Jangan pandang sebelah mata!!!

Lihatlah dengan seksama!!!

Mata adalah bagian indera yang memiliki daya yang ampuh

Dalam melihat ada sesuatu yang tak tertangkap dalam wacana tak terungkap dalam kata-kata

”Apa yang kau lihat wahai Arjuna?” tanya Kresna menunjuk sebuah pohon saat pahlawan Pandawa itu mengkerut di Padang Kurusetra

”Apa yang kau lihat!” tandas Kresna

Dan Arjuna dengan penuh ketakjuban melihat pohon itu sebagai Kresna Kresna yang bergelantungan pada Kresna

Pandangan.. Ketakjuban

Pandangan.. Menghidupkan

Pandangan .. Merasuk hati

Dalam melihat ada penyerahan juga penerimaan

Dalam melihat seakan tersirat jarak

Bukan sebagai penghalang hubungan

Namun pengukuhan keberadan

Arjuna yang dicekam takut dan ngeri kembali ke dasar keberadaan diri

Ada penyerahan ada penerimaan

Dan pohonpun menyatakan diri tampil dalam ketunggalannya

Tidak ada ’Itu

Tidak ada ’Dia

Hanya ’Aku dan Kamu

Oleh : Suprayitno

Mudah sekali seseorang mengatakan “aku mencintaimu” atau “daripada kita selalu bertengkar, lebih baik kita putuskan saja cinta kita”. Dan masih banyak ungkapan cinta meluncur dari bibir beragam lapisan masyarakat. Ada yang berkata, aku cinta produk dalam negeri atau ada pula yang bilang kesan pertama begitu menggoda hingga akhirnya aku benar-benar jatuh cinta pada lukisan Mona Lisa  karya  masterpiece seorang seniman bernama Leonardo da Vinci. Senyum Monalisa adalah senyum sejuta pesona, begitu sulit diterka, apakah senyum cinta atau senyum duka. Karena saking jatuh cintanya, ada seseorang yang berani membayar berapa pun harga lukisan itu.

Cinta begitu aneh dan sulit dipahami. Kalau benar cinta, mengapa menyiksa? Kalau benar cinta, mengapa membunuh? Cinta juga begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lalu apa sebenarnya cinta itu? Kadang kita tak bisa  memberikan jawaban yang memuaskan ketika kita didesak oleh sang kekasih dengan pertanyaan ”Mengapa kamu mencintai aku?”  Melalui tulisan singkat ini akan saya coba uraikan pengertian dan makna  serta pengaruh “dahsyat” cinta pada berbagai aspek kehidupan.

Pengertian Cinta

Cinta adalah ekspresi jiwa yang didorong oleh suatu keinginan memiliki, menguasai dan atau menikmati (memanfaatkan) atas suatu materi atau objek. Cinta  yang baik biasanya bergandeng mesra dengan “kasih”. Tetapi kasih memiliki pengertian yang berbeda. Dalam kasih cenderung kita ingin memberi apa yang kita miliki dan ingin berbagi apa yang kita mampu lakukan kepada suatu objek/orang lain.

Kasih tanpa cinta sangat tidak mungkin. Tetapi cinta tanpa kasih sangat mungkin. Karena unsur cinta lebih banyak untuk pemuasan/kepentingan diri kita, sedangkan unsur kasih lebih banyak untuk pemuasan orang lain. Biasanya kita sering menggabungkan kasih dengan belas, sehingga terbentuklah ungkapan “belas kasih”. Oleh karena itu, kasih lebih banyak memberi atau mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain yang dilakukan berdasarkan perasaan  belas.

Cinta yang baik juga sering ditemani oleh “sayang”. Kalau sayang pasti karena ada cinta, tetapi kalau cinta belum tentu ada sayang. Sayang merupakan sikap tak ingin menyia-nyiakan sesuatu. Makanya jika  kita menyayangi sesuatu benda atau apapun, biasanya kita akan merawat atau memeliharanya dengan penuh perhatian dan kita akan memperlakukannya  dengan baik. Mengapa kita mengasihi?  karena kita sayang. Kasih dan sayang adalah paduan yang sangat ideal dalam kehidupan, didalam kasih ada sayang, begitu juga dalam sayang ada kasih. Paduan yang erat antara kasih dan sayang akan melahirkan “kemesraan” yaitu meleburnya antara kata-kata dengan perbuatan dalam satu nafas cinta.

