Antara lama ana marmaning Hyang Widhi,

Kusuma taruna jati bebisik Satriya Suci,

Wus mantun hanggenira piningit linuwaran dening Allah,

Kinen anyapih gung-agenging perang rusuh,

Hanyirnakaken durjana durmala durmadi,

Suksmaning Suksma Jati.

Sanadyan hamung priyangga prasasat hangadu jalmi,

Ewa semana mengsahira sami kabarubuh kasoran yudhanira.

Inggih satriya puniki langgeng dzikire,

Pandita, guru, kyai iku kang dadi kawulane.

Narpati Njeng Sunan Herucakra jejulukipun,

Hambawahi Tanah Jawa,

Jawa jawi mapan wus ngerti dadi wajibing wong urip sakdurunge mati.

Pangarsa kang nyata,

Imam Mahdi tetengeripun.

(lagi…)

Tumeka ing janji wajib dilakoni kudu ditindaki,

Aja samar aja cidra punapa semaya,

Kabeh wus tekan titi mangsane,

Putra wayah amusthi aji luhuring budi,

Duhkitaningtyas sumengka kawekas,

Penggalih datan kena ajrih,

Keteging angga mangayu hayuning bawana,

Dilah latu lathi micara,

Mentering aruna netra amyarsa,

Durga sirep,

kala lerep,


PUSAKASejalan dengan SUMPAH BUDAYA yang telah dideklarasikan bersama dan mundhi dawuh untuk menyingkap rekaman sejarah meski menyakitkan, dalam tulisan kali ini perkenankan saya mendongeng sebuah cerita yang tak tertulis hanya dari TUTUR TINULAR dan pengalaman ghaib yang tiada saksi.


Alkisah Sandyakalaning Majapahit, seperti dikisahkan di Kitab Darmagandul.

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Sanga, membuat konspirasi untuk Adipati Bintara melakukan kudeta kepada ayahanda-nya dengan alasan membebaskan semua orang dari ke-kafir-an :-) .

Pada saat pertemuan untuk merencanakan kudeta tersebut hanya seorang anggota dari dewan wali yang tidak setuju, yaitu Syekh Siti Jenar, maka kemudian Syekh Siti Jenar di eksekusi oleh Sunan Giri. Syekh Siti Jenar adalah satu-satunya wali yang memberikan ajaran Makrifat yang intinya mirip dengan Manunggaling Kawulo Gusti dari ajaran Jawa sehingga banyak masyarakat dan petinggi Majapahit berkawan akrab dengan Syekh Siti Jenar karena merasa ada kecocokan dalam sudut pandang tanpa harus terpaksa ikut ritual ajaran Makrifat itu sendiri, hal itu tidak disenangi oleh para wali yang lain yang lebih membawa ajaran agama rasul waktu itu ke Syariat. Pada saat leher dari Syekh Siti Jenar dipenggal oleh Sunan Giri terjadilah keajaiban di mana darah yang muncrat dari leher Syekh Siti Jenar membentuk tulisan asma Allah pada lantai, serta berbau wangi tidak anyir.


Singkat cerita, terjadilah kunjungan besar-besaran Pangeran Bintara disertai dengan para wali dan adipati-adipati pesisir yang sudah memeluk agama rasul dengan seluruh bala tentaranya, rencana itu sebetulnya sudah tercium oleh pasukan Majapahit yang menjaga kraton, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Pangeran Bintara merupakan salah satu putra dari Sang Prabu Brawijaya VIII sendiri dan kunjungan besar-besaran itu awalnya disampaikan hanya merupakan kunjungan rombongan anak yang akan sowan kepada sang ayah. Pada saat itu kebetulan Sang Prabu Braiwjaya VIII sedang tidak ada di kraton karena sedang menuju Bali dengan diiringkan dua abdi-nya yaitu Sabdapalon dan Nayagenggong.

Kunjungan yang awalnya ditiupkan dalam keadaan damai berubah menjadi kudeta yang sangat berdarah, semua kitab-kitab di kraton dibakar, kraton dirusak habis-habisan dan terjadi pembunuhan massal kepada warga Majapahit di ibukota negara waktu itu yang tidak mau memeluk agama rasul. Kemenangan pasukan Bintara dan para wali itu harus dibayar dengan darah dari banyak warga ibukota Majapahit pada jaman itu


Setelah mereka berhasil memuaskan keinginan untuk merebut Kraton Majapahit *yang direbut waktu itu baru Kratonnya belum menundukkan Majapahitnya sendiri*, rombongan besar Adipati Bintara bersama dengan para wali kemudian sowan kepada kasepuhan mereka yaitu Sunan Ampel di Ampeldenta [Sunan Ampel sendiri merupakan kakek dari Jin Bun dan ayahanda dari Putri Cempa], pada saat itu Sunan Ampel sudah wafat sehingga mereka diterima oleh Nyai Ampel. Alangkah kagetnya Nyai Ampel pada saat mereka semua menghaturkan berita tentang berdirinya Kerajaan Islam pertama dengan jalan seperti itu. Nyai Ampel sangat marah besar dan tidak membenarkan perbuatan itu, apalagi cara yang dilakukan oleh Pangeran Bintara sangatlah tidak ksatria, menikam dari belakang, kepada orangtuanya sendiri lagi, karena bukan seperti itulah sejati-nya Islam yang benar. Sampai Nyai Ampel mengutuk cucunya sendiri yaitu Pangeran Bintara dengan sebutan ‘anak durhaka’
.

Saat itu Pangeran Bintara sangat terpukul dan menyesal sehingga mengutus Sunan Kalijaga untuk menyusul Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam sebuah perjalanan ke daerah Bali. Sunan Bonang berusaha menenangkan hati Pangeran Bintara bahwa apa yang dilakukan adalah sudah sewajarnya dan tidak usah menurutkan apa yang diucapkan oleh seorang wanita.


Sementara itu Sang Prabu Brawijaya VIII yang sedang dalam perjalanan dengan diiringkan Sabdopalon dan Nayagenggong melintas di daerah Blambangan [letak tepatnya kalo sekarang itu di daerah Porong] yang kemudian disusul oleh Sunan Kalijaga yang kemudian menyampaikan permohonan maaf dari Pangeran Bintara dan mempersilahkan Sang Prabu untuk kembali ke ibukota Majapahit. Berbagai kemarahan dan kutukan diujarkan oleh Sang Prabu demi mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh salah seorang putranya itu, dan mempertanyakan sebab kenapa hanya demi sebuah ajaran mereka tega untuk berbuat yang sangat tidak patut itu. Terjadilah dialog yang sangat tinggi pada saat itu, yang disela dalam permintaan maafnya itu Sunan Kalijaga berusaha untuk menerangkan arti ajaran dari agama Rasul, pada saat dialog sampai ke kalimat syahadat secara tidak langsung dan tidak sengaja dalam pembahasan itu Sang Prabu Brawijaya VIII juga mengulang kata itu, yang kemudian disudutkan oleh Sunan Kalijaga bahwa sebagai seorang raja besar, kata yang secara tidak sengaja mengulang kalimat syahadat itu berarti sebuah kata sabda. Sang Prabu Brawijaya VIII terhenyak dan sebagai seorang raja besar tidak mungkin menarik sabda-nya itu.


