RSS

KESADARAN YANG MEMERDEKAKAN

TINJAUAN HIDUP, MOTIVASI & TUJUAN

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara di Gedong Songo memenuhi undangan Mas Sabdalangit, saya banyak bertemu teman-teman pejalan spiritual.
Pertemuan tersebut adalah pertemuan Kadang Kadeyan Sabdalangit, dimana oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng Untari, teman-teman yang tergabung didalamnya ibarat Sedulur Sinarawedi, anak-anak laku Beliau berdua.
Banyak hal saya dapatkan dari sharing kehidupan, salah satunya dari refleksi Mas Setyo Hajar Dewantara.
Saat itu Mas Setyo mengajak untuk merefleksikan motivasi dan tujuan dalam menapaki jalan spiritual yang dalam hal ini spiritualitas kejawaan… sebuah panggilan atau pelarian…kalau boleh saya simpulkan begitu… :mrgreen:
Tak boleh dipungkiri banyak orang menapaki jalan spiritual..*hanya istilah yang sering digunakan*.. boleh jadi merupakan sebuah pelarian… Pelarian dari kesulitan ekonomi, dari penyakit yang tidak sembuh-sembuh, dari kehampaan & kebuntuan hidup, dan beragam sebab yang lainnya.
Namun… pelarian tidak selalu berarti suatu istilah yang kurang baik…
Pelarian bisa berarti suatu evolusi paradigma hidup yang dengan penuh kesadaran kita tingkatkan. Kata kuncinya adalah kesadaran..

Bagi saya sendiri, ketika merefleksikan motivasi dan tujuan tersebut.. saya merasa ada sebuah kecenderungan dalam diri yang membuat saya tertarik akan hal-hal yang bersifat perenungan akan hakikat dari apa yang tergelar dan saya alami.. hal ini pasti karena pribadi saya yang clingus dan introvert kurasa.. juga kecenderungan tertarik akan akar budaya saya yang seorang jawa..
By the way, saya mau menerima istilah Kejawen juga baru saja, karena dasar kecenderungan saya adalah budaya jawa dalam arti yang luas dan merasa istilah Kejawen terdengar ekslusif..    :)
Kecenderungan-kecenderungan tersebut yang lalu dengan GR (keGedhen Rumangsan) dan semena-mena saya istilahkan sebagai “panggilan DNA”.

Panggilan DNA tersebut, mengutip kalimat dari novelnya James Redfield; Celestine Prophecy, yang membawa saya menuju dan menuntun kearah kesempatan yang pernah saya impikan yang dulu hanya merupakan suatu firasat/intuisi mengenai sesuatu yang ingin dilakukan, arah yang ingin ditempuh dalam hidup. Yang setelah agak lama melupakannya dan pikiran terpusat ke hal lainnya ehhh… malah bertemu dengan seseorang /beberapa orang, membaca sesuatu ataupun pergi ke suatu tempat yang membawa saya ke arah pemenuhan hal-hal yang merupakan intuisi atau mimpi tersebut. :mrgreen:

PENEBUSAN DALAM KESADARAN

Banyak hal yang saya dapati lewat event pertemuan tersebut. Saya datang bersama dengan kakak dan anak perempuan saya. Cukup lama untuk saling berdiskusi dengan Kakak saya sambil menunggu rombongan teman-teman yang lain datang.
Kesegaran udara dengan kadar oksigen yang murni terbaik kedua di dunia, heningnya suasana puncak Gunung Hong Aran dan dingin udara saat kabut tebal turun menyelimuti dan melingkupi kami membawa kami dalam sebuah pemahaman baru.

Hong Aran, lebih terkenal dengan sebutan Ungaran, boleh jadi merupakan salah satu situs awal Kebudayaan Jawa. Banyak dikaitkan dengan cerita Ramayana, menjadi tempat Anoman mengubur Rahwana hidup-hidup, sebenarnya merupakan Maha Yoni berhubungan dengan Ratu Shima, Baga-Sri, Anjani dan simbol-simbol per-EMPU-an lainnya.
Di area Gedong Songo sendiri yang merupakan pancernya sebenarnya hanya berdiri 5 Candi utuh yang lainnya masih berbentuk reruntuhan, namun lebih lanjut sejatinya ada 12 bangunan candi sesuai tataran kehidupan manusia.
1 sampai 9 adalah Babahan Hawa Sanga dimana manusia berjuang mengosongkan kesembilan lubang nafsunya, berkutat dalam dualisme kehidupan, baik buruk, laki perempuan..
Ditataran ini manusia sebagai pancer atau inti menemukan Kiblat Papatnya atau plasma. Di Timur ada Empu, Selatan Satria, Barat Pemerintahan dan Utara Sang Smara Hyang. Telah banyak petilasan dan bangunan Candi sebagai plasma Gedong Songo yang ditemukan.
Hingga dalam perjalanan berikutnya mencapai kesadaran lepas dari dualitas menemukan Sang Dasamuka dalam dirinya.. Ia akan menemukan keseimbangan dualitas yang harus dirangkumnya, disimbolkan sebagai Beji Tundha Loro ataupun Kembang Wijayakusuma dan Kembang Wijayamulya yang lalu mewujud menjadi Wit Kastuba Urip, Tree of Life, Khayun, Pohon Kehidupan.
dan dalam Kendali Kesadarannya (KendhaliSadha) ia akan mampu untuk Nglintang Sukma, melakukan penebusan hidupnya seperti legenda Abhyasa.. dan akhirnya mencapai kesempurnaan dalam tataran ke-12 : Moksha.