Kasih dan sayang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang ketika orang tersebut  memiliki empati  (tenggang rasa, tepo seliro)  keikhlasan (ketulusan hati) dan kesabaran. Oleh karena itu jika ada pertanyaan “Mengapa kamu mencintai aku?” maka menurut pendapat saya jawabannya adalah “Karena aku ingin memilikimu, menikmatimu dan menguasaimu apapun adanya dirimu dengan landasan kasih dan sayang. Aku akan menjagamu dengan sepenuh hati karena aku membutuhkanmu dan tak akan kubiarkan dirimu terluka.”

Dorongan cinta diantaranya karena kita ingin  memiliki, menguasai dan menikmati. Oleh karena itu jika seseorang sedang jatuh cinta (pada  apapun materinya)  ekses yang paling menonjol adalah munculnya sikap egoisme, cemburu, merindukan, berkorban (demi pamrih yang dicita-citakan),  suka  cita, ambisi, berkhayal dan waspada karena takut kehilangan.

Di dalam cinta ada paduan gelora jiwa yang teramat kompleks, karena dia melibatkan seluruh perasaan yang ada dalam jiwa seseorang. Oleh karena itu cinta kadang membuat kita lupa. Lupa akan posisi kita sehingga  kita sering berbuat tidak adil gara-gara cinta. Cinta sering menjerumuskan kita dalam kegelapan. Padahal, spirit dari cinta seharusnya demi pencerahan bukan untuk merusak dan membakar, sebab lambang dari cinta adalah air jernih yang mengalir tenang. Namun, air yang jernih ini pun bisa segera berubah warna menjadi keruh dan menggelegak  yang siap menyeret kita dalam pusaran arus deras dan menenggelamkannya. Hal ini terutama untuk jenis cinta yang  hanya  dimotivasi oleh unsur penguasaan dan kenikmatan demi pemuasan nafsu saja.

Cinta yang digerakkan hanya oleh semangat penguasaan dan kenikmatan demi pemuasan nafsu, sangat berbahaya karena bisa membuat hati kita buta atau gelap mata (brutal). Hati yang buta atau mata yang gelap, akan mudah menyeret kita pada perbuatan kalap yaitu tidak bertanggung jawab. Berani berbuat tetapi ketika dituntut tanggungjawawabnya akan mengelak dengan berbagai cara dan alasan.  Oleh karena itu jangan mudah jatuh cinta oleh objek apa pun termasuk cinta kepada materi (harta, tahta dan  seks). Supaya tidak mudah jatuh cinta diperlukan keceerdasan, kritis, analitis, dan obyektif dengan  harus senantiasa dapat mengontrol prilaku diri kita.

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Cinta membuat hidup kita senantiasa dikuasai oleh banyak keinginan, baik dorongan keinginan untuk pemuasan jiwa maupun raga. Namun, dari sejumlah keinginan itu sebenarnya banyak yang bukan merupakan kebutuhan. Misalnya, kita sebenarnya tidak butuh atau tidak perlu rumah mewah dengan interior design yang gemerlap, yang kita BUTUHkan hanyalah rumah tempat tinggal yang aman, nyaman dan sehat lingkungan. Tetapi karena kita terlalu dikuasai oleh dorongan kinginan untuk memiliki rumah mewah, maka akhirnya ditempuhlah berbagai cara demi mewujudkan keinginan.

Hidup kita akhirnya banyak dikendalikan oleh “keinginan demi keinginan”. Kita ingin memiliki seratus pasang giwang berlian dengan berbagai model, padahal yang kita butuhkan sebenarnya hanya tiga pasang bahkan tanpa satu pasang giwang pun sebenarnya tidak apa-apa. Jika kita tidak tahan dengan godaan keinginan, ditempuhlah berbagai cara demi mewujudkannya, misalnya pinjam (hutang) sana-sini, mencuri/korupsi, merampok, menipu dan sebagainya. Padahal, jika kita selalu menuruti keinginan, maka niscaya keinginan itu tidak ada batasnya.