Dan pada saat Sang Prabu Brawijaya VIII ikutan mengajak Sabdopalon dan Nayagenggong untuk ikutan beliau, maka terjadilah perang kawruh tingkat tinggi antara mereka. Dan pada saat itu juga Sabdopalon menyatakan diri untuk tidak menjadi momongan bagi Sang Prabu Brawijaya VIII alias oncat sebagai pamomong seorang ratu. Sebelum kemudian sirna, Sabdopalon menurunkan sabda-nya yang intinya menyatakan bahwa kelak 500 tahun lagi akan balik masa di mana tanah Jawa akan menagih janji, tiba datangnya agama budi/kawruh

Dan itu terjadi pada saat sekarang ini ketika Para Muda bangkit kesadarannya untuk merevolusi kultur, bertiwikrama budaya, masa akan datangnya jaman keemasan Majapahit, masa 500 tahun ini diakhiri dengan Kala Bendu untuk menyongsong datangnya jaman Kala Suba.


Setelah Sabdopalon moksa di puncak Gunung Mahendra [sekarang Gunung Lawu] dengan disaksikan oleh Sang Prabu Brawijaya VIII. Kemudian Sang Prabu Brawijaya VIII juga berkeinginan untuk kembali ke alam kelanggengan/moksa dan memilih Ngobaran [pantai Ngobaran di daerah Gunung Kidul untuk sanggar pamoksannya]. Sebelum berangkat menuju ke Ngobaran, Sang Prabu Brawijaya VIII mengeluarkan ‘Sabda’ kepada seluruh Kerajaan Majapahit dan wilayah-wilayah tundukannya [Nuswantara] untuk tidak melakukan perlawanan kepada ‘Demak’ karena memang sudah begitu nasib jagad sesuai dengan garis alam, dan memperbolehkan semua Raja/Adipati di semua wilayah Majapahit untuk menentukan nasibnya sendiri-sendiri.


Pada perjalanan Sang Prabu Brawijaya VIII dari puncak gunung Lawu menuju pantai Ngobaran, sampailah beliau di daerah Batur, Putat, Bobung, Gunung Kidul. Di sinilah sebetulnya inti dari awal muasalnya
terciptanya kidung Danghyangan.

Di daerah Gunung Kidul sebelum masuk kota Wonosari ada daerah yang bernama Bobung yang terkenal dengan kerajinan dari kayu [patung kayu, topeng kayu, dll.] dan naik ke atas lagi daerahnya bernama Batur – Putat, yang sebetulnya asli kerajinan dari kayu itu berasal dari sini, tapi karena letaknya lebih di bawah maka Bobung lebih dikenal sebagai sentra kerajinan dari kayu, padahal pasokannya justru dari Batur – Putat itu. Di Batur – Putat selain penduduknya yang trampil dalam membikin kerajinan dari kayu, di sana juga banyak ragam kesenian yang sampai sekarang masih cukup aktif, semacam gejog lesung, jathilan, reog, tari topeng, dll. Di daerah itu juga terdapat sebuah pohon Beringin putih dan sungsang daunnya. Cerita lisan dari penduduk Batur adalah, bahwa dulu konon Brawijaya pernah singgah di daerah situ dan di bawah pohon beringin itu lahirlah seorang putra dari Brawijaya. Satu kilometer dari letak pohon beringin putih sungsang itu, melewati perkampungan penduduk kita akan sampai ke sebuah air terjun yang landai berundak-undak, kadang pada saat musim kemarau airnya tidak kering, air terjun itu dikenal dengan nama air terjun Banyunibo, dan kalau mata kita cermat, sejajar dengan ketinggian air terjun di badan perbukitan dan tertutup banyak tanaman, kita dapat melihat sebuah gua di atas, yang untuk menuju ke gua tersebut kita harus merayap badan bukit, gua itu hanya muat untuk satu orang saja.


Pada saat dalam perjalanan ke lokasi pamoksannya, sampailah Sang Prabu Batara I Kling [Brawijaya VIII] di Batur – Putat; di saat bersamaan Sunan Kalijaga mendengar bahwa Sang Batara I Kling berniat akan moksa dan segeralah Sunan Kalijaga menyusul hingga mereka bertemu di Batur – Putat. Sunan Kalijaga berusaha mencegah Sang Prabu Batara I Kling untuk moksa karena beranggapan bahwa setelah Sang Prabu Batara I Kling mengucapkan kalimat syahadat dan dalam syariat tidak dikenal yang namanya moksa itu, tapi Sang Prabu Batara I Kling bersikeras dan tidak ada yang dapat mencegah niatnya untuk moksa. Terjadilah dialog yang meningkat ke perdebatan yang cukup tinggi pada saat itu, itulah kenapa daerah itu kelak dikenal dengan nama Batur yang dimaknai dari ‘mbat-mbat-an tutur’.

Dari dialog, meningkat ke perdebatan, sampai akhirnya harus dilanjutkan dengan adu kesaktian. Sehingga akhirnya memaksa Sang Prabu Batara I Kling untuk mengeluarkan ajian saktinya yang bernama ‘ajian waringin sungsang’, sebetulnya ajian itu sangat mematikan tetapi karena Sang Prabu Batara I Kling tidak berniat membunuh Sunan Kalijaga, sehingga tidak sampai terjadi ada nyawa yang melayang pada pertempuran itu. Sunan Kalijaga akhirnya tunduk dan mengakui bahwa memang banyak yang harus dipelajari oleh dia tentang tanah Jawi dan jagad raya.


Sebetulnya yang disebut oleh penduduk tentang Brawijaya mempunyai anak di bawah pohon beringin putih sungsang, kejadian sebenarnya adalah pada saat itu dan pada titik itu telah lahir sosok manusia baru yaitu Sunan Kalijaga yang berusaha mencoba memahami akan keluhuran tanah Jawi.


Kemudian oleh Sang Prabu Batara I Kling dibawalah Sunan Kalijaga ke bawah air terjun Banyunibo untuk disucikan, dan kemudian secara halus memanggil Sabdopalon untuk memberikan ajaran dan wedarannya, Sang Prabu Batara I Kling kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pantai Ngobaran.

Oleh Sabdopalon kemudian Sunan Kalijaga diajak bersemadi di gua di punggung bukit air terjun Banyunibo dan memberikan banyak piwulang tentang keluhuran tanah Jawi, serta ada dua syarat yang harus dilakukan oleh Sunan Kalijaga kelak, yaitu bahwa ajaran agama yang akan disebarkan harus melalui jalur ‘nguri-uri kabudayan’ [karena pada saat-saat itu terjadi penghancuran besar-besaran oleh Demak terhadap semua atribut Jawa, mulai dari buku-buku, perilaku, bangunan-bangunan, sampai ke kesenian-kesenian baik bentuknya maupun peralatannya]. Syarat kedua adalah bahwa kelak setelah selesai masa piwulang di Banyunibo, Sunan Kalijaga harus melakukan perjalanan untuk sowan dan menyapa seluruh penunggu/Danghyang di tanah Jawi agar setiap langkahnya mendapat dukungan dari para Danghyang, sehingga dengan cara itu maka ajaran agama dengan muatan nguri-uri kabudayan baru dapat diterima di tanah Jawi hingga tiba pada saatnya.

