Dalam mistik Jawa eksistensi Tuhan bersifat ambivalen, berpaham transendensi sekaligus imanensi.

Transendensi percaya bahwa Tuhan itu Tan Kena Kinaya Ngapa, awal segala ihwal, absolute & teramat sangat.

Imanensi menganggap Tuhan ada <inherent> atau hadir <present>.

Tuhan ada di jagad gumelar <alam semesta> sekaligus di jagad gumulung <diri manusia>.

Manusia Jawa yakin bahwa alam semesta adalah juga berada dalam dirinya. Dirinya adalah gambaran alam semesta karena apa saja terdapat dalam dirinya, seperti yang digambarkan dalam tembang-tembang Kisah Dewa Ruci di Serat Cebolek

…isining bumi, ginambar angganira

(lagi…)

Puisi oleh WS RENDRA


……………
Ma,
bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup
karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya

Ada malam-malam aku menjalani
lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana
Hawa dingin masuk ke badanku yang hampa
padahal angin tidak ada
Bintang-bintang menjadi kunang-kunang
yang lebih menekankan kehadiran kegelapan
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan,
tidak ada suatu apa…..

Hidup memang fana Ma,
Tetapi keadaan tak berdaya
membuat diriku tidak ada
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara,
dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana Ma,
itu gampang aku terima
Tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savanna
membuat hidupku tak ada harganya
Kadang-kadang aku merasa
ditarik-tarik orang kesana-kemari,
mulut berbusa sekedar karena tertawa
Hidup cemar oleh basa-basi dan
orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan
yang tanpa persoalan, atau percintaan tanpa asmara,
dan senggama yang tidak selesai

Hidup memang fana, tentu saja Ma
Tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola
mengacaukan isi perutku
lalu mendorong aku menjerit-jerit sambil tak tahu kenapa

Rasanya setelah mati berulang kali
tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini
Tetapi Ma,
setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini
aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku
Kelenjar-kelenjarku bekerja, sukmaku menyanyi,
dunia hadir, cicak di tembok berbunyi,
tukang kebun kedengaran berbicara kepada putranya
Hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat kamu Ma
adalah mengingat kewajiban sehari-hari
Kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi
Kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma
Masing-masing pihak punya cita-cita,
masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma,
apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu
Ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu
dengan ciuman-ciuman di lehermu
Masya Allah, aku selalu kesengsam dengan bau kulitmu
Ingatkah waktu itu aku berkata :
Kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna
Wuah aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini

Dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa
Kemaren dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya Ma…

Jakarta, Juli 1992

CAKRABASKARA

PENGANTAR


Seringkali bila berbicara tentang revolusi, khususnya di negeri tercinta ini saya katakan layaknya berbicara tentang menghancurkan gunung batu dengan modal sebuah sekop. :cool:

Pernyataan saya bukanlah pernyataan sikap pesimisme namun sebuah refleksi kondisi riil yang dihadapi bangsa ini.

Bangsa yang telah terjajah jiwanya dengan sedemikian parah si segala lini dan segi kehidupan.

Lalu kemudian bila revolusi adalah sebuah keniscayaan, yang menjadi pertanyaan penting adalah apa yang semestinya kita lakukan?

Pemikiran yang saya tuangkan disini sudah pernah saya utarakan dalam beberapa posting sebelumnya, saya rangkum dan coba membuat konklusi praktis.

Tentu saja sangat bersifat subjektif namun harapan saya sih semoga bisa memberi sumbangan bagi jalannya perjuangan menuju kejayaan bangsa ini. Kejayaan yang dicita-citakan para pendahulu bangsa, para pendiri Negara, yang diamanatkan pula dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. (lagi…)

Susuhunan Kalijaga berada dalam persimpangan.
Sang Pembesar Negara bagaikan makan buah simalakama :
Sabaya pati sabaya mukti labuh Negara berdirinya Demak Bintoro ataukah mikul dhuwur mendhem jero leluhurnya Majapahit.

Mangro tingal Kanjeng Susuhunan, meski batinnya memihak Eyangnya, Sang Prabu Brawijaya; sebagai pendiri Negara dan Panglima ia wajib mewujudkan cita-cita Negara, sebuah tatanan baru yang membawa pencerahan bagi leluhurnya yang kapir kopar.

cakil2Kenya-Wandu03Konon dari vested interest tersebut terciptalah tokoh baru dalam pewayangan, KENYA WANDU dan BUTA CAKIL.
KENYA WANDU, sosok lelaki berpenampilan perempuan sebuah penggambaran diri Sunan Kalijaga, ambiguitas selaiknya si BUTA CAKIL raksasa berpenampilan ksatria. (lagi…)

Antara lama ana marmaning Hyang Widhi,

Kusuma taruna jati bebisik Satriya Suci,

Wus mantun hanggenira piningit linuwaran dening Allah,

Kinen anyapih gung-agenging perang rusuh,

Hanyirnakaken durjana durmala durmadi,

Suksmaning Suksma Jati.