Lain dengan kebutuhan. Kebutuhan hidup itu relatif terbatas. Contohnya, dalam satu hari kita hanya butuh makan tiga kali. Tetapi “keinginan” makan berbagai menu itulah yang sulit kita batasi. Kita sebenarnya hanya memerlukan (membutuhkan) lima stel pakaian, tetapi karena keinginan pada berbagai mode dan merek akhirnya pakaian kita menumpuk sampai tiga almari. Nafsu-nafsu inilah yang akhirnya menyeret dunia dalam berbagai krisis yaitu krisis pangan, krisis energi, kirisis ekonomi dan krisis politik. Angkara murka dan gengsi  sering karena dipicu oleh keinginan yang tak terkendali.

Kita merasa selalu tidak puas dengan apa yang telah diperoleh. Satu kinginan telah berhasil diraih, maka seribu keinginan akan menagih untuk dipenuhi. Kapitalisme dan liberalisme adalah “jago” dalam menjerumuskan manusia untuk berlomba-lomba memenuhi “keinginan hidup” bukan kebutuhan hidup. Manusia yang hanya sibuk menuruti keinginan, hidupnya senantiasa diliputi oleh kecemasan (Jawa:kemrungsung), kemunafikan, ambisius, dan egoistis.

Andai saja dalam kehidupan ini semua orang menggunakan prinsip “hidup sesuai dengan kebutuhan” maka tidak akan terjadi kelaparan, kemiskinan, pengangguran, penindasan, peperangan  dan kerusakan alam akibat eksploitasi tiada batas. Sesungguhnya, alam yang begitu luas dan subur ini, mampu menghidupi semua makhluk yang tumbuh atau hidup di atasnya.

Lihat saja, betapa maha pengasihnya alam ini, yaitu ketika kita menanam sebutir jagung maka  akan keluar beratus-ratus butir jagung, ketika kita menanam satu bulir padi  maka kita akan memanen beratus-ratus bulir padi. Ketika kita menanam satu butir biji melon, maka kita bisa memanennya menjadi berpuluh-puluh buah melon. Begitu juga dalam berternak atau budidaya ikan. Bagaimana mungkin kita kekurangan gizi, wong satu ekor ayam bisa bertelur sampai puluhan butir dan bahkan satu ekor ikan lele bisa bertelur sampai ratusan butir. Hampir tidak ada buah,  biji-bijian atau hewan peliharaan yang tidak berlipat ganda jumlahnya dibandingkan dengan jumlah yang kita tanam atau kita pelihara. Ini semua membuktikan bahwa alam tidak akan membiarkan penduduknya kelaparan dan miskin.

Alam begitu kasih dan sayang terhadap penduduknya, namun sayangnya manusia sering berlaku buruk terhadapnya. Alam yang sudah begitu baik ini, malah diperkosa dan disakiti dengan berbagai macam pencemaran dan pengrusakan lingkungan demi pemuasan nafsu yang tak pernah habis. Aliran sungai yang sebenarnya merupakan urat nadi kehidupan, malah dijadikan tempat pembuangan segala macam sampah dan limbah pabrik yang berbahaya. Hutan yang sebenarnya mampu berfungsi sebagai lahan ekosistem, digunduli sehingga banyak hewan dan spesies lainnya mati dan air hujan pun langsung mengguyur permukaan tanah yang gundul itu dengan sangat leluasa. Akhirnya terjadi tanah longsor, banjir dan pendangkalan sungai-sungai.

Benci adalah Lawan dari Cinta

Cinta memang telah melahirkan berbagai macam dorongan keinginan. Benci juga melahirkan berbagai macam keinginan yaitu keinginan untuk melenyapkan, keinginan untuk menjatuhkan, keinginan untuk membunuh dan berbagai keinginan yang sifatnya merusak. Lawan dari cinta adalah benci. Lalu apakah yang disebut dengan kebencian atau benci itu? Benci adalah kebalikan dari cinta yaitu ekspresi jiwa yang cenderung untuk meniadakan, memusuhi, menghancurkan atau memusnahkan atas suatu materi.