KALIJAGADari titik itulah, kemudian Sunan Kalijaga mengganti penampilannya, dari berpakaian serba putih-putih berganti dengan jubah hitam, sintingan [ikat kepala] hitam, dan kemana-mana membawa sebilah keris. Secara dalam dapat dicermati bahwa apa jadinya kalau tidak ada peristiwa di Batur itu, ada kemungkinan sekarang kita tidak akan dapat lagi menikmati tari-tarian klasik Jawa, dolanan bocah, nglaras gending-gending Jawa, menikmati pertunjukan wayang, dll.

Kelak setelah Sunan Kalijaga dengan nguri-uri kabudayan-nya mengunjungi lokasi malinggihnya para Danghyang se tanah Jawi, maka dibuatlah Kidung Danghyangan. Sunan Kalijaga adalah satu-satunya Sunan yang sudah dimaafkan oleh para leluhur bangsa kita.

SUJUD SUNGKEM

Bukan bermaksud ngurek-urek barang bosok, membuka luka lama & membangkitkan sentiment masa lalu. Namun tulisan ini semoga dapat menjadi sebuah pelajaran bagi generasi sekarang.

Nusantara sangat kaya akan kearifan budayanya yang berdasarkan welas asih mawas diri tepa slira, tak seharusnya kita menganggap rendah budaya & pencapaian kita, bahkan memberi stigma kafir.

Seperti pada tulisan saya terdahulu,

Dalam hidup ini memang banyak hal yang tak dapat dinamai, tak dapat dijelaskan, tak dapat diringkus oleh keterbatasan nalar.

Untuk itu diperlukan penandaan, metafora, penamaan, penjelasan, penyederhanaan. Lalu diciptakanalah teks2 yang kita baca sebagai Tuhan, Allah lan sapanunggalanipun.

Budaya Nusantara menjelaskan dalam sanepan agar tiada finalitas definisi, karena selalu ada penundaan makna dari setiap symbol yang hadir

Penundaan yang akan terus menyingkap diri dalam setiap proses perjalanan manusia, dalam setiap relasi manusia.

Maka mari kita teruskan perjalanan manusia ini dalam mencapai kepurnamaannya, dengan membangun dan membina relasi.

Relasi dengan sesama, dengan alam dan diri sendiri


Semoga kita tak terperangkap dalam Logo-sentrisme, memaknai simbol hanya dalam batas apa yg tampak secara visual dan level “kulit” lalu memberi stigma buruk kepada orang lain yang kita anggap tak sepemahaman dengan kita

Semoga kita dapat mengambil hikmah.


Panutuping atur,

Tidak semua pihak akan dengan mata hati dan mata batin secara terbuka dapat menerima sebuah kenyataan yang memang kadang-kadang pahit untuk diungkap, tidak hanya sekedar open-mind untuk memahami ini, dibutuhkan juga open-wide :-)

” luwih becik wong sing ngakoni mung ora nglakoni tinimbang wong sing nglakoni mung ora ngakoni, mung tetep paling becik wong sing iyo nglakoni, iyo ngakoni. “

SUMPAH BUDAYA
Selasa 27 Oktober 2009

garuda-pancasilaGlobalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macan Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, bangsa kita lebih kaya akan ragam budaya dan kearifan local. Didukung sumber daya alam, kita akan mampu menjadi bangsa yang lebih jayaraya dari bangsa-bangsa tersebut.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

  1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA
  2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN
  3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL
  4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
  5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :

THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

  1. KI WONGALUS
  2. KI ALANG ALANG KUMITIR
  3. KI SABDALANGIT
  4. KI AGUNG HUPUDHIO
  5. TOMYARJUNANTO

Sepanjang sejarah, manusia membutuhkan pemahaman & pemaknaan akan hidupnya, Baik lewat jalan spiritual maupun ilmu pengetahuan, bisa lewat agama, pemuasan hawa nafsu juga eksploitasi alam.

Hanya dalam memperoleh pemahaman & pemaknan itu manusia butuh penanda ‘logos’, dimana para winasis mengibaratkan jaring dalam menangkap ikan

Bila ikan sudah tertangkap seharusnya lupakan jaringnya jangan malah terpaku padanya

Inilah yang terjadi pada manusia saat ia memahami makna namun terperangkap dalam penanda atau logos

Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

Manusia tidak lagi mencari makna ia sudah puas dengan segala pemaknaan yang secara kutural didoktrinasi & diinternalisasi kepadanya.

Inilah sumber kekacauan atau chaos. Manusia tak mampu meneruskan evolusinya menuju manusia atas meminjam istilah Nietzche.

Sebenarnya dibalik segala penanda yang secara empiris kita cerap ada yang disebut arche, kalau orang Jawa menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi nggih sumangga kersa, sebuah proses yang membawa kita pada suatu kepenuhan hidup.

Contohnya infrastruktur yang dibuat manusia untuk memnuhi kebutuhan hidup seperti bendungan atau waduk. Ratusan tahun sebelumnya para Winasis telah meramalkan bahwa sebagian Jawa akan kembali jadi laut. Nah bukankah kalau terjadi gempa besar di daratan Jawa bendungan seperti Wadas Lintang, Gajahmungkur dadal sungguh2 akan membuat Jawa menjadi laut.

Ada sebuah proses yang sedang berlangsung dalam setiap peristiwa yang terjadi

Ada makna dibalik segala penanda

Ada arche yang mengawali logos

Sangkan paraning dumadi

Yesus

Yesus

Sebuah cerita di keluargaku


Saat pertemuan keluarga besar yang diadakan di rumahku rajah Kalacakra yang kupasang diatas pintu lupa belum kuambil.

Banyak Saudaraku yang mengernyitkan dahi melihatnya seakan melihat suatu hal ganjil dan aneh.

Seorang pamanku beragama Kristen bertanya apa maksud dari gambar coret-coret yang ada di atas pintuku.

Sebelum sempat menjawab pamanku yang lain mengatakan ,”Oh Tomy itukan penganut Kejawen..”

Yang lalu disambut pamanku yang tadi bertanya, “Gambar-gambar seperti itu namanya Antikris”

Dengan senyum aku menjawab sekenanya saja “Boleh jadi Om, tapi Yesus sendiri yang mengajarkan makna gambar itu kepada saya”.

Ah andai mereka mau mendengarkan tidak segera memberi penilaian dan stigma…

Simbol apapun baik dalam bentuk kata, lukisan atau tulisan diperlukan manusia untuk menangkap makna, seperti pamanku yang Kristen ia menggunakan Salib yang digantung di dinding untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya sementara pakdheku yang Islam lebih afdol memakai syair2 indah yang disebut dengan Al Fatihah.