Sanadyan hamung priyangga prasasat hangadu jalmi,

Ewa semana mengsahira sami kabarubuh kasoran yudhanira.

Inggih satriya puniki langgeng dzikire,

Pandita, guru, kyai iku kang dadi kawulane.

Narpati Njeng Sunan Herucakra jejulukipun,

Hambawahi Tanah Jawa,

Jawa jawi mapan wus ngerti dadi wajibing wong urip sakdurunge mati.

Pangarsa kang nyata,

Imam Mahdi tetengeripun.

(lagi…)

Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an :-) .

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir. (lagi…)

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macan Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, bangsa kita lebih kaya akan ragam budaya dan kearifan local. Didukung sumber daya alam, kita akan mampu menjadi bangsa yang lebih jayaraya dari bangsa-bangsa tersebut.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

  1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA
  2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN
  3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL
  4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
  5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :

THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

  1. KI WONGALUS
  2. KI ALANG ALANG KUMITIR
  3. KI SABDALANGIT
  4. KI AGUNG HUPUDHIO
  5. TOMYARJUNANTO

Sepanjang sejarah, manusia membutuhkan pemahaman & pemaknaan akan hidupnya, Baik lewat jalan spiritual maupun ilmu pengetahuan, bisa lewat agama, pemuasan hawa nafsu juga eksploitasi alam.

Hanya dalam memperoleh pemahaman & pemaknan itu manusia butuh penanda ‘logos’, dimana para winasis mengibaratkan jaring dalam menangkap ikan

Bila ikan sudah tertangkap seharusnya lupakan jaringnya jangan malah terpaku padanya

Inilah yang terjadi pada manusia saat ia memahami makna namun terperangkap dalam penanda atau logos

Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

Manusia tidak lagi mencari makna ia sudah puas dengan segala pemaknaan yang secara kutural didoktrinasi & diinternalisasi kepadanya.

Inilah sumber kekacauan atau chaos. Manusia tak mampu meneruskan evolusinya menuju manusia atas meminjam istilah Nietzche.

Sebenarnya dibalik segala penanda yang secara empiris kita cerap ada yang disebut arche, kalau orang Jawa menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi nggih sumangga kersa, sebuah proses yang membawa kita pada suatu kepenuhan hidup.

Contohnya infrastruktur yang dibuat manusia untuk memnuhi kebutuhan hidup seperti bendungan atau waduk. Ratusan tahun sebelumnya para Winasis telah meramalkan bahwa sebagian Jawa akan kembali jadi laut. Nah bukankah kalau terjadi gempa besar di daratan Jawa bendungan seperti Wadas Lintang, Gajahmungkur dadal sungguh2 akan membuat Jawa menjadi laut.

Ada sebuah proses yang sedang berlangsung dalam setiap peristiwa yang terjadi

Ada makna dibalik segala penanda

Ada arche yang mengawali logos

Sangkan paraning dumadi

Yesus

Yesus

Sebuah cerita di keluargaku


Saat pertemuan keluarga besar yang diadakan di rumahku rajah Kalacakra yang kupasang diatas pintu lupa belum kuambil.

Banyak Saudaraku yang mengernyitkan dahi melihatnya seakan melihat suatu hal ganjil dan aneh.

Seorang pamanku beragama Kristen bertanya apa maksud dari gambar coret-coret yang ada di atas pintuku.

Sebelum sempat menjawab pamanku yang lain mengatakan ,”Oh Tomy itukan penganut Kejawen..”

Yang lalu disambut pamanku yang tadi bertanya, “Gambar-gambar seperti itu namanya Antikris”

Dengan senyum aku menjawab sekenanya saja “Boleh jadi Om, tapi Yesus sendiri yang mengajarkan makna gambar itu kepada saya”.

Ah andai mereka mau mendengarkan tidak segera memberi penilaian dan stigma…

Simbol apapun baik dalam bentuk kata, lukisan atau tulisan diperlukan manusia untuk menangkap makna, seperti pamanku yang Kristen ia menggunakan Salib yang digantung di dinding untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya sementara pakdheku yang Islam lebih afdol memakai syair2 indah yang disebut dengan Al Fatihah.