Abhyasa, entitas kesadaran tinggi.. yang mampu melakukan penebusan pohon kehidupannya..
Bila dalam konteks Kristiani, penebusan adalah memberikan silih atas dosa, seperti Isa yang harus menjadi silih atas dosa Adam.. maka dalam konteks Jawa, Sang Abhyasa dalam diri Isa yang selalu sadar, menyadari apa yang terjadi dalam setiap momen hidupnya.. itulah yang menjadi penebusan.
Kesadaran yang tidak lari dari realita meski ia harus digiring seumpama domba yang akan disembelih, dilecehkan, dianiaya dan dibunuh.. Hingga dalam akhir hidupnya di kayu salib, dalam kesadaran penuh akan hidup dan penderitaannya Isa berkata..”Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku”.. tuntaslah penebusan itu.

MEMBANGUN RELASI

Bila dalam kisah Isa maupun Sidharta, kesempurnaan dicapai lewat diri sendiri.. dalam kearifan Jawa ternyata kesempurnaan tidak ego-sentris, banyak cerita tentang sepasang suami istri yang moksha bersama, bahkan mokshanya karena berpasangan, penebusannya adalah kesadaran dalam membangun relasi yang saling menyempurnakan.

Di situs Candi Gedong Songo, slokanya adalah seperti ini : Candi VI adalah Lingga Yoni, diapit Ratu Shima dan Jejaka, dimana pertemuan Rahsa Sejatinya memancarkan kama ke Candi III yang menjelma menjadi tokoh Abhyasa..

Sering dalam kehidupan ini dalam membina relasi kita terlalu memberi beban yang berlebihan kepada orang lain. Kembali ke refleksi Mas Setyo… pelarian kita kepada jalan spiritual seringkali benar-benar sebuah pelarian tanpa kesadaran..
Kita tak mampu menerima diri apa adanya, tak mampu menerima keadaan diri apa adanya, lalu melarikan diri dalam ilusi pemujaan ide-ide dan figur spiritualis.. kita yang tak mampu menerima diri menimpakan beban kepada orang lain…
Lalu ketika semua harapan tak sesuai dengan kenyataan yang memang harus dihadapi.. banyak yang makin terperosok lagi dalam pelarian dengan menyalahkan orang lain, ide-ide ataupun figur yang semula dikaguminya.. contoh yang paling up to date adalah kasus Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur :mrgreen:

Kita tak akan pernah lepas dari lingkaran Nawa Sanga (Babahan Hawa Sanga) bila kita tak mau menghadapi realita kehidupan kita dan menyadarinya dengan kesadaran intens..

Dalam konteks Kadang Kadeyan Sabdalangit, nuju prana sekali mengadakan gathering di Gedong Songo, disinilah kita bisa mengupgrade kesadaran kita.. merefleksi dan menyadari peranan kita masing-masing.. dengan tetap mikul dhuwur mendhem jeru orangtua dalam hal ini Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng, juga para leluhur kita.. kita membangun relasi yang saling memerdekakan dan menyempurnakan..

Dan..
Pribadi-pribadi yang pernah membangun peradaban adiluhung di Gedong Songo ini adalah juga pribadi-pribadi yang melakukang gathering Kadang Kadeyan Sabdalangit. Sang Abhayasa adalah yang sedang duduk berkumpul bersama… pribadi yang melakukan penebusan lewat membina relasi dengan penuh kesadaran…

POWERING THE EMPOWERMENT

Tentang panggilan DNA, ada sesanti Jawa yang sangat diugemi yang juga berhubungan dengan membina relasi yang menyempurnakan yaitu : Ngraketake balung pisah…
Balung-balung pisah yang oleh panggilan DNA lewat peristiwa kebetulan yang Ndilalah Kersaning Allah tadi telah dikumpulkan dan diraketake..
Nah kini dengan penuh kesadaran mulai menata sesuai Tatanan, Tuntunan dan Tuntutan masing-masing… yang menjadi balung sikil mulai menguatkan.. yang menjadi balung iga melindungi, tulang punggung menegakkan dan seterusnya…

Masing-masing mengambil peran dan mengaktualisasi diri sesuai apa yang dimiliki secara potensial…

Dan dalam relasi tersebut akhirnya menyadari tiadanya dualitas, mencapai apa yang disebut dengan sikap lepas bebas, sudah ‘duwe rasa ora duwe rasa duwe’.
Bertemu dengan Dasamuka masing-masing, merangkumnya, memeluknya dalam kerahiman Hong Aran dan terang Kendhalisada

Lalu dalam pandangan terang bathin ini tidak lagi menemukan motif, aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak, dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap, tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu.
Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk-mahluk hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing. Seperti Isa yang memberikan dirinya diseret dalam pembantaiannya… Itulah awang-uwung.