“Kok bisa Yesus yang mengajarkan seperti itu?” Tanya pamanku sewot

“lho Yesus khan mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita bahkan salah satu sabdaNya adalah bila pipi kirimu ditampar berikan pipi kananmu. Sekarang coba Om kita simak doa dalam Kalacakra :


YAMARAJA…JARAMAYA

- siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan

YAMARANI…NIRAMAYA

- siapa datang bermaksud buruk akan malah menjauhi

YASILAPA…PALASIYA

- siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YAMIRODA…DAROMIYA

- siapa memaksa, malah menjadi memberi keleluasaan atau kebebasan

YAMIDOSA…SADOMIYA

-siapa membuat dosa malah membuat jasa

YADAYUDA…DAYUDAYA

-siapa memerangi malah menjadi damai

YASIYACA…CAYASIYA

-siapa membuat celaka malah menjadi membuat sehat, sejahtera

YASIHAMA…MAHASIYA

-siapa membuat rusak malah menjadi membangun dan sayang.

Nah, makna yang tersirat sama antara tanda Salib, Al Fatihah maupun Rajah Kalacakra.

Bila kita telah mampu mengupas buah dan memakan isinya yang berasa sama, mengapa kita harus meributkan pembungkusnya


Sementara itu didalam rumah ada terpampang lukisan Ibu Ratu Kidul yang segera disikapi oleh bibiku sebagai musyrik. Dengan tenang istriku menjawab,

”Bila Bunda Maria menampakkan diri di Meksiko memakai pakaian Indian, masak Yesus jalan-jalan di Tanah Jawa tidak boleh pakai blangkon” :mrgreen:

~HA~

Hangidunga piwelinge Kaki,

Sabda Palon Pamong Nusantara,

Ameca kasengsarane,

Rakyat Nusa sedarum,

Nampi panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya wong nyabrang,

Prapteng tengah katempuh,

Santering kali kang bena,

Yeku ing Gapura Sapta Ngesti Aji (1879),

Keh jalma samya lena.

~NA~

Nandang mrata sak Tanah Jawi,

Dadi kersane kang Murbeng Alam,

Meruhna para kawulane,

Lamun jagad punika,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju becik myang ala,

Kang nandur angunduh,

Nandang wohira priyangga,

Den alamna kinarya amratandani,

Jagad ana kang ngasta

~CA~

Carane kang paring panodhi,

Warna-warna wujuding bebaya,

Angrusak tanah Jawane,

Wong glidig datan ngukup,

Nambut karya datan nyukupi,

Priyayi padha kapiran,

Saudagar padha ambruk,

Tetanen akeh kang sirna,

Rinusakan ama katerak paceklik,

Abot uriping jalma.

~RA~

Raharjaning bumi sirna yekti,

Mubaling ama sakelangkung ndadra,

Tuhu agung rerususuhe,

Keh pandung panci dalu,

Tan tentrem uriping jalma,

Ing rina akeh begal,

Dha rebut-rinebut,

Risak tataning sujanma,

Negari kewran anggenira ngadani,

Jalma tan ajrih pidana.

~KA~

Kalampah dumugi tigang warsi,

Jalma isih jroning heru-hara,

Rebutan sandang pangane,

Lali sanak sedulur,

Amarga tan tahan perihing ati,

Lali anggering praja,

Amung mburu napsu,

Gya ketungka praptanira,

Pagebluk kang linuwih sak tanah Jawi,

Akeh kang samya pralaya.

~DA~

Dadya girising pra setan sami,

Kesandung bae nemahi lena,

Mangkiya wujuding dadine,

Udan barat angin gung,

Kayu geng rebah mblasah sami,

Kali-kali dha bena,

Nggirisi satuhu,

Kadya benaning samodra,

Kang tinerak datan saged nanggulangi,

Larut amblas myang sirna.

~TA~

Tanda ingkang luwih nggegirisi,

Alun samya munggah ing daratan,

Angrisak tepis wiringe,

Karya getering kalbu,

Ingkang dumunung kanan kering,

Kayu-kayu keh kendang,

Padha sirna larut,

Sela ageng samya mbrasta,

Gumalundung balabag katut keli,

Gumlendung swaranira.

~SA~

Sakathahing hardi agung sami,

Nggegiri urubing dahana,

Gumaleger suwarane,

Mutah wlahar myang watu,

Mblabar ngelebi kanan-kering,

Nrajang wana lan desa,

Manungsa keh lampus,

Kebo sapi gusis samya,

Raja-kaya datan wonten ingkang keri,

Tan ana manggih puliha.

~WA~

Wasana sanget horeging bumi,

Ana lindu ping pitu sedina,

Karya angrusak jalmane,

Dha nela sitinipun,

Brekasakan sami angeksi,

Anyarat sagung jalma’

Samya pating gluruh,

Kathah ingkang nandang raga,

Warna-warna panggoda lawan sesakit,

Langka waras keh lena.

~LA~

Lah mangkono karya tetenger neki,

Ingwang prapta aneng Nusa Jawa,

Maujud tengah rakyate,

Kinanthi anak putu,

Wujud brekasakan myang demit,

Sun sebar kawruh nyata,

Agama satuhu,

Ameruhna mrang makripat,

Gami budi nenggih Islam kang sejati,

Agemannya sang sukma.

~PA~

Papestining Nusa tekan janji,

Yen wus jangkep limang atus warsa,

Kapetung jaman Islame,

Nusa bali marang Ingsun,

Jawi Budhi madep sawiji,

Sapa kang ngemohana yekti nampi bendu,

Sun oyakan putuningwang,

Dadya pratanda praptaning tundan-demit,

Nggegila myang nglelara.

~DHA~

Dha weweka jaman tundan-demit,

Haywa angiderna ngelmunira,

Nedya nglawan demite,

Sira yekti ginuyu,

Dening pra demit putu mami,

Haywa nandang yudha,

Ananjakna ngelmu,

Myang sarana marupa-rupa,

Kabeh iku tan pasah ing awak demit,

Mbalik anyabet sira.

~JA~

Jangkaning Nusa wus aweh wangsit,

Wineca dening jalma waskita,

Ing primbon Jayabayane,

Jalma tan pungguh wutuh,

Wineca sirnanya sepalih,

Dene ingkang waluya,

Perlu samya weruh,

Isarat nulak bebaya,

Mung netepi dharmaning urip sejati,

Wasitanya pra kuna.

~YA~

Yaiku sahadat kang sejati,

Ameruhi dununge Sang Gesang,

Ing teleng jiwa ragane,

Lamun tan bisa weruh,

Takokna guru kang sejati,

Kang wus putus kawruhnya,

Wikan manjing alus,

Bisa ngajal jroning gesang,

Wuninga sangkan paraning dumadi,

Perlu sira upaya.

~NYA~

Nyatakna yen sira wus winirid,

Kabeh wasitanya gurunira,

Meruhna ing makripate,

Manungsa urip iku,

Suket ing wana petaneki,

Yen wus tumekeng mangsa,

Ginaru kaluku,

Ingkang nlesep selanira,

Yeku jalma kang wruh sahadat sejati,

Wisikane sang sukma.