“Kok bisa Yesus yang mengajarkan seperti itu?” Tanya pamanku sewot

“lho Yesus khan mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita bahkan salah satu sabdaNya adalah bila pipi kirimu ditampar berikan pipi kananmu. Sekarang coba Om kita simak doa dalam Kalacakra :


YAMARAJA…JARAMAYA

- siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan

YAMARANI…NIRAMAYA

- siapa datang bermaksud buruk akan malah menjauhi

YASILAPA…PALASIYA

- siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YAMIRODA…DAROMIYA

- siapa memaksa, malah menjadi memberi keleluasaan atau kebebasan

YAMIDOSA…SADOMIYA

-siapa membuat dosa malah membuat jasa

YADAYUDA…DAYUDAYA

-siapa memerangi malah menjadi damai

YASIYACA…CAYASIYA

-siapa membuat celaka malah menjadi membuat sehat, sejahtera

YASIHAMA…MAHASIYA

-siapa membuat rusak malah menjadi membangun dan sayang.

Nah, makna yang tersirat sama antara tanda Salib, Al Fatihah maupun Rajah Kalacakra.

Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya


Sementara itu didalam rumah ada terpampang lukisan Ibu Ratu Kidul yang segera disikapi oleh bibiku sebagai musyrik. Dengan tenang istriku menjawab,

”Bila Bunda Maria menampakkan diri di Meksiko memakai pakaian Indian, masak Yesus jalan-jalan di Tanah Jawa tidak boleh pakai blangkon” :mrgreen:

~HA~

Hangidunga piwelinge Kaki,

Sabda Palon Pamong Nusantara,

Ameca kasengsarane,

Rakyat Nusa sedarum,

Nampi panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya wong nyabrang,

Prapteng tengah katempuh,

Santering kali kang bena,

Yeku ing Gapura Sapta Ngesti Aji (1879),

Keh jalma samya lena.

~NA~

Nandang mrata sak Tanah Jawi,

Dadi kersane kang Murbeng Alam,

Meruhna para kawulane,

Lamun jagad punika,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju becik myang ala,

Kang nandur angunduh,

Nandang wohira priyangga,

Den alamna kinarya amratandani,

Jagad ana kang ngasta

~CA~

Carane kang paring panodhi,

Warna-warna wujuding bebaya,

Angrusak tanah Jawane,

Wong glidig datan ngukup,

Nambut karya datan nyukupi,

Priyayi padha kapiran,

Saudagar padha ambruk,

Tetanen akeh kang sirna,

Rinusakan ama katerak paceklik,

Abot uriping jalma.

~RA~

Raharjaning bumi sirna yekti,

Mubaling ama sakelangkung ndadra,

Tuhu agung rerususuhe,

Keh pandung panci dalu,

Tan tentrem uriping jalma,

Ing rina akeh begal,

Dha rebut-rinebut,

Risak tataning sujanma,

Negari kewran anggenira ngadani,

Jalma tan ajrih pidana.

~KA~

Kalampah dumugi tigang warsi,

Jalma isih jroning heru-hara,

Rebutan sandang pangane,

Lali sanak sedulur,

Amarga tan tahan perihing ati,

Lali anggering praja,

Amung mburu napsu,

Gya ketungka praptanira,

Pagebluk kang linuwih sak tanah Jawi,

Akeh kang samya pralaya.

~DA~

Dadya girising pra setan sami,

Kesandung bae nemahi lena,

Mangkiya wujuding dadine,

Udan barat angin gung,

Kayu geng rebah mblasah sami,

Kali-kali dha bena,

Nggirisi satuhu,

Kadya benaning samodra,

Kang tinerak datan saged nanggulangi,

Larut amblas myang sirna.

~TA~

Tanda ingkang luwih nggegirisi,

Alun samya munggah ing daratan,

Angrisak tepis wiringe,

Karya getering kalbu,

Ingkang dumunung kanan kering,

Kayu-kayu keh kendang,

Padha sirna larut,

Sela ageng samya mbrasta,

Gumalundung balabag katut keli,

Gumlendung swaranira.

~SA~

Sakathahing hardi agung sami,

Nggegiri urubing dahana,

Gumaleger suwarane,

Mutah wlahar myang watu,

Mblabar ngelebi kanan-kering,

Nrajang wana lan desa,

Manungsa keh lampus,

Kebo sapi gusis samya,

Raja-kaya datan wonten ingkang keri,

Tan ana manggih puliha.

~WA~

Wasana sanget horeging bumi,

Ana lindu ping pitu sedina,

Karya angrusak jalmane,

Dha nela sitinipun,

Brekasakan sami angeksi,

Anyarat sagung jalma’

Samya pating gluruh,

Kathah ingkang nandang raga,

Warna-warna panggoda lawan sesakit,

Langka waras keh lena.

~LA~

Lah mangkono karya tetenger neki,

Ingwang prapta aneng Nusa Jawa,

Maujud tengah rakyate,

Kinanthi anak putu,

Wujud brekasakan myang demit,

Sun sebar kawruh nyata,

Agama satuhu,

Ameruhna mrang makripat,

Gami budi nenggih Islam kang sejati,

Agemannya sang sukma.