Karena unsur benci adalah semangat untuk meniadakan, memusuhi, menghancurkan dan memusnahkan pihak lain, maka gejala yang menonjol dari benci adalah amarah, tidak toleran, menyerang, merusak dan perasaan superioritas pada dirinya sendiri yaitu menganggap dirinya yang paling benar dan kuat.

Dalam kebencian selalu saja ada sikap amarah. Padahal seseorang yang sedang marah, selalu mengandaikan orang lain salah atau menentang kehendaknya. Orang yang tidak toleran biasanya egois karena selalu berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang yang menyerang biasanya karena dia lebih suka jalan pintas, tidak suka musyawarah tidak suka dialog. Orang yang merusak biasanya karena jiwanya kaku dan keras tidak menyukai kebijaksanaan, keindahan dan ketertiban.

Antara benci dan cinta sungguh sangat tipis batasnya. Mengapa? Sebab gejala yang tampak  akibat dari cinta juststru sering berakhir dengan malapetaka. Cinta yang seharusnya memelihara justru malah merusak. Cinta yang seharusnya melindungi justru malah menyiksa. Misalnya, cinta orang tua terhadap anaknya yang seharusnya   melindungi malah sering berakibat pada penyiksaan. Semua ini karena orang tua mengukur cinta dari dalam dirinya sendiri tanpa disertai sikap kasih dan sayang.  Cinta yang tidak dibarengi dengan kasih dan sayang justru bisa berakibat fatal. Karena kita hanya pandai menuntut tanpa mau berkorban, menjadi takut kehilangan dan mudah gelap mata. Jika tidak hati-hati dengan cinta, maka tidak ada bedanya antara benci dan cinta. Sebab, keduanya bisa sama-sama menghancurkan pihak lain maupun dirinya sendiri.

Lambang dari benci adalah kobaran api yang menyala-nyala yang siap untuk membakar dan menghanguskan apapun yang ada dihadapannya termasuk dirinya sendiri. Benci begitu mudah menyilapkan pandangan kita, seolah-olah apa yang ada di hadapan kita semua serba buruk, semua serba negatif. Mengapa hal ini terjadi? Karena kita telah kehilangan kesabaran untuk menentramkan diri. Dengan demikian, sabar adalah kata kunci untuk memerangi kebencian. Dengan kesabaran kita berkesempatan untuk menilai segala sesuatu berdasarkan nurani yang jernih bukan dengan emosional (nafsu amarah).

Semangat dari cinta adalah “menumbuhkan” semua harapan yang indah dan ideal. Sedangkan semangat dari benci adalah “mematikan“ semua yang indah dan ideal. Jadi betapapun kita membenci atau mencintai sesuatu tetaplah kita selipkan perasaan “eling lan waspodo”  agar kehidupan ini tidak mudah jatuh dalam pelukan mesra sang teroris.

Ingatlah bahwa teroris itu tidak selalu ngalor-ngidul menenteng bom untuk diledakkan, namun teroris bisa juga suatu gerakan yang sistematis untuk merusak akal budi kita melalui pencucian otak (brain washing) dan bisa juga dengan  intimidasi. Terorisme kadang menyelinap jauh kedalam relung hati kita, tanpa kita sadari. Seseorang yang kehadirannya selalu membuat orang lain ketakutan, sebenarnya dalam dirinya telah bersemi bibit-bibit terror.

Semoga kehadiran kita membuat orang lain yang tadinya  pesimis menjadi optimis, yang tadinya bodoh menjadi pintar, yang tadinya malas menjadi rajin bekerja, yang tadinya curang menjadi jujur, yang tadinya semau gue menjadi disiplin, yang tadinya sedih menjadi gembira, yang tadinya bekerja seadanya  menjadi lebih produktif dan bertanggungjawab, yang tadinya peragu menjadi percaya diri. Pemimpin harus bisa memberi motivasi kepada anak buahnya untuk “bekerjasama mencapai satu tujuan yang telah dirumuskan bersama”.