~MA~

Manawa sira anyulayani,

Marang geguritaning Sang Gesang,

Yekti abot pidanane,

Urip iku satuhu,

Nggawa reng-renganing Hyang Widhi,

Kodrat datan anyidra,

Marang kersa Agung,

Lamun wus tumekeng mangsa,

Geguritaning Gesang mbabar dumadi,

Laksita madyapada.

~GA~

Gagaring sahadat sejati,

Karsa lamun urip iku tunggal,

Tunggal myang kabeh sipate,

Gelaring jagad iku,

Pratanda agunging Hyang Widhi,

Kwasa nganakake jagad,

Myang kwasa angukud,

Paranipun kabeh sipat,

Marang sangkane yeku Sumbering Urip,

Purwanira dumadi.

~BA~

Babaring Gesang wujud dumadi,

Anggelar sawernaning agama,

Mrata para umate,

Tumeka wancinipun,

Pra umat ngungkurna agami,

Kang sih ngrasuk agama,

Tan wruh kang satuhu,

Amung nyekeh srengat,

Sunyataning agama tan urip ning ati,

Ngrasuk blongsong kewala.

~THA~

Thathit sliweran ning Nusa Jawi,

Pratanda Ingwang numedakna,

Nyampurnakna agamane,

Mbalikna myang kang tuhu,

Anyebarna Islam Sejati,

Dhuk jaman Brawijaya,

Ingsun datan purun,

Angrasuk agama Islam,

Marga Ingwang wuninga agama iki,

Nlisir saka kang nyata.

~NGA~

Ngelingna marang umat sami,

Yen sira tan ngetut kersaningwang,

Yekti abot panandange,

Ingsun pikukuhipun,

Nusantara ing saindenging,

Bawana sisih wetan,

Asia puniku,

Kasigeg nggeningwang nyabda,

Kasabdakna mrang bawana wadag iki,

Lumantar Panembahan GIRIMAYA.

kumayan Sang Naga amemasuh memala

kumayan Sang Naga amemasuh memala

Heh ya kemladeyan ngrepak tunggak
Geniku sakpelik munggah krapak
Dennya jinejer pamong kawula dasih
Drana driya ora ateges kalindhih

Bumi wus gumelar
Langit belang amba
Hambeg deksura aglar
Wohira pinasthi tumiba

Wus katrem anggonmu dlajigan
Canthula ambondhan ngidak-idak sirah
Dening kodratingsun samya kaprabawan
Sajenku jangkep kembang macan kerah

Asta kekalih angigel laras
Dak gawe wayangan sewengi natas
Lakon bandayudha silih busana
Anderpati horeging bawana

Hiya iki supata Nusantara
Pecahing raga
Pecahing rasa
Pecahing sukma
Sukma ketula-tula ketali
Rasa rasaning nagari roganing Brawijaya duk ing nguni

…….bumi gonjang-ganjing… langit kelap-kelap… sungsang bawana walik…….

Bung Karno pernah berkata : “Kutitipkan Negara ini kepadamu, namanya titipan pasti suatu saat akan diminta kembali, namun betapa sangat menyedihkannya bila titipan amanah itu ternyata tak mampu kita kelola denagn baik malahan kita telah merusaknya. Lihat saja Timor Timur yang terlepas dari pelukan Ibu Pertiwi, korupsi yang telah menjadi bagian dari budaya, mental ‘tukang nggaduhke’ yang tidak mau repot mengelola kekayaan Negara ini tapi malah memberikannya pada pihak asing untuk mengelola, maraknya aksi terorime berkedok agama & makin jauhnya kita dari nilai-nilai Pancasila *siapa yang masih hapal Pancasila..anak-anak?*
Kita gagal dalam mengemban amanah, titipan ini yang harus kita jaga & kelola malah kita hancurkan.

wus angancik arga sad indriya,
Nandhang duhkita Risang Sungkawa,

Telah mencapai puncaknya kesedihan Ibu Pertiwi kini, maka dalam kesedihan yang teramat sangat Para Leluhur Indonesia terlebih Bung Karno mencoba membangkitkan kembali nilai2 patriotisme generasi muda
Kunarpaning Sri Aji Narpati,
Sumunar tatas ambabar turas,

Inilah wejangan dari kumara Bung Karno tentang nilai-nilai kemanusiaan & makna 17-8-1945 :

Angka 1 adalah Sang Hidup, dalam aksara arab disebut Alief
Alief ini tak bisa berdiri sendiri karena belum bisa membentuk kata, atau Hidup belum bisa menghidupi.
Untuk itu dibutuhkan sandangan atau pakaian, perlu di doma’, fatah atau kasro sehingga membentuk angka 7 bisa berbunyi A, I, U Aku Iki Urip, Aku Ini Hidup, sebuah kesadaran akan diri.
Pakaian Sang Hidup inilah yang membuatnya MengHidupi, Hidup Yang menghidupi yang disebut sebagai agama. Bukan agama sebagai kelembagaan keyakinan namun agama sebagai ageming aji, pakaian Sang Hidup, kang tuwuh saka ing kalbu, bertumbauh dari dasar kalbu, kang mahanani marang pranatan, kasusilan saha kabudayan, yang terimplementasi dalam peraturan, tata susila & kebudayaan yaitu BUDI PEKERTI LUHUR.
Alief yang telah menjadi bunyi atau angka 1 menjadi angka 7 inilah yang disebut sebagai TONGKAT KOMANDO atau TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI.
Kesadaran yang membabar kesejatian diri, bahwa setiap manusia sesungguhnya sama & sederajat berasal dari Sang Hidup yang Tunggal ( 1 ) maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan & peri keadilan, dan proklamasi adalah pembabaran kesadaran hidup manusia Indonesia untuk berjuang bersama seluruh masyarakat & bangsa dunia memayu hayuning bawana dengan berdasar pada persamaan, persaudaraan, kemerdekaan, perdamaian abadi & keadilan social.

Angka 8 adalah Pedoman seorang pemimpin bangsa yang mampu bersikap seperti 8 unsur alam yang disebut Hasta Brata seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya disini.
Juga sebenarnya adalah Tuntunan Hidup bagi tiap manusia, semangat juang yang tinggi mencapai kesejatian manusia

“GUNTUR menggelegar suaramu
Diah Permata Sari MEGAWATT 2000 sinar matamu
SUKMAWATI sukmamu
RAHMAWATI rahmatmu
GURUH menggelegar di atas kepala berjalan di bawah kaki
BAYU kekuatanmu
TOPAN badai membelah gunung
Mencari Dewa Ruci RATNA KARTIKA SARIDEWI”

Sebuah doa dari Leluhur kita agar anak-anaknya, kita semua ini sungguh mencapai kepenuhan hidup sebagai bangsa yang merdeka bersatu berdaulat adil dan makmur

Angka 1945 adalah kultur hidup manusia.
1 adalah Hidup
9 secara de yure ada Wali Sanga secara de facto adalah 9 bulan dalam kandungan Ibu *tambah 1 Sang Hidup menjadi 10 hari*, 9 lubang nafsu (Babahan Hawa Sanga), juga adalah terdiri dari
4 unsur alam yaitu Bumi, Api, Angin dan Air yang dilengkapi dengan
5 mudarah yaitu Nur, Rahsa, Roh, Akal & Budi.
Dalam mistik Jawa disebut pula sebagai Sedulur Papat kalima Pancer. Kesemuanya membentuk kesadaran Aku Iki Urip seperti telah diterangkan tadi.