Akhir kata…
Semoga kita dalam kesadaran mencapai Pantai Seberang… Mencapai kesadaran rasa. Sadar dan menyatakan, tidak sekedar realize, namun juga release melepaskan.

 
5 Komentar

Posted by pada April 4, 2013 in JANGKA NUSANTARA, PADUPAN KENCANA

 

NYAUR BANYU SUSU

Hamit-hamit kalimantabik.
Salam karaharjan dhumateng para sedherek sedaya ingkang minulya.
Keparenga kula ngaturi pirsa babagan piwulang kautaman mungguhing Bangsa Jawa saking Para Leluhur.
Jumbuh kalawan kawontenan nagari ingkang samya risak amargi saking tumindake manungsa ingkang sami kicalan jati diri, kula badhe matur tuwin ajak-ajak supados para sedherek sedaya sami-sami putranipun Ibu, kersa kondur wonten pangrengkuhe Ibu.
Kanjeng Ibu tansah kapang dhumateng para putrane, katresnan Ibu tansah lumintu mbanyu mili dhumateng keng putra sarta mboten nyacah lan ngemut-emut kalepatan kita, nanging suwalikipun, kadhangkala kita lali marang wong tuwa malah asring damel getun lan gempunging manah, kados paribasan ‘kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang penggalan’.
Mboten badhe dados lare duraka, mila sumangga kita sedaya purun wangsul dhumateng Bapa Biyung kita sedaya. Kautaman Leluhur sampun paring piwulang bilih Bapa Biyung punika minangka Lajering Urip Pancering Allah, nenggih Allah Katon.
Sumangga sami NYAUR BANYU SUSU dhumateng Ibu,
Mboten nami badhe damel asoripun sih katresnan Ibu dene kumawantun nyaur banyu susu. Badhe kados pundi kemawon, sih katresnan Ibu marang kita mboten badhe saged kasaur. Nyaur banyu susu ngemu suraos bilih kita minangka anak mboten lali marang wong tuwa. Sedaya pangrengkuh lan sih katresnane tiyang sepuh marang kita putranipun mboten badhe kalimengan.

Dene patrapipun kados makaten :
Para sedherek saged nyawisaken Kembang Setaman punapa Kembang Boreh ing njero ngaron/baskom isi toya. Samangke monjuk ngarsaning Ibu, sujud sumungkem, ngaras tuwin ngumbah sukunipun Ibu saking racikan/driji, polok ngantos wengkelan/wentisipun dipun blonyo ngagem sekar, kanthi matur mekaten :
Duh Ibu.. Keng putra sowan wonten ing ngarsanipun Ibu.
Sepisan, caos sembah pangabekti mugi konjuk ing ngarsanipun Ibu.
Angka kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun atur kula saklimah tuwin lampah kula satindak ingkang kula jarag lan mboten kula jarag ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih, mugi Ibu kersa maringi gunging samodra pangaksami.
Keng putra nyuwun sabda lebur sedaya kalepatan ingkang sampun kula lampahi, lan keng putra nyuwun berkah pangestu tuwin sabda pangandikanipun Ibu.

Ing mangke biyasanipun Ibu lajeng muwun, tangis-tangisan lan paring sabda pangandika.
Tumetesing waspa Ibu dados pambukaning warana ghaib lan sabda pangandikanipun andadosaken pangestu lan sipat kandel kita.
Inggih punika ingkang ugi dipun wastani salah satunggiling cara GAWE WADAHING NGELMU, Kagem para panggilut Kasampurnan, tamtu sampun boten katilapan menawi Ngelmu puniku wonten wadhahe, wonten isine lan ugi wonten tutupipun. Dipunwastani tutuping ngelmu menawi sampun saged pepanggihan kalawan Sedulur Sejatinipun piyambak. Nanging kados pundi sagedipun nutup menawi wadhahipun kemawon dereng mangertos punapa dene isinipun.??
Sasampunipun sami tetangisan, sukunipun Ibu lajeng kita lap ngantos garing. Toya sajeroning ngaron wau sampun dipun bucal nanging kita pundhut sagelas kangge diminum.
Dene kagem sedherek ingkang sampun katilar dening Ibu punapa dene Bapa ingkang sampun surut ing kasedan jati caranipun benten malih.
Ubarampe ingkang dipuncawisaken :
1. Kembang Boreh lan Kembang Setaman;
2. Santen klapa ijo dicampur gula Jawa.
Patrapipun :
1. Sareyan dipun banyoni santen saking nginggil mangandhap lajeng kanan kering sakupengipun;
2. Kijing/Pathok/Sekaran sareyan dipun blonyo kembang boreh;
3. Nunten sujud sungkem nyuwun pangapunten lan nyuwun berkah keramatipun Ingkang Sumare.
Mugi kita sedaya pra putra Ibu, inggih Ibu kita pribadhi punapi Ibu Pertiwi, tansah dipunjangkungi lan dijampangi sih katresnan Ibu. Nyumanggakaken menawi badhe nglampahi dawuh kautaman leluhur punika.
Wilujeng rahayu kang tinemu, bandha lan begja kang teka.
Nuwun…

 
4 Komentar

Posted by pada Mei 28, 2012 in Wanita & Aku

 

RASA BEBAS, URIP KANG TANPA ATURAN???