~PA~

Papestining Nusa tekan janji,

Yen wus jangkep limang atus warsa,

Kapetung jaman Islame,

Nusa bali marang Ingsun,

Jawi Budhi madep sawiji,

Sapa kang ngemohana yekti nampi bendu,

Sun oyakan putuningwang,

Dadya pratanda praptaning tundan-demit,

Nggegila myang nglelara.

~DHA~

Dha weweka jaman tundan-demit,

Haywa angiderna ngelmunira,

Nedya nglawan demite,

Sira yekti ginuyu,

Dening pra demit putu mami,

Haywa nandang yudha,

Ananjakna ngelmu,

Myang sarana marupa-rupa,

Kabeh iku tan pasah ing awak demit,

Mbalik anyabet sira.

~JA~

Jangkaning Nusa wus aweh wangsit,

Wineca dening jalma waskita,

Ing primbon Jayabayane,

Jalma tan pungguh wutuh,

Wineca sirnanya sepalih,

Dene ingkang waluya,

Perlu samya weruh,

Isarat nulak bebaya,

Mung netepi dharmaning urip sejati,

Wasitanya pra kuna.

~YA~

Yaiku sahadat kang sejati,

Ameruhi dununge Sang Gesang,

Ing teleng jiwa ragane,

Lamun tan bisa weruh,

Takokna guru kang sejati,

Kang wus putus kawruhnya,

Wikan manjing alus,

Bisa ngajal jroning gesang,

Wuninga sangkan paraning dumadi,

Perlu sira upaya.

~NYA~

Nyatakna yen sira wus winirid,

Kabeh wasitanya gurunira,

Meruhna ing makripate,

Manungsa urip iku,

Suket ing wana petaneki,

Yen wus tumekeng mangsa,

Ginaru kaluku,

Ingkang nlesep selanira,

Yeku jalma kang wruh sahadat sejati,

Wisikane sang sukma.

~MA~

Manawa sira anyulayani,

Marang geguritaning Sang Gesang,

Yekti abot pidanane,

Urip iku satuhu,

Nggawa reng-renganing Hyang Widhi,

Kodrat datan anyidra,

Marang kersa Agung,

Lamun wus tumekeng mangsa,

Geguritaning Gesang mbabar dumadi,

Laksita madyapada.

~GA~

Gagaring sahadat sejati,

Karsa lamun urip iku tunggal,

Tunggal myang kabeh sipate,

Gelaring jagad iku,

Pratanda agunging Hyang Widhi,

Kwasa nganakake jagad,

Myang kwasa angukud,

Paranipun kabeh sipat,

Marang sangkane yeku Sumbering Urip,

Purwanira dumadi.

~BA~

Babaring Gesang wujud dumadi,

Anggelar sawernaning agama,

Mrata para umate,

Tumeka wancinipun,

Pra umat ngungkurna agami,

Kang sih ngrasuk agama,

Tan wruh kang satuhu,

Amung nyekeh srengat,

Sunyataning agama tan urip ning ati,

Ngrasuk blongsong kewala.

~THA~

Thathit sliweran ning Nusa Jawi,

Pratanda Ingwang numedakna,

Nyampurnakna agamane,

Mbalikna myang kang tuhu,

Anyebarna Islam Sejati,

Dhuk jaman Brawijaya,

Ingsun datan purun,

Angrasuk agama Islam,

Marga Ingwang wuninga agama iki,

Nlisir saka kang nyata.

~NGA~

Ngelingna marang umat sami,

Yen sira tan ngetut kersaningwang,

Yekti abot panandange,

Ingsun pikukuhipun,

Nusantara ing saindenging,

Bawana sisih wetan,

Asia puniku,

Kasigeg nggeningwang nyabda,

Kasabdakna mrang bawana wadag iki,

Lumantar Panembahan GIRIMAYA.

kumayan Sang Naga amemasuh memala

kumayan Sang Naga amemasuh memala

Heh ya kemladeyan ngrepak tunggak
Geniku sakpelik munggah krapak
Dennya jinejer pamong kawula dasih
Drana driya ora ateges kalindhih

Bumi wus gumelar
Langit belang amba
Hambeg deksura aglar
Wohira pinasthi tumiba

Wus katrem anggonmu dlajigan
Canthula ambondhan ngidak-idak sirah
Dening kodratingsun samya kaprabawan
Sajenku jangkep kembang macan kerah

Asta kekalih angigel laras
Dak gawe wayangan sewengi natas
Lakon bandayudha silih busana
Anderpati horeging bawana

Hiya iki supata Nusantara
Pecahing raga
Pecahing rasa
Pecahing sukma
Sukma ketula-tula ketali
Rasa rasaning nagari roganing Brawijaya duk ing nguni

…….bumi gonjang-ganjing… langit kelap-kelap… sungsang bawana walik…….

Halaman Berikutnya »