Begitu dalam makna dari tanggal 17-8-1945, semoga dapat menjadi bahan refleksi kita dalam peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 tahun ini.
Tanggal proklamasi tidaklah diambil secara sembarangan namun penuh pesan moral dan nilai filosofi yang tinggi. Tinggal kita para pemuda generasi penerus ini yang berkewajiban memaknai & mengisinya.
17-8-1945 pernyataan kemerdekaan Negara kita, tugas kita mewujudkannya bukan sebagai sebuah pernyataan namun sungguh dinyatakan

Akhir kata mengutip kata-kata Eyang Tunjung Seta, Danghyang Gunung Lawu :

HAYWA SAMAR
DUR SUKERING KAMURKAN
MRIH DHU KAMARDIKAN
BAYA SIRA HARSA MARDIKA

Jangan takut melawan segala bentuk kejahatan
Baik dari luar terlebih dari dalam diri
Bila engkau sungguh-sungguh ingin merdeka

Mari revolusi mental budaya kita
Kita buat budaya tandingan, berTRIWIKRAMA BUDAYA
Habitus baru yang jauh dari korup
Bersama memayu hayuning bawana
Dalam semanagt persamaan & persaudaraan
Sebagai Utusan Sang Hidup yang Menghidupi

TEKEN ALIEF MBABAR DUMADI,
Salam komando, Nusantara Jaya
Dirgahayu Republik Indonesia

Oleh : Suprayitno

Mudah sekali seseorang mengatakan “aku mencintaimu” atau “daripada kita selalu bertengkar, lebih baik kita putuskan saja cinta kita”. Dan masih banyak ungkapan cinta meluncur dari bibir beragam lapisan masyarakat. Ada yang berkata, aku cinta produk dalam negeri atau ada pula yang bilang kesan pertama begitu menggoda hingga akhirnya aku benar-benar jatuh cinta pada lukisan Mona Lisa  karya  masterpiece seorang seniman bernama Leonardo da Vinci. Senyum Monalisa adalah senyum sejuta pesona, begitu sulit diterka, apakah senyum cinta atau senyum duka. Karena saking jatuh cintanya, ada seseorang yang berani membayar berapa pun harga lukisan itu.

Cinta begitu aneh dan sulit dipahami. Kalau benar cinta, mengapa menyiksa? Kalau benar cinta, mengapa membunuh? Cinta juga begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lalu apa sebenarnya cinta itu? Kadang kita tak bisa  memberikan jawaban yang memuaskan ketika kita didesak oleh sang kekasih dengan pertanyaan ”Mengapa kamu mencintai aku?”  Melalui tulisan singkat ini akan saya coba uraikan pengertian dan makna  serta pengaruh “dahsyat” cinta pada berbagai aspek kehidupan.

Pengertian Cinta

Cinta adalah ekspresi jiwa yang didorong oleh suatu keinginan memiliki, menguasai dan atau menikmati (memanfaatkan) atas suatu materi atau objek. Cinta  yang baik biasanya bergandeng mesra dengan “kasih”. Tetapi kasih memiliki pengertian yang berbeda. Dalam kasih cenderung kita ingin memberi apa yang kita miliki dan ingin berbagi apa yang kita mampu lakukan kepada suatu objek/orang lain.

Kasih tanpa cinta sangat tidak mungkin. Tetapi cinta tanpa kasih sangat mungkin. Karena unsur cinta lebih banyak untuk pemuasan/kepentingan diri kita, sedangkan unsur kasih lebih banyak untuk pemuasan orang lain. Biasanya kita sering menggabungkan kasih dengan belas, sehingga terbentuklah ungkapan “belas kasih”. Oleh karena itu, kasih lebih banyak memberi atau mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain yang dilakukan berdasarkan perasaan  belas.

Cinta yang baik juga sering ditemani oleh “sayang”. Kalau sayang pasti karena ada cinta, tetapi kalau cinta belum tentu ada sayang. Sayang merupakan sikap tak ingin menyia-nyiakan sesuatu. Makanya jika  kita menyayangi sesuatu benda atau apapun, biasanya kita akan merawat atau memeliharanya dengan penuh perhatian dan kita akan memperlakukannya  dengan baik. Mengapa kita mengasihi?  karena kita sayang. Kasih dan sayang adalah paduan yang sangat ideal dalam kehidupan, didalam kasih ada sayang, begitu juga dalam sayang ada kasih. Paduan yang erat antara kasih dan sayang akan melahirkan “kemesraan” yaitu meleburnya antara kata-kata dengan perbuatan dalam satu nafas cinta.

Kasih dan sayang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang ketika orang tersebut  memiliki empati  (tenggang rasa, tepo seliro)  keikhlasan (ketulusan hati) dan kesabaran. Oleh karena itu jika ada pertanyaan “Mengapa kamu mencintai aku?” maka menurut pendapat saya jawabannya adalah “Karena aku ingin memilikimu, menikmatimu dan menguasaimu apapun adanya dirimu dengan landasan kasih dan sayang. Aku akan menjagamu dengan sepenuh hati karena aku membutuhkanmu dan tak akan kubiarkan dirimu terluka.”

Dorongan cinta diantaranya karena kita ingin  memiliki, menguasai dan menikmati. Oleh karena itu jika seseorang sedang jatuh cinta (pada  apapun materinya)  ekses yang paling menonjol adalah munculnya sikap egoisme, cemburu, merindukan, berkorban (demi pamrih yang dicita-citakan),  suka  cita, ambisi, berkhayal dan waspada karena takut kehilangan.

Di dalam cinta ada paduan gelora jiwa yang teramat kompleks, karena dia melibatkan seluruh perasaan yang ada dalam jiwa seseorang. Oleh karena itu cinta kadang membuat kita lupa. Lupa akan posisi kita sehingga  kita sering berbuat tidak adil gara-gara cinta. Cinta sering menjerumuskan kita dalam kegelapan. Padahal, spirit dari cinta seharusnya demi pencerahan bukan untuk merusak dan membakar, sebab lambang dari cinta adalah air jernih yang mengalir tenang. Namun, air yang jernih ini pun bisa segera berubah warna menjadi keruh dan menggelegak  yang siap menyeret kita dalam pusaran arus deras dan menenggelamkannya. Hal ini terutama untuk jenis cinta yang  hanya  dimotivasi oleh unsur penguasaan dan kenikmatan demi pemuasan nafsu saja.