Semarang, 18 Maret 2007

Kawula asung sembah pangabekti
konjuk dhumateng Pangeran Sejati
lepat punapa tinitah jalmi
datan kwasa milih saderma nglakoni

Karahayon wus ana kang paring pepeling,
kang nembe dipecaki buntu wusanane,
enggala bali myang kajaten,
mumpung sunaring purnama,
sumrambah paring pepadhang,
yen wus kalimputan mendung nggameng,
sira gampang nyasar lan disasarake,
jebul kang jembar katon gilar-gilar,
satuhu marga kang dudu

Rina wengi tansah dangu,
manungsa tanah jawi anglangut,
ngarep-arep jejere adil,
yaiku manungsa kang nora bisa nampa kawruh nyata kasunyatan,
nyatane yaiku wong kang wening wis tumeka,
ngarepake kang ngarep-arep,
yaiku manungsa kang angsal piwulang suci

Durung turu yen durung tangi,
durung napak lemah yen durung weruh esuk, awan, sore kalawan bengi,
tangeh tangi yen mung dibisiki,
mokal obah diiming-imingi,
turua kaya turune tetuwuhan,
tangia kaya angga-angga nemu mangsa ing pabaratan

Konjuk Ngarsa Dalem Pangeran kita Ingkang Sejati
kawula nyuwun sabda,
lebur sedaya dosa ingkang sampun dilampahi
luputa saking sedaya panggodha
tuwin tinebihna saking sedaya piawon

Hangidunga Piweling Kaki,

Sabdopalon Pamong Nusantara,

Ameca Kasengsarane,

Rakyat Nusa Sedarum,

Nampi Panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya Wong Nyabrang,

Prapteng Tengah Katempuh,

Santering Kali Kang Bena,

Yeku Ing Gapura Sapta Ngesthi Aji,

Keh Jalma Samya Lena.

Sastra ini harus dibabar

Maka kukidungkan kesedihan, tangisan lampau kisahkan derita menjelang

Kala manusia menyusut hanya menjadi bagian dari suatu nilai kegunaan

dan waktu dirampat ketam bagai binatang buruan

Ilusi diproduksi dalam hingar bingar iklan, jadikan mimpi lebih meyakinkan dibanding kenyataan

Tercampak laiknya budak…

Jalanmu didiktekan sesuai peta…

Sebrangi sungai…

Apa lacur, sesampai di tengah diterjang banjir bandang

Apa yang bisa kau jadikan pegangan?

Pemimpinmu lebih suka berebut remahan roti yang disebut kekuasaan

Sedang…

Pemegang peta tak lebih dari calo tiket yang sibuk perkaya diri berslogan ayat suci hingga membusa mulut

Tuntunan menjadi tontonan..!!!

Pupus harapanmu tiada lagi pegangan

..

..

..

Nandhang Mrata Sak Tanah Jawi,

Dadi Kersaning Kang Murbeng Alam,

Meruhna Pra Kawulane,

Lamun Jagad Puniku,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju Becik Myang Ala,

Kang Nandhur Angunduh,

Nandhang Wohira Priyangga,

Den Alamna Kinarya Amratandani,

Jagad Ana Kang Ngasta.

Sastra ini tetap harus dibabar

Maka yang terjadi biarlah terjadi sebagai tanda agung Ilahi

Keadilan adalah dendam, seruan akan sebuah harapan

Sebab dunia adalah ladang, tempat menabur benih dan menuai hasil

Maka siapa yang menabur dialah yang akan menuainya

Sungguh…

Yang dinanti telah datang, namun tak seperti yang kau kira

Dia datang membawa api

dan seperti yang dikehendakinya api itu telah berkobar menjalar kemana-mana

..

kobong.!

kobong.!!

KOBONG..!!!

..

..

..liyep liyep layaping ngaluyut

..

..

