TINJAUAN HIDUP, MOTIVASI & TUJUAN
Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara di Gedong Songo memenuhi undangan Mas Sabdalangit, saya banyak bertemu teman-teman pejalan spiritual.
Pertemuan tersebut adalah pertemuan Kadang Kadeyan Sabdalangit, dimana oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng Untari, teman-teman yang tergabung didalamnya ibarat Sedulur Sinarawedi, anak-anak laku Beliau berdua.
Banyak hal saya dapatkan dari sharing kehidupan, salah satunya dari refleksi Mas Setyo Hajar Dewantara.
Saat itu Mas Setyo mengajak untuk merefleksikan motivasi dan tujuan dalam menapaki jalan spiritual yang dalam hal ini spiritualitas kejawaan… sebuah panggilan atau pelarian…kalau boleh saya simpulkan begitu… ![]()
Tak boleh dipungkiri banyak orang menapaki jalan spiritual..*hanya istilah yang sering digunakan*.. boleh jadi merupakan sebuah pelarian… Pelarian dari kesulitan ekonomi, dari penyakit yang tidak sembuh-sembuh, dari kehampaan & kebuntuan hidup, dan beragam sebab yang lainnya.
Namun… pelarian tidak selalu berarti suatu istilah yang kurang baik…
Pelarian bisa berarti suatu evolusi paradigma hidup yang dengan penuh kesadaran kita tingkatkan. Kata kuncinya adalah kesadaran..
Bagi saya sendiri, ketika merefleksikan motivasi dan tujuan tersebut.. saya merasa ada sebuah kecenderungan dalam diri yang membuat saya tertarik akan hal-hal yang bersifat perenungan akan hakikat dari apa yang tergelar dan saya alami.. hal ini pasti karena pribadi saya yang clingus dan introvert kurasa.. juga kecenderungan tertarik akan akar budaya saya yang seorang jawa..
By the way, saya mau menerima istilah Kejawen juga baru saja, karena dasar kecenderungan saya adalah budaya jawa dalam arti yang luas dan merasa istilah Kejawen terdengar ekslusif.. ![]()
Kecenderungan-kecenderungan tersebut yang lalu dengan GR (keGedhen Rumangsan) dan semena-mena saya istilahkan sebagai “panggilan DNA”.
Panggilan DNA tersebut, mengutip kalimat dari novelnya James Redfield; Celestine Prophecy, yang membawa saya menuju dan menuntun kearah kesempatan yang pernah saya impikan yang dulu hanya merupakan suatu firasat/intuisi mengenai sesuatu yang ingin dilakukan, arah yang ingin ditempuh dalam hidup. Yang setelah agak lama melupakannya dan pikiran terpusat ke hal lainnya ehhh… malah bertemu dengan seseorang /beberapa orang, membaca sesuatu ataupun pergi ke suatu tempat yang membawa saya ke arah pemenuhan hal-hal yang merupakan intuisi atau mimpi tersebut.
PENEBUSAN DALAM KESADARAN
Banyak hal yang saya dapati lewat event pertemuan tersebut. Saya datang bersama dengan kakak dan anak perempuan saya. Cukup lama untuk saling berdiskusi dengan Kakak saya sambil menunggu rombongan teman-teman yang lain datang.
Kesegaran udara dengan kadar oksigen yang murni terbaik kedua di dunia, heningnya suasana puncak Gunung Hong Aran dan dingin udara saat kabut tebal turun menyelimuti dan melingkupi kami membawa kami dalam sebuah pemahaman baru.
Hong Aran, lebih terkenal dengan sebutan Ungaran, boleh jadi merupakan salah satu situs awal Kebudayaan Jawa. Banyak dikaitkan dengan cerita Ramayana, menjadi tempat Anoman mengubur Rahwana hidup-hidup, sebenarnya merupakan Maha Yoni berhubungan dengan Ratu Shima, Baga-Sri, Anjani dan simbol-simbol per-EMPU-an lainnya.
Di area Gedong Songo sendiri yang merupakan pancernya sebenarnya hanya berdiri 5 Candi utuh yang lainnya masih berbentuk reruntuhan, namun lebih lanjut sejatinya ada 12 bangunan candi sesuai tataran kehidupan manusia.
1 sampai 9 adalah Babahan Hawa Sanga dimana manusia berjuang mengosongkan kesembilan lubang nafsunya, berkutat dalam dualisme kehidupan, baik buruk, laki perempuan..
Ditataran ini manusia sebagai pancer atau inti menemukan Kiblat Papatnya atau plasma. Di Timur ada Empu, Selatan Satria, Barat Pemerintahan dan Utara Sang Smara Hyang. Telah banyak petilasan dan bangunan Candi sebagai plasma Gedong Songo yang ditemukan.
Hingga dalam perjalanan berikutnya mencapai kesadaran lepas dari dualitas menemukan Sang Dasamuka dalam dirinya.. Ia akan menemukan keseimbangan dualitas yang harus dirangkumnya, disimbolkan sebagai Beji Tundha Loro ataupun Kembang Wijayakusuma dan Kembang Wijayamulya yang lalu mewujud menjadi Wit Kastuba Urip, Tree of Life, Khayun, Pohon Kehidupan.
dan dalam Kendali Kesadarannya (KendhaliSadha) ia akan mampu untuk Nglintang Sukma, melakukan penebusan hidupnya seperti legenda Abhyasa.. dan akhirnya mencapai kesempurnaan dalam tataran ke-12 : Moksha.