Cinta yang digerakkan hanya oleh semangat penguasaan dan kenikmatan demi pemuasan nafsu, sangat berbahaya karena bisa membuat hati kita buta atau gelap mata (brutal). Hati yang buta atau mata yang gelap, akan mudah menyeret kita pada perbuatan kalap yaitu tidak bertanggung jawab. Berani berbuat tetapi ketika dituntut tanggungjawawabnya akan mengelak dengan berbagai cara dan alasan.  Oleh karena itu jangan mudah jatuh cinta oleh objek apa pun termasuk cinta kepada materi (harta, tahta dan  seks). Supaya tidak mudah jatuh cinta diperlukan keceerdasan, kritis, analitis, dan obyektif dengan  harus senantiasa dapat mengontrol prilaku diri kita.

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Cinta membuat hidup kita senantiasa dikuasai oleh banyak keinginan, baik dorongan keinginan untuk pemuasan jiwa maupun raga. Namun, dari sejumlah keinginan itu sebenarnya banyak yang bukan merupakan kebutuhan. Misalnya, kita sebenarnya tidak butuh atau tidak perlu rumah mewah dengan interior design yang gemerlap, yang kita BUTUHkan hanyalah rumah tempat tinggal yang aman, nyaman dan sehat lingkungan. Tetapi karena kita terlalu dikuasai oleh dorongan kinginan untuk memiliki rumah mewah, maka akhirnya ditempuhlah berbagai cara demi mewujudkan keinginan.

Hidup kita akhirnya banyak dikendalikan oleh “keinginan demi keinginan”. Kita ingin memiliki seratus pasang giwang berlian dengan berbagai model, padahal yang kita butuhkan sebenarnya hanya tiga pasang bahkan tanpa satu pasang giwang pun sebenarnya tidak apa-apa. Jika kita tidak tahan dengan godaan keinginan, ditempuhlah berbagai cara demi mewujudkannya, misalnya pinjam (hutang) sana-sini, mencuri/korupsi, merampok, menipu dan sebagainya. Padahal, jika kita selalu menuruti keinginan, maka niscaya keinginan itu tidak ada batasnya.

Lain dengan kebutuhan. Kebutuhan hidup itu relatif terbatas. Contohnya, dalam satu hari kita hanya butuh makan tiga kali. Tetapi “keinginan” makan berbagai menu itulah yang sulit kita batasi. Kita sebenarnya hanya memerlukan (membutuhkan) lima stel pakaian, tetapi karena keinginan pada berbagai mode dan merek akhirnya pakaian kita menumpuk sampai tiga almari. Nafsu-nafsu inilah yang akhirnya menyeret dunia dalam berbagai krisis yaitu krisis pangan, krisis energi, kirisis ekonomi dan krisis politik. Angkara murka dan gengsi  sering karena dipicu oleh keinginan yang tak terkendali.

Kita merasa selalu tidak puas dengan apa yang telah diperoleh. Satu kinginan telah berhasil diraih, maka seribu keinginan akan menagih untuk dipenuhi. Kapitalisme dan liberalisme adalah “jago” dalam menjerumuskan manusia untuk berlomba-lomba memenuhi “keinginan hidup” bukan kebutuhan hidup. Manusia yang hanya sibuk menuruti keinginan, hidupnya senantiasa diliputi oleh kecemasan (Jawa:kemrungsung), kemunafikan, ambisius, dan egoistis.

Andai saja dalam kehidupan ini semua orang menggunakan prinsip “hidup sesuai dengan kebutuhan” maka tidak akan terjadi kelaparan, kemiskinan, pengangguran, penindasan, peperangan  dan kerusakan alam akibat eksploitasi tiada batas. Sesungguhnya, alam yang begitu luas dan subur ini, mampu menghidupi semua makhluk yang tumbuh atau hidup di atasnya.

Lihat saja, betapa maha pengasihnya alam ini, yaitu ketika kita menanam sebutir jagung maka  akan keluar beratus-ratus butir jagung, ketika kita menanam satu bulir padi  maka kita akan memanen beratus-ratus bulir padi. Ketika kita menanam satu butir biji melon, maka kita bisa memanennya menjadi berpuluh-puluh buah melon. Begitu juga dalam berternak atau budidaya ikan. Bagaimana mungkin kita kekurangan gizi, wong satu ekor ayam bisa bertelur sampai puluhan butir dan bahkan satu ekor ikan lele bisa bertelur sampai ratusan butir. Hampir tidak ada buah,  biji-bijian atau hewan peliharaan yang tidak berlipat ganda jumlahnya dibandingkan dengan jumlah yang kita tanam atau kita pelihara. Ini semua membuktikan bahwa alam tidak akan membiarkan penduduknya kelaparan dan miskin.

Alam begitu kasih dan sayang terhadap penduduknya, namun sayangnya manusia sering berlaku buruk terhadapnya. Alam yang sudah begitu baik ini, malah diperkosa dan disakiti dengan berbagai macam pencemaran dan pengrusakan lingkungan demi pemuasan nafsu yang tak pernah habis. Aliran sungai yang sebenarnya merupakan urat nadi kehidupan, malah dijadikan tempat pembuangan segala macam sampah dan limbah pabrik yang berbahaya. Hutan yang sebenarnya mampu berfungsi sebagai lahan ekosistem, digunduli sehingga banyak hewan dan spesies lainnya mati dan air hujan pun langsung mengguyur permukaan tanah yang gundul itu dengan sangat leluasa. Akhirnya terjadi tanah longsor, banjir dan pendangkalan sungai-sungai.

Benci adalah Lawan dari Cinta

Cinta memang telah melahirkan berbagai macam dorongan keinginan. Benci juga melahirkan berbagai macam keinginan yaitu keinginan untuk melenyapkan, keinginan untuk menjatuhkan, keinginan untuk membunuh dan berbagai keinginan yang sifatnya merusak. Lawan dari cinta adalah benci. Lalu apakah yang disebut dengan kebencian atau benci itu? Benci adalah kebalikan dari cinta yaitu ekspresi jiwa yang cenderung untuk meniadakan, memusuhi, menghancurkan atau memusnahkan atas suatu materi.

Karena unsur benci adalah semangat untuk meniadakan, memusuhi, menghancurkan dan memusnahkan pihak lain, maka gejala yang menonjol dari benci adalah amarah, tidak toleran, menyerang, merusak dan perasaan superioritas pada dirinya sendiri yaitu menganggap dirinya yang paling benar dan kuat.

Dalam kebencian selalu saja ada sikap amarah. Padahal seseorang yang sedang marah, selalu mengandaikan orang lain salah atau menentang kehendaknya. Orang yang tidak toleran biasanya egois karena selalu berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang yang menyerang biasanya karena dia lebih suka jalan pintas, tidak suka musyawarah tidak suka dialog. Orang yang merusak biasanya karena jiwanya kaku dan keras tidak menyukai kebijaksanaan, keindahan dan ketertiban.