Cukup sudah yang perlu kusampaikan

Tunaikan wajib yang mesti diemban

Sastra ini harus dibabar

Go Kamane Allah,

Dzat kang Ilang Rusak Ragane Kabeh,

Labete Tan Kena Keri,

Dzat kang Tanpa Kumpulan Kahanane Ora Ana,

Ya Ingsun Sejatine Ora Ana Apa-Apa.

- Panembahan Senapati -

‘Aku’ dan ‘Ada’ tak hanya dikukuhkan oleh Descartes. Dibelahan lain dunia pada abad yang sama, pendiri dinasti Mataram Islam mengukuhkannya dalam bait-bait syair IBU JENDRA.

Substansi yang sejati adalah keseluruhan Dzat yang membentuk semesta, demikian dituturkan. Semesta yang terus berevolusi menuju kesempurnaan. Dan wahana dari kesempurnaan semesta mewujud dalam diri manusia, pan ingsun dzat Allah kang jumeneng pusering jagad angingkut sakehing arupa warna, karut dening aku kabeh.

Tanpa adanya Dzat yang berkumpul tidak akan pernah terbentuk suatu ‘kesadaran’, hanyalah awang-uwung, kosong belaka.

Manusialah, subyek, pusat pemaknaan, yang mempunyai kemampuan wruh ing anane dhewe, yang mampu berkata : Aku…Ada.

Jadi ‘ada’ adalah subyektif, kesadaran yang melahirkan angan-angan dan pemikiran, yang memunculkan kata-kata dan bahasa sebagai penanda.

Namun bahasa tak pernah mampu secara utuh menggambarkan konsep yang diekspresikannya.

Urip tan kena kinaya ngapa, (lagi…)

Oleh : Suprayitno

Berita tentang hasil survei atau jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Harris Poll mengenai tingkat keberagamaan atau keyakinan masyarakat Amerika Serikat terhadap Tuhan, menunjukkan separuh penduduk AS tak yakin Tuhan ada (SM, 2/11/06). Hasil jajak pendapat itu bagi bangsa kita yang religius ini, merupakan berita yang memprihatinkan. Sebab, andaikata jajak pendapat itu dilakukan di negara kita pasti hasilnya akan jauh berbeda. Mungkin masyarakat kita 99 persen atau bahkan 100 persen yakin adanya Tuhan.

Tulisan ini ingin membahasnya melalui pendekatan filsafat (ontologisme) yaitu mengapa kita berkata ada? Apa sebenarnya yang dimaksud ‘ada’? Kemudian apa bedanya antara ada berdasarkan ‘pengetahuan’ dan ada berdasarkan ‘keyakinan’? Bisakah yang tidak ada kita katakan ada? Bagaimana syarat-syarat “keberadaan” sesuatu?

Substansi dan Ada

(lagi…)

wall_ambiance

Mistik itu …..


bukan orang mati kemaren yang suka meneror

membuat kamu mengidap paranoid

bukan menggantang asap

segala gumam para cenayang

membuat kamu hiperilusif


adalah terpana

temaram lembayung jingga

torehkan syahdu di warna senja

adalah menderu

dingin angin menimang lembut luruh daun

menggigil kelu dalam dekap canggung

adalah berdebur

ombak membelai pantai

tegaskan hadirmu dan hadirku

adalah gemetar

hasrat tersembunyi yang sempat kucuri

dari jengah hangat bibirmu


sadari dan hadapi tak hendak mensiasati

tarian gemulai gerai rambutmu

juga hening nafasmu satu…satu…

menuntun kedalaman rasa

meretas berjuta makna

tanpa kata

dalam penyerahan…

bukan pengendalian…

Masih ingatkah dulu?

Kala kau berikan aku

Surat cintamu

narsisku

Aku terlena

Dalam kebimbangan .. kebingungan..

Dan kau hanya tersenyum

Dan berkata…

Surat… untukmu..