Saat saya berbicara tentang kemerdekaan dan kebebasan, selalu ada yang menyalahartikan kalau saya adalah penganut paham urip tanpa pranatan lan kasusilan. Kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan.
Kepada Saudara yang berpendapat seperti itu saya akan mengajak untuk menengok tentang Tujuan Dalam Hidup dan Sarananya.
Tujuan Dalam Hidup adalah pengalaman subyektif dan unik dari manusia sebagai individu yang harus ia putuskan dan tempuh dalam meniti momen-momen hidup ini. Dari perjalanan hidup inilah manusia mengambil makna hidup.
Tujuan hidup dan makna hidup itu sendiri tidak pernah ada yang menentukan, kita sendirilah yang menentukan hidup kita ini mau dibawa kemana. Hendak jadi apa, berkarir di bidang apa, mau jadi manusia dengan tabiat apa, kita sendirikah yang menentukan berdasarkan modal dan kapabilitas masing-masing.
Setelah tujuan hidup ditentukan, muncul kebutuhan akan sarana dan cara bagaimana untuk meraih tujuan tersebut.

Saya akan memberi contoh yang sesuai dengan lingkup budaya dimana saya hidup, dalam hal ini budaya Jawa. Tujuan hidup bagi orang Jawa adalah untuk Manunggaling Kawula Gusti, dalam konteks ini adalah kembali kepada Hakikat Ingsun. Seperti yang diwejangkan dalam Wisikan Ananing Dzat sebagai berikut :

Sejatine ora ana apa-apa, awit dhuk maksih awang-uwung, durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ana Pangeran amung Ingsun, sejatine Dzat Kang Maha Suci, anglimputi ing Sipatingsun, anartani ing Asmaningsun, amratandhani ing Apngalingsun.

Yang dalam wedharannya sangat jelas menyebutkan bahwa yang bersifat ilahi, yang transenden, hakikatnya ada dalam diri dan hidup manusia. Dan hanya dalam diri dan hidup manusialah nilai-nilai ketuhanan itu bisa dinyatakan, dibumikan, di-alam-kan, diimanenkan. Ini yang disebut Manunggaling Kawula Gusti, kembali kepada Hakikat Ingsun.
Berikut penggalan wedharannya :

Mila sampun was sumelang ing penggalih, sebab wahananing Wahyu Jatmika punika sampun kasarira, tegesipun : Lahir batining Allah sampun dumunung wonten ing gesang kita pribadi, manawi ing bebasanipun : “ sepuh Dzating manungsa kaliyan sipating Allah “, awit dadosing Dzat punika Kadim Ajali Abadi tegesipun rumuhun piyambak kala taksih awing-uwung sak laminipun ing kahanan kita, dadosing sipat punika Kudusul Ngalam, tegesipun anyar wonten kahananing ngalam donya

Dan dalam menuju kepada hakikat Ingsun itu tak akan didapat dari luar diri, selalu mensyaratkan pencarian kedalam diri, seperti dalam cerita Dewa Ruci.
Yang ada di luar diri hanyalah sarana, tidak akan pernah menjadi tujuan. Sarana untuk membantu manusia merealisasikan tujuannya. Agama dan ajaran termasuk dalam sarana.
Hanya sayangnya seringkali terjadi kerancuan. Kerancuan dengan menganggap sarana sebagai tujuan. Hal ini membuat manusia tak bisa lagi melihat tujuannya yang sejati, sehingga dengan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai fenomena dalam hidup ini.
Maka dari itu, sikap yang pantas terhadap segala yang ada diluar diri yang kita yakini sebagai sarana adalah LEPAS BEBAS.
Lepas Bebas dari sikap menggantungkan hidupnya pada peristiwa tertentu, person tertentu, pada waktu tertentu. Tak lagi mendewakan status tertentu, capaian hidup tertentu, ajaran dan kitab tertentu,
Lepas Bebas dari status quo, dari kemandegan.
Lepas bebas juga berarti memahami sifat-sifat Rasa Pangrasa. Mana yang Rasaning Karep mana yang Kareping Rasa, yang menjadi sarana untuk kembali pada hakikat Ingsun.
Maka, justru karena adanya hakikat Ingsun itulah dimungkinkan (bahkan dituntut) adanya kebebasan. Kalau tidak, Ingsun pada diri kita akan terus dilapisi oleh berbagai macam conditioning dan kita terikat oleh conditioning itu.
Hal ini membuat kita tidak bebas, hanya melakukan perbuatan orang lain, kulak jare adol jare, tak akan bisa mencapai & mengalami Ingsun
Lepas bebas juga berarti menghilangkan kemelekatan, kemelekatan karena ketergantungan emosional pada sarana. Ketergantungan emosional yang memunculkan sikap menuntut dan posesif pada sarana.
Lepas bebas dalam konteks ini sama seperti ungkapan Mas Sabdalangit tentang “Duwe Rasa Ora Duwe Rasa Duwe”.
Lepas bebas dan “Duwe Rasa Ora Duwe Rasa Duwe” ini sama sekali tidak meniadakan prioritas. namun mendasari pertimbangan kita untuk meilih mana yang lebih mengantar kita sampai pada tujuan. Tanpa itu, pilihan-pilihan kita betapapun baiknya, sama sekali tidak bermakna.
Dan tentu saja sama sekali bukan berarti kebebasan yang tanpa aturan sebagaimana sering disalahpahami.
Kesimpulannya, tujuan hidup bagi orang Jawa adalah kembali kepada hakikat Ingsun. Hal-hal lain yang diciptakan hanyalah sarana bagi manusia untuk menuju Ingsun. Karena itu sudah layak dan sepantasnya bahwa manusia menggunakan segala sarana sejauh membantu dan menjauhkan sarana sejauh menghambat untuk mencapai tujuan. Sikap yang relevan adalah sikap lepas bebas dan ini ditunjukkan dengan sikap “Duwe Rasa Ora duwe Rasa Duwe”. Meskipun demikian, tentu saja manusia memiliki prioritas atas hal-hal yang lebih mendukung tercapainya tujuan.