Antara benci dan cinta sungguh sangat tipis batasnya. Mengapa? Sebab gejala yang tampak  akibat dari cinta juststru sering berakhir dengan malapetaka. Cinta yang seharusnya memelihara justru malah merusak. Cinta yang seharusnya melindungi justru malah menyiksa. Misalnya, cinta orang tua terhadap anaknya yang seharusnya   melindungi malah sering berakibat pada penyiksaan. Semua ini karena orang tua mengukur cinta dari dalam dirinya sendiri tanpa disertai sikap kasih dan sayang.  Cinta yang tidak dibarengi dengan kasih dan sayang justru bisa berakibat fatal. Karena kita hanya pandai menuntut tanpa mau berkorban, menjadi takut kehilangan dan mudah gelap mata. Jika tidak hati-hati dengan cinta, maka tidak ada bedanya antara benci dan cinta. Sebab, keduanya bisa sama-sama menghancurkan pihak lain maupun dirinya sendiri.

Lambang dari benci adalah kobaran api yang menyala-nyala yang siap untuk membakar dan menghanguskan apapun yang ada dihadapannya termasuk dirinya sendiri. Benci begitu mudah menyilapkan pandangan kita, seolah-olah apa yang ada di hadapan kita semua serba buruk, semua serba negatif. Mengapa hal ini terjadi? Karena kita telah kehilangan kesabaran untuk menentramkan diri. Dengan demikian, sabar adalah kata kunci untuk memerangi kebencian. Dengan kesabaran kita berkesempatan untuk menilai segala sesuatu berdasarkan nurani yang jernih bukan dengan emosional (nafsu amarah).

Semangat dari cinta adalah “menumbuhkan” semua harapan yang indah dan ideal. Sedangkan semangat dari benci adalah “mematikan“ semua yang indah dan ideal. Jadi betapapun kita membenci atau mencintai sesuatu tetaplah kita selipkan perasaan “eling lan waspodo”  agar kehidupan ini tidak mudah jatuh dalam pelukan mesra sang teroris.

Ingatlah bahwa teroris itu tidak selalu ngalor-ngidul menenteng bom untuk diledakkan, namun teroris bisa juga suatu gerakan yang sistematis untuk merusak akal budi kita melalui pencucian otak (brain washing) dan bisa juga dengan  intimidasi. Terorisme kadang menyelinap jauh kedalam relung hati kita, tanpa kita sadari. Seseorang yang kehadirannya selalu membuat orang lain ketakutan, sebenarnya dalam dirinya telah bersemi bibit-bibit terror.

Semoga kehadiran kita membuat orang lain yang tadinya  pesimis menjadi optimis, yang tadinya bodoh menjadi pintar, yang tadinya malas menjadi rajin bekerja, yang tadinya curang menjadi jujur, yang tadinya semau gue menjadi disiplin, yang tadinya sedih menjadi gembira, yang tadinya bekerja seadanya  menjadi lebih produktif dan bertanggungjawab, yang tadinya peragu menjadi percaya diri. Pemimpin harus bisa memberi motivasi kepada anak buahnya untuk “bekerjasama mencapai satu tujuan yang telah dirumuskan bersama”.

Semarang, 18 Maret 2007

Kawula asung sembah pangabekti
konjuk dhumateng Pangeran Sejati
lepat punapa tinitah jalmi
datan kwasa milih saderma nglakoni

Karahayon wus ana kang paring pepeling,
kang nembe dipecaki buntu wusanane,
enggala bali myang kajaten,
mumpung sunaring purnama,
sumrambah paring pepadhang,
yen wus kalimputan mendung nggameng,
sira gampang nyasar lan disasarake,
jebul kang jembar katon gilar-gilar,
satuhu marga kang dudu

Rina wengi tansah dangu,
manungsa tanah jawi anglangut,
ngarep-arep jejere adil,
yaiku manungsa kang nora bisa nampa kawruh nyata kasunyatan,
nyatane yaiku wong kang wening wis tumeka,
ngarepake kang ngarep-arep,
yaiku manungsa kang angsal piwulang suci

Durung turu yen durung tangi,
durung napak lemah yen durung weruh esuk, awan, sore kalawan bengi,
tangeh tangi yen mung dibisiki,
mokal obah diiming-imingi,
turua kaya turune tetuwuhan,
tangia kaya angga-angga nemu mangsa ing pabaratan

Konjuk Ngarsa Dalem Pangeran kita Ingkang Sejati
kawula nyuwun sabda,
lebur sedaya dosa ingkang sampun dilampahi
luputa saking sedaya panggodha
tuwin tinebihna saking sedaya piawon

Hangidunga Piweling Kaki,

Sabdopalon Pamong Nusantara,

Ameca Kasengsarane,

Rakyat Nusa Sedarum,

Nampi Panodhining Hyang Widhi,

Kalambangnya Wong Nyabrang,

Prapteng Tengah Katempuh,

Santering Kali Kang Bena,

Yeku Ing Gapura Sapta Ngesthi Aji,

Keh Jalma Samya Lena.

Sastra ini harus dibabar

Maka kukidungkan kesedihan, tangisan lampau kisahkan derita menjelang

Kala manusia menyusut hanya menjadi bagian dari suatu nilai kegunaan

dan waktu dirampat ketam bagai binatang buruan

Ilusi diproduksi dalam hingar bingar iklan, jadikan mimpi lebih meyakinkan dibanding kenyataan

Tercampak laiknya budak…

Jalanmu didiktekan sesuai peta…

Sebrangi sungai…

Apa lacur, sesampai di tengah diterjang banjir bandang

Apa yang bisa kau jadikan pegangan?

Pemimpinmu lebih suka berebut remahan roti yang disebut kekuasaan

Sedang…

Pemegang peta tak lebih dari calo tiket yang sibuk perkaya diri berslogan ayat suci hingga membusa mulut

Tuntunan menjadi tontonan..!!!

Pupus harapanmu tiada lagi pegangan

..

..

..

Nandhang Mrata Sak Tanah Jawi,

Dadi Kersaning Kang Murbeng Alam,

Meruhna Pra Kawulane,

Lamun Jagad Puniku,

Mengku Pangeraning Ghoib,

Nraju Becik Myang Ala,

Kang Nandhur Angunduh,

Nandhang Wohira Priyangga,

Den Alamna Kinarya Amratandani,

Jagad Ana Kang Ngasta.

Sastra ini tetap harus dibabar

Maka yang terjadi biarlah terjadi sebagai tanda agung Ilahi

Keadilan adalah dendam, seruan akan sebuah harapan

Sebab dunia adalah ladang, tempat menabur benih dan menuai hasil

Maka siapa yang menabur dialah yang akan menuainya

Sungguh…

Yang dinanti telah datang, namun tak seperti yang kau kira

Dia datang membawa api

dan seperti yang dikehendakinya api itu telah berkobar menjalar kemana-mana

..

kobong.!

kobong.!!

KOBONG..!!!

..

..

..liyep liyep layaping ngaluyut

..

..

Cukup sudah yang perlu kusampaikan

Tunaikan wajib yang mesti diemban

Sastra ini harus dibabar

Halaman Berikutnya »