Saat itulah aku tertegun

Bingung

Kubuka, kubaca dan kubaca

Kupahami segera

Inilah ungkapan cintamu

Cintamu.. pertamaku

Indah memang

Kunikmati setiap hari

Penuh kebahagiaan

Hari berganti minggu

Minggu berganti bulan

Jika saja waktu tidak berlalu

Kau tak akan pernah tinggalkanku

Dan … saat ini

Aku begitu sangat merindukanmu

pfupnKevCn

Apuranen kumawani atur kagawa tyas kayungyun,

Hening ati madyaning ratri,

Ameruhi…..

Kurungan peksi prada rukmi samya sunya tan ana kang nenggani

Perkutute anggegana sirna urubing cahya

Peteng ndedet lelimengan…..

Angrerintih kalimputan…..

Para bajang atut wuri Si Kaki

Adedamar nuntun barisan mecaki dalan

Wus rusak dhatulaya !!

Rasa datan bisa anyurasa !!

Oncat maligi jiwangga !!

Lebur tumpur tataning sujanma !!

Duh… kadhang-kadhang taruna jatmika,

Jantraning jagad wus aweh sasmita,

Angajap tyas rahayu samya weweka,

Golonging tekad meper hardaning priyangga

Duh… reroncening puspa,

Datan rebut unggul hamung lila legawa

Anglepas tansaya pas

Angaturi dipun genepi

Dadya ratus ing Padupan Kencana,

Tulus sumedya angambar arum,

Kumelun sundul ngawiyat,

Handayani geter sarining bawana,

Sarining Allah sarining Rahsa

Byar padang sasangka

Kadya tanggal kaping limalas

Padang njaba pandang njero

Padang luwih padang

♥♥♥☼♥♥♥

Tuhan berkarya dalam diri manusia, manusialah tangan dan kakiNya

Setiap pribadi telah dianugrahi talenta bukan untuk digenggam erat namun untuk saling berbagi

Tiada yang paling hebat namun kebersamaan membuat kuat

Dengan tulus menerima dan merayakan talenta yang ada pada orang-orang disekitar kita & dengan rendah hati mempersembahkan (melepas) talenta kita hidup semakin dipenuhi dan digenapi

Karena kita seumpama untaian bunga, untaian batang-batang lilin yang menyala

Malampun benderang berpendar cahaya

Atmosfer dipenuhi harum wangi bunga

Ya Allah, Tuhan orang-orang yang terampas!
Engkau hendak merahmati Orang-orang yang terampas di dunia ini,

Orang kebanyakan yang bernasib tak berdaya
Dan kehilangan hidup,
Orang yang diperbudak sejarah,
Korban-korban penindasan
Dan penjarahan waktu,
Orang-orang celaka di atas bumi ini,
Menjadi pemimpin-pemimpin umat manusia
Dan pewaris-pewaris bumi. Sekarang sudah tiba waktunya
Dan orang-orang terampas di atas bumi ini
Merupakan pengharapan akan janji-Mu

Ali Syariati

Penggalan Kisah

Bermula dari sini, ketika memburu rejeki untuk pemenuhan kebutuhan, Tuhan menghardik aku lewat sosok pengemis gila di pertigaan.

(lagi…)

Dalam tulisan saya sebelumnya, diungkap bahwa kemiskinan dan penindasan yang makin parah serta tiadanya harapan untuk mencapai kesejahteraan membuat masyarakat mudah dihinggapi mimpi, ilusi sosial tentang kedatangan Ratu Adil.
Namun benarkah Keadilan *Ratu Adil* hanya sekedar dambaan ilusif ?

MITURUT PEMANGGIH KULA

Banyak orang berpandangan bahwa Ratu Adil adalah satu sosok pribadi, bahkan beberapa spiritualis mengklaim telah bertemu wujud asli dari Ratu Adil beserta pamongnya Sabdo Palon dan Nayagenggong.
Tentang hal ini saya tidak hendak menyanggah, meragukan atau menyetujuinya, namun saya mencoba untuk tidak terjebak *halah* dalam pengkultusan individu. Yang mengagung-agungkan sosok pribadi sebagai jalma linuwih, punjul-punjuling apapak, jalma limpat seprapat tamat. Kultus individu semacam ini tidak sesuai malah cenderung untuk mencederai Keadilan :D (lagi…)

Halaman Berikutnya »