ingkang kasebut SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU.

Tegesipun :

  • SASTRA = empaning kawruh,
  • JENDRA = saking panggarbaning tembung Harya Endra, tegesipun Harya = raharja, Endra = ratu = dewa,
  • HAYU = rahayu = wilujeng,
  • NINGRAT = jagad = enggen = badan.

Suraosipun  : mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, katentreman lan sapanunggalipun.

Dene tegesipun PANGRUWATING DIYU inggih amalihaken diyu, dene diyu = danawa, raseksa, asura, buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereged, bebaya, pepetang, kabodhowan lan sesaminipun. Mengku suraos : amastani ingkang saged anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang bebaya pakewed.

(lagi…)

……….Karipta dening Tomy Arjunanto


Nganyut ndriya ndudut ati,
Kwasa ngimpun rahsa mulya.
Tuhu lam-lamen katreme,
Nyawiji kang dadi sedya.
Mbabar gatining wacana,
Tetimbangan tresna tuhu,
Jimat tulus panarima.

Nimas pepujaning ati,
Salira wewangi ganda.
Rinuket sajroning jinem,
Tan nedya ginggang sakrikma.
Krya sesotya sun pepuja,
Sang mustikaning pandulu,
Sulistya endahing warna.

Tresnaku sundul wiyati,
Tumuwuh jroning prasaja,
Sumedya andum ing paweh,
Daya kamulyaning gesang.
Tinerak alun asmara,
Mbangun turut atut runtut,
Cumbana sigaran nyawa.

Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan  manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi  berbagai kepentingan.

Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan. (lagi…)

Pasugatan Ki Sondong mandali

(Lanjutan Rasionalisasi Kejawen)

 

Sistim religi Jawa merupakan hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ manusia Jawa. Olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ tersebut melahirkan pemahaman adanya ‘maha kekuatan’ yang ‘murba wasesa’ (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya ‘realitas tertinggi’ yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ (sebutan lain: Kang Maha Kuwasa, Hyang Wisesa, Hyang Tunggal, dll.).

Karena dasarnya sebagai hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ maka ada ‘perjalanan’ menuju kesadaran ‘adanya’ Realitas Tertinggi yang disebut ‘Kang Murbeng Dumadi’ tersebut secara ‘rasional logic’. Adalah ‘keunikan’ Jawa yang kemudian mendiskripsikan Kang Murbeng Dumadi tersebut ‘tan kena kinayangapa lan murbawasesa jagad saisine’ (tidak bisa digambarkan wujudnya dan ‘melingkupi-menguasai-mengatur-mengendalikan’ seluruh alam semesta dengan seluruh isinya). Diskripsi yang demikian merupakan ‘puncak’ pengertian paripurna orang Jawa tentang ke-‘Maha Esa’-an Tuhan yang bisa digapai ’cipta rasa karsa’ dan ’daya spiritual’ manusia. (lagi…)

SUMPAH BUDAYA II

Oleh Mas Kumitir

Situasi mental sosial-budaya bangsa semakin memprihatinkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Juga harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Apa pentingnya budaya ? (lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.