PENGALAMAN PUNCAK

Melanjutkan pembahasan tentang Tujuan dan Sarana, dalam laku hidup spiritual kita akan berjumpa dengan apa yang disebut sebagai Pengalaman Puncak.
Pengalaman Puncak adalah sama dengan “pengalaman akan yang ilahi” bila ditinjau dari agama, atau disebut juga iluminasi.
Seringkali fenomena akan pengalaman puncak ini menjadi jegalan bagi para pejalan spiritual karena kerancuan menganggap fenomena ini sebagai tujuan. Lalu menjadi kehilangan pijakan di dunia nyata, mengawang-awang dalam intuisi dan salah kaprah dengan menjadikan intuisi, yang adalah pengalaman subyektif, sebagai alat pengetahuan yang obyektif dan mutlak.
Meski dalam thread Membangun Kesadaran Rasa ini oleh Mas Sabdalangit telah diterangkan bahwa Kesadaran Intuisi sebagai sumber kebenaran, namun kita tetap harus waspada dalam menyikapinya. Karena bisa jadi yang kita anggap sebagai intuisi tak lain hanya imajinasi kita akibat dari rancunya antara sarana dan tujuan sebagaimana berikut :
- Sikap keterbukaan yang sehat terhadap hal-hal yang misterius, pengakuan yang betul-betul rendah hati bahwa kita tidak tahu banyak, sikap rendah hati dan penuh terima kasih untuk menerima rahmat yang cuma-cuma dan untuk memperoleh kemujuran semata-mata; menjadi sikap yang anti rasional, anti empiris, anti ilmu pengetahuan, anti kata-kata dan anti konseptual.
- Pengalaman puncak diagung-agungkan sebagai satu jalan yang terbaik atau malah menjadi satu-satunya jalan menuju pengetahuan, dan karena itu semua pengujian & pembenaran akan keabsahan iluminasi (jumbuhing akal klawan rahsa) bisa dikesampingkan. Maka dengan sengaja menimbulkan pengalaman puncak, harus dijadwal, diiklankan, dipaksakan, dijual sebagai komoditas (sebagai contohnya iklan yang mensyaratkan bahwa ukuran pencapaian spiritualitas haruslah bisa meraga sukma). Seperti seksualitas yang mengandung spiritualitas tinggi (dimungkinkan dapat memperoleh pengalaman akan yang suci) didesakralisasikan menjadi semata-mata “pasang alat kelamin”. Tingkah laku perziarahan yang kental dengan praktek dagang (ziarah=yaroh=yen ora mbayar ora weroh).
- Kemungkinan bahwa suara-suara dari dalam batin bisa keliru (wahyu jegalan).
- Kespontanan (dorongan-dorongan dari diri kita yang paling baik = kareping rahsa) dicampuradukkan dengan dorongan-dorongan naluriah dan tindakan “acting out” (dorongan-dorongan naluriah dari diri kita yang sakit = rahsaning karep), lalu tiada cara untuk menunjukkan perbedaan itu.