Abhyasa, entitas kesadaran tinggi.. yang mampu melakukan penebusan pohon kehidupannya..
Bila dalam konteks Kristiani, penebusan adalah memberikan silih atas dosa, seperti Isa yang harus menjadi silih atas dosa Adam.. maka dalam konteks Jawa, Sang Abhyasa dalam diri Isa yang selalu sadar, menyadari apa yang terjadi dalam setiap momen hidupnya.. itulah yang menjadi penebusan.
Kesadaran yang tidak lari dari realita meski ia harus digiring seumpama domba yang akan disembelih, dilecehkan, dianiaya dan dibunuh.. Hingga dalam akhir hidupnya di kayu salib, dalam kesadaran penuh akan hidup dan penderitaannya Isa berkata..”Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku”.. tuntaslah penebusan itu.
MEMBANGUN RELASI
Bila dalam kisah Isa maupun Sidharta, kesempurnaan dicapai lewat diri sendiri.. dalam kearifan Jawa ternyata kesempurnaan tidak ego-sentris, banyak cerita tentang sepasang suami istri yang moksha bersama, bahkan mokshanya karena berpasangan, penebusannya adalah kesadaran dalam membangun relasi yang saling menyempurnakan.
Di situs Candi Gedong Songo, slokanya adalah seperti ini : Candi VI adalah Lingga Yoni, diapit Ratu Shima dan Jejaka, dimana pertemuan Rahsa Sejatinya memancarkan kama ke Candi III yang menjelma menjadi tokoh Abhyasa..
Sering dalam kehidupan ini dalam membina relasi kita terlalu memberi beban yang berlebihan kepada orang lain. Kembali ke refleksi Mas Setyo… pelarian kita kepada jalan spiritual seringkali benar-benar sebuah pelarian tanpa kesadaran..
Kita tak mampu menerima diri apa adanya, tak mampu menerima keadaan diri apa adanya, lalu melarikan diri dalam ilusi pemujaan ide-ide dan figur spiritualis.. kita yang tak mampu menerima diri menimpakan beban kepada orang lain…
Lalu ketika semua harapan tak sesuai dengan kenyataan yang memang harus dihadapi.. banyak yang makin terperosok lagi dalam pelarian dengan menyalahkan orang lain, ide-ide ataupun figur yang semula dikaguminya.. contoh yang paling up to date adalah kasus Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur
Kita tak akan pernah lepas dari lingkaran Nawa Sanga (Babahan Hawa Sanga) bila kita tak mau menghadapi realita kehidupan kita dan menyadarinya dengan kesadaran intens..
Dalam konteks Kadang Kadeyan Sabdalangit, nuju prana sekali mengadakan gathering di Gedong Songo, disinilah kita bisa mengupgrade kesadaran kita.. merefleksi dan menyadari peranan kita masing-masing.. dengan tetap mikul dhuwur mendhem jeru orangtua dalam hal ini Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng, juga para leluhur kita.. kita membangun relasi yang saling memerdekakan dan menyempurnakan..
Dan..
Pribadi-pribadi yang pernah membangun peradaban adiluhung di Gedong Songo ini adalah juga pribadi-pribadi yang melakukang gathering Kadang Kadeyan Sabdalangit. Sang Abhayasa adalah yang sedang duduk berkumpul bersama… pribadi yang melakukan penebusan lewat membina relasi dengan penuh kesadaran…
POWERING THE EMPOWERMENT
Tentang panggilan DNA, ada sesanti Jawa yang sangat diugemi yang juga berhubungan dengan membina relasi yang menyempurnakan yaitu : Ngraketake balung pisah…
Balung-balung pisah yang oleh panggilan DNA lewat peristiwa kebetulan yang Ndilalah Kersaning Allah tadi telah dikumpulkan dan diraketake..
Nah kini dengan penuh kesadaran mulai menata sesuai Tatanan, Tuntunan dan Tuntutan masing-masing… yang menjadi balung sikil mulai menguatkan.. yang menjadi balung iga melindungi, tulang punggung menegakkan dan seterusnya…
Masing-masing mengambil peran dan mengaktualisasi diri sesuai apa yang dimiliki secara potensial…
Dan dalam relasi tersebut akhirnya menyadari tiadanya dualitas, mencapai apa yang disebut dengan sikap lepas bebas, sudah ‘duwe rasa ora duwe rasa duwe’.
Bertemu dengan Dasamuka masing-masing, merangkumnya, memeluknya dalam kerahiman Hong Aran dan terang Kendhalisada
Lalu dalam pandangan terang bathin ini tidak lagi menemukan motif, aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak, dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap, tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu.
Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk-mahluk hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing. Seperti Isa yang memberikan dirinya diseret dalam pembantaiannya… Itulah awang-uwung.
Akhir kata…
Semoga kita dalam kesadaran mencapai Pantai Seberang… Mencapai kesadaran rasa. Sadar dan menyatakan, tidak sekedar realize, namun juga release melepaskan.