Maka kita tetap harus mengedepankan sikap Lepas Bebas yang tidak membuat sarana seperti pencapaian spiritual tertentu sebagai tujuan dan lalu dikejar-kejar.
Sehingga yang sebenarnya adalah Rasa Sejati, intuisi yang murni malah dikotori oleh imajinasi :mrgreen:
Ibarat kita membuat sangkar dengan harapan agar dapat memelihara perkutut, namun karena kehilangan kewaspadaan kita tak menyadari bahwa yang dianggap perkutut ternyata adalah burung gagak pemakaan bangkai

 
2 Komentar

Posted by pada Mei 7, 2012 in Uncategorized

 

MENCARI WAJAH YESUS

Bintaro di tahun 80an, seorang mantan tapol, belum beberapa lama menikmati kebebasannya dari pembuangan di Pulau Buru.
Hidup telah berbuat kejam kepadanya dengan merenggut masa mudanya….. meski kini tampaknya tengah bermurah hati, stigma PKI yang disandang menjauhkan dari sapa kasih sesama.
Pergi dari tanah kelahiran yang tak lagi menerimanya ia coba merajut asa dengan terus menapaki hidup yang tetap ia yakini masih berbaik hati menyapa.
……….
Kala itu sebuah gereja tengah dibangun dengan satu semangat mempersembahkan wajah Yesus yang universal kepada dunia.
Berbekal ketrampilannya sebagai pembuat patung ia dipercaya untuk membuat wajah Yesus yang mewakili wajah seluruh bangsa dunia di corpus salib. Ia pun lalu berburu gambar-gambar Yesus, di seluruh perpustakaan-perpustakaan gereja. Namun tak satupun yang mewakili wajah dunia….
Setiap gambar Yesus yang ia temui membawa ciri khusus sesuai latar belakang ras dan budaya yang diwakili. Yesus dalam kepustakaan Cina digambarkan mirip seperti orang Cina dengan matanya yang sipit. Yesus Eropa digambarkan dengan ciri orang Eropa dengan hidung mancung & rambut pirang berombak.
Diapun lalu berpikir bahwa yang dimaksud dengan wajah universal Yesus memang seperti itulah adanya sesuai dengan kebudayaan setempat dimana iman akan Yesus hidup dan dihidupi. Mungkin juga bila Yesus digambarkan secara nJawani akan juga memakai iket atau blangkon.
……….
Hingga setelah pupus harapan untuk menemukan gambar Yesus yang mampu mewakili wajah setiap bangsa di dunia, di satu kesempatan saat ia berjalan, ia berpapasan dengan seorang laki-laki kecil yang bertelanjang dada dengan kulit legam terbakar matahari. Laki-laki tersebut mengulurkan sebuah amplop kepadanya. Ketika ia menerimanya, laki-laki itu lalu pergi & segera menghilang dari pandangannya.
Merasa heran dengan peristiwa aneh tersebut ia membuka amplop dan menemukan 3 buah negative film yang lalu segera ia cuci cetakkan.
Sungguh tak disangka bahwa gambar Yesus yang selama ini ia cari-cari ternyata ada di salah satu foto yang ia cetak.
Senang dengan penemuan tak terduga itu, ia lalu membuat profil wajah Yesus berdasarkan gambaran foto tersebut.
……….
Peresmian gereja harus segera dilaksanakan siang itu tepat jam 10.00, namun ada permasalahan teknis. Karena dibuat ditempat yang berbeda, salib Yesus dan tempat penopangnya ternyata tidak sesuai, ada perbedaan ukuran.
Dengan keterbatasan waktu dan peralatan, untuk menyetel agar pas, maka salib yang besar itu harus dipikul sementara penopangnya diperbaiki.
Kelelahan karena bekerja lembur dikejar tenggat waktu, para pekerjapun tak kuasa untuk memanggulnya.
Hanya satu orang yang menyanggupi untuk memanggul salib sementara pekerja yang lain memperbaiki. Dialah mantan tapol itu…
Seorang PKI atheis, satu-satunya orang yang sanggup memanggul salib Kristus.

 

OBSESI, PERSEPSI & REALITA YANG DIWUJUDKAN

1. OBSESI HIDUP MANUSIA

Entah saya mengalami delusi atau obsesi utopis, namun saya rasa bagi setiap manusia di segala jaman pasti merindu akan suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan social.
Dimana damba tersebut mewujud dalam konsep-konsep akan surga, rahmatan lil alamin, mengayu hayuning bawana, dictator proletariat, ataupun ratu adil.

Berawal dari itu saya membaca keseluruhan alkitab juga sebagai satu idea dasar yang selalu hidup dalam jiwa manusia yaitu keadilan social. Dengan segala liku perjuangan dan jatuh bangunnya manusia di setiap jamannya.

Sebagai bangsa semi nomadis di pinggir padang gurun, telah membangun kesadaran kaum Israel kala itu bahwa seorang individu tak dapat bertahan hidup sendiri, yang akhirnya melahirkan masyarakat keluarga & marga yang menyatu sebagai suku-suku.
Milik kepunyaan tak pernah menjadi suatu hak khusus yang diperoleh dengan membebani orang lain dalam lingkungan yang sama… tiada kepunyaan pribadi… kalaupun ada tak pernah dipakai buat menindas orang lain.
Akhirnya setelah menjadi satu bangsa di Kanaan, kesadaran tradisi semi nomadis tersebut menjadi ‘teologi perjanjian’. Dimana ‘Perjanjian’ itu merupakan ide maupun cita-cita sebuah bangsa yang sederajat, baik diantara mereka sendiri maupun di hadapan Yahwe.

Janji Yahwe akan kemakmuran duniawi dijanjikan sebagai suatu keseluruhan, untuk dinikmati bersama oleh semua anggota masyarakat… asal mereka setia pada perjanjian, Yahwe memberi jaminan ”tidak akan ada orang yang miskin diantaramu” …”asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara tuhanmu” .
(suara tuhan saya artikan sebagai idea akan keadilan social tersebut…dikisahkan sebagai larangan untuk mengumpulkan ‘manna’ yang mungkin akan berakibat merusak kesederajatan mereka dalam hal ketergantungan akan Yahwe/ Sang Hidup).

Namun tiada tertib social yang tahan kemerosotan, selalu saja ada orang yang sanggup & tidak sanggup. “Kelalaian dan kemalangan” sementara orang, “kekuatan dan kemujuran” yang lain memainkan peranan. Juga bauran budaya dengan kaum Kanaan & Amori yang menganggap harta mereka sebagai komoditi yang bisa dijual, membuat kaum Israel memiliki dua macam hak milik tanah, satu milik marga yang dibagi saat jaman Yosua, satunya tanah milik pribadi yang dibeli dari Kaum Amori & Kanaan.

Timbullah kekayaan dan keinginan untuk mendominasi…

Inilah yang menjadi permasalahan utama, dimana akhirnya para nabi bernubuat dan lahirlah berbagai perundangan seperti Hukum Taurat, Tahun Sabat, Tahun Yobel, Kabar Gembira Kerajaan Allah, Das Kapital…yang dapat kita tarik kesimpulan bahwa Yahwe yang diimani oleh Israel menurut alkitab bukanlah tuhan yang netral, namun secara gamblang menggambarkan Yahwe yang berada pada pihak kaum miskin dan tertindas.

Keberpihakan tersebut karena Yahwe adalah tuhan yang setia pada ‘Perjanjian’.
“Allah Perjanjian”, Kesadaran sang manusia bahwa dalam kemiskinan & ketertindasan itulah titik dimana kemanusiaannya paling terancam…. Baik penindas & yang tertindas membutuhkan pembebasan, yang bagi para nabi pembebasan adalah berarti kembali kepada ‘Perjanjian’, suatu pengetahuan sejati akan Yahwe, pengetahuan sejati akan idea kemanusiaan… seluruh alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan suatu undangan untuk menjadi ‘bebas’ dan membiarkan orang lain menjadi bebas sambil menjadi “Anak-Anak Allah”.

Saya tak sedang hendak menjelaskan tesis pokok marxisme dengan pembenarannya secara alkitabiah. Namun mungkin ini sebagai salah satu upaya pemaknaan hidup yang saya coba untuk lebih membumi *atau malahan terhalusinasi oleh mimpi* sesuai keadaan & kondisi jaman dimana saya dihidupi.

Seperti juga “andon laku angulati serat pangruwating papa nista”…bertualang mencari kitab yang akan mengentaskan dan memuliakan keadaan papa nista”…sebuah laku spiritual pencarian makna hidup & perjalanan perjumpaan kembali dengan diri sendiri yang tengah saya lakoni.

2. REALITA

Apa sumbangan kebangkitan spiritualitas bagi moral, etika dan keadaan social manusia, dimana keadaannya seperti yang pernah ditulis Leonardo Rimba “greedy go lucky”?

***

”Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal?
SAYA MENGANGGAP, BRAHMA ADALAH KETIDAK-ADILAN .
Yang membuat dunia yang diatur keliru.”
[Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

***

Mungkin memang saya sedang mengalami delusi,
Realitas konkret alam semesta berjalan apa adanya sesuai hukum kausalitas dan kesetimbangan, tiada mengenal apa itu yang disebut keadilan social… namun kedegilan dan keterpurukan bangsa ini telah telanjur membuat saya menjadi obsesif sekaligus kapitulasi… butuh berapa ratus tahun lagi buat bangsa ini untuk bisa berevolusi mencapai kesadaran?
Butuh suatu revolusi besar yang mungkin bila tak mampu dimotori manusia, akan diambil alih oleh alam sendiri sebagai konsekwensi hukum kausalitas tersebut. Dan pemikiran akan hal-hal ini yang menciptakan delusi… pengalaman puncak & intuisi… sosok-sosok hero?

Bagaimanapun, saya berusaha untuk terus memahami, dan menerima realitas sebagaimana apa adanya bukan sebagaimana seharusnya…
Menerima realitas, memahami realitas… Lalu bertindak berdasarkan apa yang seharusnya kita lakukan…
Karena memang realitas hanya bisa kita terima ‘apa adanya’, sedang menerima ‘apa yang seharusnya’ hanya relevan untuk keputusan yang akan kita ambil…

Dan disinilah dalam pengambilan & pembuatan keputusan ini… saya menyadari akan otentisitas, orisinalitas & kualitas kemanusiaan…
Segala arketipe bukan lagi suatu fixasi infantile, namun adalah gambaran dari kesadaran tentang kesejatian diri yang ingin diwujudnyatakan. Keperkasaan dan kehebatan segala sosok hero (ratu adil, satriya piningit) mendapatkan dan hanya akan mendapatkan eksistensinya dalam diri kita.

….”Keadilan sosial, moral, dan etika adalah bahasa manusia. Sebuah konsep yang ditemukan oleh manusia dalam meniti dan memaknai kehidupannya yang lahir karena adanya interaksi dan dialektika kepentingan dari manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Jadi karena konsep ini dilahirkan oleh manusia, maka tugas manusia pula untuk terus mengusahakan dan mengembangkannya baik secara individual maupun kolektif”….

Semangat, keberpihakan, kejelasan orientasi tidak bisa diukur dari sensasi supranatural yang mungkin hanyalah pelarian infantile dari obsesi kita… juga tak pernah bisa dilihat dari reaksi-reaksi emosional terhadap realitas yang mau kita lawan (seolah-olah dengan demikian kita sudah berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan), melainkan dari tindakan konkret yang dilakukan. realitas yang kita wujudnyatakan.

Ingin meruwat papa nista… ingin mengubah dunia… Hmmmm….

Yang rasional saya lakukan adalah mengubah diri terlebih dahulu!
Karena tindakanku tak pernah berhadapan dengan dunia luas secara langsung, hanya kontak dengan dunia kecil yang saya hadapi, yang tergantung pada keterbatasan penginderaan.
Dunia kecilku… itulah yang mestinya saya ubah.

Kalau tidak menghadapi itu, saya tidak mengubah apa-apa.

Bila saya menghadapinya, berarti menghadapi diri sendiri juga, dan itu juga berarti bergulat dengan perasaan dan pemikiran.

Dan mungkin realitas tak seburuk yang selama ini saya duga…
Realitas yang saya maksud adalah realitas konkret segala hal yang bisa kita cerap secara inderawi, bukan realitas persepsi kita, yang kita cerap secara intelektual, gagasan, pemikiran, dugaan, prasangka.

Realitas itu baik adanya, dimana yang namanya kejahatan memang inheren ada dalam diri manusia.
Mengapa seseorang menjadi koruptor, pelacur, karena mereka mempunyai kondisi-kondisi tertentu yang membuat mereka menjadi seperti itu, mereka bermasalah karena mereka belum sadar. Masih hidup dalam dunia insting mereka.

Memahami mekanismenya, memahami pelaku-pelakunya, memahami bagaimana mereka bisa bertindak seperti itu. Memahami apa yang mengkondisikan mereka begitu, tahu keadaan yang melatarbelakangi dan akibat-akibatnya kemudian mencari alternative tindakan yang dilakukan.
Lalu kita nantinya akan memahami bahwa manusia ini memang sedang tidur. Asyik masyuk terbuai mimpi.

Manusia yang telah terbangunkan yang memutuskan hal yang nyata atau cuma sekedar mimpi…dan dalam mewujudnyatakankan segala mimpi, kita tetap menyadari bahwa kita sedang mengalami segala sensasi dari kesadaran kita yang tengah asyik bermain-main…

Actor perubahan social adalah orang-orang yang sadar. Kesadaran yang menjadi penggerak perubahan!!

Seorang Yogi harus bisa melihat
Hasil kerjanya selama hidup dihancurkan
Harapannya musnah
Rencananya dan semua usahanya sia-sia
Semuanya kandas

Dan masih saja
Tidak goyah
Tidak peduli
Sejauh itu

Dengan hati yang tiada sedih
Sebuah keluhan
Atau penyesalan

Ia terus berusaha
Tanpa rasa kecut

Tanpa ketamakan
Tanpa kebencian
Tanpa ilusi

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”

*****

 
5 Komentar

Posted by pada September 6, 2011 in bangsa & manusia, risalah hidup

 

SUMPAH BUDAYA 2011

benderaSituasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.

Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.

Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa.

Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri. Duduk persoalannya, orang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup. Sebagai contoh terjadinya kerusakan alam yang kronis menunjukkan dampak tercerabutnya (disembeded) manusia dengan harmoni lingkungan alamnya.

Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.

Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 66 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.

Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?

Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.

Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.

http://abigdream.wordpress.com/Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.

Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah:

SUMPAH BUDAYA

  1. MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MEMPENETRASIKAN KE DUNIA PENDIDIKAN, EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK.
  2. MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF SEHINGGA MEMPERKUAT IDENTITAS DAN JATI DIRI BANGSA.
  3. MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR.

DITANDATANGANI DI YOGYAKARTA, 2 SEPTEMBER 2011

  1. SABDA LANGIT
  2. WONG ALUS
  3. KI CAMAT
  4. MAS KUMITIR
  5. SABDO SEJATI
  6. TOMY ARJUNANTO
  7. KANEKO GATI WACANA
  8. KANGTONO
  9. ANTON.S
  10. SUPARJO
  11. WISNU ARDEA

Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dengan gerakan ini dan menyebarkan sumpah budaya ini dengan ikut serta menyebarkan Sumpah Budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Salam Berbudaya. Asah asih asuh. @@@

 
 

KIDUNG SENGGANA

Duk semana Jayabaya mantu,
bebesanan Wanara Seta,
Senggana iku arane,
Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,
tinantang Prabu Mawenang,
prang tandhing tumekeng sirna.
Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,
Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,
Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma

*****

Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..

Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina

Read the rest of this entry »

 
 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.